HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 218. Alasan


__ADS_3

"Kak!" Sarah memangil Mentari yang masih duduk melamun padahal kuburan ustadz Alzam sudah selesai ditimbun dengan tanah dan orang-orang sudah banyak meninggalkan area pemakaman.


Mentari mengangkat wajah dan melihat ke arah Sarah. Wajah Sarah tidak ada bedanya dengan dirinya sendiri, matanya merah dan bengkak akibat terlalu banyak menangis.


Mentari mengangguk saat Sarah memperlihatkan keranjang berisi bunga mawar di dalamnya. Mentari langsung bangkit dan berjalan ke arah Sarah.


Mereka berdua langsung menaburkan bunga mawar di atas makam ustad Alzam.


"Selamat beristirahat Kak, semoga engkau ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya," ujar Sarah.


"Selamat tinggal ya Abi. Semoga engkau selalu bahagia di manapun berada. Meskipun alam kita berbeda tapi cinta ummi tidak akan pernah berbeda. Ummi akan tetap menyayangimu."


Mereka berdua berbalik.


"Yuk!" ajak Sarah sambil menggenggam tangan Mentari dan mengajak Mentari untuk pulang ke rumah.


Mentari menoleh ke belakang, melihat kembali kuburan sang suami. Langkahnya terasa berat meninggalkan kuburan ustadz Alzam.


"Ayo Kak, jangan lihat ke belakang jika hanya akan membuat kita lemah."


Mentari menghela nafas. Apa yang diucapkan Sarah memang benar. Mungkin dirinya tidak akan pernah bisa melupakan kenangan bersama sang suami, tetapi dirinya juga tidak boleh terpuruk hanya karena kesedihannya. Ada Abrizam yang harus dia jaga. Bayi kecil yang bukan hanya titipan Tuhan, tetapi titipan sang suami juga.


"Mbak Nanik, baby Izzam sama siapa?" tanyanya pada Nanik yang bergandengan tangan dengan Mega dan Reni di belakang dirinya dengan Sarah.


"Digendong Tante Arumi tadi," jawab Nanik.


"Baiklah." Mentari pun bergegas pulang ke rumah.


Sampai di rumah ternyata putranya menangis dalam gendongan Arumi. Mentari Segera berlari ke arah Arumi untuk menggendong putranya dan memberikan ASI.


"Jangan nangis terus sayang, sekarang sudah tidak ada Abi," ucap Mentari sambil mengelus-elus pipi putranya. Melihat wajah baby Izzam, malah Mentari kali ini yang menangis padahal bayinya sendiri sudah anteng dan fokus menyusu.


"Sudah Nak, jangan menangis terus apalagi di depan bayimu. Ngaruh loh sama Izzam! Kamu nggak mau kan anak itu ikut bersedih?"


"Iya Ma." Mentari mengusap air matanya.


"Sudahlah ikhlaskan, saya yakin kamu kuat." Arumi mengusap-usap punggung Mentari.


"Bagaimana aku bisa kuat? Memandang wajah Izzam saja aku langsung teringat pada Abi?" batin Mentari.


Mumgkin memang begitulah takdir Tuhan. Tuhan menciptakan Abrizam sangat mirip dengan abinya dan tidak sama sekali mirip dengan Mentari. Mungkin saja bayi kecil itu yang akan menjadi obat rindu umminya terhadap sang abi.


"Sudah tidur dia," gumam Mentari sambil melepaskan mulut putranya yang masih menempel pada sumber ASI-nya.


"Ayo Nak saya bantu." Arumi menawarkan bantuan melihat Mentari susah untuk berdiri.


"Tidak usah Ma saya bisa sendiri," tolak Mentari sambil berdua dari kursi.


"Saya tinggal dulu ya Ma, buat naruh Izzam ke tempat tidur," pamitnya.


"Iya Nak Mentari, sebaiknya kamu istirahat dulu bareng tuh bayi. Kamu pasti lelah, bukan?"


"Iya Ma, tapi nggak enak jika ninggalin para tamu."


"Nggak apa-apa masih banyak keluarga yang lain. Mereka semua pasti mengerti bahwa kamu butuh istirahat."


Akhirnya Mentari mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Namun, sebelum masuk dia melihat balon-balon yang bergelantungan di atasnya dan di dinding-dinding.


Mentari menghela nafas berat dan segera menaruh baby Izzam di atas ranjang bukan pada box bayinya lagi.

__ADS_1


"Sekarang kita tidur berdua. Selamat ulang tahun ya sayang." Mentari mengecup pipi bayinya.


"Hari ini adalah hari kebahagiaan sekaligus hari berduka bagi ummi."


Mentari merebahkan tubuhnya di samping sang putra lalu tidur dengan memeluk bayinya. Mungkin karena terlalu lelah Mentari cepat terlelap.


Sementara Mentari tertidur, diluar masih sangat ramai. Orang-orang yang tadinya ingin mengucapkan belasungkawa terhadap Mentari urung saat sampai di pintu sebab melihat Mentari tidur dengan pulas.


"Sudah tidak usah dibangunin, kasihan dia."


"Sampaikan saja bela sungkawa dariku padanya dan jangan ganggu tidurnya sebab dia pasti akan kepikiran lagi kalau bangun dan bisa-bisa tidak bisa tidur lagi."


Arumi, Sarah, Warni dan ibu mertuanya mengangguk.


"Kalau begitu saya pamit ya Bu Sarah dan Tante-tante semuanya," pamit Nanik mewakili Reni dan Mega juga dirinya sendiri.


"Iya Mbak, toko nggak usah dibuka ya. Kalian libur hari ini."


"Ya Bu Sarah."


"Reni juga, toko bangunan tutup aja dulu. Kita sedang berduka!" perintah Sarah lagi.


"Ya Bu Sarah."


"Sampaikan pada karyawan yang lain."


"Siap."


Nyatanya meskipun toko ditutup di depannya ramai orang-orang yang meletakkan papan duka.


Malam hari setelah selesai tahlilan yang pertama semua orang pamit pulang ke rumah masing-masing terkecuali Warni dan Pandu.


"Besok pagi aku ke sini lagi ya Ca," ujar Tama.


"Jangan nangis lagi ya, Nak!"


Mentari mengangguk meskipun tidak tahu apakah dirinya akan bisa menahan tangisnya mengingat dirinya masih baru ditinggalkan sang suami. Bukankah suatu hal yang wajar jika dirinya menangis karena kehilangan suami yang sangat dicintainya? Apalagi kebersamaan mereka tidak sampai tiga tahun, tetapi Tuhan sudah memanggil ustadz Alzam terlebih dahulu.


"Kami sekeluarga juga pamit ya Me," ujar Bintang mewakili mama dan papanya.


"Iya Mas, makasih ya sudah bantu mengurus jenazah abi."


"Iya. Sudah ya aku pergi."


Mentari mengangguk.


"Pulang ya jagoan," ucap Bintang sambil mencubit gemas pipi baby Izzam.


Semua orang pun meninggalkan rumah menuju mobil masing-masing keluarga.


Baru saja mereka hendak masuk ke dalam mobil ternyata baby Izzam menangis dan membuat semua orang urung untuk naik ke dalam mobil. Mereka semua kembali ke sisi Mentari untuk melihat keadaan baby Izzam yang berada dalam gendongan sang ummi.


"A–bi!" Baby Izzam menyebut kata Abi di sela-sela tangisannya meskipun pengucapannya masih terbata dengan menunjuk jauh ke depan.


"Abi sudah tidak ada sayang," ucap Mentari panik dan mulai menetes air mata.


"Jangan-jangan dia lihat Mas Alzam Kak," ujar Pandu.


"Iyakah Pandu?"

__ADS_1


Pandu mengangguk.


"Abi, ini putra kita nangis. Biasanya kalau Abi ada di rumah jam segini Abi gendong Izzam." Mentari berbicara sendiri seolah di depannya berdiri ustadz Alzam.


Namun, baby Izzam semakin kencang menangis.


Semua orang langsung berusaha mendiamkan baby Izzam dengan cara ingin menggendong bayi itu. Sayangnya baby Izzam menolak saat Arumi maupun kedua kakeknya ingin meraih tubuhnya. Abrisam semakin kencang menangis sambil menggerak-gerakkan tubuhnya ke depan dan ke belakang secara kasar. Bayi itu juga terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau begitu sama Om ya." Gala langsung meraih tubuh baby Izzam dari tangan Mentari.


Untuk sementa baby Izzam diam dalam pangkuan Gala membuat semua orang bernafas lega.


"Kalau begitu kamu tidak usah pulang, bantu adikmu jagain baby Izzam!" perintah Tama.


"Iya Pa," ucap Gala pasrah. Baginya tidak masalah jika harus menginap di rumah orang tua ustadz Alzam siapa tahu bisa dekat dengan Sarah.


"Oaaa, oaaa, oaaa." Baby Izzam kembali menangis histeris.


"Coba sama aku." Bintang mengambil baby Izzam dari tangan Gala.


Eh ternyata bayi itu langsung diam, dan setelah Bintang mencoba mengajak bayi itu. bicara, baby Izzam langsung tertawa-tawa.


"Yah dia maunya sama Bintang. Ya sudah Bintang saja yang menginap di sini biar Gala pulang saja," ujar Tama.


"Kalau Bintang di sini, berarti saya juga tidak pulang," ucap Gala.


"Loh memang kenapa?" tanya Tama heran.


"Disini nggak ada laki-lakinya, masa Bintang hanya seorang diri," kilah Gala.


"Lah kan ada Pandu? Saya juga nggak bakal ngapa-ngapain Mentari kok," protes Bintang. Dia berpikir Gala pasti berprasangka buruk bahwa dirinya akan menggangu sang adik.


"Siapa bilang aku takut kamu menganggu Cahaya."


"Lah terus?"


"Kasihan saja kamu nggak ada teman mengobrol di sini. Masa ngobrol sama Pandu yang masih anak kecil?"


"Sudahlah kita pulang. Biarkan mereka berdua menginap di sini," putus Tama.


Tuan Winata dan Arumi pun mengangguk dan langsung kembali ke mobil.


Setelah para orang tua tadi pergi, Bintang kembali mengajak baby Izzam bercanda hingga balita itu tampak kelelahan.


Beberapa saat kemudian.


"Eh dia sudah tidur loh Me," kata Bintang pada Mentari.


"Mungkin dia kecapekan," sambung Gala.


"Bisa bantu sekalian naruh dia ke kamar Mas!" pinta Mentari.


"Takutnya kalau aku ambil lagi malah kebangun," lanjut Mentari.


"Boleh lah Me, apa yang nggak untuk dia." Bintang langsung membawa baby Izzam ke dalam kamar diikuti Mentari dan Gala di belakangnya.


"Tuh kan ada gunanya aku di sini? Kalau aku pulang kamu akan berduaan di dalam kamar dengan Bintang, nanti timbul fitnah," ujar Gala.


"Nggak Mas, kalau nggak ada Maa Gala pasti saya akan panggil ibu ataupun Sarah," ujar Mentari.

__ADS_1


"Oh, iya juga ya," ucap Gala sambil mengangguk-angguk.


Bersambung.


__ADS_2