
"Bu! Ibu!" panggil Mentari.
"Iya Nak kamu bilang apa tadi?" tanya Warni gelagapan.
"Tidak, Mentari belum berbicara. Ibu kenapa Mentari lihat bengong saja dari tadi?"
"Ah tidak ibu hanya heran saja melihat kamu datang bersama orang lain bukan dengan Nak Bintang suamimu," kilah Warni.
"Kan Mentari sudah bilang tadi Mas Bintang sibuk Bu. Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan malam ini juga karena besok pekerjaan itu sudah harus siap."
"Mereka tidak sibuk?" tanya Warni menunjuk Gala. Meski penampilannya tidak wah seperti Bintang karena Gala hanya memakai baju rumahan, tetapi warni dapat menebak melalui aura Gala bahwa pria itu adalah seorang bos.
"Hm, dia kan atasan Bu, bisa menyuruh anak buahnya untuk menyelesaikan apabila ada tugas."
Warni yang tidak tahu mengenai perusahaan hanya mengangguk saja.
"Oh silahkan duduk!" Warni mempersilakan Gala dan Tama duduk di sebuah kursi dari kayu yang ada dalam kamar rawat Pandu.
"Terima kasih," ucap Gala sambil menyodorkan keranjang berisi buah kepada Warni.
"Tidak usah repot-repot Pak, melihat kalian mengantarkan Mentari dan menjenguk Pandu saja kami sudah sangat berterima kasih. Tidak perlu repot-repot seperti ini."
"Tidak, tidak repot kok Bu. Cuma buah saja ini."
"Ya sudah apapun itu saya sebagai orang tua dari Mentari dan Pandu mengucapkan terima kasih banyak atas semua kebaikan Bapak. Kami tidak bisa membalas semuanya, tetapi semoga Tuhan yang membalaskan," tutur Warni panjang lebar.
"Amin Bu. Oh iya Pandu, ini ada hadiah dariku semoga kamu suka ya." Gala meraih bingkisan dari tangan Tama dan memberikannya pada Pandu.
Pandu melihat ke arah kakaknya terlebih dahulu, takut-takut Mentari melarangnya untuk mengambil benda tersebut. Namun, ketika Mentari mengangguk Pandu tersenyum senang.
"Dibuka!" perintah Gala pada Pandu. "Nanti kalau tidak suka biar saya belikan yang lain."
"Tidak, apapun itu pasti Pandu suka Pak." Pandu yang sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba kekurangan sebelumnya membuat dia selalu bersyukur dengan pemberian apapun.
"Jangan panggil aku Pak. Kalau kamu panggil Pak kepadaku berarti kamu panggil kakek dong pada papa," protes Gala. Tak ingin mendengar anak kecil itu memanggilnya Pak.
Dia lupa Mentari saja memanggilnya Pak.
Pandu terlihat bingung dengan orang yang ada di hadapannya kini. Pasalnya saat kakaknya tadi memanggilnya Pak, pria dewasa di hadapannya ini tidak melarangnya.
"Orang dewasa memang aneh, sudahlah terserah maunya apa," batin Pandu.
"Terus dia harus memanggil Bapak dengan sebuah apa?" tanya Mentari.
"Dia manggil Bintang apa tadi?"
"Mas Bintang," jawab Mentari.
"Ya sudah samakan saja. Toh umurku tidak beda jauh dengan Bintang. Hanya tuaan dikit." Gala terkekeh.
"Baik Pak, Eh Mas," sahut Pandu.
"Namaku Galaksi Pandu, jadi panggil Mas Gala."
__ADS_1
Pandu menggeleng sambil tersenyum penuh arti.
"Kenapa tersenyum? Ada yang salah?" tanya Gala lagi karena penasaran pasti Pandu berpikir macam-macam tentangnya.
"Ah tidak apa-apa," sahut Pandu berbohong.
"Nggak percaya, pasti ada sesuatu," ucap Mentari penuh selidik. "Ayo katakan apa?"
"Hm, kalau aku mengatakan kalian jangan marah ya." Pandu berkata dengan menahan tawa.
"Apaan sih Dek. Kamu tambah bikin penasaran tahu," ucap Mentari.
"Janji dulu jangan marah." Pandu memastikan.
"Iya Kak Meme janji."
"Mas Gala juga," imbuh Pandu.
"Oke siap," sahut Gala.
"Oke baiklah. Hmm, Pandu hanya mau bilang kalian bertiga namanya aneh." Belum selesai bicara Pandu malah tertawa. Namun, tak mengapa Warni senang melihat putra bungsunya bisa tertawa kembali setelah beberapa hari murung dan gelisah. Semoga itu pertanda tubuh Pandu mulai membaik.
"Apaan sih Dek?" Mentari tak sabaran. Apa gerangan yang membuat adik kecilnya itu tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Gala mengernyit masih belum paham arah bicara Pandu tentang nama dirinya.
"Kalian bertiga namanya aneh, kompak memakai nama benda di angkasa. Ada Galaksi, Bintang dan Mentari. Jangan-jangan kalian malah ingin bersaing lagi. Pandu pikir orang tua kalian itu pasti malas berpikir untuk mencari nama saat kalian lahir." Pandu langsung menutup mulutnya saat sadar ucapannya salah. Dia takut dua orang di depannya marah.
Mentari memberi kode pada Pandu dengan menggerakkan dagunya. Anak itu langsung menoleh ke arah Warni dengan senyuman yang hambar. "Hehe, bercanda Bu," ucapnya dengan cengiran khas anak kecil.
"Kau benar Pandu kita bertiga memang pesaing yang tangguh," kelakar Gala. Dalam hati berkata jangan sampai Bintang dan Galaksi memperebutkan Mentari.
"Masih kalah dengan Galaksi. Matahari malah mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti," ucap Gala terkekeh.
Pandu pusing tidak mengerti dengan pembicaraan para orang dewasa. Dia memilih membuka bingkisan yang disodorkan Gala tadi.
"Waw mobil-mobilan," ucap anak itu dengan ekspresi wajah yang begitu sumringah menatap mobil-mobilan remote dalam genggamannya.
"Suka?" tanya Gala.
"Suka sekali Mas Gala. Terima kasih ya," ucap Pandu bersungguh-sungguh. Sungguh dia tidak pernah dibelikan mainan itu oleh ibunya. Menurut Warni daripada membeli hal yang tidak penting seperti itu mending dibelikan makanan atau ditabung buat biaya sekolah Pandu ke depannya. Padahal Pandu masih kelas 1 SD masih suka bermain-main.
Gala mengangguk. "Nanti kalau Pandu sudah sembuh dan datang ke kota Mas Gala janji bakal belikan mobil-mobilan yang bisa dinaiki."
"Beneran?" tanya Pandu tidak percaya.
"Beneran," sahut Gala sambil mengangguk.
Sementara yang lain sedang bergurau, Warni menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah dia isi dengan gula dan bubuk kopi.
"Ini diminum dulu." Warni memberikan kopi yang dibuatnya kepada Gala dan Tama.
"Terima kasih," ucap keduanya.
"Tapi Papa jangan minum kopi nanti tidak bisa tidur lagi." Gala melarang Tama untuk meminum kopinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa untuk menghargai yang membuatkan," ucap Tama dan langsung meneguk kopinya. Gala pun tidak bisa mencegah karena kopi di tangan sang papa sudah tandas. Warni pun sebenarnya ingin menawarkan teh saat Gala melarang papanya. Namun, sebelum Warni sempat berkata Tama sudah menghabiskan minuman di tangannya.
"Mentari aku pamit ya. Papa harus beristirahat ini." Sebenarnya bukan hanya Tama, tubuh Gala pun sudah ingin sekali menyentuh kasur. Tidur di mobil tadi kurang membuatnya puas.
"Iya Pak hati-hati. Apa perlu saya buatkan kopi untuk pak sopir supaya dia tidak mengantuk di jalan? Dimana pak sopir sekarang, mengapa tidak ke sini?"
"Tidak usah Me. Mereka menunggu di mobil dan sudah membawa kopi sendiri. Lagi pula kami tidak akan pulang sekarang kok. Mungkin kami akan mencari hotel atau penginapan terdekat di sini untuk beristirahat satu malam. Besok baru kami kembali ke kota," jelas Gala.
"Bagaimana kalau menginap di rumahku saja Pak? Kebetulan malam ini kan kosong, tidak ada yang menempati."
"Tidak usah deh Me aku cari hotel saja."
"Aku mau kok tinggal di rumah dia. Jadi malam ini kita tinggal di rumah dia saja," ujar Tama langsung memutuskan sendiri.
"Papa!" protes Gala.
"Ayolah Pak, Om Tama saja mau tinggal di sana kenapa Bapak tidak? Apa karena rumahku sangat kecil dibandingkan rumah Bapak?"
"Papa bukan Om," Tama mengingatkan.
"Iya Pa." Sontak Warni dan Pandu memandang kaget pada Mentari.
"Dia saudaranya papa Winata jadi mentari juga memanggilnya Papa," jelas Mentari berbisik di telinga keduanya.
Kedua orang itu mengangguk paham.
"Bukan begitu Mentari aku tidak ingin merepotkanmu."
"Yang ada Mentari yang merepotkan Pak Gala. Malam-malam begini minta diantar."
"Ya sudah deh aku terima tawaran kamu," ucap Gala pasrah apalagi papanya yang menginginkan ini.
"Ini kunci rumahnya." Warni memberikan kunci rumah pada Gala.
"Kalian beristirahatlah dengan tenang karena besok akan melakukan perjalanan lagi," ujar Warni kemudian.
"Biar Pak RT yang mengantar kalian ke rumah kami. Kebetulan beliau tadi yang mengantar kami ke rumah sakit dan sekarang beliau masih ada di luar, belum pulang," imbuhnya.
"Baiklah Bu."
"Ayo saya antar ke pak RT," ajak Warni sambil berjalan keluar.
"Aku pulang duluan ya Mentari, Pandu," pamit Gala lagi.
"Iya Mas Gala hati-hati," ucap Pandu.
"Hati-hati di jalan Pak!" seru Mentari.
"Iya."
"Ayo Galaksi," ajak Tama tidak sabaran dan terlalu bersemangat. Pria itu terlihat tersenyum bahagia.
"Kenapa papa aneh?" tanya Gala dalam hati.
__ADS_1
"Aku ingin mencari foto-fotonya sewaktu kecil. Benarkah dia itu putriku ataukah bukan?" Tama bermonolog dalam hati.
Bersambung....