
"Aldan jangan tinggalkan Papa!" teriaknya memenuhi seluruh ruangan sedangkan Katrina tampak menangis tanpa suara.
Dokter terlihat membuka alat-alat medis kemudian seorang suster menutup tubuh Aldan dengan kain panjang.
"Jangan ditutup seperti itu, putraku masih hidup!" bentak Bintang sambil melemparkan kain tersebut ke lantai lalu mendekap erat tubuh putranya yang sudah terbujur kaku dengan wajah yang sudah pucat pasi.
"Aldan, kenapa kau harus pergi Nak? Jangan tinggalkan Papa! Tidak!!" pekik Bintang lalu menangis sesenggukan lagi.
Dokter pun memberikan kode pada suster agar memberikan waktu untuk keluarga dan mengajak suster agar keluar sebentar dari ruangan tersebut. Suster tersebut pun mengangguk lalu keluar dan disusul dokter di belakangnya.
Lama Bintang dan Katrina menangis kini tangis mereka mulai reda dan Bintang mulai sadar bahwa teriakan dan tangisan tidak akan bisa mengembalikan nyawa putranya.
"Papa, saya harus meminta tolong dia."
Di saat menyadari banyak hal yang harus dia lakukan agar bisa membuat jenasah Aldan bisa dimakamkan di pemakaman keluarga sedangkan uang yang dia punya semakin menipis saja terpaksa Bintang menghubungi Tuan Winata. Entah akan seperti apa ekspresi papanya yang penting sekarang Bintang membutuhkan dia.
"Halo Bin ada apa?" tanya Tuan Winata menjauh dari keramaian sebab dirinya kini masih berada dalam pesta pernikahan antara Mentari dengan ustadz Alzam.
"Pa, tolong Bintang Pa," ucap Bintang dengan suara serak sehabis menangis.
"Ada apa Bin, kenapa kamu tidak menghadiri pesta?" tanya Tuan Winata penasaran.
"Pa, Aldan meninggal di rumah sakit di Singapura. Tolong bantu Bintang agar bisa membawa pulang jenazahnya."
"Apa! Aldan meninggal? Di rumah sakit luar negeri?" Tentu saja Tuan Winata kaget. Bagaimana tidak kaget kalau pergi ke Singapura saja Bintang tidak pernah pamit ataupun sekedar menginformasikan padanya. Tahu-tahu sekarang mengatakan Aldan sudah tiada.
"Baik saya akan segera ke sana."
"Ada apa Pa?" tanya Arumi yang tampak berlari mendekati Tuan Winata yang menjauh dari kerumunan.
Tuan Winata lalu membisikkan apa yang terjadi terhadap cucunya itu. Arumi tampak syok mendengar berita tersebut.
"Tidak perlu menceritakan pada siapapun agar tidak merusak kebahagiaan pesta di sini. Kita akan berangkat sekarang, kasihan Bintang pasti kebingungan di sana. Dalam keadaan panik kadang-kadang otak kita sama sekali tidak berfungsi," bisik Tuan Winata di telinga Arumi dan wanita itupun hanya bisa mengangguk pasrah.
"Ayo pamit dulu kepada Mas Tama." Tuan Winata menggandeng Arumi naik kembali ke atas pelaminan untuk menemui Tama dan juga Mentari.
__ADS_1
"Mas Tama maaf ya saya tidak bisa menemani sampai pesta usai sebab saya harus pergi sekarang," pamit Tuan Winata pada kakak iparnya itu.
"Ada apa Pa, mengapa wajah papa nampak pucat dan gusar?" tanya Mentari menyadari ada perubahan raut wajah dari paman sekaligus mantan mertuanya itu.
"Tidak ada apa-apa Me, kalian berbahagialah selalu paman ada urusan yang harus diselesaikan," ucap Tuan Winata dan Mentari hanya bisa mengangguk pasrah.
"Ceritakanlah Dik kalau ada masalah barangkali saya ataupun Gala bisa membantunya," ujar Tama.
"Sebenarnya ada masalah pada perusahaan yang diluar negeri Mas dan ini membutuhkan penangananku langsung sebab nasib perusahaan sudah ada di ujung tanduk. Untuk bantuan, setelah saya menanganinya sendiri, tapi belum kelar juga masalahnya baru saya akan menghubungi Gala," jelas Tuan Winata padahal dirinya kini hanya berbohong.
"Ya sudah kalau begitu hati-hati dan semoga lekas selesai permasalahannya." Tama menepuk bahu Tuan Winata.
Tuan Winata pun pamit pergi pada semua keluarga termasuk pada keluar Mentari yang di desa dan juga pada keluarga ustadz Alzam untuk pergi mengurus pemulangan jenazah Aldan ke dalam negeri.
Meninggalkan Tuan Winata dan Arumi yang langsung melakukan penerbangan ke luar negeri. Kita fokus kembali kepada Mentari.
"Pa capek," rengek Mentari melihat masih banyak tamu undangan yang menginginkan berfoto dengan dirinya dan ustadz Alzam. Mentari merasa mendadak menjadi artis saja. Kakinya sudah pegal sedari tadi berdiri saja menyambut para tamu yang mengajaknya berfoto-foto.
"Sebentar lagi selesai, itu hanya tinggal beberapa orang saja, tidak enak kalau harus meninggalkan mereka. Lebih baik kalian duduk saja. Tidak apa kalau duduk sambil berfoto hasilnya tidak kalah bagus," ucap Tama.
"Baiklah Pa," ucap Mentari pasrah.
"Mau kemana?" tanya Tama melihat Mentari dan ustadz Alzam turun dari pelaminan dan mengikutinya langkah Sarah.
"Pulang Pa untuk istirahat sebentar. Nanti malam masih ada acara resepsi juga kan," jawab Mentari. Sebenarnya Mentari sedikit kesal pada sang papa sebab tamu undangan di acara sudah banyak masih mau mengadakan resepsi lagi. Namun, Mentari juga paham Tama melakukan ini karena terlalu bahagia telah menemukan putrinya.
"Iya maksud papa pulang kemana? Papa sudah menyiapkan kamar hotel untuk kalian berdua."
"Ke rumah ustadz saja dulu lah Pa, kata Sarah di sana juga dihias mubasir kalau tidak digunakan."
"Oke baiklah yang penting nanti malam pulang ke hotel dulu baru pulang ke rumah papa."
"Oke siap Pa."
Mereka pun berlalu pergi. Sampai di rumah ustad Alzam, Sarah langsung mengantarkan keduanya menuju kamar.
__ADS_1
"Maaf ya kamarnya cuma seperti ini kalau kamu tidak suka kita bisa ke hotel saja langsung."
"Tidak masalah ustadz apa adanya saja. Bagi Mentari kamarnya sudah bagus," ucap Mentari jujur.
"Ya sudah kamu mandi saja dulu setelah ini kita ibadah bersama."
"Ibadah?" tanya Mentari canggung.
"Iya," jawab ustadz Alzam singkat.
"Siang-siang begini?" tanya Mentari lagi. "Emang tidak bisa ditunda nanti malam ya?"
"Tidak bisa ibadah itu tidak bisa ditunda-tunda," jawab ustadz Alzam.
"Tapi Mentari masih capek."
"Sebentar saja," ucap ustadz Alzam membuat Mentari salah tingkah bahkan wajahnya kini terlihat memerah.
"Meski sebentar juga bakal capek. Nanti malam saja ya," bujuk Mentari.
Ustadz Alzam mengernyit kemudian paham arah pembicaraan Mentari.
"Hei apa yang kamu pikirkan?" tanya ustadz Alzam tidak habis pikir dengan pemikiran Mentari.
Mentari hanya senyum-senyum saja membuat ustadz Alzam merasa gemas melihat istrinya. Pria itu mendekat dan langsung mencium pipi istrinya.
"Tuh kan ustadz langsung nyosor," protes Mentari.
Ustadz Alzam malah mendekati telinga Mentari dan berbisik, " Sana mandi kita akan melakukan shalat dhuhur berjamaah. Jangan ngeres ibadah yang itu nanti malam saja."
"Aaaa!" Mentari menutup wajahnya langsung, ternyata dirinya gagal paham.
"Benar-benar memalukan," ucapnya sambil berjalan cepat ke arah kamar mandi.
"Eh kamar mandinya bukan di sana tapi di sebelah sini."
__ADS_1
Mentari terdiam seketika, ingin rasanya Mentari pingsan saja saat ini karena tidak kuasa menahan rasa malunya pada suami barunya.
Bersambung.