HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 66. Pusing


__ADS_3

Katakan saja pada pak sopir!" perintah Gala lagi.


Mentari yang memang duduk di dekat Pak sopir langsung membisikkan alamat toko Sarah karena Mentari yakin pada jam-jam seperti ini pasti Sarah sudah berada di tokonya.


Pak sopir pun mengangguk dan menyetir mobilnya menuju alamat yang diucapkan oleh Mentari tadi.


Beberapa saat kemudian mobil sudah terparkir mulus di depan toko. Mentari turun diikuti Gala di belakangnya sedangkan yang lainnya dihimbau oleh Gala agar menunggu di mobil saja karena dirinya dan Mentari hanya akan sebentar di toko Sarah tersebut.


"Hai Me apa kabar kamu? Aku hubungi kok nomormu tidak aktif?" tanya Nani pada Mentari.


"Sorry Mbak Nanik aku ganti nomor soalnya dan belum sempat memberitahu kalian," ujar Mentari merasa bersalah tidak mengabari rekan kerjanya itu.


"Gimana masih banyak pesanan?" tanya Mentari basa-basi."


"Alhamdulillah kalau masalah itu tidak pernah sepi nih toko," sahut Nanik.


"Alhamdulillah ya Mbak."


Nanik mengangguk.


"Hari ini kamu nggak masuk kerja?" tanya Nanik melihat pakaian Mentari yang tidak biasanya. Pakaian Mentari terlihat kusut. Tentu saja karena dia tidak sempat pulang ke rumahnya dan mengganti baju.


"Nggak Mbak mau cuti dulu, habis dari kampung nih jenguk adik yang sakit," jelas Mentari.


"Adikmu sakit? Bagaimana keadaannya?"


"Mbak Nanik ini kuenya sudah matang, mau dihias bagai ....?" Mega menghentikan ucapannya saat melihat Gala yang berdiri di belakang Mentari.


"Waw seksi banget!" Mega tampak menganga saat melihat Gala sedang menyugar rambut ke belakang.


"Awas ilermu jatuh mengenai kue Mega," protes Nanik. "Nanti kue di toko kita nggak laku gara-gara pelanggan menilai karyawannya jorok," imbuh Nanik.


Tanpa sadar Mega mengusap mulutnya. Namun, matanya tetap fokus menatap Gala.


"Mana sih Mbak Nanik? Nggak ada ilernya. Tipu-tipu nih Mbak Nanik." Mega lalu meletakkan kue tar itu di atas meja.


"Mbak Nanik yang hias sesuai permintaan ya, aku tidak bisa kalau menghias dengan karakter kartun," imbuhnya.


"Oke." Mega duduk. Melipat tangan di atas meja lalu meletakkan dagunya di atas lengannya dan masih belum mengalihkan perhatian pada Gala.


"Apa sih yang dia lihat?" Heran Nanik yang melihat sikap Mega seperti orang kesambet saja. Nanik mengikuti arah pandangan Mega ternyata tertuju pada orang yang berdiri di belakang Mentari.


"Waw kau ke sini tidak sendirian rupanya," ujar Nanik pada Mentari. Sedari tadi fokus mengobrol dengan mentari dan Mega membuatnya tidak melihat bahwa ada orang lain di tempat itu.


"Cogan Mbak Nanik ada cogan," ucap Mega sedikit berteriak. Gala yang mendengar hanya tersenyum dan menggeleng.


Dasar lo lihat cowok ganteng dikit aja matanya melotot," protes Nanik. "Kerja sana buat roti pesanan berikutnya!" perintah Nanik membuat Mega langsung cemberut.

__ADS_1


"Ah, Mbak Nanik mengganggu saja," protes Mega sambil beranjak masuk ke dapur.


Mentari dan Nanik hanya terkekeh.


"Kalau kamu tidak mau kerja, emang ngapain ke sini, mau menjenguk aku atau mau beli kue?" tanya Nanik pada Mentari.


"Mau ketemu Sarah ada?"


"Loh dia belum datang, memang tidak bertemu di apartemen? Ah iya kamu kan dari kampung, sorry aku lupa," ucap Nanik menyadari kesalahannya dalam mengingat.


"Lupa ya Mbak Nanik meski Mentari tidak pergi ke kampung, tapi kan Mentari sudah tidak tinggal di apartemen. Jadi mentari sekarang jarang ketemu Sarah."


"Oh iya ya aku lupa," ucap Nanik lagi menyadari ke alfaannya sambil menepuk kepalanya sendiri. Gara-gara banyak menangani pesanan pasien yang membludak setiap hari, otak Nanik menjadi lebih fokus pada kue ketimbang dengan keadaan sekitar. Jadi wajarlah dia lupa apa yang terjadi dengan Mentari. bahkan dirinya saja kadang lupa makan.


"Tapi ada apa ya, nanti biar saya yang sampaikan kalau kamu memang buru-buru harus pergi dari sini," ucap Nanik kemudian.


"Bukan aku sih yang mau ngomong sama Sarah, tapi dia tuh Mbak Nani yang mau bicara," tunjuk Mentari pada Gala.


"Oh kira-kira ada yang bisa saya bantu sampaikan?" tanya Nanik pada Gala.


"Dia ingin melamar Sarah," ucap Mentari keceplosan. Padahal tadi belum dijelaskan oleh Gala perkataannya serius atau tidak.


"Benarkah? Tuan ini ingin melamar Sarah?" Nanik tampak kaget hingga volume suaranya tidak terkontrol dan terdengar kemana-mana. Nanik tidak habis pikir Sarah mengatakan tidak dekat dengan laki-laki manapun saat dirinya dan Mega menggodanya. Tahu-tahu ada pria yang datang akan melamar bos-nya itu.


Mega yang mendengar suara Nanik keluar lagi dari dapur."Apa dia akan melamar Bu Sarah?"


"Tega lo Bang baru membuatku jatuh cinta langsung mematahkan hatiku," gumam Mega dan langsung mendapat toyoran di kepala oleh Nanik.


"Sudah selesai rotinya?"


Mega mendumel mendengar pertanyaan Nanik.


"Mau dipecat?" Nanik berlagak menjadi bos.


"Nggak maunya nikah sama dia." setelah mengatakan itu Mega lalu kabur ke dalam dapur.


"Dasar."


"Siapa yang mau menikah?" Tiba-tiba Sarah datang dan berjalan ke arah mereka.


"Kamu kan Bu Sarah, selamat ya Bu," ucap Nanik sambil tersenyum bangga.


"Kata siapa?" tanya Sarah heran dengan pemikiran Nanik.


"Tuh!" Nanik menunjuk Gala yang sekarang berdiri di samping Mentari dengan melipat kedua tangan di depan dada dengan ekspresi dinginnya.


"Siapa yang mau menikah dengan pria kasar seperti dia?"

__ADS_1


"Ih kamu pikir aku mau sama cewek cerewet dan barbar sepertimu?" balas Gala.


"Dasar ya, kamu mengatakan aku cewek bar-bar." Sarah menyingsingkan lengannya siap-siap kalau Gala akan menyerang dirinya.


"Apaan sih Lo? Mau perang?" protes Gala.


Bersamaan dengan itu ustadz Alzam datang. "Sarah! Apa-apaan sih kamu? Benarkan letak pakaianmu!" Ustadz Alzam memandang tajam ke arah Sarah yang telah menunjukkan kemulusan kulit lengannya itu.


"Iya Kak." Sarah menunduk dan membenarkan letak pakaiannya.


"Sudah sana pergi daripada kau bikin masalah denganku," ucapnya lagi setelah melihat ustadz Alzam masuk ke dalam.


"Wah kamu mau mengusirku rupanya. Aku ke sini mau beli kue loh. Kalau pelanggan lain tahu seorang yang ingin membeli kue malah diusir kira-kira mereka mau beli di sini lagi nggak ya?" Gala tersenyum miring.


"Terserahlah!" ketus Sarah pada Gala.


"Mbak Nanik layani dia, terserah kamu ambil harga 2 kali lipat kek tiga kali lipat kek, terserah Mbak Nanik," ucap Sarah dan langsung berlari menyusul sang kakak ke dalam.


"Ini apa-apaan sih, kok malah jadi seperti ini?" Mentari pusing sendiri melihat Gala dan Sarah menjadi berselisih. Apa perkataannya tadi salah? Bukankah Gala sendiri yang mengatakan akan melamar Sarah.


Ah sudahlah aku tidak mengerti.


"Aku ke sini sebenarnya ingin memintakan izin kamu pada dia supaya hari kerjamu dibagi dua denganku. Namun, ya sudahlah jadi salah paham seperti ini."


"Maafkan aku ya Pak Gala, aku terlalu bodoh tadi menyimpulkan," sesal Mentari.


"Nggak apa-apa. Kita pesan saja kue untuk orang-orang yang ada di mobil kasihan mereka lama menunggu."


"Mentari mengangguk.


"Ada kue yang sudah siap dijual Mbak?" tanyanya pada Nanik.


"Oh ada sebentar ya aku ambilkan macam-macamnya," ujar Nanik lalu melangkah ke arah dapur.


"Kamu kok masih di sini?" tanya Nanik saat melihat Mega masih mengintip dari balik pintu dapur.


"Pak Gala! Pak Gala! Kau bikin galau saja. Kenapa tidak melamar Mega saja pasti langsung diterima tanpa ada penolakan."


Pletak


Untuk kedua kalinya Nanik menggetok kepala Mega.


"Aw, Mbak Nanik demen aja yang menyentuh kepalanya Mega," protes Mega.


"Jangan protes, ayo kerja. Bantu aku bawa kue ini keluar!"


"Baik Bos," ucap Mega sumringah, bahagia bisa melihat wajah Gala dari dekat lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2