
Tama terbelalak melihat benda yang ada di tangannya kini. Ini kan ....?" Untuk sementara dia terdiam. Tenggorokannya seolah tercekat untuk melanjutkan Perkataannya tadi.
Tama memeriksa benda tersebut. Benar itu sebuah kalung yang sama persis dengan yang melekat di leher Cahaya sewaktu kecil. Ya sebuah kalung kecil dengan liontin berbentuk matahari.
"Rosa inikah liontin yang kamu pasang tempo dulu?" Tama mengingat dirinya dan Rosa yang pernah berdebat hanya karena istrinya memasang kalung tersebut.
"Bahaya Ma, dia masih bayi jangan dipakaikan kalung seperti itu. Lihat juga liontin bentuk seperti itu bisa melukai bayi kita."
"Tidak akan Pa, putri kita adalah balita yang hebat tidak akan terluka hanya dengan hal-hal kecil seperti itu. Lagipula mama sengaja pesankan yang berbentuk seperti ini karena mama yakin tidak ada bayi lain yang memakainya."
"Tapi Ma?"
"Sudahlah Pa, Papa tenang saja mama jamin ini tidak akan melukai dia. Kalau sampai itu terjadi mama bukan hanya akan melepaskannya, tetapi juga siap menerima hukuman dari papa." Perkataan Rosa membuat Tama menjadi pasrah dan akhirnya mengalah.
"Baiklah Ma kalau itu keputusan Mama, papa menurut saja, tapi ingat jaga putri kita dengan baik jangan sampai terjadi sesuatu sama dia."
"Pasti Pa."
"Rosa inikah mengapa kamu ngotot ingin memasang benda ini di tubuh bayi kita?" Tama baru mengerti tujuan Rosa memasang kalung tersebut. Mungkin istrinya itu memiliki firasat yang tidak baik mengenai sang putri karena seminggu setelah itu Cahaya putrinya diculik dan dibuang ke sebuah hutan.
Tama menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya secara kasar. Dalam hati merasa kesal siapakah orang jahat yang tega melakukan itu semua. Andai saja Cahaya tidak dibuang ke tempat sepi seperti itu. Andai saja orang jahat itu hanya minta tebusan atau dijual kepada orang lain, mungkin saja Tama dan anak buahnya saat itu bisa menemukan Cahaya dengan cepat.
Ah, apalah daya semua sudah menjadi takdir Cahaya dan keluarganya.
"Rosa aku sudah menemukan putri kita. Berbahagialah kau di alam sana." Tangan Tama terlihat bergetar memegang liontin itu.
"Rosa Cahaya itu sekarang sudah menjadi Mentari seperti yang kau harapkan." Dalam keadaan bahagia bercampur syok tubuh Tama tidak seimbang.
Bruk.
Akhirnya tubuh Tama jatuh ke lantai dan pingsan.
"Bunyi apa itu?" Gala kaget dan langsung terbangun dari tidurnya. Bunyi itu terdengar begitu jelas di telinganya.
Gala menoleh ke samping, sang papa sudah tidak ada di sampingnya.
"Papa?"Gala kaget setengah mati melihat Tama sudah tidak ada di sana.
"Ah kemana papa malam-malam seperti ini?" Gala mengingat beberapa waktu yang lalu sang papa pergi keluar dari rumah dan akhirnya tidak ingat arah jalan pulang. Untungnya saat itu anak buahnya begitu sigap mencari dan menemukan tuannya.
__ADS_1
Gala meraup wajahnya kasar. Bisa-bisanya sang papa berulah lagi di tempat yang jauh dari kota. Kalau sampai hilang pasti akan sangat lama untuk menemukan dirinya mengingat tidak ada anak buahnya di kampung tersebut.
"Tunggu dulu! Bunyi itu, mengapa aku terlalu jauh berpikir? Jangan-jangan itu papa sedang terjatuh.
Gala bangkit dari duduknya dan langsung memeriksa di semua ruangan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang papa di sana. Gala terlihat stres. Dia mengacak rambutnya sendiri dengan kasar.
"Ah, sial. Bagaimana ini?" Gala mulai gelisah. Sebelum menghubungi anak buahnya dia terlebih dahulu membangunkan pak sopir dan si bibik.
"Ada apa Den?" Si bibik keluar dari kamar Mentari sambil mengucek mata karena masih ada sisa kantuk. Beberapa kali si Bibik terlihat menguap.
"Bibik lihat Papa?"
"Tidak Den, bibi tidak melihatnya. Bukankah beliau tidur sama aden tadi?"
"Iya Bik, tetapi sekarang sudah tidak ada di kamar."
"Bagaimana bisa Den?" Si bibik terlihat pucat mendengar kabar dari majikannya itu.
"Gala tidak mengerti Bik. Tadi dengar suara orang terjatuh, kupikir papa tadi, tapi aku tidak menemukannya di segala penjuru ruangan.
"Bibik tanya Pak Shaleh saja dulu Den barang kali bersamanya."
"Pak Shaleh! Pak!" Si bibik mengetuk pintu dan memanggil-manggil sopir pribadi Gala.
Beberapa saat pintu terbuka. "Ada apa Bik malam-malam begini menemui ku? Kau pikir aku tidak mengantuk apa?" Pak Shaleh yang setengah sadar melayangkan protes pada si bibik karena telah mengganggu tidurnya.
"Den Gala yang mencari mu." Si bibik yang malas berdebat sekaligus tidak ingin
membuang-buang waktu langsung menyebut nama majikannya.
"Ah rupanya Den Gala, ada apa Den malam-malam begini mencari saya? Apa kita mau kembali ke kota sekarang?"
"Lihat Papa tidak Pak?" Gala langsung to the poin.
"Tidak Den memangnya Tuan Tama kemana?"
"Kalau saya tahu mana mungkin tanya Bapak." Gala terlihat kesal. Pak sopir itu hanya menelan ludah.
"Cepat cari papa sampai dapat!"
__ADS_1
"Iya Den." Pak sopir kelabakan. Baru saja tertidur dibangunnya dengan mendadak dan sekarang nyawanya belum terkumpul semua, sudah disuruh mencari majikannya. Dalam hati keberatan, tetapi juga pasrah. Sebab kalau sudah begitu dia bisa apa? Berusaha mencari majikannya atau siap-siap dipecat. Hanya kedua itulah pilihannya.
Pak sopir berjalan keluar. Sampai di pintu dia berteriak memanggil Gala.
"Den! Den Gala!" teriak pak sopir yang bernama Shaleh itu.
"Ketemu Pak?" Gala berlari-lari menghampiri pak Shaleh yang berdiri di depan pintu.
"Bukan Den, tapi pintunya tidak bisa terbuka, masih terkunci," jelas Pak Shaleh.
"Ah Bapak ini, aku kirain sudah ketemu. Kalau belum tidak perlu teriak-teriak seperti tadi, aku tidak tuli." Mode garang Gala keluar saat kesal. Seperti biasa Pak Shaleh hanya bisa menelan ludah. Tidak berani melawan majikannya itu.
"Sudah sana cari lagi!"
Nah kan, Pak sopir bingung harus mencari kemana. Bukankah pintunya tidak bisa dibuka?
"Iya Den." Pak Shaleh mencari-cari di dalam rumah. Berputar-putar di seluruh ruangan.
"Jangan cari di situ Pak, sudah dipastikan tidak ada. Aku sudah mencarinya tadi," protes Gala membuat Pak Shaleh langsung tepuk jidat.
"Kenapa begitu?" protes Gala lagi melihat Pak Sopir menepuk dahinya.
"Apa perlu kita mendobrak pintunya Den? Kalau begini terus mana mungkin kita bisa mencari di luar?" Dalam hati mengeluh kenapa Tama kabur dengan cara mengunci rumah tersebut. Apakah majikannya itu ingin dirinya mati terjebak dalam rumah. Ah, Pak Shaleh terlalu lebay.
"Den sepertinya hanya ruangan ibu Warni saja yang tidak kita periksa," ucap si bibik.
Gala jadi ingat bahwa dari tadi sebelum tidur papanya terlihat penasaran dengan kamar itu.
"Kenapa tidak diperiksa saja Bik?"
"Pintunya kan dikunci dan kuncinya tidak ada Den," jelas si bibik mengingatkan.
"Pak Shaleh!"
"Dobrak Den?"
Gala mengangguk. "Cepat laksanakan!"
Bersambung....
__ADS_1