HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 201. Melamun


__ADS_3

Semenjak kejadian sidang di rumah Tama, Sarah dan Gala sudah tidak seperti


sebelum-sebelumnya. Mereka berdua lebih banyak diam jika bertemu dan tidak bicara jika tidak ada kepentingan.


"Sarah, Cahaya memintamu untuk makan malam di rumah habis ini," ucap Gala saat berpapasan di pintu keluar perusahaan.


Sarah hanya mengangguk dan keduanya berlalu begitu saja tanpa ada obrolan lebih lanjut, dengan kendaraan masing-masing.


"Kalian aneh, biasanya kalau kalian bertemu, kayak kucing dan tikus tapi, kok sekarang sepi nggak kayak dulu lagi," protes Kiki.


"Oh, jadi kamu senang melihat kami bertengkar terus, begitu?" tanya Gala heran dengan pemikiran Kiki.


"Bukan begitu sih cuma tidak biasa aja, jadi berasa aneh."


"Nggak tahu juga mungkin dia sariawan kali, kau lihat sendiri dia hanya menjawab ucapanku tadi dengan anggukan. Ya sudah, ayo antar aku ke mall dulu ada yang ingin aku beli!"


"Oke siap. Kapan sopir Pak Gala sembuh?"


"Kenapa? Bosan mengantar jemput saya? Cuma sehari aja udah mengeluh."


"Bukan begitu Pak Gala, saya, kan cuma nanya."


"Kau kira pertanyaanmu ada jawabannya? Kapan pak sopir sembuh, emang aku Tuhan bisa menentukan semuanya."


"Waduh gawat kayaknya jiwa-jiwa ingin bertengkarnya beralih padaku," gumam Kiki.


"Cepat setir, banyak bicara!"


"Iya-iya, Pak."


Mereka langsung meluncur ke mall yang dimaksud oleh Gala.


***


"Ada Bintang di sini?" Saat sedang asyik-asyiknya makan malam Tuan Winata menghampiri Tama dan keluarga yang sedang makan bersama di meja makan.


"Bintang? Dia tidak ada di sini," sahut Tama. "Memangnya anak itu kenapa?"


Tuan Winata menggeleng. "Tidak apa-apa hanya saja dari tadi pagi dia tidak ada di apartemennya."


"Sudah diperiksa di kantornya?" sambung Gala akan pembicaraan kedua orang tua itu.


"Sudah, kata teman kerjanya dia tidak masuk kerja hari ini.


"Oh."


"Kenapa tidak ditelpon, Pa?" tanya Mentari ikut nimbrung.


"Sudah, ponselnya tidak aktif. Atau mungkin kamu tahu Nak Meme, tempat favorit dia?"


Mentari menggeleng, dia tidak dapat memberitahu Tuan Winata akan tempat favorit Bintang sebab dia memang tidak pernah tahu akan hal itu. Ketika menjadi sepasang suami istri, Mentari jarang diajak keluar oleh Bintang. Walaupun keluar hanya sebatas belanja dan makan di restoran.


"Kemana lagi aku harus mencari anak itu. Seharian tidak pulang tanpa memberi kabar."

__ADS_1


"Papa tenang saja mungkin sebentar lagi dia pulang Pa," ucap Mentari menenangkan Tuan Winata.


"Cahaya benar, makanlah dulu di sini sambil menunggu informasi kepulangan Bintang dari Arumi. Nanti kalau sudah larut malam belum datang juga kita akan bantu mencari," ujar Tama.


"Baiklah," ujar Tuan Winata dan ikut duduk diantara mereka.


"Aku ambilkan nasi, Paman?" Sarah menawarkan diri saat melihat Tuan Winata ingin meraih tempat nasi dan kesulitan karena kejauhan.


"Boleh, Nak Sarah."


Sarah pun mengambil piring dari tangan Tuan Winata dan mengisi piring tersebut dengan nasi.


"Sudah Nak Sarah, cukup!"


Sarah menghentikan mencentong nasinya.


"Apa perlu saya ambilkan ikannya Paman, mungkin ikan-ikan ini yang tidak bisa terjangkau dengan tangan Paman?"


"Tidak perlu saya ambil yang ini saja."


Sarah mengangguk dan menyerahkan piring di tangannya pada Tuan Winata.


"Terima kasih Nak Sarah,"ujar Tuan Winata dan Sarah hanya mengangguk lagi lalu melanjutkan makannya kembali.


"Bintang belum menemukan calon istri?" tanya Tama tiba-tiba.


"Belum dia masih ingin sendiri mungkin," ujar Tuan Winata. Yang mereka tahu Bintang pun sudah bercerai dengan Katrina.


Pertanyaan Tama membuat Gala mengerutkan dahi.


"Jangan bilang papa mau meminta bantuan Paman Winata untuk menjodohkan kami," batin Gala.


"Baik, memang kenapa?" tanya Tuan Winata sambil terus mengunyah makanannya.


"Mantu idaman dia. Kau lihat tadi dia bahkan tidak segan-segan melayanimu makan tanpa diminta."


Gala menghentikan kunyahannya, menatap sang papa dengan aneh. Lalu mengambil air untuk minum.


"Terus? Apa hubungannya dengan Bintang?" Tuan Winata pun tidak mengerti dengan pembicaraan Tama yang sedikit aneh itu.


"Saya kok rasanya nggak rela ya kalau Nak Sarah nikahnya sama orang diluar sana. Bagaimana kalau Bintang kita jodohkan dengan Nak Sarah?"


"Uhuk-uhuk." Gala tersedak minumannya sendiri.


"Hati-hati Gala, minum kok buru-buru memang mau kemana?" protes Tama.


Gala tidak menjawab hanya meraih tisu dan mengelap bibirnya yang basah.


"Boleh, kalau mereka berdua setuju kenapa nggak?" ujar Tuan Winata setuju dengan ide Tama.


Ustadz Alzam dan Mentari tidak mau ikut campur dengan urusan para orang dewasa meskipun sudah dipastikan Sarah tidak akan mau dengan perjodohan yang dirancang oleh kedua pria tua itu.


"Kenapa tidak kau jodohkan sama Gala saja?" tanya Tuan Winata kemudian.

__ADS_1


"Dia tidak mau, kalau Bintang mungkin mau. Sarah juga males kalau sama Gala, mereka berdua kebanyakan bertengkar dibandingkan akurnya," jelas Tama.


"Oh, begitu? Kalau Bintang nanti mah gampang, insyaAllah kali ini dia bakal nurut sama saya soal jodoh, tapi bagaimana dengan Sarah?"


"Sarah bagaimana menurutmu?" tanya Tama.


"Boleh Paman," jawab Sarah sekenanya padahal dia tidak tahu apa yang dibicarakan kedua pria ini sebelumnya karena sedari tadi Sarah melamun saja.


"Mau?" tanya Tama tidak percaya.


Sarah mengangguk membuat semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka dari makanan terhadap wajah Sarah.


Jangan tanya Gala, pria itu terbelalak tak percaya.


"Kamu serius, Sarah?" Tanpa sadar pertanyaan itu keluar dari mulut Gala dan Sarah hanya menjawab dengan senyuman.


"Cekk." Gala berdecak kesal lalu bangkit dari duduknya dan pergi dari meja makan meninggalkan semua orang yang menganggap aneh sikap dirinya.


"Kau tahu apa yang tadi kami tanyakan Nak Sarah?" tanya Tama setelah Gala pergi.


Sarah tersenyum dengan rasa bersalah. "Tidak, Paman."


"Sudah kuduga," ujar Tama.


Sarah tidak ingin memperpanjang pembicaraan. Dia kembali melanjutkan makannya.


"Pasti kamu melamun, kan Sarah sedari tadi? Apa ada masalah?" bisik sang kakak di telinga Sarah.


"Tidak Kak, Sarah tidak ada apa-apa."


"Baiklah kalau begitu," ujar ustadz Alzam pasrah. Kalau sang adik tidak mau terbuka ya sudah, dia juga tidak bisa memaksa sebab Sarah sudah dewasa dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau gadis itu butuh bantuan, tanpa ada yang memaksa pun dia akan mengatakan pada sang kakak dan meminta pendapatnya.


Di dalam kamar Gala tampak gelisah. Pria itu duduk bersila dan menyandarkan bahunya pada sandaran ranjang sambil mendekap bantal di depan dada.


"Kenapa aku nggak ikhlas ya Sarah dengan Bintang?"


"Argh! Ada apa denganku? Mengapa aku jadi mengurusi gadis itu?" Gala menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Apa aku menyukainya? Ah, tidak-tidak, itu tidak mungkin. Aku hanya ingin gadis itu tidak jatuh pada pria yang tidak tepat. Bintang itu lelaki brengsek dan aku tidak mau Sarah akan bernasib sama dengan Cahaya."


"Bintang sudah berubah Gala, dan papa yakin dia pasti akan membahagiakan siapa saja yang menjadi istrinya nanti."


"Papa serius mau menjodohkan mereka?"


"Iyalah, apa kamu pikir papa bercanda?"


Gala hanya bisa menelan ludah.


Tama keluar dari kamar Gala. Sampai diluar pria itu menggeleng sambil tersenyum.


"Dasar pria gengsian, tidak mau mengakui perasaannya sendiri. Ya sudah, Papa mau lihat sampai dimana kamu kuat menahan perasaanmu sendiri pada Sarah."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2