HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 127. Restu 2


__ADS_3

Mentari yang mendengar pengakuan Warni terhadap Gala dan Tama hanya termenung di pintu.


Wanita itu terlihat syok kemudian tidak bertahan lama tubuhnya limbung. Untung saja ustadz Alzam segera menangkap tubuh Mentari agar tidak sampai membentur lantai.


"Kak! Kak Mentari tidak apa-apa, kan?" tanya Sarah panik. Gadis itu tampak menepuk-nepuk pipi Mentari agar tersadar.


"Kak Alzam bagaimana ini Kak, apa yang terjadi dengan Kak Mentari?"


Ustadz Alzam hanya menggeleng karena memang tidak tahu apa yang menyebabkan Mentari pingsan.


Mendengar kegaduhan di luar sana semua orang menoleh ke arah datangnya suara.


"Mentari!" Semua orang langsung berlari ke arah pintu melihat Mentari ada dalam gendongan ustadz Alzam.


"Kenapa dia Nak?" tanya Warni pada ustadz Alzam dengan raut wajah yang panik.


"Tidak tahu Bu, sepertinya dia pingsan karena mendengar pembicaraan kalian," tebak ustadz Alzam.


"Ayo tolong bawa ke dalam!" perintah Tama dan ustadz Alzam pun mengangguk serta masuk ke dalam rumah.


"Mari bawa ke sini!" Warni mengarahkan agar ustadz Alzam membaringkan tubuh Mentari di kamarnya sendiri.


Ustadz Alzam pun menurut dan menaruh Mentari di atas ranjang.


Sarah dan Gala mendekat ke tepi ranjang. Menggoyangkan tubuh Mentari agar merespon dan bangun.


"Me, bangun Me!" Panggi Gala dengan suara keras. Tidak berhasil pria itu memberi rangsangan di kulit dengan menepuk-nepuk pipi seperti yang dilakukan Sarah tadi. Tidak berhasil juga Gala mencubit lengan Mentari.


"Pak Gala ini mau menyadarkan Mentari apa mau melakukan kekerasan sih? Pakai cubit-cubit segala," protes Sarah.


"Diam! Berisik banget sih lo," protes Gala.


Sarah memutar bola matanya malas dan menelan ludah mendengar ucapan Gala.


"Dasar modus, bilang saja mau bersentuhan dengan Kak Mentari. Mau ambil kesempatan dalam kesempitan dia," gumam Sarah.


"Apa kamu bilang?" protes Gala karena masih bisa mendengar ucapan Sarah.


"Tidak, saya tidak bilang apa-apanya. Pak Gala saja yang berhalusinasi mungkin," jawab Sarah dengan ekspresi wajah yang cuek dan undur ke belakang.


"Awas jangan sampai kak Mentari dikasih nafas buatan, nanti saya laporkan atas tuduhan pelecehan."

__ADS_1


Gala melotot mendengar perkataan Sarah. Gadis itu benar-benar bisa membuatnya hipertensi kalau diladeni.


"Sudah-sudah kalian kenapa sih seperti kucing dan tikus saja Kakak lihat?" protes ustadz Alzam pada Sarah.


"Ibu punya air es tidak?" tanya ustadz Alzam kemudian.


"Buat apa Nak?" tanya Warni penasaran.


"Untuk ditaruh di pipinya Bu. Biasanya meletakkan benda yang sangat dingin seperti es pada kulit wajah bisa membuat seseorang tersadar dari pingsannya," jelas ustadz Alzam.


Warni mengangguk dan langsung bergegas pergi ke dapur untuk mengambil es di dalam kulkas. Setelahnya menyerahkan es itu pada ustadz Alzam.


Perlahan ustadz Alzam meletakkan es tersebut di pipi Mentari. Awalnya tidak ada reflek, tetapi lama-kelamaan Mentari mengerjapkan mata.


"Alhamdulillah dia sudah sadar." Ustadz Alzam menaruh kembali es tersebut pada sebuah baskom.


Saat pertama kali Mentari membuka mata yang dilihatnya wajah Tama yang terlihat sangat lelah. Namun, pria itu tampak tersenyum melihat Mentari membuka mata.


"Papa, Papa Tama benar-benar ayah kandungku?" tanya Mentari masih belum bisa percaya seutuhnya.


"Iya kamu putriku yang hilang," jawab Tama.


"Tapi mengapa Papa begitu percaya kalau aku adalah putri papa?" Mentari bangkit dan duduk serta bersandar pada ranjang.


"Kau tidak dapat mengelak lagi, kau itu benar-benar putriku yang sudah hampir dua puluh tahun terpisah dari kami."


Mentari menatap Warni, perempuan itu terlihat mengangguk.


"Papa." Mentari langsung memeluk Tama dengan menangis. Pria setengah baya itu mengelus-elus rambut Mentari yang terbungkus hijab.


Sarah dan ustadz Alzam


menyaksikan itu semua dengan terheran-heran. Mereka hanya diam saja karena merasa tidak punya hak untuk ikut campur. Dalam hati Sarah merasa lega. Kalau memang benar Mentari adalah adik Gala berarti kakaknya tidak ada saingan lagi.


"Akhirnya kita bisa hidup bersama lagi setelah sekian tahun terpisah dan ternyata dugaanku selama ini tidak salah bahwa kau itu memang putriku." Tama semakin mengeratkan pelukannya. Memberikan kehangatan kepada sang putri yang bertahun-tahun tidak pernah Mentari dapatkan.


Setelah puas mereka berpelukan dan melepas tangis haru akhirnya Mentari ingat dengan tujuannya semula.


"Pa, Mentari datang ke sini untuk meminta restu," ucap Mentari sambil mengurai pelukannya terhadap Tama. Wanita itu tampak melihat ke atas. Ke wajah sang papa.


"Restu apa?"

__ADS_1


"Ustadz Alzam ingin menikahi Mentari," ucap Mentari dan langsung menunduk.


"Dia yang namanya ustadz Alzam?" tanya Tama sambil menunjuk ke arah ustadz Alzam.


"Benar Tuan."


"Apakah kamu yakin bisa bahagia kalau hidup dengan pria itu?" tanya Tama meyakinkan Mentari.


"Insyaallah Pa," jawab Mentari masih dengan posisi menunduk.


"Dan kamu, bisakah menjanjikan kebahagiaan untuk dia?" tanya Tama pada ustadz Alzam.


"Kalau tentang kebahagiaan, itu relatif Tuan. Mungkin menurut saya Mentari bahagia, tetapi belum tentu bagi Mentari. Namun, saya berjanji akan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia. Menyayangi dengan tulus, memenuhi segala keperluannya, membimbing dia dengan cinta, bertanggung jawab sebagai suami. Apapun itu akan saya lakukan demi membuat Mentari selalu tersenyum bahagia."


"Baiklah saya merestui." Tama menepuk pundak ustadz Alzam.


"Terima kasih Tuan."


"Bu, bagaimana menurut Ibu?" Sekarang ustadz Alzam bertanya pada Warni. Bagaimanapun Warni adalah wanita hebat yang telah merawat Mentari semenjak kecil tanpa membeda-bedakan dengan Pandu sehingga tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Mentari bahwa dirinya hanyalah anak angkat Warni.


"Kalau saya terserah Mentari. Pernikahan yang didasari dengan keterpaksaan itu tidak bagus seperti halnya pernikahan Bintang dengan Mentari dulu. Jadi sekarang saya sarankan Mentari memilih pasangan hidupnya sendiri," terang Warni panjang lebar.


"Iya Bu, Mentari sudah memutuskan hanya saja perlu restu dari Ibu," ujar Mentari.


"Kalau begitu saya pun merestui," pungkas Warni.


"Terima kasih Bu," ucap ustadz Alzam hampir serempak dengan Mentari.


"Tunggu dulu, papa sama Mentari perlu di tes DNA biar jelas Mentari dan papa ayah dan anak atau bukan," usul Gala.


"Alah, mau adik kandung ataupun bukan tetap saja Kak Mentari akan memilih kakakku," ledek Sarah. Dia tahu arah pikiran Gala.


"Memang lebih baiknya di tes DNA saja biar jelas semuanya sebab di pernikahan kami nanti dibutuhkan bin nya Mentari itu siapa," ucap ustadz Alzam dan semua orang mengangguk setuju.


"Pantas saja pernikahanku dengan Mas Bintang waktu itu aneh tidak menyebutkan nama ayahku siapa," gumam Mentari.


"Ibu memang mengatakan pada pak penghulu bahwa sebenarnya kami tidak tahu siapa orang tuamu agar beliau yang menghandle semuanya harus mengucapkan ijab seperti apa dan syukurlah Bintang ataupun Tuan Winata tidak curiga," terang Warni.


"Ah, ibu kenapa baru mengatakan sekarang kalau Mentari bukan anak kandung Ibu," protes Mentari.


"Maafkan, ibu hanya takut akan kehilangan dirimu dan ibu juga takut tidak bisa memberitahukan siapa orang tuamu yang sebenarnya."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2