HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 199. Penolakan Sarah


__ADS_3

"Kami berdua memutuskan untuk menikahkan kalian berdua," lanjut Tama.


"Apa?" teriak Gala dan Sarah serentak.


"Sarah jangan teriak-teriak!" protes ustadz Alzam.


"Kompak banget sih kayak paduan suara, kayaknya kalian berdua memang cocok nih," ujar Mentari sambil terkekeh.


"Awas Ca jangan jadi kompor entar panas sendiri," protes Gala dan Mentari langsung diam.


"Ya Cahaya benar, daripada kalian mempermalukan nama baik keluarga kita, mending kalian langsung menikah saja sebelum kabar kehamilan Sarah menyebar kemana-mana. Nggak ada angin enggak ada hujan langsung sukses bikin anak. Memang sih buat anak nggak perlu belajar. Emang kalian pikir papa nggak punya modal apa buat nikahin kalian berdua."


"Astaga Pa, Papa ngomong apa sih? Gala di kantor sudah pusing di rumah juga dibuat tambah pusing." Gala memijit pelipisnya.


Lagipula ngapain sih kabar beredar cepat kayak gini. Kayaknya aku belum sampai rumah nih kabar sampai duluan.


"Nggak usah dibikin pusing Gala!bilang saja kamu setuju kalau papa nikahkan dengan Sarah. Biar nanti papa dengan yang lainnya yang mengurus semuanya."


"Tidak mau Pa."


"Tidak mau Paman."


"Kamu tuh yang harus bertanggung jawab. Jelaskan pada papa yang sebenar-benarnya!" Gala menuding Sarah dan menyalahkan gadis itu.


"Loh kok saya yang disalahkan sih, Pak Gala yang mulai duluan. Pak Gala yang harus tanggung jawab!" bantah Sarah.


Enak saja Gala yang iseng mengatakan Sarah hamil kok malah gadis itu yang disalahkan. Dimana-mana yang memfitnah itu yang salah bukan yang difitnah. Sarah tidak terima.


"Tenang Nak Sarah paman pastikan anak paman akan bertanggung jawab."


Sarah langsung tepuk jidat.


"Salah ngomong deh kayaknya aku," batin Sarah.


"Tidak perduli siapa yang memulai duluan yang jelas zina itu sudah terjadi, bukan?"


"Kakak! Sarah tidak hamil," rengek Sarah. Bagaimana mungkin sang kakak memutuskan sesuatu tanpa bertanya terlebih dahulu pada dirinya.


"Tidak Pa saya tidak mau menikah dengan Sarah, titik. Sudah ah aku makan dulu." Gala langsung bergegas pergi dari ruang keluarga. Namun, tangannya ditahan oleh Tama.


"Jangan pergi dulu!"

__ADS_1


"Sudahlah Pa, carikan saja Sarah pria lain yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Kiki mungkin mau, sepertinya dia suka sama Sarah."


Sarah melotot ke arah Gala. Bisa-bisanya dia meminta Tama untuk menjodohkan dirinya dengan Kiki. Kalau bukan di hadapan keluarga sudah melayang sandal Sarah menyentuh wajah Gala.


"Kamu yang membuat dia hamil kok Kiki yang harus bertanggung jawab? Mana mau dia."


"Dengar ya Pa Gala tidak pernah menghamili Sarah, jadi Gala nggak mau nikahin dia. Lagian Papa mau darah tinggi menyaksikan kami berantem tiap hari?"


"Dan kamu Sarah jangan harap aku mau bertanggung jawab atas anak dalam kandunganmu!"


"Siapa juga yang mau nikah sama kamu. Ge-er amat jadi orang."


"Tuh Papa dengar sendiri bukan dia tidak mau menikah denganku. Sekarang lepaskan Gala kalau tidak mau anak papa ini mati kelaparan." Setelah mengatakan itu Gala langsung bergegas pergi.


Tama akhirnya duduk kembali.


"Kalau bukan Mas Gala, siapa yang telah menghamili dirimu Sarah?" tanya ustadz Alzam masih menginterogasi sang adik. Sepertinya pria itu terlalu serius.


"Sudah saya bilang Sarah tidak hamil Kak. Harus berapa kali Sarah menjelaskan. Kalau Kak Alzam tidak percaya kita bisa ke dokter sekarang. Sarah akan membuktikan bahwa Sarah tidak hamil, Sarah masih virgin. Lagian mana mungkin Sarah berani mempermalukan Kak Alzam dengan kehamilan tanpa suami."


"Terus kabar kehamilan itu?"


Ustadz Alzam dan Tama mengangguk.


"Bisa aku percaya ucapanmu Sarah? Apakah kamu bisa mempertanggung jawabkan ucapanmu?"


"Bik boleh pinjem Al-Qur'an nggak?" tanya Sarah pada seorang pembantu yang tidak sengaja melintas.


"Ada Nona, sebentar saya ambil." Pembantu itupun berbalik, berjalan menuju kamarnya.


"Ngapain minta kitab suci? Mau ngaji?" Ustadz Alzam heran dengan permintaan Sarah pada pembantu di sana.


"Kak Alzam diajak ke rumah sakit untuk ngecek kehamilan nggak mau tapi masih meragukan Sarah. Yaudah Sarah bersumpah saja di atas Al-Qur'an nantinya. Kalau sudah begitu apakah Kak Alzam masih meragukan Sarah?"


"Astaghfirullahaladzim sampai segitunya Sarah. Sudah nggak usah, Kakak percaya kok."


Sarah langsung menghembuskan nafas lega.


"Akhirnya kelar juga nih masalah. Kupikir aku diajak ke sini tadi ada apa dengan Kak Mentari, eh nggak tahunya ada sidang mendadak.


"Nak Sarah, kalau Paman jodohin kamu sama Gala, kamu memang tidak mau ya?" tanya Tama tiba-tiba.

__ADS_1


"Maksud Paman?"


"Paman pengen putra Paman nikahnya sama kamu. Jadi nanti kalau Cahaya sama Nak Alzam pulang ada kamu di sini dan sebaliknya kalau kamu dan Gala yang menemani ibu kalian di sana ada Cahaya sama Nak Alzam di sini."


Sarah terdiam memikirkan ucapan Tama.


"Bagaimana Nak Sarah?"


"Bagaimana ya Paman? Saya sama Pak Gala tidak ada kecocokan sama sekali. Dimana ada kami berdua atmosfer sekitar langsung terasa panas seketika. Apalagi dia juga tidak menyukai Sarah. Kami itu seperti air dan minyak yang tidak mungkin bisa disatukan."


"Siapa bilang Sarah minyak dan air nggak bisa disatukan? Tambahkan saja sabun atau telur beres," ujar Mentari dan langsung mendapat kedipan mata dari Sarah.


"Oke aku nggak ikut campur," ucap Mentari pasrah.


Tama hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Sarah.


"Lagipula kalau sampai saya menikah dengan Pak Gala, orang-orang akan membenarkan bahwa saya memang benar-benar hamil oleh Pak Gala dan pastinya pertalian keluarga ini ya tidak akan berkembang luas. Kalau misalnya saya sama orang luar dan Pak Gala sama orang luar juga kan keluarga kita tambah luas."


"Ya kamu memang benar Sarah," ucap Tama.


"Paman tenang saja meskipun Sarah tidak menikah dengan Pak Gala, Sarah akan menganggap Paman Tama seperti ayah sendiri seperti Kak Alzam."


Untuk kesekian kalinya Tama mengangguk. Mentari heran dengan sang Papa dari kemarin-kemarin berniat sekali menyatukan keduanya. Eh giliran dapat penjelasan dari Sarah malah manggut-manggut saja.


"Ya sudah kalau begitu kita makan malam bersama dulu," ajak Tama.


Semua orang mengangguk dan langsung bergegas pindah tempat. Sampai di sana Gala sudah hampir menyelesaikan makan malamnya.


Sarah bersenandung kecil sambil mengambil makanan membuat Gala memicingkan mata ke arah gadis itu dengan perasaan curiga.


Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa gadis itu malah terlihat ceria?


"Apa lihat-lihat?!"


"Cih siapa yang melihat ke arahmu, aku cuma melihat ke perut Cahaya. Sepertinya keponakanku sudah mulai besar," kilah Gala.


"Cih, terserah Pak Gala mau ngomong apa. Lain kali kalau berbuat sesuatu tanggung jawab sendiri. Jangan lempar batu sembunyi tangan, terus lepas tangan deh. Laki-laki pengecut tuh namanya."


Gala meletakkan sendok, meraih gelas dan minum lalu tanpa berkata-kata dia langsung meninggalkan meja makan menuju kamarnya sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2