
"Lah memang kenapa? Apa salahku?" batin Sarah.
"Oke karena kerjasama kita sudah deal dan perjanjian sudah ditandatangani kami pamit duluan ya Pak Gala dan juga Nyonya Sarah. Hari ini kami juga ada jadwal bertemu orang lain." Klien tersebut bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan ke arah Gala.
Gala mengangguk dan berkata, "Okey."
Mereka pun bersalaman bergantian dan saat tiba pada giliran Sarah, wanita itu hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda salaman tanpa bersentuhan.
Klien nya itu menjadi salah tingkah sebab Sarah seolah menolak bersentuhan tangan dengannya padahal mereka sudah mengulurkan tangan meskipun cara Sarah halus karena wanita itu juga melemparkan senyuman manis sehingga tidak membuat keduanya tersungging.
"Mr. pernah dengar enggak istilah 'boleh lihat nggak boleh dipegang'?" tanya Gala.
Kedua kliennya itu mengangguk serentak. Mereka memang sedikit banyak, tahu tentang bahasa dan istilah yang ada di Indonesia sebab sudah lama bekerja sama dengan orang-orang yang ada di dalam negeri ini.
"Saya terapkan pada istri saya, hahaha...." Gala tertawa renyah membuat kedua klien nya itu tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Pak!" Sarah mendelikkan mata kepada Gala seolah sebagai kode bahwa dirinya protes keras.
Gala tersenyum ke arah Sarah dan merasa bangga dengan wanitanya itu. Tidak sia-sia Gala menjaga diri dari hal-hal yang menggoda imannya sebab Tuhan kini memberikan hadiah seorang istri yang juga bisa menjaga diri.
Bahkan Sarah pun tidak mau tersentuh oleh laki-laki lain meskipun hanya tangannya saja.
"Maaf ya Mr., bukan apa-apa saya dari kecil memang tidak biasa bersentuhan dengan yang bukan muhrim apabila tidak dalam keadaan terdesak, sebab kakak saya dan juga agama saya mengajar–"
"Tidak apa-apa Nyonya Sarah, tidak masalah. Saya sedikit banyak tahu mengenai ajaran agama anda," jawab kliennya itu memaklumi. Dilihat dari pakaian yang dikenakan Sarah pria itu paham Sarah adalah wanita sholehah.
"Terima kasih Mr. senang bertemu dan berkenalan dengan Anda."
"Saya juga Nyonya. Kalau begitu saya permisi."
"Sampai jumpa Mr. Sampai bertemu di lain kesempatan," ucap Gala.
"Sampai jumpa Pak Gala, eh saya ada pesan buat Pak Gala. Kalau Pak Gala juga tidak ingin istri Pak Gala dilihat pria lain mending pak Gala kardusin saja Nyonya Sarah, hahaha...," kelakar kliennya itu sambil menepuk bahu Gala.
"Ya, ya Mr., bisa jadi pertimbangan itu." Ketiganya pun tertawa bersama.
"Sudah ya Pak Gala kami hampir terlambat," ujar klien itu sambil melihat ke arah arloji di pergelangan tangannya.
"Oke Mr."
Kedua kliennya itupun meninggalkan restoran.
"Puas ketawanya?" tanya Sarah setelah kedua klien Gala sudah menjauh.
"Cck, kenapa ngambek sih? Membuat suami tertawa itu pahala loh."
"Yang ada Pak Gala menertawakan Sarah."
"Aish, sensitif dia. Mbak pesan makan!" seru Gala pada pelayan yang kebetulan lewat di samping tempat duduk mereka.
Sarah mencebik mendengar Gala mengatakan dirinya sensitif.
"Jangan manyun begitu bibirnya kalau tidak ingin aku cium di sini!" ancam Gala.
__ADS_1
Sarah tidak menggubris perkataan Gala, dia tetap mencebik sambil memalingkan muka. Gala yang gemas langsung bangkit berdiri dan mengecup bibir sang istri.
Sontak Sarah langsung membelalakkan matanya ke arah Gala. Namun, dia tidak bisa protes sebab bibirnya masih dalam kecupan Gala.
"Ekhem. Maaf Pak saya dipanggil ke sini mau diminta buku menu apa disuruh menyaksikan keromantisan kalian?" tanya sang pelayan menatap keduanya tak bergeming.
Segera Sarah mendorong tubuh Gala ke belakang.
"Memalukan." Sarah langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia benar-benar malu sebab dipergoki oleh pelayan. Dalam pikiran Sarah pasti pelayan itu berpikiran buruk tentangnya.
"Akh, mau ditaruh dimana mukaku, Pak Gala masa mesumnya nggak ketulungan. Di depan umum lagi," ucap Sarah masih dengan menutup mata.
"Kenapa harus malu Sarah? Kita kan suami istri," protes Gala sambil berusaha membuka tangan Sarah yang menutupi pandangan wajahnya.
"Pokoknya aku malu, mbaknya pasti berpikiran macem-macem tentang aku," ucap Sarah masih dengan wajah tertutup.
"Mbak tahu kan bahwa kami suami istri?" tanya Gala pada pelayan perempuan yang masih berdiri di samping meja.
Pelayan itu mengangguk.
"Ngomong Mbak, ngomong! Istri saya tidak melihat anggukan Mbak!" perintah Gala.
"Iya Pak saya tahu Ibu Sarah ini istri Pak Gala," ujar pelayan itu barulah Sarah mau melepaskan kedua tangannya dari wajah. Namun, karena menyadari dirinya menjadi sorotan pengunjung di meja lain, Sarah memejamkan matanya kembali dan menutup dengan kedua tangan lagi.
"Sarah ya ampun!" Gala menggaruk kepalanya bingung harus berkata apalagi agar Sarah bersikap normal seperti biasa.
Tak sengaja Gala melihat seorang pria yang duduk pada sebuah kursi dengan gitar di atas meja. Pria itu baru saja menyelesaikan makannya.
"Saya?" Pria itu menunjuk dadanya sendiri.
"Iya kamu, bawa gitarmu ke sini!"
Buru-buru pria itu menaruh gelas bekas minumnya di atas meja. Pria itu melangkah ke arah Gala dengan gitar di tangannya.
"Mau apalagi dia?" Sarah lalu membuka mata dan mengintip lewat sela-sela jarinya. Dia berdoa dalam hati agar Gala tidak melakukan hal-hal yang aneh lagi.
"Ada apa Mas?" tanya pria itu setelah sampai di sisi Gala.
"Mas nya bisa nyanyi lagu yang berjudul menikahimu milik Kahitna?"
"Bisa Mas."
"Bernyanyilah nanti aku bayar mahal!"
"Baik Mas," sahut pria itu begitu antusias.
"Harus merdu suaranya awas kalau nggak merdu!" ancam Gala. Pria itupun merubah wajahnya dengan tatapan memelas.
"Jangan begitu ekspresinya ini lagu bahagia!"
"Pak astaga, kau suka sekali mengancam." Sarah akhirnya membuka tangan yang menutupi wajahnya.
"Hai semuanya saya persembahkan lagi untuk istri saya melalui Mas nya ini!"
__ADS_1
Sarah terbelalak.
Orang-orang yang tadinya mengobrol kembali fokus mengarahkan pandangan mereka pada meja Gala.
Gitar dipetik dan pengamen itu menyanyikan lagu sesuai pesanan Gala. Semua orang menikmati lagu yang dinyanyikan pria yang itu yang tenyata suaranya sangat merdu sehingga membuat orang-orang pada baper.
"Lumayan ada hiburan gratis," ucap orang-orang dalam hati."
Sorak sorai memenuhi ruangan restoran saat pengamen itu menyelesaikan lagunya.
"Terima kasih Mas. Sarah ini lagu untukmu, manis bukan?"
Sarah mengangguk dengan wajah bersemu merah.
"Oya terima kasih," ucapnya kemudian dan langsung menunduk.
"Bagaimana teman-teman?"
"Seru Mas tapi kayaknya lebih seru kalau Mas nya sendiri yang bernyanyi dengan pasangan," sahut seseorang dari mejanya.
"Setuju!" seru yang lainnya serentak.
Gala menoleh pada Sarah. "Bagaimana?"
"Aku malu," sahut Sarah dan menutup wajahnya kembali.
"Sejak kapan sih Sarah jadi pemalu? Ayo dong, please!" Gala memohon dengan tatapan yang dibuat semelas mungkin.
"Lagu apa?" tanya Sarah kemudian.
"Yang kamu tahu apa? 'Kamulah takdirku,' hafal?"
Sarah mengangguk.
"Oke Mas bisa nggak ambil nadanya?"
"Bisa Mas," ucap pengamen itu.
Gitar pun dipetik dan keduanya menyanyi dengan penuh penghayatan seolah lirik lagu yang dinyanyikan adalah kata-kata tulus dari dalam hati keduanya."
Para pengunjung restoran yang berada dalam ruangan tersebut pun larut dalam nyanyian yang dilantunkan oleh keduanya.
"I love you istriku tercinta," ujar Gala saat sesudah menyelesaikan lagunya.
"Terima kasih suami mesumku. I love you too," ujar Sarah membuat sorak-sorai dari para pengunjung restoran tersebut bahkan hati Gala pun ikut bersorak mendengar pengakuan cinta dari mulut Sarah.
"Terima kasih istriku. InsyaAllah kita akan bersama dunia akhirat, aamiin."
Sarah meneteskan air mata haru.
"Aamiin."
Bersambung.
__ADS_1