HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 269. Penuturan Izzam


__ADS_3

"Sekarang giliranmu!" seru Mentari sambil berjalan keluar dari kamar mandi.


Bintang mengangguk lalu beranjak dari ranjang dan mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Setelahnya mereka bersiap-siap untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.


Selesai shalat subuh dan membaca dzikir serta doa, Bintang langsung terburu-buru keluar kamar tanpa mengganti pakaiannya terlebih dulu.


"Mau kemana sih Mas?" Mentari begitu heran dengan sikap Bintang yang begitu gesit bergerak ke sana kemari padahal tubuh Mentari sendiri rasanya masih remuk saja.


Mentari melepas mukena dan melipat di atas sajadah. Dia lalu merapikan kasur dan mengganti spreinya.


Tiba-tiba dia melihat Bintang kembali dengan menggendong tubuh Izzam.


"Astaghfirullah Mas, kenapa Izzam dibawa ke sana kemari sih!" protes Mentari.


Bintang tidak menjawab hanya terkekeh lalu menaruh Izzam di atas kasur yang sudah dibereskan oleh Mentari.


"Biar dia tidak bingung nanti setelah membuka mata."


"Oh." Mentari langsung mengerti walaupun tanpa dijelaskan lebih lanjut oleh Bintang.


Bintang mengangguk lalu mengganti pakaian dengan pakaian rumahan lalu berbaring di samping Izzam.


"Biar aku masukkan dalam lemari baju-baju Mas Bintang," ujar Mentari sambil menyeret koper Bintang ke depan lemari pakaian.


"Besok aja Me, memangnya kamu tidak lelah?" Bintang terlihat menguap beberapa kali.


"Lelah sih Mas, tapi nggak apa-apa asal baju-baju Mas Bintang sudah tertata rapi," ujar Mentari sambil memasukkan pakaian Bintang satu persatu.


"Emang di dalam situ nggak ada baju ustadz?" tanya Bintang memastikan, takut-takut lemarinya masih terisi dengan pakaian mantan suami Mentari.


Mentari menggeleng. "Pakaian Abi hanya beberapa setel yang ada di sini dan beberapa hari yang lalu Sarah sudah mengambilnya. Perkara foto tadi mungkin dia lupa karena letaknya sedikit bersembunyi. Aku pun juga tidak sadar," jelas Mentari panjang lebar.


"Tidak apa-apa, segeralah selesainya dan kita tidur lagi!"


"Tidak baik tidur lagi setelah shalat subuh Mas. Lebih baik aku cuci sprei saja nanti. Nggak enak jika menyerahkannya pada bibi."


"Nggak apa Me sekali-kali, saat tubuhku lelah seperti sekarang, kamu lelah, kan?" tanya Bintang lalu menguap lagi.


"Mas Bintang tidurlah dan temani Izzam, biar Meme beraktifitas seperti biasa."


"Baiklah, tapi kalau kamu lelah berhentilah dan beristirahat! Jangan pernah memforsir tubuhmu sendiri. Aku tidak ingin kamu sakit. Sekarang bukan cuma Izzam yang membutuhkan dirimu tetapi aku juga."


"Iya Mas aku paham."


Bintang mengangguk dan berkata, "Aku tidur dulu."


"Silahkan."


Bintang memeluk Izzam lalu memejamkan mata. Tidak menunggu lama pria itu sudah terlelap didengar dari dengkurannya yang halus.


"Dasar laki-laki semudah dan secepat itu untuk tidur." Mentari bangkit dari duduknya lalu membawa sprei dan pakaian miliknya serta milik Bintang ke dalam kamar mandi lalu memasukkan ke dalam mesin cuci. Usai mencuci Mentari menjemurnya di balkon kamarnya itu.


Selesai mencuci pakaian Mentari turun ke bawah dan masuk ke dapur untuk membantu bibi.

__ADS_1


Mentari langsung memasang celemek dan mengambil pisau.


"Jangan Non, Non Cahaya kan pengantin baru. Nanti tangannya bau bawang!" larang seorang pembantu pada Mentari saat wanita itu mengupas bawang.


Mentari malah tertawa mendengar larangan sang bibi dengan alasan yang menurut Mentari lucu itu.


"Kok malah tertawa nih Non Cahaya," lirih pembantunya.


"Sudah kerjakan apa yang harus bibi kerjakan! Aku mau masakin untuk Izzam dan Mas Bintang. Bibi tidak tahu kan selera Mas Bintang?"


"Eh iya Non." Akhirnya si bibi membiarkan Mentari dan fokus pada pekerjaannya sendiri.


Selesai membuat menu sarapan untuk anak dan suaminya, Mentari kembali ke dalam kamar untuk membangunkan Izzam, tapi ternyata keduanya sudah bangun dan terlihat Bintang sudah memandikan anak itu di dalam kamar mandi.


Izzam tampak tertawa-tawa saat Bintang mengguyur air pada tubuh anak kecil itu.


"Kukira kalian kemana, ternyata ada di sini," ucap Mentari memandang keduanya yang semakin akrab saja.


Bintang hanya mengangguk dan tersenyum.


"Sudah kan mandinya? Jangan lama entar masuk angin!"


"Sudah Me tapi Izzam belum mau berhenti juga," ujar Bintang karena memang begitu kenyataannya.


"Ya sudah kalau begitu sekarang sudah ya mandinya sayang." Mentari membungkus tubuh putranya dengan handuk lalu menggendong dan membawa ke kamarnya sendiri.


Selesai memakaikan baju dan menyisir rambut putranya Mentari langsung mengajak Bintang untuk turun.


"Sarapan sekarang? Bukankah masih kepagian?" tanya Bintang sebab jam masih menunjukkan pukul 6 pagi.


"Nggak juga sih tapi yang lain belum ada yang keluar kamar."


"Nggak apa-apa kita makan duluan saja. Aku sudah sangat lapar Mas. Temani ya! Aku juga sudah masakin salah satu masakan kesukaan Mas Bintang," ujar Mentari lalu tersenyum manis.


"Oh ya? Masak apa?" tanya Bintang balas tersenyum.


"Mie goreng sambal mata kesukaan Mas Bintang."


"Wah enak dong," ujar Bintang begitu bahagia. Bukan mengenai apa yang Mentari masak, akan tetapi tentang wanita itu masih mengingat salah satu makanan favoritnya.


"Ya sudah yuk!" ajak Mentari sambil menggendong Izzam turun ke lantai bawah.


"Oh ya Mas, makasih ya sudah bantuin mandiin Izzam," ucap Mentari sambil terus melangkah.


"Iya Me, sama-sama. Aku tahu kamu sibuk makanya nggak balik-balik kamar. Jadi aku berinisiatif membantumu dengan memandikan anak ini apalagi dia mau. Nanti kalau butuh pertolongan apapun katakan saja dan aku siap membantu."


"Makasih Mas."


"Sudah yuk makan!" ajak Bintang lalu duduk di meja makan. Di sampingnya tampak para pembantu yang masih menata menu sarapan di atas meja.


"Maaf Non Cahaya, Den Bintang, menunya belum siap semua."


"Tidak apa-apa Bik kami makan mie ini saja," ujar Bintang lalu mulai menyendok.


"Izzam mau makan apa?" tanya Mentari dan anak itu mengatakan ingin makan menu yang sama, tapi tentunya tanpa sambal seperti punya kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Baik."


Lalu Mentari mengambilkan dan menaruh di piring Izzam.


"Mau Ummi suapi?"


Izzam menggeleng.


"Ya sudah kalau begitu makan sendiri saja," ucap Mentari dan anak itu tampak mengangguk.


Mentari dan Bintang tampak fokus makan karena sudah sama-sama kelaparan akibat pergulatan mereka yang menghabiskan banyak energi.


"Wah kalian pengantin baru tidak sabaran ya!" seru Gala yang datang bersama Sarah dan juga papanya.


"Apa sesuatu sudah terjadi?" bisik Gala di telinga Bintang saat sesudah duduk di samping pria itu.


"Ya begitulah," ucap Bintang singkat sebab dirinya tidak ingin banyak bicara saat makan.


"Izzam kenapa begitu?" tanya Sarah yang melihat Izzam bukannya makan malam memainkan mie di tangannya seperti latto-latto.


Gala hanya terkekeh melihat tingkah putranya.


"Pasti karena kamu larang untuk main latto-latto itu Ca, makanya mie dimainkan seperti itu," ujar Bintang.


"Habisnya dia sering kena tangannya Mas, bukannya bisa memainkan, tapi malah membuat tangannya sakit."


"Namanya juga anak-anak, ikut-ikutan saja."


"Om Gala dedek Gaffi mana?" tanya Izzam seolah tidak memperdulikan pembicaraan para orang tua sedari tadi.


"Oh dia masih tidur, entar juga bangun," jawab Gala.


"Pasti dedek Gaffi juga bermimpi seperti Izzam tadi sehingga nyenyak tidur."


"Oh ya memangnya Izzam mimpi apa?" tanya Sarah penasaran.


"Izzam mimpi macam-macam. Mimpi dibeliin mobil truk sama papi, terus mimpi papi tidak pakai baju juga."


"Uhuk!"


Mendengar penuturan Izzam Bintang yang kini meminum air menjadi tersedak kemudian saling tatap dengan Mentari.


"Ada apa ini?" tanya Gala curiga membuat pipi Mentari merah seketika karena merasa malu.


"Izzam memang tidur dimana?" tanya Tama memastikan apakah itu nyata ataukah benar-benar mimpi Izzam.


"Di kamar ummi sama papi," jawab Izzam polos.


Sontak saja Gala terbelalak.


"Bin kamu–"


"Apa sih Gala, kan dengar sendiri tadi Izzam ngomong kalau dia hanya bermimpi."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2