
Sesuai kesepakatan hari ini pesta pernikahan antara ustadz Alzam dan Mentari di gelar di sebuah gedung yang tidak terlalu mewah. Namun, menurut Mentari dan ustadz Alzam sendiri acara ini tidak bisa dibilang sederhana sebab gedung yang dipakai cukup luas serta dekorasi gedung dihiasi dengan begitu cantik dan istimewa. Begitupun dengan tamu yang diundang yang jumlahnya lebih dari lima ratusan orang.
Meskipun Tama mengatakan pesta akan diadakan sesuai permintaan Mentari faktanya bagi Mentari ini semua sangatlah berlebihan.
"Pa, papa kan sudah berjanji akan mengadakan pesta yang sederhana, tapi nyatanya kok malah besar-besaran seperti ini," protes Mentari pada Tama.
"Ini belum seberapa sayang kalau memang papa berniat untuk membuat yang mewah mungkin tamu undangannya akan dua kali lipat dari yang sekarang atau bahkan lebih banyak lagi. Izinkan papa melakukan tanggung jawab ini dengan baik karena setelah ini yang bertanggung jawab atas apapun terhadap dirimu adalah suamimu bukan papa lagi sedangkan kita baru sebentar mengetahui hubungan kita yang sebenarnya."
Mendengar penjelasan Tama Mentari hanya mengangguk pasrah.
"Sudah izinkan papa pergi dulu dan kamu fokuslah pada si Mbak tukang riasnya."
"Iya Pa."
"Gala temani adikmu papa ada yang mau diurus sebentar di luar!" perintah Tama pada Gala yang baru saja melihat ke ruangan tempat Mentari di rias.
"Baik Pa," ucap Gala dan langsung duduk di samping Warni dan Pandu yang memandang tak berkedip ke arah Mentari.
"Kenapa memandang kakakmu seperti itu?" tanya Gala menggoda Pandu.
"Kak Mentari kayak beda gitu kalau dirias, seperti Pandu tidak kenal saja," sahut Pandu.
"Itu karena kamu sudah lama berpisah dengan dia jadi pangling," ucap Gala. Memang setelah kedatangan Gala dan Tama waktu itu Gala langsung memboyong Pandu ke kota sedangkan Mentari tinggal di kampung untuk sementara dan baru kembali ke kota sehari sebelum acara pernikahan. Jadi Mentari sama sekali tidak melihat persiapan pernikahannya seperti apa bahkan tidak pernah sekalipun bertemu ustadz Alzam semasa itu.
"Sudah," ucap tukang rias menghentikan pekerjaannya merias Mentari.
"Terima kasih Mbak," ucap Mentari dan perempuan itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Bagaimana Mas Gala dan ibu ada yang kurang tidak? Kalau ada kasih tahu biar saya benahi."
Gala tampak melihat-lihat Mentari membuat wanita itu semakin gugup saja. Meskipun Gala adalah kakaknya sendiri Mentari masih saja merasa risih dengan pria itu.
"Perfect, sempurna," ucap Gala sedangkan Warni hanya mengangguk setuju membuat tukang rias itu tersenyum senang.
"Alya mana sih Bu kok tidak diajak?" tanya Mentari pada Warni padahal biasanya gadis itu yang menemani dirinya saat nervous seperti itu.
"Oh ya Alya minta maaf tidak bisa hadir karena hari ini dia punya acara juga. Dia meminta ibu untuk menyampaikan permintaan maafnya padamu sebab katanya acaranya sendiri tidak bisa ditunda padahal dia ingin sekali hadir di pesta pernikahanmu ini," beber Warni.
"Dia punya acara apa Bu, kok bisa barengan sih?"
__ADS_1
"Acara pertunangan dan dari pihak lelakinya tidak mau acara diundur ataupun dimajukan padahal Alya sangat berharap bisa hadir sekarang."
"Oh ya tidak apa-apa kalau begitu Bu. Dia kan juga punya kehidupan sendiri. Tidak baik kalau pertunangannya batal hanya gara-gara Mentari," ucap Mentari maklum walaupun sangat berharap sahabat dari kecilnya bisa hadir saat ini.
"Pak pengantin perempuannya diminta keluar sebab pengantin laki-lakinya akan segera tiba," lapor seseorang dari arah pintu.
"Baik," sahut Gala dan pria yang memberitahu itu mengangguk dan pergi.
"Bagaimana Me, sudah siap?" tanya Gala. Entahlah meskipun sudah tahu nama Mentari yang sebenarnya adalah Cahaya rasanya lebih mudah memanggil dengan nama Mentari menurut Gala. Mungkin saja karena kebiasaan.
"Katanya ustadz Alzam sudah tiba," ucap Gala lagi. Memang ustadz Alzam menginginkan mereka berdandan secara terpisah. Mentari dalam gedung sedangkan ustadz Alzam di rumahnya sendiri.
Mentari mengangguk dan diam sebentar untuk menetralkan rasa gugupnya. Padahal ini bukan pernikahan yang pertama baginya, tapi tetap saja Mentari masih grogi.
"Ayo Nak," ajak Warni sambil menggandeng tangan Mentari. Gala dan Pandu berjalan di depan mereka.
Sampai di luar tampak orang-orang dari pihak ustadz Alzam berbaris sambil memegang hantaran dan seserahan dan satu-persatu dari mereka memasuki gedung pernikahan.
Tampak Reni dan Mega melambaikan tangan ke arah Mentari sambil tersenyum-senyum sedangkan Nanik tampak bersikap formal. Mereka semua mengekor ustadz Alzam, Sarah beserta kedua orang tua mereka.
Setelah orang-orang ustadz Alzam menyerahkan hantaran dan seserahan kepada orang-orang Mentari, ustadz Alzam langsung diarahkan untuk duduk di depan meja ijab dan Mentari pun sudah lebih dulu duduk di sana.
Ustadz Alzam melirik Mentari dan dijawab senyuman oleh Mentari.
"Sudah siap?" ulang pak penghulu.
"Sudah Pak tapi sebelum dimulai izinkan saya membuat perjanjian pranikah dulu biar Mentari bisa lebih tenang menikah dengan saya," ucap ustadz Alzam dengan sikap penuh ketenangan.
"Awas jangan sampai salah sebut nama. Kalau sampai salah saya gugurkan jadi menantu saya," kelakar Tama karena mendengar ustadz Alzam masih saja menyebut Cahaya dengan nama Mentari.
"Insyaallah tidak akan salah Pa," jawab ustadz Alzam dan dijawab anggukan oleh Mentari.
"Perjanjian apa sih ustadz?" tanya Mentari dengan suara yang kecil seperti orang berbisik saja sementara pak penghulu sudah nampak bersiap-siap.
"Nanti kau akan tahu sendiri," ucap ustadz membuat Mentari menjadi semakin penasaran.
Beberapa saat kemudian datang seorang notaris yang membawa sebuah surat perjanjian di tangannya. Pria itu memberikan kertas itu pada pak penghulu dan pak penghulu tampak mengangguk-angguk lalu memberikan kertas itu pada Mentari.
"Apakah saudari Mentari sudah tahu dan setuju?" tanya pak penghulu pada Mentari.
__ADS_1
Mentari meraih dan langsung membaca kertas tersebut. Mentari mengernyit kaget melihat hal yang tertulis di sana. Bagaimana mungkin tidak kaget ustadz Alzam berjanji selama menikahi Mentari dia tidak akan pernah menduakan Mentari dan apabila dia sampai nekad melakukan itu maka Mentari boleh menuntut cerai dan semua harta yang menjadi milik ustadz Alzam akan jatuh ke tangan Mentari.
"Bagaimana mungkin dia melakukan ini?" Mentari tidak habis pikir dengan kegilaan ustadz Alzam. Bagi Mentari harta ustadz Alzam tidaklah penting yang penting baginya adalah ketulusan pria tersebut yang ingin selalu menjaga hatinya yang rapuh.
"Kau yakin ustadz?"
Ustadz Alzam mengangguk masih dengan sikap tenangnya.
Mentari ikut mengangguk.
"Kalau begitu kalian tanda tangan!"
Kedua orang itu mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan.
"Terima kasih semuanya," ucap ustad Alzam.
"Sama-sama."
"Baiklah apakah bisa dimulai sekarang akadnya?" tanya pak penghulu lagi.
"Siap Pak," jawab ustadz Alzam.
Pak penghulu pun memandu jalannya akad hingga dia mempersilahkan Tama untuk mengucapkan kalimat taklik dalam akad pernikahan itu. Dengan sekali hentakan ustadz Alzam mengucapkan kalimat qabul dengan lancar.
"Bagaimana para saksi sah?" tanya pak penghulu pada semua orang.
"Sah." Kata sah terdengar dari seluruh ruangan.
"Alhamdulillah." Semua orang mengucapkan kalimat syukur melihat acara ijab qabul yang berjalan sempurna tanpa gangguan sedikit pun.
Ustadz Alzam langsung memegang ubun-ubun Mentari sambil membaca doa.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.)
Setelah itu Pak penghulu pun langsung memimpin doa.
Bersambung.
__ADS_1