HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
JSW BAB 140. Pura-pura


__ADS_3

"Sini aku bisikkan!"


Katrina pun mendekat ke arah Arka. Setelah Arka membisikkan sesuatu akhirnya Katrina terlihat tersenyum.


"Bagus juga ide kamu Arka."


"Bagus, asalkan kau pandai berakting kalau tidak bisa kacau semuanya."


"Kau tenang saja Bintang dari dulu tidak pernah bisa marah padaku, paling marah sebentar lalu sabar lagi," ucap Katrina dengan begitu yakinnya.


"Baguslah kalau begitu ayo aku antar kamu pulang."


Katrina mengangguk dan berjalan mengikuti arah Arka menuju jalan raya.


"Mobil siapa ini Arka, rental lagi?" tanya Katrina heran melihat Arka membawa mobil bukannya motor.


"Mobilku dong," ucap Arka dengan bangga.


"Ah aku nggak percaya."


"Kalau nggak percaya ya sudah," jawab Arka enteng. "Sudah ayo masuk! Apa kamu masih ingin menemani Aldan di sini?"


"Ah nggak lah," sahut Katrina sambil bergidik ngeri lalu keduanya pun masuk mobil.


"Beneran Arka ini mobilku sendiri?" tanya Katrina masih penasaran.


"Iya Kate, nggak percayaan amat sih," protes Arka.


"Bukan nggak percaya, tapi kerjamu kan ...."


"Aku sudah dapat pekerjaan bagus," potong Arka akan perkataan Katrina yang selalu saja meremehkan pekerjaannya.


"Kerja apa sih? Paling karyawan atau bawahan atau kalau tidak hanya kerja sebagai tukang ...."


"Manager." Arka menepuk dadanya dengan bangga.


"Oh ya?" Katrina terlihat kaget bahkan Arka melebihi jabatan Bintang di kantornya saat ini.


"Sayangnya orang tua dia bukanlah orang kaya," batin Katrina.


"Kenapa diam?" tanya Arka melihat Katrina tidak bicara lagi.


"Heran saja baru jadi manager sudah punya mobil."


"Kenapa heran? Ini kata Bu direktur adalah salah satu fasilitas kantor."

__ADS_1


"Oh," ucap Katrina sambil mengangguk-angguk.


"Makan dulu yuk kita mampir ke restoran sekarang," ajak Arka.


"Oke."


Arka pun memutar haluan menuju sebuah restoran. Mereka pun memesan menu favorit masing-masing. Setelah selesai makan Arka langsung mengantarkan Katrina ke apartemen Katrina sendiri bukan ke apartemen Bintang.


"Loh kok ke sini?" tanya Katrina heran ketika Arka membawa mobilnya memasuki area apartemen miliknya.


"Kau sudah lama tidak menempati kamarmu di sini. Tidak ingin kah dirimu melihat keadaannya sekarang atau sekedar membersihkannya?"


Katrina mengernyit mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Arka.


"Kau aneh, apa kau pikir aku tidak menugaskan orang untuk membersihkan apartemenku selama tidak aku tinggali?"


"Kau periksalah barangkali ada barang-barang milikmu yang hilang."


Katrina menatap wajah Arka tidak berkedip kemudian langsung berlari menuju unit apartemennya. Dia pikir ada yang tidak beres di dalam sana. Mungkin saja pesuruh yang dia tugaskan untuk membersihkan apartemen setiap hari mencuri barang-barang berharga miliknya yang tertinggal di sana.


Katrina membuka pintu apartemen dengan terburu-buru. Sampai di dalam dia langsung masuk ke kamar dan memeriksa lemari tempat dia menaruh perhiasan dan barang-barang berharga lainnya.


"Masih lengkap," gumam Katrina. Berarti Katrina tidak salah menugaskan orang. Orang yang ia sewa untuk membersihkan ruangan unit apartemennya adalah orang yang jujur.


"Tidak ada yang hilang. Kekhawatiranmu sangat berlebihan," jawab Katrina.


"Aku kan hanya mengingatkan siapa tahu ada yang hilang." Arka mengalungkan tangannya di leher Katrina. Saat Katrina menoleh Arka langsung gerak cepat menyambar bibir Katrina.


"Aku merindukanmu!" ucap Arka membuat Katrina terbelalak kaget.


Arka mengulangi lagi tindakannya tadi. Katrina ingin protes, tetapi tidak bisa karena bibirnya tidak bisa bicara. Selain itu tubuhnya merespon terhadap keinginan Arka.


"Kita akan membuat ganti Aldan," bisik Arka di telinga Katrina dan wanita itu hanya mengangguk dan pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Arka apalagi dia sudah lama tidak melakukan hal ini dengan Bintang mengingat pria itu selalu tidak bersemangat ketika Katrina mengajaknya. Entahlah, mungkin Bintang terlalu stres memikirkan Aldan atau malah memikirkan Mentari.


***


"Darimana saja?" Bintang berkacak pinggang di depan pintu unit apartemennya saat melihat kedatangan Katrina.


"Kenapa kamu malah bertanya? Kamu sendiri kan yang meninggalkan aku di kuburan Aldan." Katrina tidak mau kalah, protes dibalas dengan protes.


"Bukan aku tapi si Gala itu."


"Iya tapi kamu kan bisa meminta Pak Gala untuk menungguku sebentar."


"Jangan mengalihkan perhatian! Dari mana kamu setelah dari kuburan? Mengapa begitu lama? Dan kenapa rambutmu basah seperti itu, apa tiba-tiba turun hujan secara mendadak?" Bintang menilik pakaian Katrina yang tidak basah sedikitpun.

__ADS_1


"Kau ini, aku lama karena tidak mendapatkan taksi," kilah Katrina.


"Apa kamu tidak punya ponsel untuk menghubungi taksi online?"


"Kau tahu sendiri aku tidak membawa dompet. Mau pakai M-banking saldoku habis. Untung ketemu teman tadi. Jadi, aku ikut mobilnya sekaligus numpang mandi di rumahnya sebentar."


"Oh begitu ya? Temanmu pria ataukah wanita?"


"Apaan sih Bin? Tidak biasanya kamu mengintrogasi diriku seperti ini, kayak aku terdakwa saja. Minggir aku mau lewat!"


Katrina ingin masuk ke dalam unit apartemen. Namun, bahunya langsung dicekal oleh Bintang.


"Apaan sih Bin?"


"Jelaskan dulu ini!" perintah Bintang sambil melempar kertas di tangannya.


"Apa ini?" tanya Katrina sambil meraih kertas yang tergeletak di lantai. Padahal dia sudah tahu apa isi kertas tersebut,


dari Arka, tetapi pura-pura tidak tahu.


Katrina tampak syok. Wanita itu berdiri mematung tanpa bicara sepatah katapun. Hanya air mata yang membanjir di pipinya.


"Jelaskan Kate kenapa kau menipuku!" bentak Bintang.


Katrina langsung bersimpuh di kaki Bintang. Bintang mundur ke belakang. Katrina maju lagi dan memegang kaki Bintang.


"Maafkan aku Bin aku terpaksa berbohong padamu karena aku tidak ingin engkau meninggalkan aku. Aku mencintaimu Bin, sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan dirimu."


"Hmm, kalau kamu memang mencintaiku kenapa kamu selingkuh!" teriak Bintang, tidak perduli orang yang lewat di depannya memandang aneh kepada mereka berdua.


"Aku tidak berselingkuh Bin sumpah. Maafkan aku Bin ini diluar kendaliku, hiks, hiks, hiks." Katrina meratap.


"Dan aku harus percaya? Jadi kalau kamu tidak berselingkuh dariku berarti Aldan anak siapa? Apakah dia anak ular ataukah anak setan?!" sentak Bintang. Pria itu terlihat murka.


"Aku tidak tahu Bin dia anak siapa, hiks, hiks hiks. Mungkin benar dia anak setan mengingat ayahnya sendiri yang bejat hiks, hiks hiks." Katrina semakin kencang menangis.


Bintang menggeleng, bagaimana mungkin Katrina tidak tahu siapa ayah dari Aldan yang sebenarnya dan juga mengakui bahwa ayah Aldan itu adalah pria bejat.


"Apa maksudmu?"


"Aldan adalah anak hasil perkosaan dan aku tidak tahu siapa orang yang telah berani memperkosaku di malam saat kita baru pulang dari reunian itu. Aku tidak tahu karena wajah laki-laki itu tidak jelas di tengah gelapnya malam. Setelah merenggut mahkotaku dia kabur begitu saja." Katrina menghapus air matanya yang semakin mengalir deras.


Bintang termenung, pikirannya melayang kepada beberapa bulan yang lalu saat dia menyuruh Katrina pulang terlebih dahulu saat ban mobil Bintang bocor di tengah perjalanan pulang. Saat itu mereka masih menjadi sepasang kekasih.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2