
✨✨ Happy Reading!✨✨
"Ah, baiklah," ucap Mentari pasrah lalu mengikuti langkah Gala.
Setelah beberapa saat berjalan ternyata Gala berhenti di tempat pakaian. Mentari hanya memandang kagum ke arah beberapa setelan pakaian tanpa mau menyentuhnya.
"Kenapa bengong? Ayo pilih yang kamu suka!" perintah Gala.
Mentari hanya menggeleng. Meski dia tertarik pada beberapa setel pakaian di sana, tetapi dia tidak mungkin menerima pemberian pria lain. Kalau Bintang tahu dia akan marah dan salah paham.
"Tidak, saya sedang tidak ingin membeli pakaian," tolak Mentari.
"Penampilanmu harus diubah!" ujar Gala padahal dirinya malah suka dengan penampilan Mentari yang sekarang, jauh dari kesan mewah dan seksi. Namun Gala hanya kasihan kala melihat Bintang yang terkesan lebih mengutamakan Katrina dibandingkan wanita di hadapannya ini. Apalagi Gala tahu Katrina sedang hamil. Sudah dapat dipastikan Bintang akan lebih perhatian dan banyak menghabiskan waktunya di tempat Katrina.
Siapa tahu dengan mengubah penampilan Mentari bisa membuat Bintang berpikir dua kali untuk mengabaikan dan meninggalkan Mentari sendirian di apartemen.
Mentari menggeleng.
"Kalau tidak, maka aku yakin pasti Bintang akan lebih betah tinggal di tempat Katrina. Aku tahu selera berpakaian wanita seperti apa yang Bintang sukai," ujar Gala lagi.
"Mas Bintang tidak masalah kok dengan cara berpakaian ku." Mentari masih saja bersikukuh untuk tidak menerima pemberian Gala.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau, tapi aku yakin Bintang akan sering jarang di apartemennya sendiri dibandingkan apartemen Katrina. Bintang pernah bercerita bahwa satu kelemahan mu dibandingkan Katrina adalah tidak bisa menjaga penampilan." Gala menakut-nakuti.
Mentari terdiam, mencoba mencerna perkataan Gala. Apa itu artinya Bintang lebih senang bersanding dengan Katrina dibandingkan dirinya yang penampilannya jauh dari kata modis.
Sejenak Mentari mengingat kejadian tadi pagi, hampir semua karyawan mengetahui bahwa Katrina itu adalah istri Bintang sedangkan status dirinya tidak ada satupun yang tahu kecuali Gala, Katrina, dan Bintang sendiri padahal meskipun istri kedua tetapi statusnya adalah istri sah. Orang-orang malah meremehkan dirinya. Mungkin benar kata Gala itu karena penampilan dirinya yang kampungan. Padahal Mentari sudah berusaha berpenampilan terbaik menurut dirinya sendiri.
"Bagaimana terima tawaranku untuk membelikan kamu pakaian? Aku hanya ingin membantumu saja."
"Tapi ada syaratnya tidak Pak?" Mentari harus siaga, takut-takut dibalik kebaikan Bintang ada maksud tersembunyi. Seperti kata pepatah, 'ada udang dibalik batu.'
"Tidak ada, aku tulus membantumu. Aku tidak mau kalau akhirnya Bintang akan memilih perempuan itu," ujar Gala. Meskipun dirinya seolah merasakan perasaan yang aneh untuk perempuan ini, tetapi karena melihat ada cinta yang begitu besar dimata Mentari untuk Bintang maka diapun ingin melihat Mentari bahagia dengan Bintang.
"Mengapa Bapak lebih mendukung saya ketimbang Kate? Bukankah dia itu sekretaris Bapak? Apakah ini ada kaitannya dengan peraturan di Perusahaan Bapak yang tidak memperbolehkan pasangan suami istri bekerja dalam satu perusahaan?" Tentu saja Mentari bingung, baginya Gala itu aneh.
__ADS_1
"Pertama memang benar, aku takut hal itu membuat para karyawan protes. Peraturan itu telah dibuat ketika papa yang memimpin perusahaan ini. Ada beberapa karyawati yang memilih mundur dari pekerjaan mereka karena memilih menikah dengan karyawan satu kantor di sini. Ada pula karyawan yang mengalah pada istrinya dengan memilih bekerja di perusahaan lain."
"Kenapa tidak dirubah saja peraturannya Pak?" tanya Mentari heran. Toh Gala adalah pemilik Perusahaan. Terserah dia lah mau mengubah peraturannya seperti apa. Dia punya hak penuh atas kebijakan perusahaan.
"Tidak bisa, aku tidak mau kinerja para karyawan menurun. Bahkan tadi pagi saja, aku melihat Bintang dan Katrina tidak bersemangat untuk meeting karena sepertinya mereka ada masalah. Bagaimana kalau ini malah terjadi pada banyak karyawan? Aku tidak mau lingkungan kantor jadi tidak kondusif. Begitupun sebaliknya, kalau ada konflik di kantor yang mungkin saja mereka bawa ke rumah, maka kali ini lingkungan rumah tangga mereka lah yang tidak akan kondusif."
Mentari mengangguk paham. Jadi itulah alasan mengapa beberapa kantor melarang karyawannya untuk menikah dengan teman sekerja, kalau terpaksa salah satu dari pasangan harus memilih out dari perusahaan.
"Selain itu untuk menghindari permainan jabatan juga. Bisa jadi kan yang jabatannya tinggi menarik si suami atau si istri untuk naik jabatan."
"Iya benar sekali Pak. Ternyata itu alasannya."
"Yang terpenting agar terjadi pemerataan pendapatan di masyarakat biar tidak keluarga yang itu-itu saja yang punya pekerjaan, tetapi keluarga yang lain juga bisa mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan aku juga."
"Wah hebat pemikiran Bapak."
"Biasa aja," ucap Gala datar. "Ya sudah jangan banyak berpikir cepat ambil pakaian yang kamu suka!"
"Tapi Pak ...."
"Cepat bungkus Mbak! Yang ini! Yang ini! Dan yang ini juga."
"Baik Pak," jawab karyawati tersebut sambil tangannya cekatan mengambil baju-baju yang ditunjuk Gala, melipatnya kemudian membungkusnya.
"Oh ya yang ini juga!"
"Baik Pak."
"Ya ampun Pak, itu banyak banget. Satu aja cukup. Saya akan jawab apa kalau Mas Bintang bertanya baju-baju ini dari siapa?"
"Bilang aja dibelikan Om Winata beres," ujar Gala tanpa beban.
"Tapi kalau Papa ...."
"Tenang saja saya akan bilang sama Om Winata tentang semuanya. Saya yakin dia pasti akan mendukung kok." Sebenarnya Gala tadi sempat mendengar pembicaraan Arumi dengan Mentari dan Tuan Winata, tetapi Gala langsung menjauh.
__ADS_1
Namun saat Arumi mengajak Tuan Winata meninggalkan tempat, Gala pura-pura baru datang dan pura-pura tidak tahu semuanya.
"Tapi ...."
"Mbak cepat bungkus dan berikan semuanya pada wanita ini. Aku buru-buru harus balik ke kantor."
"Baik Pak!" Tangan karyawati itu semakin bergerak lincah.
"Ini Mbak." Wanita itu mengulurkan handbag pada Mentari. Sedangkan Gala sudah berjalan menjauh.
"Terima kasih Mbak." Mentari melangkah ke arah troli yang tadi dia tinggalkan. Sampai di sana dia melihat troli itu sudah tidak ada.
Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri akhirnya Mentari melihat troli itu sudah ada di depan kasir dengan Gala yang memegangnya.
"Ya ampun, tuh orang maunya apa sih?" gumam Mentari ketika melihat Gala menyuruh kasir langsung membungkus belanjaan tersebut tanpa di cek harganya terlebih dahulu.
"Bapak! Apa yang bapak lakukan?" protes Mentari. "Aku punya uang kok untuk membayar semuanya."
"Buat apa punya uang kalau takut menggunakannya. Ayo aku antar pulang!"
Mentari menggeleng.
"Aku antar, tidak boleh menolak! Nanti kalau terjadi sesuatu sama kamu siapa yang akan menolong dan bertanggung jawab?"
"Aku bisa pulang sendiri." Mentari tidak suka dengan sikap Gala yang seperti itu. Bintang saja tidak pernah bersikap terlalu protektif padanya. Kenapa Gala yang bukan siapa-siapa malah berbuat seperti itu pada dirinya.
"Aku bukan orang lain, aku adalah sepupu Bintang. Bintang itu adikku, jadi aku hanya membantu dia. Lagipula aku juga akan ke apartemen kalian untuk menemui Bintang. Jadi sekalian kita pulang bareng."
"Pulang bareng? Berdua?"
"Tidak, ada sopir di mobil," sahut Gala yang mengerti akan kekhawatiran Mentari.
"Ayo!"
"Baiklah." Mentari pun mengikuti langkah kaki Gala menuju ke mobil yang terparkir di halaman supermarket.
__ADS_1
Bersambung....