HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 181. Kekonyolan Kiki.


__ADS_3

"Selamat pagi Pak, permisi!" Seseorang mengetuk pintu ruangan Gala.


"Masuk!" perintah Gala.


Seorang karyawan laki-laki masuk dan berjalan mendekat dengan lembaran kertas yang terbungkus dengan map di tangannya.


"Pak Kiki katanya tadi minta data mahasiswa-mahasiswi yang magang di perusahaan ini."


"Itu saya yang minta," sahut Gala.


"Baiklah Pak, ini datanya." Karyawan laki-laki itu menyerahkan lembaran-lembaran kertas di tangannya ke hadapan Gala.


"Baik terima kasih, kau boleh pergi," ujar Gala setelah menerima data di tangannya.


"Baik Pak kalau begitu saya permisi dulu," pamit pria itu sambil membungkuk, memberi hormat pada Kiki dan Gala lalu berlalu dari ruangan tersebut.


"Coba ceritakan tentang karyawan yang katamu pintar tadi!" perintah Gala sambil membolak-balik kertas di tangannya. Apa jawabannya saat di wawancara?" tanyanya dengan mata masih fokus pada lembaran di atas meja.


"Baiklah Pak," sahut Kiki. Pria itu mengambil nafas panjang sebentar sebelum akhirnya bercerita.


"Sebenarnya nggak ada yang aneh sih Pak jawabannya hanya saat ditanya kenapa memilih magang di tempat ini saja yang jawabannya nyeleneh."


Gala mengangguk.


"Saat ditanyakan apakah kamu pernah bekerja dalam sebuah tim? Dia jawab pernah bahkan setiap hari dia bekerja secara tim, katanya."


"Kerja apa katanya?" tanya Gala penasaran.


"Membuat kue bersama teman dan menjualnya secara bersama pula katanya."


"Oh boleh-boleh kreatif juga tuh orang sambil kuliah sambil bekerja. Yang namanya bekerja bersama tim tidak harus tentang masalah pekerjaan di kantor, bukan?"


"Iya, Pak Gala benar."


"Oke, selanjutnya!" Gala menghentikan aktifitasnya melihat data-data mahasiswa-mahasiswi magang dan memilih fokus mendengarkan penjelasan Kiki.


"Pihak perusahaan bertanya lagi tentang apakah kamu pernah memulai proyek dari nol?"


"Jawabannya?" tanya Gala masih penasaran.


"Iya, katanya Pak. Dia membuka toko bakery dengan persiapan minim, minim modal dan juga pengetahuan tentang bisnis, tetapi katanya bisnis rotinya sekarang mulai berkembang dan banyak memliki pelanggan tetap di tokonya."


"Oke." Sebenarnya Gala sempat kepikiran Sarah, tetapi dia urungkan dan berpikir zaman modern seperti sekarang memang banyak mahasiswa dan mahasiswi yang kreatif, berbisnis sebelum lulus kuliah terutama di bidang makanan maupun fashion.


Mungkin salah satu yang Gala tahu hanya Sarah, tetapi pada kenyataannya banyak di luaran sana orang yang lainnya yang lebih hebat dari gadis itu, hanya Gala belum menemukannya saja termasuk mahasiswi yang dibicarakan oleh Kiki sedari tadi.


"Bagaimana kamu menghadapi dan mengatasi masalah besar. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Nah itu poin penting untuk mengetahui seberapa pandai nya dia menyikapi masalah. Apa jawabannya?" tanya Gala begitu antusias.


"Yang pertama dan sangat penting janganlah panik karena hal itu akan membuat pikiran kita kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Bukannya menyelesaikan masalah, ujung-ujungnya malah menambah masalah."


"Ya itu memang tepat," potong Gala akan perkataan Kiki. "Terus?"


"Cari akar permasalahan dan diskusikan dengan yang lainnya. Jangan lupa berpikir positif agar saat rapat tidak mudah menyalahkan orang lain. Jika tidak dapat keputusan yang memuaskan bisa cari jalan tengah yang sekiranya akan membawa kepada kebaikan tim ataupun perusahaan."


"Wah bagus-bagus Ki, mantap jawabannya," puji Gala merasa kagum dengan pemikiran orang yang sedari tadi Kiki bicarakan.

__ADS_1


"Sayangnya saat menjawab pertanyaan terakhir yang seharusnya ditanyakan pertama kali oleh pihak HRD jawabannya malah mencengangkan. Apa yang membuatmu magang di tempat ini dan apa harapanmu? Jawabannya adalah karena kebetulan saya terpeleset ke perusahaan ini. Sebenarnya awalnya saya telah memilih perusahaan lain, tapi sayangnya seperti yang saya katakan tadi terpeleset ke perusahaan ini." Kiki tertawa menirukan ucapan mahasiswi yang mereka bicarakan sedari tadi.


"Jadi yang kamu katakan tadi memang tidak bercanda Ki?" tanya Gala heran.


"Aih, memang saya suka bercanda dalam hal yang ada di perusahaan?"


Dasar bawahan lucnut menjawab pertanyaan sang bos dengan pertanyaan pula.


"Mengapa pihak HRD tidak menolak mahasiswi magang itu? Jawabannya seolah meremehkan perusahaan ini. Apa dia tidak bisa menjawab begini saja, 'karena perusahaan ini adalah salah satu perusahaan besar dan berkualitas'. Apa susahnya ngomong begitu?" kesal Gala.


Gala menutup kertas berisi data mahasiswa-mahasiswi magang dari beberapa kampus itu tanpa berminat untuk melihat sampai lembaran terakhir.


"Mungkin karena jawaban selanjutnya menarik Pak," lanjut Kiki.


"Menarik apanya? Mendengar jawaban yang tadi saja sudah membuatku geram. Apa yang menurutmu mengatakan menarik?"


"Dia berharap perusahaan ini semakin maju dan berkualitas dan semoga CEO nya segera menemukan jodoh biar tidak selalu darah tinggi katanya." Kiki tertawa renyah.


"Ckk, malah tertawa lagi," kesal Gala. Kamu pikir cuma aku yang jomblo? Kamu juga jomblo kali," kesal Gala.


"Kenapa masih diterima? Kenapa tidak langsung telepon kampus tempatnya belajar dan mengatakan mahasiswinya tidak layak magang di perusahaan kita."


"Sayang banget Pak, sayang!"


"Sayang-sayang! Apa dia cantik sehingga kamu dan pihak HRD tidak mau menolak dia. Jadi penasaran seperti apa tampang gadis itu."


"Sebenarnya pihak HRD waktu itu sudah berniat untuk tidak menerima gadis itu, tapi saya yang meminta untuk menerimanya."


Gala terlonjak kaget kemudian menggelengkan kepala mendengar jawaban Kiki.


"Ternyata kau benar-benar tertarik ya sama dia," ujar Gala menggelengkan kepala untuk kedua kali, tidak percaya dengan sikap Kiki yang tidak professional.


"Aku? Tertarik padanya? Mimpi sana kau Ki! Kau ada-ada saja. Kalau dia memang pandai sih boleh juga untuk kemajuan perusahaan, tapi kalau untuk diri pribadi kayaknya nggak deh. Dari bicaranya saja yang meremehkan perusahaan ini, aku sudah tidak suka apalagi sampai sok mendoakan aku yang jomblo, emang dia sendiri sudah punya pasangan gitu," ujar Gala.


"Kayaknya belum deh Pak dan kayaknya juga Bapak bakal suka dua-duanya dari dia deh Pak," ucap Kiki benar-benar kurang ajar.


"Maksudnya?"


"Suka kepandaian dan dan kepribadiannya," jawab Kiki tanpa merasa bersalah sedari tadi mempermainkan perasaan sang bos.


"Aku jadi benar-benar penasaran sama kepandaian dia. Cepat panggil dia ke sini saya ingin tahu seberapa pandai dia. Jangan-jangan kamu cuma mengada-ada saja dari tadi. Awas kalau dia tidak pandai."


"Siap Pak!" Kiki langsung menelpon seseorang yang berada di lantai bawah sana.


***


"Yang namanya Sarah yang mana ya?"


Seorang karyawan menanyakan Sarah diantara para mahasiswa-mahasiswi magang lainnya.


Seorang mahasiswi dari kampus yang berbeda dan kebetulan magang dalam satu divisi di perusahaan itu, menyenggol lengan Sarah.


"Tuh ada yang mencari mu."


Sarah yang sedang fokus dengan layar laptopnya menoleh. "Siapa yang mencari ku?" tanyanya refleks.


"Mbak ya yang namanya Sarah?"

__ADS_1


"Iya benar Mas, ada yang bisa saya bantu?"


"Mbak Sarah dipanggil ke ruangan Bapak manager marketing."


Sarah mengangguk. "Baik Mas saya akan segera ke sana." Sarah menutup laptop lalu beranjak ke ruangan kepala divisi marketing and development.


"Ada apa Pak?" tanya Sarah setelah dirinya dipersilahkan untuk duduk.


"Ada tugas besar untuk kamu. Saya harap kamu menerimanya. Kalau sukses nanti, nilaimu akan kami jamin," ucap kepala divisi itu penuh harap.


"Tugas apa Pak? Sepertinya sangat serius," tebak Sarah.


"Iya memang serius sebab ini sebenarnya adalah tugas sekretaris perusahaan, hanya saja saat ini beliau jatuh sakit setelah satu minggu bertugas ke beberapa kota."


"Apa hubungannya denganku Pak?" tanya Sarah tidak mengerti. Bagaimana mungkin dia bisa menggantikan pekerjaan sekretaris sedangkan dirinya hanya mahasiswi magang saja.


"Kau sepertinya bisa diandalkan," jawab kepala divisi itu. Bisa kan, Sarah?"


"Maaf Pak, bukannya saya menolak tapi sepertinya ada yang lebih berhak mewakilkan ibu sekretaris. Karyawan yang senior banyak, bukan? Saya hanya mahasiswi magang yang tidak banyak tahu tentang seluk beluk perusahaan. Takutnya nanti pas disuruh presentasi di depan klien malah kacau," tolak Sarah secara halus.


"Iya, tapi pak asisten menginginkan dirimu Sarah. Bertemu klien nya masih besok dan nanti pak asisten akan memberikan materi presentasi yang perlu kamu pelajari. Kamu masih ada waktu untuk bertanya-tanya sebelum bertemu klien besok."


"Bertemu klien nya sama siapa Pak? Pak asisten atau pak presdir?" tanya Sarah memastikan.


"Mungkin sama Pak asisten sebab Pak Gala masih berada di luar kota."


"Bagaimana ya?" Sarah tampak berpikir sejenak. Diterima dia takut tidak mampu, ditolak eman-eman. Kapan lagi dia akan mendapatkan kesempatan seperti itu? Pengalaman yang mungkin tidak akan pernah dia temui seumur hidupnya.


"Ayolah Sarah, mau ya! Biar Bapak tidak harus mencari-cari siapa karyawan yang cocok dan merayu mereka, sebab bawahan saya kadang malas jika harus mengadakan pertemuan bersama petinggi perusahaan seperti pak asisten ataupun pak presdir. Mereka saling tunjuk dan akhirnya bapak harus marah-marah agar salah satu diantara mereka ada yang mau."


"Baiklah kali ini saja ya Pak, lain kali tugaskan yang lain saja," mohon Sarah.


"Sebab apa gunanya karyawan kalau siswa magang yang harus ambil kendali," lanjut Sarah.


"Iya Bapak janji setelah ini tidak akan menugaskan kamu lagi, meskipun dirimu masih magang di tempat ini."


"Baik."


"Berarti deal ya kamu setuju?"


Sarah mengangguk.


"Baiklah kalau begitu saya akan menghubungi pak asisten dulu." Pria itu langsung menghubungi nomor Kiki.


"Sarah bersedia Pak," lapornya melalui jaringan telepon.


"Baik suruh ke ruangan saya sekarang juga."


"Baik."


"Sarah kamu diminta untuk ke ruangan Pak Kiki sekarang juga."


"Baik Pak kalau begitu saya permisi." Sarah beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan kepala divisi yang menaunginya. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung bergegas ke ruangan Kiki.


Setelah kepergian Sarah dari ruangannya, Manager marketing menggeleng tidak percaya dengan keinginan Kiki padahal karyawan di perusahaan itu banyak yang bisa diandalkan termasuk ada beberapa dari anak buahnya saat ini, tetapi mengapa malah meminta Sarah yang notabennya adalah mahasiswi magang.


"Apa yang direncanakan Pak Kiki sebenarnya? Kemarin-kemarin ketika bagian HRD menginginkan Sarah agar tidak diterima magang di perusahaan malah dipertahankan dan sekarang lebih gila lagi. Dia bahkan meminta Sarah menggantikan peran ibu Diandra untuk menemani Pak Gala bertemu klien. Apa Sarah sebenarnya ada hubungan kekerabatan dengan Pak Kiki? Akh, sudahlah semoga Sarah benar-benar bisa diandalkan," ujar pria itu lalu menyenderkan bahu pada sandaran kursi kerjanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2