HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 259. Izzam Sakit


__ADS_3

"Oh ya Bin kamu keburu ngasih mainan itu sekarang," ujar Sarah kemudian.


"Memangnya kenapa Sarah?" tanya Bintang tidak paham. Bukankah membelikan mainan untuk anak-anak tidak perlu menunggu waktu yang tepat?


"Minggu depan Izzam ultah yang ketiga," ujar Sarah.


"Kapan?"


"Malam Minggu."


"Berarti tiga hari lagi dong bukan Minggu depan," protes Bintang.


"Kan hitungannya masuk minggu depan," ujar Sarah tak mau disalahkan.


"Oh gitu ya menurutmu, terserahlah. Biarin saja nanti aku belikan kado yang lain."


Sarah hanya mengangguk.


Kemudian mereka bertiga menatap kembali ke arah kedua balita yang seolah berada dalam sangkar itu. Gaffi berceloteh riang sambil saling melempar mainan bola-bola kecil dengan Izzam.


"Mas besok katanya Kak Mentari ingin berbelanja. Mas Gala temanin saja ya!" pinta Sarah.


"Kalau saja masa haidku sudah usai mungkin aku yang akan menemani dia. Lagi deras ini mager untuk keluar."


"Baik," ucap Gala.


"Tapi mau belanja apa dia? Keperluan ulang tahun Izzam? Apa tidak sebaiknya pesan dan terima beres?"


"Kak Mentari tidak mau Mas, semuanya ingin dimasak dengan tangan sendiri, bahkan aku tawarkan agar Mbak Nanik dan Mega yang membuatkan dia juga tidak mau. Kak Mentari katanya mau tumpengan juga selain pakai kue tart."


"Hmm, kalau wanita memang kadang aneh. Mau dikasih yang simpel-simpel tidak mau malah suka dengan yang ribet-ribet," keluh Gala.


"Itu bukan ribet Mas tapi inginkan yang terbaik untuk putranya."


"Terserahlah," ucap Gala lalu menggelengkan kepala.


Semoga saja ultah kedua Gaffi nanti Sarah tidak menginginkan yang macam-macam seperti pada ulang tahun yang pertama kemarin. Dimana Sarah mengadakan permainan mencari harta karun yang dikubur di dalam tanah sehingga membuat anak-anak tetangga menjadi kotor.


Yang membuat Gala sedikit kesal Sarah menyuruhnya ikut pula. Saat Gala tidak berhasil mengalahkan anak-anak, wajahnya langsung diolesi dengan kue tart oleh sang istri sambil tertawa terpingkal-pingkal.


Namun kekesalannya terobati kala Gala merasa lucu dengan tingkah putranya yang ikut tertawa melihat wajah Gala. Mungkin anak kecil itu tahu papinya sedang dikerjai oleh maminya sendiri.


Kini ketiga orang dewasa lebih banyak diam dan lebih fokus melihat ke arah kedua balita yang masih terus saja asyik bermain.


"Sarah lihat Gaffi!" Gala cekikikan melihat putranya duduk dengan mata yang sesekali terpejam dan sesekali terbuka bahkan kepalanya hampir terbentur jaring-jaring kotak mainan.


"Ngantuk dia, makanya melek merem," ujar Sarah lalu mengambil Gaffi dari dalam kotak dan menggendongnya.


"Dedek Gaffi mau bobo dulu ya," ucap Sarah pada Izzam dan anak itu menatap Sarah lalu mengangguk.


"Izzam kalau mau tidur juga minta antar sama papi Bintang ke depan kamar Ummi, atau kalau mau tidur di kamar dedak Gaffi boleh saja, ayo ikut Tante!"


Izzam menggeleng.


"Nggak mau tidur?" tanya Gala.


"Nggak."

__ADS_1


"Ya sudah masih sore juga, main saja dulu."


Sekarang Izzam terlihat mengangguk.


"Sebentar ya Bin, aku minta kopi dulu sama bibi. Kemana sih mereka nggak ada yang nongol?" Gala bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah kamar salah satu pembantunya kemudian ikut ke dapur.


"Ayo Bin minum-minum dulu, ice coffee cocok dengan cuaca sore ini yang masih panas." Gala menaruh nampan berisi dua gelas ice coffee di atas meja.


"Makasih," ucap Bintang sambil mengangkat gelas dan meneguk isinya sampai tandas.


"Haus," lanjutnya sambil tersenyum pada Gala.


"Kalau kurang yang di gelas satunya boleh kau minum juga. Biar nanti aku bikin sendiri."


"Nggak ah buat kamu saja, kebanyakan minum yang manis-manis takut diabetes," ujar Bintang lalu terkekeh.


"Papi!" Izzam memanggil Bintang dan terlihat meringis.


"Izzam kenapa? Ada yang sakit?" tanya Bintang mulai curiga dengan raut wajah Izzam yang tiba-tiba berubah, tidak seperti biasanya. Anak itu wajahnya terlihat memerah.


"Sakit kepala," ujar anak itu lalu bersandar pada tepi kotak mainan mandi bola yang berbentuk jaring-jaring itu.


Bintang langsung sigap menggendong anak itu kemudian menyentuh dahinya.


"Kenapa dia?" tanya Gala yang melihat Izzam menyadarkan kepalanya pada bahu Bintang dengan nafas yang lebih cepat dari biasanya.


"Demam, panggil Mentari! Aku akan membawa anak ini ke rumah sakit segera," ujar Bintang lalu berjalan cepat ke luar rumah, sementara Gala langsung menaiki tangga dengan berlari menuju kamar Mentari.


"Ca! Ca!"


Tok tok tok.


Pintu nampak dibuka oleh Gala sebelum Mentari sampai di pintu.


"Ada apa?"


"Izzam demam," ujar Gala dan langsung membuat Mentari panik sebab Izzam sekali sakit biasa kejang-kejang.


"Dimana dia sekarang?"


"Dibawa ke mobil oleh Bintang. Kita susul sekarang!"


Mentari mengangguk dan langsung bergegas menuruni tangga kemudian mendekati mobil Bintang.


"Ayo cepat masuk! Gala kau yang nyopir saja!"


"Baik Bin!" Gala pun langsung masuk ke kursi kemudi sedangkan Bintang masih mendekap erat tubuh Izzam di samping Gala.


Mentari duduk di belakang dengan gelisah. Sesekali dia menyentuh dahi putranya.


"Ada kain kompres tidak?" tanya Mentari dengan suara bergetar penuh ketakutan.


"Di jok belakang Me, ada kaos ku pakailah untuk sementara hingga kita sampai ke rumah sakit. Kau tenang saja kaos itu bersih dan belum dipakai olehku," saran Bintang.


Seperti kata pepatah, tak ada rotan akar pun jadi. Sebab tidak menemukan kain lainnya terpaksa mentari mengikuti saran Bintang.


"Itu di sampingnya juga ada air mineral, tuangkan saja langsung!"

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Mentari dengan suara bergetar.


Dengan hati-hati Mentari menuangkan air di atas kaos. Setelah basah lalu dikompreskan ke dahi Izzam.


"Lebih cepat Mas Gala!" perintah Mentari dengan bola mata yang mulai berkaca.


"Ini sudah kecepatan tinggi Ca!" protes Gala.


"Lebih cepat lagi dong Mas!" tekan Mentari.


"Sabar Me, berdoa saja agar Izzam bisa cepat sembuh," ujar Bintang sementara Izzam meracau tidak jelas. Dia seperti orang tidur yang mengigau.


"Dia panas sekali," gumam Mentari.


"Sebentar lagi sampai, tenanglah!" seru Bintang mencoba menenangkan Mentari meskipun pikirannya tidak jauh lebih baik.


Mentari mencoba menarik nafas beberapa kali agar dirinya bisa tenang. Namun, dia gusar kembali tatkala melihat tubuh Izzam bergetar hebat dan menyentak-nyentak sambil menangis kencang.


"Izzam kejang Mas, cepatlah!" perintah Mentari pada Gala dan Gala langsung mempercepat laju mobilnya.


"Bagaimana ini? Izzam bertahan ya, Sayang!" Luruh sudah air mata yang sedari tadi ditahan oleh Mentari.


Kali ini bukan hanya Mentari yang panik, tetapi Bintang juga ikut panik. Dia bingung akan diapakan tubuh Izzam itu karena getaran dari dalam tubuhnya, kepalanya hampir membentur badan mobil. Bintang susah payah melindungi kepala anak itu agar tidak terbentur.


"Menepi Mas! Menepi!" perintah Mentari lagi membuat Gala menjadi bingung antara berhenti ataukah jalan terus dengan kecepatan tinggi.


"Berhenti!" teriak Mentari.


Ckiiiit!


Gala pun langsung mengerem mendadak.


Mentari turun dari mobil membuat kedua pria dalam mobil heran dengan sikap Mentari.


"Berikan Izzam padaku!" pinta Mentari pada Bintang.


"Kamu mau kemana Me? Mau ngapain?" protes Bintang pada Mentari.


"Berikan Izzam padaku!" desak Mentari.


Akhirnya Bintang langsung menyodorkan tubuh Izzam ke dalam pangkuan Mentari yang kini sudah berdiri di luar mobil tepat di samping Bintang duduk.


Setelah Izzam sudah ada dalam gendongan, Mentari langsung melarikan putranya ke pinggir jalan. Saat dia melihat ada rumah di tepi jalan dengan lantai dari semen segera Mentari membawa Izzam ke tempat itu dan membaringkan putranya di sana.


"Kamu ngapain Me?" Bintang bingung melihat Mentari menaruh Izzam di bawah.


Mentari tidak menjawab, wanita itu fokus menyeka busa di mulut Izzam agar anak itu tidak semakin kekurangan oksigen.


"Me?!" Bintang tidak tahu harus bicara apa lagi.


"Dengar Mas biasanya orang-orang desa kalau anaknya sawan akan ditaruh di atas lantai, tanah ataupun tempat yang kasar lainnya. Aku harap Izzam berhenti menyentak-nyentak," ujar Mentari sambil memiringkan posisi Izzam.


"Hah." Bintang hanya bisa menarik nafas panjang. Tidak tahu cara yang diambil Mentari efektif atau tidak, tapi jika dia melarangnya, takut Mentari akan marah.


"Jangan lama-lama Me, Izzam harus mendapatkan penanganan dokter dengan cepat!"


Tidak disangka Izzam berhenti menangis dan tubuhnya yang tadinya menyentak-nyentak kini malah terdiam. Mentari langsung mengambil putranya kembali dan menggendong lalu membawanya ke mobil kembali.

__ADS_1


"Ayo Mas kita ke rumah sakit sekarang!"


Bersambung.


__ADS_2