
"Baik Bos," ucap Mega sumringah, bahagia bisa melihat wajah Gala dari dekat lagi.
Setelah selesai dengan pesanan kue nya. Mentari dan Gala kembali ke dalam mobil.
Setelah Mentari membagi-bagikan kue kepada si bibi, Pak Shaleh, dan Tama, Gala langsung menyuruh Pak sopir untuk membawa mobilnya ke dalam rumah.
Setelah memastikan Tama sudah beristihat Gala langsung mengajak Mentari untuk menemui Tuan Winata di kantornya.
Gala lebih memilih mengendarai motor gedenya dan membonceng Mentari daripada membawa mobil sendiri maupun merepotkan sopir. Gala tahu bahwa sopirnya pasti kelelahan telah mengantarnya ke sana kemari.
"Naik ini?" tanya Mentari tak percaya.
"Kenapa? Tubuhmu nggak sampai? Mau aku bantu naik?" goda Gala.
"Bisa lah tubuhku kan tidak pendek-pendek amat," ucap Mentari sambil berusaha naik ke atas motor itu.
"Sudah," katanya setelah duduk dengan sempurna di atas motor.
"Pegangan!" perintah Gala sambil menyalakan sepeda motornya.
"Nggak usahlah, begini aja nggak akan jatuh." Mentari merasa risih apabila harus memeluk pinggang Gala. Dia tidak biasa melakukan hal itu pada lelaki manapun kecuali Bintang suaminya.
"Pegangan! Nanti kalau jatuh aku tidak mau tanggung jawab." Bintang menoleh ke belakang lalu meraih tangan Mentari dan meletakkan pada pinggangnya.
"Ingat jangan dilepas!" Setelah mengatakan itu pada Mentari, Gala langsung tancap gas. Mengemudikan motor dengan kecepatan tinggi.
"Pak Gala, hati-hati." Mentari tampak ketakutan sehingga terpaksa mengurungkan niatnya untuk melepas pegangan tangannya di pinggang Gala. Malah sekarang pegangan yang longgar menjadi kuat karena rasa takut Mentari.
Beberapa menit di jalanan akhirnya sampai juga mereka ke perusahaan Tuan Winata.
"Waw." Mentari tampak kagum memandang perusahaan Tuan Winata yang tidak kalah besar dengan perusahaan Gala.
"Kenapa? Besar ya?" tanya Gala melihat Mentari memandang gedung itu dengan takjub.
"Iya, sama dengan perusahaan Pak Gala. Pantas saja Mas Bintang begitu ngebet ingin menggantikan papa," ucap Mentari dijawab anggukan oleh Gala.
"Tapi Paman Winata tidak akan pernah menyerahkan pada Bintang perusahaan ini selama dia masih bersama Katrina," terang Gala.
__ADS_1
"Kenapa Papa begitu membencinya ya, apa Katrina pernah membuat masalah dengan papa?"
"Entahlah." Gala mengendikkan bahu.
"Ayo katanya mau menemui papa," ajak Mentari.
"Yuk!" Gala berjalan di depan dan Mentari mengikuti langkah Gala di belakang.
"Mau ketemu siapa Pak?" tanya seorang karyawan.
"Paman Winata, katakan Galaksi mau bertemu!"
"Baik Pak."
Setelah menelpon karyawan itu langsung berkata, "Beliau ada di ruangannya dan anda ditunggu di sana. Mari saya yang bentar."
"Terima kasih." Gala mengikuti karyawan tersebut begitupun juga dengan mentari.
"Silahkan masuk Pak!" Karyawan itu membukakan pintu ruangan Tuan Winata dan menyuruh Gala juga Mentari masuk.
Mentari menatap Gala meminta penjelasan. Bukankah dia yang mengatakan tadi Tuan Winata ingin berbicara langsung.
"Tidak apa Paman, biar Mentari tahu dengan perusahaan Paman ini. Bintang tidak pernah membawanya kemari, kan?" Padahal hanya ingin keluar berdua dengan Mentari saja. Dasar Gala! Katanya tidak ingin jadi pebinor, tapi malah suka jalan dengan istri adiknya itu. Pikiran dan hati Gala tak sejalan dan untungnya Mentari tidak melihat itu.
"Iya juga ya Gala. Kalau mau kalian bisa berjalan-jalan disini, melihat-lihat kantor ini yang masih jauh dari perusahaamu."
"Ah Paman terlalu merendah, perusahaan milik papa tidak ada bedanya dengan perusahaan Paman ini."
"Kenyataannya kok Gala, perusahaan ini masih kalah bersaing dengan perusahaanmu."
Beralih menatap Mentari. "Ada apa? Apakah Pandu baik-baik saja?" tanya Tuan Winata khawatir, jangan-jangan selain ingin melihat kantor, Mentari juga ingin mengabarkan bahwa keadaan adiknya di kampung sakit parah.
"Sudah membaik kok Pa. mungkin nanti sore atau besok, dia sudah bisa pulang."
"Syukurlah kalau begitu, aku kira terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap adikmu Pandu."
"Nggak kok Paman, Gala yang mengajaknya kemari."
__ADS_1
"Ada apa Gala?" tanya Tuan Winata serius. "Apa terjadi sesuatu sama Mas Tama?" tanyanya lebih lanjut.
"Terjadi sesuatu sing nggak Paman. lagipula Paman tahu sendiri kan kemarin sore bahwa Papa menganggap Mentari adalah Cahaya, putrinya yang hilang dan beliau meminta agar Mentari tinggal bersama kami. Kedatangan kami kemari hanya ingin meminta izin kepada Paman agar memperbolehkan Mentari tinggal di rumah kami. Boleh ya Paman demi Papa. Barangkali dengan kehadiran Mentari di sisinya Papa bisa membaik keadaannya."
Tuan Winata tampak diam. Dia memikirkan perkataan Gala. Dalam hati merasa keberatan, tapi juga khawatir dengan keadaan Tama. Kalau memang Mentari bisa menyembuhkan Tama kenapa tidak? Namun, bagaimana kalau Bintang tahu Mentari tinggal di rumah Gala. Tidak akan terjadi salah paham kah?
Apa aku harus memberi tahukan pada Bintang?
Ah tidak-tidak dia belum boleh tahu keberadaan Mentari dulu. Dasar tuh anak sampai saat ini belum juga bergerak mencari istrinya. Apakah Bintang benar-benar tidak bisa mencintai Mentari?
"Bagaimana Paman, apa boleh?" Pertanyaan Gala membuat Tuan Winata menghentikan monolognya dalam hati.
"Baiklah boleh." Tanpa pikir panjang lagi Tuan Winata memberikan izin. Mengapa harus memikirkan Bintang yang sama sekali tidak perduli dengan istrinya itu. Tuan Winata masih kesal dengan sikap Bintang yang melawan dirinya kemarin hanya gara-gara membela si Katrina.
"Wah terimakasih Paman, Paman memang terbaik pokoknya. Boleh minta tolong lagi?" Gala tidak tahu diri, dikasih hati minta jantung.
"Apalagi?" Tuan Winata menggeleng melihat Gala. Pria itu memang terkadang manja padanya. Tuan Winata maklum sedari dulu Gala kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Rosa yang sakit-sakitan terus ditambah dengan Tama yang depresi membuat Gala besar tanpa kasih sayang yang full dari keduanya.
"Tolong mintakan izin pada pemilik toko tempat Mentari bekerja. Katakan bahwa Mentari tidak bisa bekerja full di sana karena harus merawat papa. Meminta Mentari berhenti dia tidak mau," keluh Gala pada Winata.
Tuan Winata memandang Mentari. Wanita itu hanya diam tanpa kata. Entah mengapa rasanya berat jika harus berhenti bekerja di toko Sarah.
"Kenapa tidak kau temui sendiri?" tanya Tuan Winata. Terkadang bingung juga jika hanya urusan seperti itu harus melibatkan dirinya.
"Malas ketemu wanita itu," jawab Gala dengan ekspresi tidak bersemangat.
"Baiklah. Kalau mau ambil baju-baju Mentari nanti sore saja ya saat Paman ada di rumah."
"Baik Paman, kalau begitu kami permisi dulu."
"Iya sana. Kalau tidak mau melihat-lihat di kantor ini mending kalian istirahat saja dulu."
"Baik Paman."
Mereka pun berpamitan pada Tuan Winata kemudian berlalu meninggalkan kantor tersebut menuju kediaman Tama.
Bersambung.
__ADS_1