
Setelah menerima obat dari dokter keduanya langsung berpamitan pulang.
"Mampir ke toko dulu ya Pak! Saya kayak pengen makan kue gitu."
"Baiklah, apapun yang kamu mau akan aku turuti," ujar Gala sambil mengelus perut Sarah.
Sarah cemberut.
"Nih bini benar-benar aneh ya, heran aku, aku bilang mau nurutin kemauannya bukannya senang malah cemberut." Gala bicara sendiri. Namun tentu saja masih bisa di dengar oleh Sarah sebab wajah sang istri bersandar di bahunya.
"Pak Gala bukan mau nurutin keinginan Sarah tapi keinginan anak kita," ujar Sarah.
"Ibu kamu cemburu tuh kayaknya," ucap Gala sambil mengelus perut Sarah untuk kesekian kalinya. Sepertinya Gala akan punya kebiasaan baru yaitu meraba-raba perut sang istri.
Sarah tidak menjawab.
tetapi malah bicara pada sopir. "Pak ke toko Sarah dulu ya! Pak sopir tahu tempatnya, kan?"
"Oke Non Sarah. Bapak tahu kok."
"Oke."
"Dua-duanya Sarah. Kalau aku menuruti permintaan anak kita berarti juga menuruti permintaan kamu. Cemburu sama anak sendiri nggak boleh loh. Apa jangan-jangan ini alasan kamu ingin menunda kehamilan kemarin-kemarin?"
"Nggak sih Pak alasannya cuma tiga."
Jawaban Sarah langsung membuat Gala menganga.
"Tiga kau bilang cuma?"
Sarah mengangguk. "Yang pertama takut kuliahku berantakan kalau sampai tubuhku lemah akibat hamil."
"Bisa diterima." Gala mengangguk-angguk.
"Yang kedua takut tubuhku gendut dan jelek terus pak Gala berpaling deh ke lain hati."
Gala malah tertawa.
"Kok tertawa sih?" kesal Sarah.
"Nggak teruskan saja! Yang ketiga apa?"
"Yang ketiga ... masih sama sih. Kalau Sarah lagi nifas nih kan otomatis Sarah nggak bisa dipakai. Takutnya Pak Gala cari pelampiasan lain."
"Dipakai apa dulu?" goda Gala.
"Auh ah pikir sendiri! Terus selanjutnya takut ngidam macam-macam. Ntar Pak Gala kesusahan lagi untuk memenuhi ngidamnya Sarah." Sarah menahan tawa saat ide licik terbersit di hatinya.
"Itu namanya bukan tiga Sarah tapi empat," protes Gala.
"Kamu tenang saja, saya janji akan jadi ayah dan suami yang siaga. Siap diganggu." Gala terkekeh.
"Janji?" tanya Sarah memastikan.
Gala mengangguk mantap.
"Itu kan Non, tokonya yang di depan itu?"
"Iya Pak benar. Langsung bawa masuk ke halamannya saja Pak jangan parkir di pinggir jalan!"
"Oke siap Non." Pak sopir pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Sarah.
__ADS_1
Kini mobil sudah terparkir di depan toko. Nanik dan Mega mengintip dari balik kaca.
"Kayaknya saya kenal tuh mobil," ujar Nanik.
"Saya juga, tapi mobil siapa ya? Apa mobil Mentari?"
"Kayaknya bukan deh Mega. Mobil Bu Sarah juga bukan."
Mereka berdua menatap keluar sambil menebak-nebak.
Sarah keluar dari mobil dan segera berlari ke arah selokan yang menjadi pembatas antara jalan raya dengan halaman toko.
"Kamu mau apa Sarah?" tanya Gala bingung.
"Bu Sarah?!" kaget Mega.
"Hoek-hoek." Sarah langsung berjongkok dan menunduk.
"Ya Tuhan dia muntah lagi." Gala mendekati Sarah.
"Pak tolong bantu aku, muntahannya kayak tercekat di tenggorokan," ucap Sarah dengan suara yang terbata-bata.
Gala terlihat bingung dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Ayo dong Pak, hoek-hoek!" Sarah sampai seperti orang mengejan agar muntahannya bisa keluar.
"Saya harus bantu bagaimana Sarah?" Gala bingung. Pria itu menggaruk kepalanya.
"Pijit bahu dan tengkuknya Den, apa perlu Bapak yang melakukannya?" Pak sopir menawarkan diri.
Gala terbelalak.
"Kalau nggak ada yang bisa dimuntahkan nggak usah dipaksa muntah Sarah nanti perutmu sakit," protes Gala.
"Hoek-hoek."
Akhirnya keluar juga beban yang menghimpit leher Sarah.
"Air!" pinta Sarah sambil mengusap lehernya.
"Air! Air!" Bukannya mencarikan air minum untuk Sarah, Gala malah berteriak. Untungnya toko Sarah jauh dari rumah tetangga, kalau tidak bisa saja mereka panik karena menyangka ada kebakaran.
Nanik segera sigap berlari dengan sebotol air dan tisu di tangannya.
"Ini Bu, kumur-kumur dulu." Nanik menyodorkan air mineral yang sudah dibuka tutupnya.
Sarah pun menerima lalu berkumur-kumur. Setelahnya wanita itu langsung menenguk sisa airnya.
"Ini Mbak Nanik." Sarah mengulurkan botol yang sudah habis airnya itu pada Nanik dan Nanik langsung menukar dengan tisu.
Setelah membersihkan sisa muntahan di bibirnya, Sarah dengan dibantu oleh Gala bangkit dari duduknya.
"Bu Sarah kenapa?" tanya Nanik setelah mereka semua berjalan ke arah toko.
"Nggak enak badan Mbak," sahut Sarah.
"Hamil," jawab Gala.
Nanik menganga mendengar jawaban dari Gala.
"Kenapa Mbak Nanik berekspresi seperti itu? Bukankah sudah wajar ya kalau wanita yang sudah menikah itu hamil?" protes Gala.
__ADS_1
"Ya Pak, hanya saja kecepatan, belum genap sebulan juga sudah hamil saja nih Bu Sarah." Mega yang menjawab.
"Gercep amat nih Pak Gala," lanjut Mega dan Gala hanya menjawab dengan senyuman.
"Mbak Nanik ada stok kue brownies nya nggak?" tanya Sarah sambil duduk pada sebuah kursi.
"Pak masuk!" perintah Sarah pada sopir pribadi suaminya yang hanya berdiri mematung di depan pintu.
Sopir itu mengangguk dan masuk.
"Duduk sini Pak!" Gala menepuk kursi di samping dirinya.
"Sebentar ya Bu Sarah, saya ambilkan yang hangat saja. Tadi saya baru mengeluarkan dari oven."
"Iya Mbak."
Nanik pun berlalu ke dapur toko.
"Mega bagaimana sudah ketemu jodohnya?" goda Sarah sebab karyawannya itu pernah mengatakan akan menikah setelah Sarah menikah.
"Belum ketemu hilalnya Bu, dari zaman saya masih suka sama ustadz Alzam sampai beliau sudah tiada hidup saya ya begini-begini saja. Belum ada yang mau sama saya. Mungkin jodoh Mega sudah kadaluarsa."
"Dan sudah dibuang ke tempat sampah ya Mega?" kelakar Gala.
"Iya kali Pak, makanya nggak ketemu-ketemu." Mega menjawab dengan suara datar.
"Ini kuenya." Nanik kembali dengan satu nampan kue brownies besar berbentuk persegi.
"Aku potong-potong dulu ya," ujar Nanik sambil mengulurkan pisau di atas kue.
"Kasih saja sama Pak Gala Mbak! Biar dia yang motong saja!" perintah Sarah.
Gala mengangguk dan langsung meraih pisau di tangan Nanik. Pria itu langsung memotong kue tersebut.
"Auw panas!" seru Gala sambil meniup-niup tangannya.
"Nggak ada yang sudah dingin saja Mbak?" Gala meminta kue yang sudah tidak panas.
"Ada Pak biar saya ambil dulu." Nanik bergegas mengambil kue yang lainnya.
"Tapi saya mau yang hangat," ucap Sarah saat Nanik sudah sampai di sisinya.
"Ya sudah Mbak Nanik tolong potong yang ini ya, biar saya potong yang itu saja." Gala menukar kue yang ada di hadapannya dengan kue yang masih dipegang oleh Nanik.
"Tapi anak kita maunya ayahnya yang motong," ujar Sarah. Dalam hati wanita itu terkekeh.
Gala menggaruk kepalanya.
"Katanya mau jadi ayah dan suami yang siaga. Masa diminta bantuan begitu saja tidak mau?" Sarah cemberut lagi.
"Iya, iya, iya." Akhirnya Gala pun melakukannya permintaan Sarah.
"Ya hancur," keluh Gala.
"Tuh, kan motong kue aja nggak bisa gimana nanti ngurusin ngidamku yang lainnya?"
Mega cekikikan, dia tahu sang bos sedang mengerjai suaminya. Bagaimana mungkin brownies-nya tidak retak. Toh Gala memotongnya dalam keadaan yang masih sangat panas.
"Sepertinya Pak Gala harus banyak belajar untuk membahagiakan istri."
Bersambung.
__ADS_1