
Mentari sudah membersihkan diri dan sekarang mulai belajar menyusui bayinya dengan posisi duduk.
Semua keluarga berkumpul di dalam ruangan dengan senyum yang menghiasi bibir mereka karena baru saja mendapatkan kebahagiaan.
"Assalamualaikum." Terdengar pintu ruangan diketuk.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Siapa Abi?"
"Aku lihat dulu." Ustadz Alzam bangkit dari duduknya dan memberikan penutup pada Mentari agar baby Izzam tidak harus dihentikan menyusunya.
Mentari meraih benda tersebut dan menutupi dadanya.
"Eh paman sekeluarga, masuk Paman!"
"Terima kasih."
Tuan Winata, Bintang, dan juga Arumi masuk ke dalam ruangan.
"Dimana cucuku katanya sudah lahir?" tanya Arumi sambil berjalan ke arah Mentari.
Baby Izzam berhenti menyusu seolah tahu ada yang menanyakan dirinya. Mentari melepaskan penutup dan memperlihatkan bayinya yang anteng dalam dekapannya.
"Wah, cowok sepertinya ya Me?"
"Iya Ma."
"Boleh aku gendong sebentar?"
Mentari mengangguk dan memberikan bayinya pada Arumi.
"Awas hati-hati ya Ma." Mentari khawatir melihat Arumi begitu kaku. Maklum sudah lama dia tidak pernah menggendong bayi yang masih merah seperti itu.
"Iya Me tenang saja."
Mentari mengangguk.
Bintang dan Tuan Winata mendekat ke arah Arumi dan melihat bayi Mentari.
"Nggak ada mirip-miripnya sama kamu Nak Mentari, wajahnya benar-benar mirip Nak Alzam," ujar Tuan Winata sambil menyentuh pipi bayi dalam gendongan Arumi.
Mentari mengangguk. "Iya memang Pa."
"Ih jadi kangen punya bayi. Sayangnya Bintang belum ada keinginan untuk menikah lagi," ujar Arumi ikut menyentuh pipi baby Izzam.
Mentari melihat Bintang. Pria itu tersenyum padanya. Mentari beralih menatap sang suami. Bintang tidak ada apa-apanya dibandingkan sang suami.
"Selamat ya ustadz, selamat ya Me sekarang kalian sudah jadi orang tua."
"Terima kasih," ucap Mentari.
"Terima kasih, kapan menyusul kami jadi orang tua?" tanya ustadz Alzam.
__ADS_1
"Belum ada rencana, belum nemu yang cocok," ujar Bintang.
"Jangan pemilih Bin, nanti kayak kakak sepupu kamu nih yang ngejomlo sampai sekarang. Masa adiknya sudah punya anak dianya belum ada pasangan," ujar Tama sambil melirik Gala. Pria itu hanya menghembus nafas panjang.
"Nggak apa-apa Paman lebih baik telat menikah daripada cepat-cepat nikah tapi gagal macam saya," sanggah Bintang.
"Nah itu baru cocok," ucap Gala sebab Bintang mendukung dirinya.
Bintang hanya menunjukkan jari jempolnya sambil tersenyum.
"Bagaimana pekerjaanmu Bin?" Gala menepuk bahu Bintang membuat semua orang menoleh ke arah keduanya. Baru kali ini kedua terlihat akrab setelah sempat berselisih dulu gara-gara Bintang mengangguk papanya stres.
"Baik dan lancar Gala," jawab Bintang.
Gala mengangguk. "Bagus kalau begitu. Berarti paman sudah benar-benar pensiun dari pekerjaan?"
"Iya dong Gala, paman kan sudah tua. Ingin tenang-tenang di rumah seperti papamu. Bintang bisa diandalkan kok untuk mengendalikan perusahaan."
Gala mengangguk. Dia sana sekali tidak pernah meragukan kemampuan Bintang sebab pria itu selalu bisa mengatasi disaat-saat ada masalah di kantor miliknya.
"Oh ya ustadz siapa nama putramu? Apa belum dikasih nama?"
"Sudah. Namanya Abrisam Abqary. Ummi memanggilnya baby Izzam. Ayo mari silahkan duduk berdiri saja sedari tadi!"
Semuanya orang mengangguk dan duduk di kursi panjang yang ada dalam ruangan tersebut sedangkan para wanita duduk di tepi ranjang.
Warni berdiri mengambil baby Izzam yang terlihat sudah tidur dalam pangkuan Arumi.
Arumi pun menyerahkan putra Mentari kepada Arumi.
"Kamu tiduran saja Me," saran Arumi.
"Iya Ma." Mentari pun mengangguk dan kembali berbaring.
Para wanita berbicara sesama wanita dan begitu sebaliknya. Para pria bicara dengan para pria.
"Terima kasih ya Nak Alzam," ucap Tuan Winata.
"Atas apa paman?" Ustadz Alzam sama sekali tidak pernah merasa melakukan kebaikan pada keluarga mereka.
"Atas bimbinganmu terhadap putraku Bintang. Kalau tidak ada kamu, mungkin dia sudah stres dan gila."
"Gila." Gala terkekeh dan Bintang hanya menunduk.
"Saya tidak melakukan apapun terhadap dia Paman. Keinginan untuk berubah menjadi orang yang lebih baiklah yang membuat dia menjadi seperti ini."
"Ya tapi kalau bukan karena dukungan mu mungkin dia tidak akan seperti ini. Dia yang biasanya lalai dalam sholatnya sekarang sudah rajin sholat. Setiap malam dia tidak pernah absen untuk mengaji."
Mentari memandang tidak percaya pada Bintang. Dulu dia sering menegur Bintang, tetapi tidak pernah digubris sedikitpun, bahkan dulu Mentari sempat memiliki cita-cita ingin sholat berjamaah dengan sang suami yang menjadi imam.
Mentari bersyukur impiannya terwujud dengan ustadz Alzam.
"Itu sudah takdirnya Paman. Tuhan memberikan hidayah pada Bintang. Siapapun yang akan membimbing dia, jika dia tidak mendapatkan hidayah niscaya dia tidak akan berubah. Berterima kasihlah pada Allah SWT."
__ADS_1
"Kalau itu mah pasti yang pertama Nak Alzam."
Ustadz Alzam mengangguk. "Kita ngopi-ngopi di luar yuk!" Ustadz Alzam berinisiatif agar semua yang ada di tempat itu menunggu di luar kamar saja melihat anaknya sudah tertidur dan istrinya terlihat mengantuk.
"Iya ayo sepertinya Mentari sudah mau tidur, tetapi tidak bisa karena kita semua berisik," ujar Tuan Winata.
Mereka pun mengusung kursi panjang keluar agar semuanya bisa tertampung duduk. Mereka mengobrol bersama hingga malam menjelang.
Saat malam tiba, semua orang pamit pulang hanya menyisakan ustadz Alzam dan sang ibu yang menjaga Mentari sebab Warni pun ikut pulang sebab meninggalkan Pandu di rumah Tama sendirian dan menitipkan pada pembantu yang di sana.
***
Di tempat lain.
Arka berjalan dengan ekspresi bingung saat orang-orang berjalan keluar kantor dengan suara yang begitu riuh. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang mengumpat pemilik perusahaan itu.
"Tunggu ini ada apa? Kenapa kalian membawa barang-barang kalian keluar dari tempat ini?"
"Loh Pak Arka tidak tahu ya?"
Arka menggeleng. "Aku tidak tahu apa-apa. Ada apa dengan sebenarnya?"
"Pabrik ini ditutup dan pemilik perusahaan tidak mau membayar gaji kita bulan ini."
"Ditutup?" Tentu saja Arka benar-benar syok. Tidak ada berita perusahaan itu bangkrut kenapa tiba-tiba ditutup begitu saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.
"Saya juga tidak mengerti Pak, apa yang terjadi sebenarnya. Yang saya dengar perusahaan ini memproduksi dan memalsukan produk perusahaan lain. Katanya juga ada berbagai scandal yang terkuak tentang perusahaan ini dan saya tidak mau terlalu ikut campur, ribet. Bagiku yang penting sekarang kami akan menuntut gaji dalam satu bulan ini. Bapak bisa membantu karyawankah?"
Arka berdiri membeku mendengar penjelasan seorang karyawan.
"Pak! Pak Arka!"
Mendengar Arka tidak merespon akhirnya karyawan tersebut pergi begitu saja.
Beberapa saat kemudian Arka tersadar.
"Aku harus meminta penjelasan pada Bu Bos." Arka berjalan menuju ruangan atasannya.
"Bu Starla ada?"
Kedua orang yang sedang fokus berbincang-bincang dalam ruangan tersebut menoleh ke arah Arka.
"Dia Pak yang namanya Pak Arka," gumam salah satu pria.
"Oh jadi kamu yang namanya Arka?"
"Iya, maaf Anda siapa?"
"Saya suami dari Starla. Aaron, perintahkan anak buah kita untuk membunuh dia!"
"Apa?" Arka kaget lalu berbalik dan langsung berlari menuju lift.
Bersambung.
__ADS_1