HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 70. Akal-akalan Tuan Winata


__ADS_3

Sampai di kamar Bintang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mencoba memejamkan mata untuk tidur sebentar sebelum menyambut kedatangan Mentari.


Namun, sebelum bisa terlelap sepertinya dia mendengar suara samar-samar mobil masuk ke garasi rumah dari bawah sana.


Bintang bangkit dan berjalan ke arah jendela. Dari balik kaca dia mengintip siapa yang datang di bawah itu.


"Papa." Bintang yang melihat sang papa keluar dari mobil akhirnya memutuskan untuk turun dan menemui sang papa. Berharap dengan begitu dirinya bisa mengambil hati papanya itu.


Turun dari lift Bintang berjalan cepat ke arah Tuan Winata.


"Pa." Bintang menyapa Tuan Winata sambil meraih tangannya untuk bersalaman.


Tuan Winata heran melihat tingkah putranya yang tidak biasa. "Tumben ingat pulang tanpa diminta," sindir Tuan Winata.


"Kangen sama Papa dan Mama." Bintang beralasan.


"Bukan ada maunya ya? Mau minta uang sama kami karena keuanganmu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan perempuan materialistis itu?" tebak Tuan Winata.


"Ah tidak Pa Bintang masih ada uang kok," elaknya. "Mentari ada di sini Pa?" tanya Bintang kemudian.


"Ngapain kamu tanya dia? Bukankah kamu tidak perduli ya sama Mentari? Mentari itu hanya pilihan papa bukan pilihan Bintang. Kamu terpaksa kan menikahi Mentari hanya karena ancaman ku." Tuan Winata mengingatkan akan perkataan Bintang tempo hari saat berdebat dengannya.


"Dan bagaimana kabarnya perempuan itu? Apa kau sudah meninggalkannya? Kalau ingin hidup dengan Mentari, cintai dia seutuhnya dan lepaskan Katrina."


" Tapi Pa ...."


Sebelum Bintang meneruskan ucapannya, Tuan Winata mengangkat tangan sebagai tanda agar Bintang tidak melanjutkan ucapannya. Dia malas berdebat karena tahu jawaban Bintang akan seperti apa.


Meladeni Bintang akan panjang urusannya nanti sedangkan saat ini dirinya masih benar-benar lelah.


Arumi yang melihat Bintang mau berbicara lagi dengan Tuan Winata awalnya merasa senang. Namun, kemudian merasa kecewa sebab suaminya itu seperti meminta Bintang untuk meninggalkan Katrina. Tuan Winata juga terlihat enggan


berbicara banyak dengan sang putra.


"Sebentar papa mau ambil sesuatu, ada yang ketinggalan di luar."


Tiba-tiba Tuan Winata mengingat sesuatu. Mentari dan Gala tadi menyusul dirinya dengan mobil lain. Kalau menurut prediksinya mungkin beberapa menit lagi mereka akan sampai.


Tuan Winata bergegas keluar. Mengambil ponsel dan menelpon Gala tetapi panggilannya tidak diangkat.


Beralih menelpon Mentari, sama saja tidak diangkat.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Gala saat Mentari melihat siapa yang menelpon dirinya di layar ponsel.


"Papa."


"Papa siapa?" tanya Gala. Dalam hati berpikir papa yang disebut Mentari itu Tama.


"Papa Winata lah siapa lagi?"


"Oh Paman Winata, tidak usah diangkat paling menanyakan kita sudah sampai dimana, sedang kita sudah hampir sampai."


Mentari mengangguk dan menurut. Ia meletakkan ponselnya kembali dalam tas.


Mobil sudah berada di luar pagar rumah Tuan Winata dan hampir masuk kalau saja Tuan Winata tidak berlari ke arahnya dan mencegat mobil tersebut untuk masuk ke dalam pekarangan rumah.


"Kenapa tidak boleh masih Paman?" Gala membuka kaca mobil dan langsung melayangkan protes.


"Ada Bintang di dalam dan saya tidak ingin dia bertemu dengan Mentari sebelum dia bisa melepaskan si Katrina."


Gala menarik nafas lalu membuangnya kasar. Selalu saja menyangkut Katrina. Bisa tidak pamannya itu mengalah dan melepaskan Mentari untuk orang lain. Gala siap kok menikahi Mentari apabila Bintang mau melepasnya. Atau bisa tidak sih Bintang yang mengalah, melepaskan Katrina dan memberikan hati seutuhnya pada Mentari.


"Rumit, ini benar-benar hubungan yang rumit," batin Gala.


Kalau Bintang memilih melepaskan Katrina dan memilih Mentari ada anak yang harus dipertaruhkan kebahagiaannya di rahim Katrina yang mungkin saja menjadi alasan terkuat Bintang. Walaupun sebenarnya Gala tidak yakin seratus persen anak yang dikandung Katrina itu adalah anak Bintang mengingat dia pernah melihat Katrina jalan dengan kali-laki lain. Nyatanya Bintang terlalu meyakini bahwa bayi dalam kandungan Katrina itu adalah putranya.


Kalau memilih bertahan dengan keduanya, hidup Bintang terlihat sangat berantakan. Apalagi Katrina seperti tidak ingin berbagi dan Bintang juga tidak bisa bersikap adil.


"Terus kami harus bagaimana Paman?"


"Pulanglah dulu, nanti kalau Bintang sudah pergi saya akan menelpon kalian lagi."


Gala menghela nafas lagi. "Baiklah Paman kalau begitu kami pamit dulu."


"Oh ya Pa, aku nitip ini pada Bik Jum. Katanya putri Bik Jum yang juga bekerja di sini sedang hamil dan selalu makan rujak manis. Jadi sengaja Mentari tadi menyempatkan untuk beli di tengah perjalanan sebelum ke sini." Mentari menyodorkan bungkusan kepada Tuan Winata melalui kaca mobil.


Melihat bungkusan yang disodorkan Mentari Tuan Winata tersenyum karena tiba-tiba muncul ide di kepalanya.


"Buat papa saja ya," mohon Tuan Winata.


Mentari mengernyit. "Papa mau?" tanyanya untuk memastikan.


Tuan Winata mengangguk. "Paman kayak orang hamil saja. Besok deh Gala belikan rujak kecut sekalian," kelakar Gala.

__ADS_1


"Kalau papa mau, ambil saja. Nanti biar kapan-kapan Mentari beli lagi buat anaknya Bik Jum."


"Terima kasih."


"Papa ngobrol dengan siapa sih?" Dari jauh Arumi dan Bintang berjalan menuju tempat Tuan Winata berdiri.


"Cepat pergi!" perintah Tuan Winata pada Gala agar lekas menjauh dari rumahnya.


Gala langsung memutar mobilnya dan tancap gas meninggalkan tempat.


"Baru kali ini aku merasakan diusir," ucap Gala sambil menggelengkan kepala setelah mobil sudah menjauh dari kediaman Tuan Winata.


Mentari hanya menimpali perkataan Gala dengan senyuman. "Sabar Pak, orang sabar pantatnya lebar." Setelah mengatakan itu Mentari tertawa renyah.


"Duh manisnya," batin Gala ketika melihat wajah Mentari yang tersenyum dari balik kaca spion.


"Papa ngobrol dengan siapa sih dari tadi?" tanya Arumi penasaran. Katanya Tuan Winata hanya ingin mengambil sesuatu, mengapa begitu lama?


"Oh itu tadi? Dengan tukang antar makanan." Kalau Gala mendengar pasti kesal dirinya dan Mentari dikatakan tukang antar makanan online.


"Pesan apa?"


Tuan Winata menunjukkan bungkusan pada Arumi.


"Apaan sih Pa?" Arumi penasaran suaminya memesan makanan apa.


"Rujak manis," ucap Tuan Winata enteng.


"Buat?" Arumi heran, sejak kapan suaminya suka makan rujak buah.


"Buat kamu lah, buat siapa lagi?"


"Saya?" Arumi menunjuk dadanya sendiri dengan perasaan kaget yang semakin besar.


"Iya tadi pagi kan Mama mual-mual, kali aja dalam perut mama ada adiknya Bintang. Jadi sebelum ngidam papa belikan terlebih dulu. Baik kan Papa sama Mama. Papa berharap bayi kita laki-laki biar nanti bisa menggantikan papa memimpin perusahaan." Tuan Winata melirik Bintang.


Mama Arumi syok mendengar perkataan suaminya yang benar-benar konyol menurutnya. Orang cuma muntah biasa, dibilang hamil.


"Apa-apaan sih Papa? Mama kan cuma masuk angin saja. Mengapa malah dianggap hamil?" Wanita itu tampak memijit pelipisnya. Stres dengan pemikiran suaminya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2