HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 30. Bertemu Mertua


__ADS_3

"Mengapa nasibku seperti ini Sarah. Aku lelah, aku harus apa?"


"Sabar Kak, yakinlah setelah hujan reda akan muncul pelangi. Begitulah dengan kehidupan Kak Mentari yang akan mencapai kebahagiaan pada suatu hari nanti."


"Bagaimana kalau tidak kutemukan jua pelangi itu Sarah?"


"Setidaknya pasti akan ada matahari yang bersinar cerah setelahnya. Allah SWT itu tidak tidur Kak. Dia tahu kapan hambanya harus bahagia dan kapan kita harus diuji. Bersabarlah dan berjuanglah untuk kesuksesan Kakak di kemudian hari. Yang terpenting jangan lupa selalu bersyukur kepada Tuhan kita karena masih banyak yang lebih menderita dibandingkan Kakak. Kalau Kakak diuji dengan konflik rumah tangga berarti Allah tahu Kakak mampu melewatinya. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya untuk Kak Mentari dan melewati masa-masa sulit dengan penuh keikhlasan," tukas Sarah panjang lebar.


"Amin dan terima kasih atas dukungannya selama ini," jawab Mentari.


"Sama-sama Kak."


Mentari melepaskan pelukan Sarah kala melihat Nanik kewalahan melayani pelanggan. Sungguh Mentari kagum pada Sarah. Meski bakery Shop milik Sarah itu kecil tetapi tidak pernah sepi dengan pelanggan. Mungkin karena kualitas kue-kue di sana sangatlah terjaga maka bukan hanya dari kalangan orang bawah dan menengah saja yang menjadi pembelinya. Banyak mobil-mobil mewah juga berhenti di sana untuk sekedar membeli kue yang sudah tersedia atau bahkan untuk memesan.


"Aku bantu Mbak Nanik dulu ya Sarah, kasihan sepertinya dia kewalahan."


"Iya Kak," jawab Sarah. Wanita itu berharap Mentari akan melupakan kesedihannya jika sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Untuk sementara Mentari bisa menghilangkan kejadian tadi di ingatannya. Namun, tatkala wanita itu melihat seorang suami menggandeng tangan istrinya berjalan ke arah Mentari serta Nanik dan memesan kue untuk istrinya itu, hati Mentari menjadi terenyuh dan mengingat akan Bintang lagi.


Sarah yang melihat kesedihan masih tampak di mata Mentari berencana untuk membuat wanita itu melupakan kesedihannya.


"Kak Alzam bagaimana kalau kita merancang pesta kecil-kecilan untuk dia?" tanya Sarah pada ustadz Alzam.


"Maksudnya acara apa Sarah?"


"Kita rayakan hari ulang tahun dia agar Kak Mentari tidak merasa sendiri. Biar dia paham ada Sarah dan yang lainnya yang menyayangi dirinya."


"Hm, sebenarnya pesta ulang tahun bukanlah kebiasaan dalam agama kita. Namun, kalau sekiranya ini bisa membuat dia melupakan kesedihannya maka lakukanlah."


Mendapat persetujuan dari kakaknya, Sarah mengangguk dan siap beraksi. Wanita itu berjalan mendekati Nanik dan berbisik di telinga wanita tersebut. Namun, suara Sarah masih terdengar di telinga Mentari karena memang sengaja sedikit dikeraskan.


"Bagaimana ini Mbak Nanik? Bahan-bahan membuat kue untuk pesanan nanti malam habis sedangkan Mbak Nanik harus melayani sekaligus membuat pesanan kue selanjutnya."


"Memangnya Bu Sarah tidak bisa belanja untuk itu?" tanya Nanik.


"Tidak bisa Mbak saya ada kepentingan mendesak ini jadi harus segera pergi," ucap Sarah.


"Bagaimana ya Bu Sarah? Nanik tidak banyak waktu ini. Sebentar lagi pesanan Bapak Ginanjar akan diambil dan saya belum sempat membuatkan," ujar Nanik dengan ekspresi yang bingung.


"Biar saya saja yang belanja," ujar Mentari pada Sarah.


"Kakak yakin?"


Mentari mengangguk. "Asalkan kasih catatan apa saja yang mau dibeli dan kasih tahu dimana saya bisa mendapatkan bahan-bahan untuk membuat kue tersebut," jelas Mentari.


"Daripada Mbak Nanik yang pergi dan Mentari yang buat kuenya takut tidak sesuai dengan pesanan pelanggan," lanjut Mentari.


"Oke Mbak kalau begitu saya catat bahan apa saja yang habis."


"Iya Sarah."


Sarah pun dengan lihai mencatat apa saja yang harus dibeli oleh Mentari.


"Ini Kak, belinya nggak usah jauh-jauh cukup di toko bahan-bahan kue terdekat. Itu loh toko yang ada di dekat klinik itu."

__ADS_1


"Iya Sarah saya tahu kalau yang itu."


"Oke dan ini uangnya. Kak Meme mau bawa mobil atau motor?" tanya Sarah.


"Kamu bercanda ya, aku kan tidak bisa bawa mobil," ujar Mentari sambil tersenyum.


"Kalau motor juga tidak bisa? Kalau bisa Kak Mentari bawa motor Kak Alzam saja."


"Tidak usah Sarah. Kalau naik motor sih kakak bisa karena dulu pernah diajarin teman di kampung, cuma aku nggak mau ambil resiko. Kakak tidak punya sim c," jelas Mentari dan Sarah mengangguk paham.


"Aku mau naik kendaraan umum saja. Sudah yah aku pergi dulu biar cepat."


"Iya Kak, hati-hati."


Setelah kepergian Mentari Sarah lalu memberitahukan rencana dirinya pada Nanik.


"Oke siap Bu," ucap Nanik sambil menunjukkan dua jempolnya.


Kedua orang itu langsung menyiapkan ruangan. Salah satu ruangan yang tidak terpakai mereka berdua sulap menjadi tempat yang indah sedangkan yang mengambil alih menangani para pelanggan adalah ustadz Alzam.


"Bagaimana sudah siap?" tanya ustadz Alzam mengontrol ke dalam ruangan tatkala melihat keduanya masih belum keluar sedang pembeli sudah mulai sepi.


"Sebentar lagi selesai Kak. Kakak kenapa ke sini nggak ada pembeli lagi?"


"Nggak ada, bagaimana kalau Kakak saja yang buat kuenya?"


"Boleh Kak, itu mah ide yang bagus," cetus Sarah.


Ustadz Alzam pun pergi ke dapur yang terhubung dengan ruangan tempat melayani pembeli. Kedua ruangan tersebut dipisahkan dengan sekat kaca dan di tengah ada pintu kaca pula. Jadi tenang saja jika ada pembeli yang datang akan terlihat dari kaca dan ustadz Alzam bisa menghentikan aktivitasnya sementara untuk melayani pembeli yang datang.


"Gawat," ucap Sarah.


"Apanya yang gawat Bu Sarah?" tanya Nanik tidak mengerti. "Apa terjadi sesuatu pada Mentari?" tanyanya lagi.


"Bukan Mbak Nanik, tetapi Kak Mentari sudah hampir usai berbelanja dan kuenya masih Kak Alzam oven," jelas Sarah.


"Tambahin aja belanjanya," usul Nanik.


"Ide yang bagus," sambut Sarah. Sebenarnya dia kasihan melihat Mentari harus dia suruh-suruh. Meskipun dia itu anak buahnya, tetapi bagi Sarah Mentari adalah teman dekatnya.


"Kak tolong sekalian belikan kami makan siang," perintah Sarah melalui sambungan teleponnya.


"Baik Sarah, tapi sebentar ya sepertinya ada salah satu bahan kue yang kosong di tempat ini. Jadi Kakak harus mencari di tempat lain," terang Mentari.


"Baik Kak, tidak usah terburu-buru. Santai saja kok. Lagian itu untuk makan siang kita nanti dan bahan-bahan masih akan kita pakai palingan sorean."


"Oke."


Setelah menutup panggilan telepon Mentari langsung mencari toko lain yang menjual bahan-bahan kue yang masih ada di sekitar tempatnya sekarang. Setelah bertanya-tanya pada orang akhirnya dia menemukan toko tersebut.


"Itu dia." Mentari bergegas melangkah ke arah toko tersebut dan masuk ke dalamnya.


"Sampai di dalam dia berjalan pelan ke arah penjual karena melihat masih melayani seorang pembeli perempuan. Dari gayanya perempuan yang membelakangi dirinya sekarang adalah perempuan kaya raya. Terlihat dari semua yang menempel di tubuhnya adalah barang mewah semua.


"Kenapa tidak langsung pesan kuenya saja Nyonya?" Suara penjual terdengar samar-samar di telinga Mentari. Mentari menyimpulkan pasti selain menjual bahan-bahan untuk membuat kue, toko tersebut juga menjual kuenya langsung.

__ADS_1


"Tidak Jeng kue ini khusus untuk mantu kesayangan jadi harus dibikin sendiri," jelas Arumi.


Mentari terus mendekat.


"Duh senangnya jadi mantu Nyonya Arumi. Pasti wanita itu beruntung sekali mendapatkan mertua seperti anda. Apalagi Bintang juga baik dan tampan, berasa jadi sempurna kalau jadi dia."


Deg. Jantung Mentari langsung jedag-jedug kala nama Arumi dan Bintang disebut. Ia terus melangkah mendekat dengan rasa penasaran yang tinggi. Benarkah itu Arumi mertuanya ataukah Arumi yang lain.


"Biasa aja lah Jeng. Lagian Bintang kan sudah lama juga pacarannya sama dia jadi sudah kenal baik dengan saya."


Langkah Mentari terhenti seketika. Dia yakin dia Arumi mertuanya.


"Lagian dia sekarang hamil cucu saya, jadi harus saya istimewakan dia. Kalau dia senang otomatis kan bayinya juga senang." Hati Mentari terasa begitu berat untuk melangkah ke depan, tetapi dia tidak ingin membuang-buang waktu. Ia maju ke depan dan berdiri di samping Arumi.


"Mau beli apa Neng?" tanya penjual tersebut.


"Ada baking powder dan roombutter tidak Bu?"


"Oh ada, beli berapa?" tanya penjual sedang Arumi langsung menoleh mendengar suara Mentari.


"Kamu?"


"Mama." Mentari tersenyum kemudian mengambil tangan Arumi untuk disalami dan pura-pura tidak mendengar pembicaraan antara Arumi dan penjual tersebut tadi.


"Mau buat kue juga?" tanya Arumi pada Mentari.


"Iya Ma."


"Bagus, sebagai istri muda kamu memang harus menghargai Katrina sebagai istri pertama Bintang." Mentari terdiam kaget mendengar perkataan Arumi.


"Jadi Mama tahu bahwa Mas Bintang telah menikah dengan Katrina?"


"Tentu tahulah, saya kan mamanya. Katrina itu sudah lama pacarannya dengan Bintang jadi saya tahu seperti apa dia. Baik, cantik, berpendidikan tinggi, dan yang terpenting dia berasal dari keluarga yang sepadan dengan kami."


Mentari memegang dadanya yang tiba-tiba sesak. Penjual di depannya hanya menatap Mentari kasihan.


"Kamu itu menikah dengan Bintang hanya karena keinginan suami saya, bukan Bintang bukan pula saya. Jadi kamu harus tahu diri dan menempatkan diri pula dengan baik diantara kehidupan Bintang dan Katrina. Jangan sampai kehadiranmu dalam rumah tangga merusak keharmonisan mereka. Mereka saling mencintai dan sampai kapanpun tidak boleh terpisahkan apalagi sebentar lagi mereka akan dikaruniai seorang putra. Putra pewaris perusahaan milik Arga Winata."


"Bu ada tidak yang saya pesan tadi?" Mentari tidak ingin berlama-lama di tempat itu karena semakin lama udara serasa semakin pengap padahal sirkulasi toko tersebut sangatlah bagus. Penjual pun mengerti akan perasaan Mentari.


"Ada, tapi hanya satu saja."


"Tidak apa-apa Bu, bungkus kan saja!"


Penjual itu mengangguk dan langsung membungkus pesanan Mentari.


"Terima kasih Bu."


Wanita tersebut mengangguk. Setelah membayar Mentari bergegas untuk pergi.


"Saya pulang duluan Ma," pamitnya pada Arumi. Tanpa mau mendengar jawaban Arumi terlebih dulu dia langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.


Mentari langsung menyetop angkot yang melintas di depannya sedang Arumi hanya menatap kepergian Mentari dengan perasaan yang entah, wanita itupun tak tahu seperti apa sebenarnya perasaannya pada menantunya itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2