
Mentari terus saja mengawasi pergerakan Arka. Saat semua keluarga keluar dari tabir tempat pemandian Jenazah dan masuk ke dalam rumah, Arka masuk ke dalam dan ikut memandikan jenazah Arka. Katrina hanya melirik dan pura-pura tidak kenal pada Arka sedangkan ustadz Alzam yang tidak tahu siapa saja keluarga Katrina dan Bintang tidak curiga sama sekali tentang keberadaan Arka di sana.
Di dalam rumah Gala mencoba mendekati Bintang.
"Bin saya ingin membicarakan hal penting denganmu," ucap Gala memulai pembicaraan.
"Kamu ingin mengucapkan ucapan bela sungkawa, kan? Terima kasih," ucap Bintang sedikit cuek.
Tama mencolek bahu Gala dan berbisik di telinganya. "Jangan sekarang nanti saja."
Gala mengangguk dan pergi dari samping Bintang.
Beberapa saat tibalah waktunya jenasah Aldan dikebumikan. Orang-orang membawa bayi itu ke pemakaman dengan mobil sebab jaraknya lumayan jauh dari kediaman Tuan Winata.
Setelah selesai dikuburkan orang-orang langsung kembali ke rumah masing-masing dan ada yang kembali ke rumah Tuan Winata dengan mobil lain.
Tuan Winata, Arumi, Tama dan Gala juga Mentari dan ustadz Alzam tampak menunggu di pinggir makam yang tempatnya agak jauh dari kuburan Aldan, setelah menaburkan bunga mawar di kuburan Aldan. Sedangkan Bintang dan Katrina sedang berbicara dengan anaknya yang sudah tertimbun tanah itu sambil menangis.
"Paman dan bibi mumpung kita semua berkumpul di sini dan Aldan sudah dikuburkan, Gala ingin membicarakan hal yang serius dengan kalian." Sebelum memberitahukan pada Bintang ada baiknya Gala menceritakan terlebih dahulu kepada kedua orang tua Bintang.
"Kamu juga ingin menikah juga Gala?" tanya Tuan Winata menebak-nebak.
"Bukan Paman, ini bukan menyangkut Gala sendiri melainkan tentang Bintang dan Aldan." Gala memulai pada topik pembicaraan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Tuan Winata mulai penasaran. Dia ingat Gala dulu juga pernah mengatakan itu pada dirinya tetapi dia sendiri yang malah acuh.
"Aldan bukan putra Bintang, dia bukan cucu paman." Gala tidak suka berbasa-basi. Ini adalah masalah yang serius. Jika Aldan bukan putra Bintang itu tandanya Katrina berselingkuh dari Bintang.
Arumi tampak kaget mendengar perkataan Gala. "Kamu jangan sembarangan Gala. Leluconmu ini tidak lucu," sanggah Arumi.
"Bibi boleh tidak percaya pada Gala, tetapi Gala punya bukti yang nyata." Gala mengeluarkan lembaran hasil tes DNA dari dalam dompet yang ada di saku celananya dan langsung mengulurkan pada Arumi.
"Setelah membaca ini terserah Bibi mau percaya ataupun tidak yang penting Gala sudah menyampaikan kebenarannya," imbuh Gala.
Arumi segera membuka lipatan kertas tersebut dan buru-buru membacanya. Arumi terhenyak kaget melihat hasil tes DNA antara Bintang dan Aldan yang ternyata menunjukkan ketidak cocokan. Arumi memandang hasil tes DNA itu dengan Mentari secara bergantian. Sepertinya dia menyesal pernah mengatakan Mentari tidak subur sehingga tidak akan bisa memberikan Bintang keturunan dan dia malah mengelu-elukan nama Katrina di depan Mentari.
"Coba kulihat." Tuan Winata langsung menarik kertas tersebut dari tangan istrinya.
__ADS_1
"Sudah kuduga." Tuan Winata berekspresi biasa saja. Entah mengapa memang sudah dari dulu feeling-nya mengatakan Aldan memang bukan cucunya. Kedatangan dirinya ke Singapura tidak lain hanya kasihan kepada sang putra yang sepertinya sedang panik di sana dan tidak punya siapa-siapa lagi yang akan dimintai tolong oleh Bintang.
"Jadi papa sudah tahu semuanya?" tanya Arumi heran dengan ekspresi suaminya itu.
"Bukan tahu Ma cuma menduga saja. Mama kan tahu sendiri bagaimana papa tidak menyukai si Katrina itu. Papa merasa ada yang tidak beres dengan wanita itu. Berhubung Bintang masih ngotot ingin bersamanya ya sudah saya biarkan saja."
"Tapi darimana kamu mendapat hasil tes DNA ini Gala?" tanya Arumi ingin memastikan bahwa itu bukanlah rekayasa semata. "Bukankah kamu tidak mungkin mendapatkan sampel mereka?"
"Di dunia ini apa yang tidak mungkin Bibi kecuali Bibi ingin menyentuh langit, itu memang mustahil akan terjadi. Tes DNA ini Gala memang menyuruh anak buah untuk melakukan semuanya, tetapi tidak lepas dari pantauan saya sehingga tidak mungkin ada yang merekayasa. Dokter yang menangani pun adalah dokter yang tidak bisa diragukan lagi kejujurannya, dia adalah dokter terbaik yang saya kenal jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi masalah kinerjanya."
Arumi menunduk dia benar-benar menyesal dan kecewa telah mempercayai Katrina.
Sementara yang lain sedang serius mengobrol Mentari malah asyik bermain rumput dan mencabutnya. Sesekali dia iseng mengerakkan rumput itu di hidung suaminya.
"Geli Ummi," protes ustadz Alzam. Namun, Mentari tidak mengindahkan perkataan suaminya malah semakin gencar mengerjai sang suami.
"Awas kamu ya!" Ustadz Alzam pun menarik rumput dan hendak membalas tindakan Mentari. Namun, sebelum rumput itu sampai ke hidung Mentari, wanita itu bangkit berdiri dan kabur.
"Awas ya akan aku kejar."
Mereka berlari-larian di pinggir jalan sambil tertawa-tawa, tidak perduli semua orang menatap ke arahnya.
"Tunggu aku sayang, suatu saat aku akan menemuimu, insyaallah," gumam Tama.
"Kenapa Pa?" tanya Gala yang mendengar papanya bicara.
"Tidak, papa hanya bicara pada mamamu." Jawaban Tama membuat Gala mengernyit. Takut-takut papanya kembali stres lagi.
"Dimana mama?" tanya Gala siapa tahu memang Rosa menampakkan diri di depan papanya.
"Tidak ada, papa hanya bicara pada kuburannya," jawab Tama enteng.
"Oh." Gala mengalihkan perhatiannya pada ustadz Alzam dan Mentari yang tampak bahagia.
"Sudah Ummi berhenti berlarinya!" teriak ustadz Alzam saat ada mobil yang melintas dari arah yang berlawanan dengan tempat mereka berlari. Mendengar teriakan ustadz Alzam Mentari segera menepi.
"Ummi jantungku hampir copot melihat kau hampir tertabrak." Ustadz Alzam berlari ke arah Mentari dan segera mendekap tubuh istrinya. Wajah pria itu tampak pucat.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Abi." Mentari menenangkan suaminya yang terlihat syok.
"Aku tidak mau kehilanganmu Ummi," ucap ustadz Alzam dan semakin mengeratkan pelukannya.
Bintang yang tidak sengaja melihat dua orang itu berpelukan menjadi panas.
"Dasar mereka, aku berduka mereka malah mesra-mesraan di sini." Bintang bangkit berdiri dan hendak melabrak keduanya. Namun, sebelum langkahnya sampai pada Mentari terlebih dahulu Gala menghadangnya.
"Kau jangan ikut campur ini masalahku bersama Mentari!"
"Mentari sudah lepas darimu kenapa harus mengganggu dia lagi?"
"Huh dasar munafik kau juga tidak senang kan mereka bahagia?"
"Siapa bilang? Aku senang kok melihat Mentari bahagia dengan siapapun. Itu yang namanya cinta Bin, bukan hanya sebatas terobsesi dimana setelah berhasil memiliki kau mencampakkan dia semaumu."
"Hentikan sajak cintamu yang tidak berbobot itu dan jangan halangi aku!"
"Kau mau apa? Sebelum kamu menyentuh mereka berdua kau hadapi saja aku dulu," tantang Gala.
"Cih mau jadi jagoan ya kamu."
"Ya harus karena bagaimanapun Mentari itu adalah adik kandungku."
"Cih mimpi ya kamu, bangun Gala jangan kebanyakan tidur, ini masih siang bolong."
"Cih, aku tidak suka berbasa-basi ya. Ini baca saja sendiri!"
Gala memberikan hasil tes DNA antara Tama dan Mentari. Bintang meraih kertas tersebut dan membacanya. Pria itu terlihat kaget.
"Kenapa kaget ya. Siapkan mentalmu karena setelah ini kau akan lebih kaget lagi."
"Apa maksudmu?"
Gala memberikan kertas hasil tes DNA antara Bintang dan Aldan langsung ke tangan Bintang. Kalau saja tidak ada Arumi dan Tuan Winata di sana pasti Gala akan memilih melempar kertas tersebut di hadapan Bintang karena kesal pada pria itu. Sudah bodoh keras kepala lagi.
"Baca! Maka kau akan tahu semuanya."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Gala langsung melenggang pergi.
Bersambung.