
Dokter cepat tangani bayi ini secepatnya!" perintah Tuan Winata saat bayi Katrina masuk ke ruang IGD.
"Tuan tenang saja kami akan melakukan yang terbaik," jawab dokter dan langsung menutup ruangan untuk memeriksa bayi tersebut.
"Pa, bagaimana ini?" tanya Bintang sambil berjalan mondar-mandir tak karuan. Dia benar-benar khawatir dan gelisah.
"Tenang Bin, kita serahkan saja pada dokter. Dia pasti akan melakukan yang terbaik untuk bayi itu," ujar Tuan Winata menenangkan Bintang.
"Kita tunggu di sana saja Bin," ajak Gala agar Bintang duduk pada sebuah kursi. Bintang tidak menggubris perkataan Gala, dia masih memilih mondar-mandir di depan ruang IGD.
Melihat Bintang tidak merespon, akhirnya Gala mengajak Tuan Winata duduk dan dia langsung menelpon Arumi.
Lama menunggu akhirnya pintu IGD terbuka. Nampak seorang perawat keluar dari dalam membawa sesuatu dalam genggaman.
"Suster bagaimana kondisi putra saya?" tanya Bintang tak sabaran ingin mengetahui kondisi bayinya.
"Sebentar Pak, dokter sedang memeriksa," ucap suster lalu menutup pintu dan berjalan menjauh dari ruangan IGD.
Bintang menjadi ketar-ketir lagi menunggu hasil pemeriksaan dengan kekhawatiran yang mendalam.
Beberapa saat kemudian perawat yang keluar itu masuk lagi ke dalam ruangan IGD. Bintang tampak mengintip ke dalam ruangan, tetapi tidak sempat melihat karena buru-buru suster itu menutup pintunya kembali.
"Lama sekali sih?" Bintang masih terlihat sangat tidak tahan menunggu terlalu lama.
"Kalau gelisah seperti itu kenapa tadi kau tidak masuk saja?" protes Gala.
"Kau tidak tahu saja rasanya menjadi ayah. Apalagi kalau anak kita kecelakaan seperti ini," keluh Bintang karena melihat Gala seolah tidak mengerti dengan keadaannya.
Pintu ruang IGD terbuka kembali. Nampak dokter berjalan ke arah pintu.
"Bagaimana keadaan putraku Dok?" Sebelum dokter sampai ke pintu terlebih dahulu Bintang berjalan cepat ke arah dokter.
"Putra anda mengalami cedera kepala karena terjadi benturan keras di bagian kepalanya. Putra Anda mengalami perdarahan di kepala dan harus segera dilakukan operasi ...," jelas dokter. Namun, belum sempat meneruskan ucapannya, perkataan dokter langsung dipotong oleh Bintang.
"Apa Dok?" Bintang terlihat syok.
Dokter itu terlihat mengangguk. "Maaf dengan berat hati saya harus menyampaikan kejujuran demi kebaikan putra Anda sendiri."
"Apakah putra saya akan sembuh jika sudah dioperasi Dok?" tanya Bintang dengan pikiran kacau.
"Semua kemungkinan bisa terjadi. Namun, untuk masalah ini insyaallah kami memastikan akan berhasil, tapi ...."
"Tapi apa Dok?" Bintang terlihat kesal karena dokter tersebut terlihat bertele-tele di mata Bintang. Dia menoleh pada Katrina yang berdiri di samping putra kecilnya yang sekarang sedang terbaring lemah.
"Ketika kami memeriksa kondisi tubuh putra Anda, kami menemukan bahwa putra anda juga mengidap penyakit tertentu."
Bukan hanya Bintang yang terbelalak, tetapi Katrina juga karena saking kagetnya.
"Penyakit Dok? Penyakit apa? Dokter tidak salah diagnosa, kan? Bayiku sejak lahir sehat kok Dok," ucap Bintang terlihat kecewa.
"Maaf Pak memang itu sangat berat dan inilah kenyataannya. Bayi Anda mengidap penyakit
anemia sel sabit atau sickle cell anemia. Ini adalah kondisi kelainan genetik yang mengakibatkan bentuk dari sel darah merah menjadi abnormal. Putra Anda membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang secepatnya," terang sang dokter.
Mendengar perkataan dokter tiba-tiba sendi-sendi tubuh Bintang melemah seketika.
__ADS_1
Seakan tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya, tubuh Bintang terduduk lemas di lantai.
"Apa yang harus kami lakukan Dokter?" tanya Katrina yang masih berusaha bersikap tegar.
"Ya itu tadi harus segera dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang."
"Dari mana kami bisa mendapatkan sumsum tulang belakang yang cocok untuk bayi saya Dokter?" tanya Katrina lagi.
"Biasanya salah satu dari orang tuanya ada cocok."
"Kalau begitu ambil punyaku saja Dok," ucap Bintang.
"Boleh, mari ikut saya untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Apabila cocok akan segera diambil, tetapi kalau tidak cocok harus mencari donor lain. Mungkin ibunya atau keluarga lain yang mungkin saja cocok."
"Baik Dok." Bintang berusaha bangkit dari duduknya meski dengan susah payah karena dirinya sudah seperti tidak memiliki tenaga lagi.
Dokter itu keluar ruangan diikuti Bintang di belakangnya.
Katrina melihat kepergian Bintang dengan gelisah. Pikirannya sekarang bercabang dua. Memikirkan bayinya yang terbaring lemah dan memikirkan hasil pemeriksaan nantinya.
"Bagaimana kalau sumsum tulang belakang Bintang dan aku sama-sama tidak cocok?" Katrina tampak berkeringat memikirkan hal itu.
"Bagaimana kalau Bintang dan semua orang mencurigai sesuatu?" Katrina terlihat salah tingkah, berdiri duduk, berdiri duduk berulang-ulang kali. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di pinggiran ranjang IGD.
Tuan Winata yang melihat Katrina bersikap seperti itu menganggap wajar saja. Bagaimanapun seorang ibu akan sangat mengkhawatirkan anaknya apalagi dengan kondisi yang seperti ini.
Berbeda dengan Gala dia merasa Katrina tidak fokus pada bayinya. Gala terus melihat gerak-gerik Katrina di dalam sana yang menurutnya aneh.
"Ah, kenapa aku nggak kepikiran sih, aku harus menghubungi Arka secepatnya," batin Katrina dan langsung mencari kontak Arka.
Arka bayi kita dirawat di rumah sakit XX. Dia kekurangan sumsum tulang belakang karena mengidap penyakit yang serius. Sekarang Bintang sedang menjalani tes dan saya khawatir hasilnya tidak akan cocok. Kalau sampai pada giliranku nanti tetap tidak cocok, mati aku semua orang pasti akan curiga bahwa bayi itu bukanlah anak dari Bintang.
[Katrina-Send]
Kau tenang saja Kate saya akan segera ke sana dan memastikan akan bertindak cepat waktu.
[Arka-Send]
Baik cepatlah!
[Katrina-Send]
Oke.
[Arka-Send]
Katrina menutup ponselnya dengan sedikit lega. Ia kemudian menatap bayinya yang masih tidak sadarkan diri.
"Sayang kau harus cepat sembuh," batinnya.
"Dimana cucuku?" Terlihat Arumi datang dan berjalan tergesa-gesa.
"Ada di dalam," jawab Tuan Winata.
Arumi langsung masuk ke dalam dan menghampirinya Katrina.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Kate?" tanya Arumi setelah sampai di sisi Katrina dan juga cucunya itu.
"Kata dokter parah Ma, Kate takut," ucap Katrina dengan air mata yang kembali menetes.
Arumi memeluk Katrina. "Kita berdoa saja ya, biar semuanya baik-baik saja." Arumi mengusap-usap bahu Katrina agar wanita itu lebih tenang.
Katrina memandang wajah Arumi yang begitu tulus. Dalam hati berpikir apakah Arumi akan tetap begini setelah mengetahui kebenarannya. Ah, Katrina tidak mampu membayangkan semuanya.
Beberapa saat kemudian Bintang berjalan ke arah mereka dengan tidak bersemangat.
"Bagaimana Bin?" tanya Arumi dan Katrina hampir bersamaan.
Bintang menggeleng lemah. "Tidak cocok," ucapnya. "Kate sekarang giliranmu," lanjutnya.
Katrina mengangguk dan berjalan ke luar ruangan.
"Aku temani ya," ucap Arumi menyusul Katrina.
"Jangan Ma, lebih baik Mama jaga Aldan saja," tolak Katrina.
"Biar, di sini kan banyak orang. Ada papa, Gala, Bintang dan juga para petugas kesehatan," ucap Arumi.
"Nggak usah Ma, Kate pergi sendiri aja. Kate tidak tenang ninggalin Aldan kalau bukan Mama yang menjaga. Mama lihat sendiri kan Bintang seperti apa sekarang?"
Arumi mengangguk paham. "Baiklah."
"Mari Bu, saya antar ke ruang pemeriksaan," ajak seorang perawat menawarkan diri.
"Iya mari Sus."
Mereka pun pergi meninggalkan ruang IGD menuju tempat pemeriksaan. Sambil berjalan Katrina mengirim pesan lagi pada Arka dan ternyata laki-laki itu katanya sudah ada di rumah sakit.
Katrina menghela nafas lega.
"Hai Kate!" Arka melambaikan tangan dan berjalan cepat ke arah Katrina. Katrina menoleh, takut-takut ada yang melihatnya.
"Sus bagaimana kalau yang mendonor dari orang lain bukan saya?"
Gala yang mengikuti langkah Kartina diam-diam menggaruk tengkuknya.
"Tidak masalah, siapa saja bisa mendonorkan asalkan cocok," jelas perawat yang mengantar.
"Memangnya dia siapanya Ibu?" tanya perawat tersebut penasaran.
"Saudara jauh Sus, coba dites saja ya soalnya saya tidak enak badan sebenarnya. Jadi kalau dia cocok ambil sumsum dia saja."
"Baik Bu, tapi lebih tepatnya Ibu bicara langsung saja dengan dokter di dalam."
"Baik Sus."
Katrina dan Arka langsung masuk berdua ke dalam ruangan.
"Ini pasti ada yang tidak beres. Sepertinya perlu dilakukan tes DNA antara bayi itu dengan Bintang," gumam Gala lalu pergi menemui Tuan Winata untuk menyampaikan rencananya.
Bersambung.
__ADS_1