HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 141. Pertengkaran Di Kantor


__ADS_3

Katrina terus membujuk dan menyakinkan Bintang hingga pria itu menerima saja tentang penjelasan Katrina. Seba ada sedikit rasa bersalah di hati Bintang karena saat itu telah membiarkan Katrina pulang sendirian maka Bintang bisa membuka hati untuk memaafkan istrinya itu.


Kalau saja dia tidak membiarkan Katrina pulang sendiri di malam itu hal itu tidak akan pernah terjadi.


"Mengapa kamu tidak pernah menceritakan semuanya Kate? Mengapa baru sekarang kamu menjelaskan semuanya? Seharusnya kau jujur padaku."


"Aku takut Bin kamu tidak bisa menerimaku kalau tahu aku tidak suci lagi. Maaf bukannya ingin mengambil kesempatan dengan mendesak mu menikahi ku waktu itu, aku hanya tidak ingin kamu pergi dariku dan anak itu tidak punya ayah. Sumpah Bin aku bingung saat papa mendesak ku untuk mengatakan siapa ayah dalam kandunganku," jelas Katrina panjang lebar dengan posisi wajah yang masih mencium sepatu Bintang dengan air mata berlinang dan tidak pernah berhenti mengalir.


"Ampuni aku Bin aku tahu aku salah. Andai saja waktu bisa diulang aku pasti akan jujur padamu," rayu Katrina lagi.


"Bangunlah Kate jangan begitu terus." Bintang membantu Katrina berdiri. Sedari dulu pria itu memang tidak suka melihat Katrina menangis. Bagaimanapun dia adalah cinta pertamanya dan dia pikir-pikir juga kesalahan itu tidak sepatutnya dilimpahkan seutuhnya pada Katrina. Katrina diperkosa sebab dirinya yang abai dengan keadaan waktu itu.


Melihat Bintang membantu dirinya untuk berdiri Katrina hanya mengangguk sambil mengusap air matanya lagi.


"Sudahlah lupakan semuanya toh Aldan sudah tidak ada di sini." Bintang menghela nafas berat sedangkan Katrina menghela nafas lega.


"Masuklah dan beristirahatlah kamu pasti lelah setelah beberapa hari ini harus mengurusi Aldan." Akhirnya pria itu luluh juga.


"Baik Bin," ucap Katrina dengan ekspresi murung padahal dalam hati menertawakan kebodohan Bintang.


Katrina masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di sana untuk beristirahat sejenak. Namun, tidak dengan pikirannya yang terus bekerja. Katrina masih harus memikirkan bagaimana kedepannya, apalagi status Aldan yang sudah diketahui oleh keluarga besar Bintang semakin memberatkan posisinya.


"Semoga Mama Arumi bisa menerima penjelasanku." Hanya kepercayaan Arumi satu-satunya harapan Katrina dalam keluarga tersebut sebab kalau mengharapkan Tuan Winata akan terasa lebih sulit.


"Tapi posisi Arka boleh juga daripada Bintang yang keturunan orang kaya, tapi hidupnya malah tidak lebih dari seorang kuli kantoran saja." Katrina mulai ragu apakah akan terus bertahan dan bahkan harus berjuang hingga Bintang menikahinya secara resmi ataukah mundur perlahan dan memilih Arka.


"Sudahlah nanti saja kupikirkan lagi sekarang lebih baik aku istirahat saja," gumam Katrina dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


***


Beberapa hari berlalu pasca kehilangan Aldan, Katrina memulai aktivitasnya, kembali bekerja di perusahaan Gala. Jam 6.15 menit wanita itu sudah sampai di kantor.


"Selamat pagi Bu!" Semua karyawan tidak pernah berubah selalu menyapa dengan ramah saat dirinya lewat. Katrina bersyukur sebab keadaan kantor tidak banyak berubah setelah ditinggalkan dirinya, bersyukur juga Gala bisa mengerti kondisi keluarganya hingga saat ini sehingga tidak satu kali pun ada kata yang keluar dari Gala untuk memecat dirinya.


Katrina berjalan menapaki tangga dengan menebar senyum kepada setiap orang yang berpapasan dengannya. Itulah salah satu magnet mengapa tidak pernah ada yang ingin mencari masalah dengannya di perusahaan itu selain juga jabatan yang menunjang.


Sampai di dalam ruangan nampak sepi, Katrina memeriksa ruangan Gala dan juga asistennya yang juga terlihat sepi.


"Kenapa tidak ada orang, apakah mereka semua belum datang?"


Melihat seorang office boy melintas di hadapannya Katrina langsung melambaikan tangan agar orang itu mendekat.


"Pak Gala sama Pak Kiki sudah datang?" tanya Katrina pada pria muda yang berprofesi sebagai tukang bersih-bersih itu. Katrina baru saja ingin duduk di mejanya.


"Sepertinya belum Bu, tapi mungkin saja mereka langsung menemui klien mengingat saya tidak sengaja kemarin mendengar bahwa pagi-pagi sekali ada klien yang ingin bertemu dengan Pak Gala. Entahlah katanya ada proyek baru yang ingin dibahas," jelas karyawan tersebut.

__ADS_1


"Proyek baru? Apa itu? Kau tahu dimana mereka janjian akan bertemu?"


"Maaf Bu saya tidak tahu sebab saya paham itu bukan ranah saya kemarin saya langsung pergi dari tempat ini karena takut mengganggu pembicaraan antara Pak Gala dan Pak Kiki."


Katrina menggerakkan tangannya seperti orang mengusir. "Baiklah terima kasih, kau boleh pergi."


"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu Bu."


"Iya." Katrina duduk dan memeriksa berkas-berkas yang ada di hadapannya. Terlalu lama dia tidak bekerja ingin segera mengecek apakah ada pekerjaan yang belum beres yang mungkin saja bisa dikerjakan sekarang. Tangannya sudah geli ingin menulis dan mengetik-ngetik lagi seperti dulu. Lama berada di rumah membuatnya bosan.


Saat sedang asyik-asyiknya Katrina memeriksa berkas, Mentari berjalan seorang diri dari arah berlawanan dengan tempat duduk Katrina sambil menenteng sebuah rantang berisi makanan.


Katrina yang menangkap siluet seorang wanita masuk ke dalam ruangannya penasaran dan langsung melirik ke arah Mentari yang berjalan mendekat.


Katrina mengernyit. "Mau apa dia ke sini?" gumamnya sambil mengira-ngira apa yang akan dilakukan Mentari di tempat ini.


"Mungkin kalau Bintang masih bekerja di sini dia akan menemui Bintang, eh tapi dia kan sudah bercerai dari Bintang? Apa mungkin dia mengincar Pak Gala? Dasar wanita murahan sudah punya suami malah masih mengincar pria lain." Rupanya Katrina tidak pernah memperhatikan apalagi memikirkan bagaimana bisa Mentari dan juga ustadz Alzam bisa bersama dengan keluarga Tama dan Tuan Winata di pemakaman waktu itu.


Katrina melirik lagi ke arah Mentari yang tampak cuek dengan keadaan sekeliling. Yang dipikirkan oleh Mentari saat itu adalah ingin segera memberikan masakan kesukaan Gala yang seringkali Rosa buatkan untuk putranya itu dan sekarang Mentari juga membuatnya. Ketika pagi-pagi menelpon ke rumah dan Tama mengatakan Gala sudah pergi ke kantor wanita itu segera menyusul sebelum nantinya akan pulang ke ruang sang papa sebab posisi kantor lebih dekat dari rumah ustadz Alzam dibandingkan rumahnya sendiri.


Terbit rasa jahil di pikiran Katrina. Dia tersenyum licik dan pura-pura tidak melihat. Ketika Mentari sampai di depannya segera ia menggerakkan kakinya menghadang langkah Mentari agar wanita itu terjatuh. Namun, ekspresi wajahnya tetap fokus pada berkas dan sambil menulis sesuatu dengan pena di tangannya.


"Au, kau membuatku hampir terjatuh," keluh Mentari sambil membenarkan posisi rantangnya yang sudah tampak miring. Kalau tidak segera dibenahi mungkin saja makanan yang ada di dalamnya akan tumpah.


Katrina cuek-cuek saja, pura-pura tuli dan pura-pura buta.


Wanita yang di ajak bicara tetap acuh.


"Sudahlah kusumpahin kau benar-benar tuli," rutuk Mentari sambil terus melanjutkan langkahnya. Kala saja kata-kata itu didengar oleh ustadz Alzam alhasil Mentari akan langsung mendapatkan teguran. Untunglah dia hanya bersama Sarah saja dan wanita itupun hanya menunggu di mobil.


Setelah Mentari masuk ke dalam ruangan Gala barulah Katrina mendongak dan tertawa.


"Eh ngapain dia masuk ke ruangan Pak Gala?" Katrina baru sadar Mentari masuk ke ruangan sang atasan tanpa izin. Dia segera bangkit dan berjalan tergesa-gesa ke dalam ruangan Gala dan segera mencekal lengan Mentari.


"Kau dilarang masuk!" seru Katrina.


"Apa pedulimu? Ini ruangan Pak Gala bukan ruanganmu," bantah Mentari.


"Iya ini memang ruangan Pak Gala, tapi dia itu atasanku jadi kalau ada yang ingin bertemu beliau harus lewat aku dulu," jelas Katrina.


"Oh ya?" tanya Mentari dengan tersenyum mengejek. "Ya sudah, Bu Kate yang baik diluar tapi jahat di dalam saya ingin bertemu Pak Gala," ledek Mentari.


"Kau ....!" Katrina menunjuk Mentari dengan geram.


"Kau tidak boleh masuk, Pak Gala tidak ada di dalam!" larang Katrina.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, saya sudah tahu dari karyawan di bawah bahwa beliau sedang keluar. Saya hanya ingin menaruh makanan ini saja." Mentari terlihat tenang dan langsung meletakkan rantang di meja Gala.


"Sudah kubilang kau tidak boleh masuk!" Katrina menarik tangan Mentari agar keluar dari ruangan Gala.


"Lepaskan Kate kau tidak punya wewenang untuk mengusirku!" bentak Mentari. Wanita itu malah duduk di kursi kebesaran Gala.


"Lancang kamu ya duduk di meja Pak Gala. Bertahun-tahun bekerja di sini saya sebagai sekretaris tidak pernah duduk di situ."


"Salahmu sendiri, mau duduk aja repot."


"Kau," ucap Katrina kesal sambil menuding wajah Mentari dan Mentari hanya tersenyum sambil bersandar di kursi dan mengerakkan kursi itu ke kanan dan ke kiri sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja.


"Kau benar-benar tidak tahu diri ya, kalau tidak ada pemilik perusahaan dan asistennya berarti di sini aku yang paling berkuasa. Maka dari itu kuperintahkan kau segera pergi!"


"Ini kantor bukan milikmu kenapa kamu yang sewot sih?"


"Ya jelas lah aku yang sewot sebab kalau ada orang sembarangan yang masuk ke dalam sini maka yang akan kena marah Pak Gala adalah aku," terang Katrina.


"Oh jangan-jangan kamu masuk ke sini ingin mencuri sesuatu dari tempat ini?"


Mentari mengernyit mendengar pemikiran buruk Katrina tentang dirinya.


"Oh ternyata ustad gadungan itu tidak bisa memberikanmu nafkah ya sehingga kamu meminta dikasihani atau oleh Pak Gala? Mau mengemis kerja atau mau menjadi pemulung di tempat ini?"


Wajah Mentari memerah mendengar nama suaminya dibawa-bawa. Kalau dirinya saja yang dihina dia masih bisa terima sebab dia sudah terbiasa dengan hinaan semacam itu, tapi kalau ustadz Alzam yang dihina dia tidak terima.


"Nih kertas-kertas yang sudah tidak dipakai, bisa kau jual dan tukar dengan beras." Katrina menenteng sebuah keranjang berisi tumpukan berkas-berkas lama yang sudah tidak terpakai dan menyodorkan ke hadapan Mentari.


Mentari menerimanya. "Terima kasih."


Katrina tersenyum mendengar mentari mengucapkan terima kasih padanya.


Namun tiba-tiba,


Bug.


Mentari langsung menimpuk kepalan Katrina dengan keranjang berisi berkas-berkas tersebut hingga berjatuhan di samping tubuh Katrina.


"Auw sakit tahu!"


"Rasain itu yang pantas di dapatkan oleh wanita bermulut pedas sepertimu." Mentari terlihat kesal lalu hendak memberikan bogem di mulut Katrina.


"Tolong ada perampok!" teriak Katrina histeris sebelum tangan Mentari menyentuh bagian tubuhnya.


Orang-orang yang kebetulan berada di lantai yang sama dengan mereka segera berlarian ke bawah dan memberitahukan pada yang lainnya bahwa di ruangan sang atasan telah berhasil disusupi perampok.

__ADS_1


Semua orang pun berbondong-bondong naik ke lantai atas dengan berbagai cara. Ada yang melalui tangga, ada pula yang melalui lift gantung agar segera sampai. Ada pula yang tidak ikut ke atas, tetapi memilih melaporkan pada security.


Bersambung.


__ADS_2