HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 84. Mulai Dekat Lagi


__ADS_3

Sudah ada sekitar tujuh perusahaan yang sudah dimasuki oleh Bintang. Dari perusahaan kecil hingga perusahaan besar, akan tetapi dari kesemuanya itu tidak ada satupun yang mau menerima dirinya bekerja dengan alasan yang sama. Posisi yang kosong sudah terisi.


Bintang hanya menitipkan surat lamaran pekerjaan di beberapa perusahaan dan di beberapa perusahaan lainnya dia hanya menitipkan kartu nama seperti pada perusahaan yang pertama kali dia datangi.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Bintang sudah merasakan lapar yang sangat. Sedari tadi dia fokus mencari pekerjaan hanya sempat minum air putih saja.


Bintang masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Bukannya menyetir dia malah memukul setir itu karena kesal.


"Apa susahnya sih menerima diriku bahkan perusahaan Gala bisa maju karena aku. Argh, sial!"


Bintang menghidupkan mesin mobil lalu melajukan mobilnya ke sebuah restoran. Sampai di depan restoran ketika hendak turun dia mengurungkan niatnya.


"Ah lebih baik aku makan di apartemen saja biar hemat," batinnya. Dia tidak tahu harus berapa lama dirinya tanpa pekerjaan.


Bintang lalu menyetir mobilnya kembali ke apartemen. Sampai di sana dia langsung ke ruang makan. Untung saja sisa makanan yang tadi pagi masih ada sehingga dia bisa langsung makan. Kalau tidak, maka mie instanl ah yang akan menjadi pilihan terakhir untuk menghilangkan rasa lapar.


Setelah kenyang Bintang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dirasa tubuhnya sudah segar kembali, Bintang membuka laptop lagi sambil tiduran di ranjang Mentari dan mencari-cari lowongan pekerjaan lain. Yang bisa daftar online dia daftar secara online sedangkan yang harus datang langsung Bintang mencatat alamat dan persyaratannya. Dia berencana untuk kembali mencari pekerjaan besok karena hari ini dia sudah terlalu Lelah.


Setelah puas mencari informasi tentang lowongan pekerjaan, Bintang menutup laptopnya lalu berbaring dengan tenang. Rasa lelah membuatnya kini sangat mengantuk.


Sore hari Mentari pulang dan mendapati Bintang sedang tidur terlentang dengan laptop di dadanya. Dalam tidur seperti itupun Mentari masih melihat gurat lelah dan kesedihan di wajah suaminya.


Mentari tidak tega melihatnya. Bagaimana pun Bintang pernah bersikap lembut dan begitu menyayangi dirinya.


"Mas Bintang, bangun Mas sudah sore." Mentari mencolek lengan Bintang agar terbangun. Namun, pria itu masih tertidur pulas.


Mentari meraih laptop dalam dekapan Bintang dan menaruhnya di atas meja. Terdengar ponsel Bintang yang bergetar di samping laptop itu. Mentari meraih ponsel Bintang dan mengecek pesan tersebut dari siapa. Ternyata dari Katrina yang mengabarkan dirinya akan pulang telat karena akan lembur. Setelah membaca pesan dari Katrina Mentari menaruh ponsel itu lagi di tempat semula.


Setelah itu Mentari keluar dari kamar dan berjalan ke meja makan untuk mengecek makanan yang tadi pagi apakah masih ada atau sudah habis. Kalau masih ada dia akan menghangatkan saja biar bisa dimakan lagi sedangkan kalau sudah tidak ada atau tidak cukup untuk makan malam maka dia akan memasak masakan baru.


Mentari menggeleng ternyata piring kotor yang dipakai makan tadi pagi masih menumpuk di meja. Dia menggeleng lagi menyadari piring dirinya juga ada di sana.


"Kok aku jadi ikutan jorok sih." Mentari mengingat dirinya tadi pagi pergi begitu saja tanpa terlebih dulu membawa piring kotor itu ke wastafel dapur.


Mentari meraih piring-piring kotor lalu membawa ke dapur. Setelah itu menghangatkan makanan yang perlu dihangatkan sambil mencuci piring dan perabotan kotor lainnya.

__ADS_1


Setelah itu Mentari menggoreng daging ayam karena ternyata lauknya sudah habis.


Selesai dengan itu Mentari membawa makanan itu ke meja makan kembali dan dirinya lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Kau sudah pulang?" tanya Bintang yang kini sudah bangun dari tidurnya dan duduk ditepi ranjang.


"Iya. Bagaimana usahamu mencari kerja?" Mentari menjawab sekaligus mengajukan pertanyaan.


Bintang menggeleng lemah.


"Belum, belum membuahkan hasil sama sekali. Belum ada satupun perusahaan yang menerimaku bekerja di sana," jujurnya.


"Tidak apa-apa bisa dicoba lagi lain waktu," ucap Mentari dan Bintang hanya mengangguk lemah.


"Oh ya tadi Katrina kirim pesan katanya malam ini dia pulangnya larut malam. Maaf tadi terpaksa aku buka hapemu takut ada informasi penting."


"Tidak apa-apa," sahut Bintang sambil menarik tangan Mentari agar duduk di pangkuannya. Dia bahagia sekali ternyata Mentari sudah mau berbicara banyak dengannya.


"Sudah sana mandi, aku sudah memasak tadi untuk makan malam." Mentari melepaskan pegangan tangan Bintang lalu berjalan menjauh dan duduk di meja rias kemudian menyisir rambut.


Selesai mandi Bintang menghampiri Mentari yang duduk bersandar pada ranjang dan nampak fokus dengan ponselnya.


"Chat dengan siapa?" tanya Bintang sambil duduk di samping Mentari.


"Sarah?" tanyanya lagi karena Mentari tidak menjawab.


Mentari menggeleng.


"Terus siapa?" tanya Bintang lagi semakin penasaran. Dia masih saja curiga pada Gala. Bisa saja kan Gala tetap merayu Mentari melalui chat. Meskipun Mentari mengaku tidak ada rasa pada Gala, tetapi bisa saja Mentari luluh dengan perhatian Gala.


Mentari tidak menjawab hanya mengarahkan layar ponselnya pada Bintang.


"Apaan itu, kok panjang banget? Siapa yang mau baca chat kamu yang begitu panjang seperti itu?" tanya Bintang tidak paham.


"Ini bukan chat, tapi bab," jawab Mentari.

__ADS_1


"Bab?" Semakin tidak mengerti saja Bintang.


Buat apaan sih dia?


"Bab novel, sudah beberapa hari aku tidak up, pembaca sudah mulai berkurang," jelas Mentari.


"Oh jadi kamu bikin novel online? Jadi kang halu gitu?" goda Bintang.


"Bisa dibilang begitu sih karena dunia halu lebih menyenangkan dari kenyataan. Sudah ah sana pakai pakaianmu masa mau pakai jubah mandi terus," protes Mentari.


"Biasanya ada yang nyiapin." Bintang mengingat tugas Mentari dulu yang sekarang sudah tidak dilakukannya lagi.


Mentari mengembuskan nafas panjang. "Baiklah," ucap Mentari sambil meletakkan ponsel di atas ranjang lalu turun dan mengambilkan pakaian untuk Bintang.


"Kalau tidak ikhlas nggak usah, biar aku ambil sendiri," ucap Bintang melihat ekspresi Mentari seperti orang yang merasa keberatan untuk melakukan keinginan Bintang.


"Nih! Sudah telat," ucap Mentari sambil menyodorkan pakaian Bintang.


"Makasih, i love you," ucap Bintang sambil tersenyum senang.


Bukannya menjawab, Mentari malah mencebik dan memalingkan muka. "I love you ada dimana-mana. Jangan-jangan dengan tembok pun kau ucapkan i love you."


Bintang menelan ludah mendengar perkataan Mentari.


Segera dia memakai pakaiannya sedangkan Mentari mengambil ponsel kembali dan melanjutkan pengetikan bab yang sempat tertunda.


"Belum selesai?" tanya Bintang, mendekat kembali ke arah Mentari yang masih fokus dengan ponsel sambil mengintip tulisan istrinya itu.


"Sudah ah sana bikin hilang konsentrasi saja." Mentari cemberut lagi.


"Ya ampun aku dikacangin hanya gara-gara novel online," keluh Bintang.


"Mending daripada diduakan dengan manusia lain." Mentari menyindir Bintang yang telah menduakannya. Untuk kesekian kalinya Bintang hanya bisa menelan ludah mendengar protes dari Mentari.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2