HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 171. Ada Yang Terlupa


__ADS_3

Sarah meletakkan bak besar dan keranjang buah itu di atas meja.


"Benar ini ya Kak yang harus Sarah ambil?"


"Iya Sarah." Ustadz Alzam beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah meja tempat Sarah meletakkan makanan tersebut.


Mentari mengernyit sebab wadah dari makanan yang Sarah bawa ini tidak biasa.


"Abi kayak mau ngirim kuli sawah aja," ujar Mentari mengingat keadaannya di kampung saat ibu angkatnya bekerja di sawah orang bersama dengan warga yang lain. Saat itu pasti pemilik sawah akan mengirim para pekerjanya dengan nasi yang berada di dalam wadah berupa bak besar kemudian ditutup dengan daun dan dibebat dengan kain. Akh, Mentari jadi merindukan adik dan ibunya itu.


"Ini aku dikasih panita penyelenggara acara maulid nabi tadi Ummi. Mungkin karena Abi tidak sempat makan di sana."


"Loh kenapa Abi? biasanya Abi selalu makan kalau menghadiri ceramah di suatu tempat."


"Bagaimana Abi bisa makan? Selera makan Abi mendadak hilang mendengar kabar bahwa Ummi yang kecelakaan. Abi juga begitu khawatir dengan keadaanmu, takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan tubuhmu pasca kecelakaan."


Mentari memandang ke arah Sarah dan Sarah hanya menunduk karena merasa bersalah.


"Ummi tahu karena mendengar kabar kecelakaan yang terjadi pada Ummi sampai membuat saya gagal fokus bahkan salah baca ayat."


Mentari malah tertawa mendengar cerita suaminya itu.


Berbeda dengan Sarah yang semakin menunduk mendengar apa yang terjadi pada kakaknya tersebut. Sarah benar-benar menyesal karena telah memberikan kabar yang salah pada ustadz Alzam sehingga mempermalukan kakaknya itu.


"Kenapa Ummi malah ketawa?" protes ustadz Alzam pada Mentari. "Mendengar kabar buruk itu ucapkan innalilahi, bukan malah tertawa," lanjutnya.


"Abisnya aku merasa lucu membayangkan Abi salah baca. Dapat lemparan sandal nggak dari para jamaah?" Mentari cekikikan.


"Nggak ada, mungkin mereka nggak sadar. Kalau sadar mungkin remuk nih badan kena timpukan orang-orang. Nanti Abi disangka ustadz palsu atau ustadz jadi-jadian lagi." Ustad Alzam menggeleng membayangkan jika semua itu terjadi.


Sarah masih tidak mau mengangkat muka sedangkan Gala yang memperhatikan gadis itu malah merasa aneh saat melihat Sarah hanya diam dan tertunduk. Rasanya gadis itu berbeda dengan Sarah yang ia kenal selama ini.


"Emang nggak ada yang sadar begitu Abi? Kan jamaahnya banyak."


"Mungkin ada tapi tidak berani menegur. Namun, kalau dari panitianya sendiri memang ada yang sadar dan dia yang tahu bahwa Abi sedang tidak baik-baik saja saat itu langsung menghampiri, menuangkan air ke dalam gelas dan meminta Abi untuk minum terlebih dulu sebelum melanjutkan ceramah. Mereka pikir abi tidak fokus hanya gara-gara kekurangan cairan."


"Syukurlah Abi tidak apa-apa."


"Sudah nggak usah membahas semua yang sudah terjadi. Lebih baik kita makan bersama, katanya kamu sedang lapar."

__ADS_1


"Iya Abi."


Sedari tadi membuka bebatan kain di bak tersebut tidak selesai-selesai karena dirinya malah menjadi fokus bercerita kepada Mentari.


"Oh iya yang nggak ada piringnya, bagaimana caranya kita makan?"


"Biar saya cari piring keluar," kata Gala dan dirinya lalu keluar dari ruang rawat Mentari.


Tidak menunggu lama, Gala kembali lagi ke kamar rawat Mentari dengan membawa beberapa piring dan sendok di tangannya. Entah dapat darimana Gala mendapatkan piring-piring dan sendok-sendok itu dengan begitu cepat.


"Papa mana? Kita makan bareng aja biar terasa lebih nikmat. Tidak masalah kan Mas Gala makan makanan seperti ini?" tanya ustad Alzam memastikan. Bagaimanapun yang dibawanya adalah masakan orang kampung dan sebagai orang kaya Tama serta Gala belum tentu menyukai masakan itu.


"Kenapa tidak suka? Yang penting halal dan tidak mengandung racun kami akan memakannya," ujar Gala.


"Oh ya aku mau panggil papa dulu."


"Iya Mas panggil papa kasihan dia pasti belum makan malam tadi sebelum datang ke rumah sakit ini," ujar Mentari dan Gala terlihat mengangguk lalu keluar dari ruangan.


"Sarah kamu juga makan!" perintah ustadz Alzam sambil mengambilkan nasi untuk istrinya.


"Mau ikan apa Ummi? Daging-dagingan ataukah seafood?"


"Kerang ada Abi?"


"Bakwan udang sama daging ayamnya aja deh."


"Oke." Setelah mengambilkan menu untuk Mentari, ustadz Alzam kembali ke tepi ranjang dan hendak menyuapi Mentari.


"Biar saya makan sendiri Abi. Abi juga ambil gih kita makan bareng!"


"Tidak Ummi, Abi nanti makan belakang saja sebab Ummi pasti kesusahan untuk menyendok. Bukankah tangan Ummi diinfus?"


"Tidak apa-apa Abi pasti Ummi bisa makan sendiri. Abi makanlah juga pasti Abi sudah lapar juga, kan? Abi pas berangkat sore tadi belum makan sampai jam 8 sekarang juga belum makan."


"Sudah jangan membantah, menurut saja!"


"Baiklah," ucap Mentari pasrah. Dirinya membiarkan ustadz Alzam untuk menyuapi dirinya.


Gala kembali dengan Tama. Melihat Sarah makan dengan lauk cumi penas manis, air ludah Gala seakan mau menetes.

__ADS_1


Gala langsung mengambil piring dan menyendok nasi ke dalam piring. Tama pun ikut melakukan hal yang sama dengan Gala.


Namun, saat Gala menyentuh cumi dengan sendok Tama malah menyenggol lengan Gala.


"Kenapa sih Pa kok main senggol-senggolan segala?" protes Gala.


"Jangan makan itu. Noh ambil daging sapi saja."


"Ya, Papa boleh. Kenapa Gala malah nggak boleh?" Masih saja protes.


"Tentu saja papa boleh karena papa tidak punya riwayat alergi. Jika kamu mau alergimu kambuh ya silahkan aja dicoba," tantang Tama.


Gala hanya menelan ludah mendengar perkataan sang papa lalu mengambil lauk daging sapi seperti yang disarankan oleh Tama.


Gala tampak menggaruk kepala melihat yang lain pada makan seafood sedangkan dirinya yang memang favorit dengan ikan laut malah tidak boleh menikmatinya.


"Seperti istilah boleh dilihat tak boleh diraba. Ini lauk cuma bisa dilihat, tapi tak boleh disantap." Gala merana memikirkan olahan cumi-cumi yang sejak tadi sudah mencuri perhatiannya. Apalagi saat melihat Sarah makan cumi itu dengan gaya yang menunjukkan masakan itu memang enak. Benar-benar bikin hati kesal.


Sekarang Sarah yang malah tertawa melihat ekspresi Gala yang tidak biasa. Ekspresi pria itu tampak memelas seperti anak kecil yang merajuk minta dibelikan mainan dan tidak dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Walaupun demikian Gala memakan nasi dengan lauk daging tersebut dengan tidak bergairah. Dalam hati berkata, " Daging lagi, daging lagi, bosan."


"Sarah kalau makan jangan sambil tertawa!" tegur ustadz Alzam pada adiknya itu.


"Iya Kak." Sarah menunduk dan fokus dengan makanannya.


Belum selesai makan ternyata ponselnya berbunyi. Sarah acuh dan menyelesaikan makannya dulu. Dalam hati berpikir pasti panggilan tidak penting.


Selesai makan saat mendengar ponselnya berbunyi lagi barulah Sarah mengangkatnya.


"Sarah kau di mana? Kamu tega meninggalkan kami berdua. Kami berdua dituduh mau mencuri nih sana kasir killer ini." Terdengar suara kesal dari balik telepon.


"Ya ampun, Maila, Rika, maafkan aku melupakan kalian," ujar Sarah lalu bangkit dari duduknya.


"Ada apa Sarah?" tanya ustadz Alzam.


"Itu Kak teman dalam kesulitan, Sarah harus pergi sekarang. Sarah harus segera membantunya."


"Ya hati-hati di jalan."


"Iya Kak, insyaAllah."

__ADS_1


"Pergilah!"


Bersambung.


__ADS_2