HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 219. Persetujuan


__ADS_3

Selama 7 malam di kediaman ustadz Alzam diadakan tahlilan dan setiap itu pula Bintang tidak bisa langsung pulang karena mesti setiap dirinya pulang baby Izzam akan menangis dan tidak mau tidur jika belum digendong oleh Bintang.


"Bayi Izzam sudah tidur Me," lapor Bintang sambil berjalan ke arah Mentari dengan baby Izzam yang terlelap dalam gendongannya.


Mentari melihat wajah bayinya yang sudah benar-benar pulas.


"Mas Bintang tolong taruh saja dia ke tempat tidurnya ya sebab kalau saya ambil lagi takut dia kebangun dan nangis lagi."


Bintang mengangguk dan masuk ke dalam kamar Mentari dan menaruh baby Izzam di tempat tidurnya sedangkan Mentari langsung meninggalkan kamar setelah meminta tolong pada Bintang dan kembali berkumpul di tengah-tengah keluarga yang masih tampak mengobrol serius.


"Hubungan anak saya dengan ustadz Alzam berakhir dengan cara seperti ini. Untung saja masih ada Izzam sebagai pemersatu keluarga," ujar Tama pada besannya. "Jangan sampai tali silaturahmi kita putus ya," lanjutnya.


Ibu ustadz Alzam hanya mengangguk.


"Ya mau bagaimana lagi, kalau sudah menjadi kehendak Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bukankah kita tidak bisa melawan takdir?" Ayah dari ustadz Alzam menyandarkan bahunya pada sandaran kursi lalu menghembuskan nafas panjang.


"Oh ya sebenarnya sebelum Nak Alzam menghembuskan nafas terakhirnya dia sempat menitipkan Sarah pada Gala, putraku ini." Tama menepuk pundak Gala.


"Menurut Pak Burhan, apa itu maksudnya?"


"Menitipkan putraku padanya?"


Tama mengangguk.


Besan prianya itu tampak berpikir sejenak.


"Mungkin Alzam ingin keduanya dijodohkan," ucapnya kemudian.


"Mungkin saja, tapi saya tidak bisa menyimpulkan sebab perkataan itu tidaklah jelas," ujar Tama lagi.


"Kalau bukan begitu apa artinya menitipkan adik perempuan sendiri kepada laki-laki yang bukan mahramnya? Saya pikir ucapan Alzam itu memang ingin menjodohkan Sarah dengan Nak Gala, hanya saja penyampaiannya secara implisit."


"Saya pun berpikir begitu, tapi sepertinya Nak Sarah tidak akan setuju jika kita menjodohkan mereka."


"Kalau masalah Sarah, serahkan saja sama saja. Sekarang tinggal Nak Gala nya."


"Nak Gala sendiri bagaimana perasaannya pada putri saya?" Pak Burhan langsung beralih menatap Gala.


"Saya sih mau saja Paman tapi Sarah yang tidak mau," sahut Gala.


"Sudah mencoba?" tanya ayah Sarah lagi.

__ADS_1


"Sudah paman, saya sudah pernah melamar Sarah, tetapi dia tidak mau. Dia menolak Gala," terang Gala. Pria itu menghela nafas.


"Apa alasannya kata Sarah?"


"Dia sudah punya kekasih," jawab Gala lagi.


"Punya kekasih?" Pak Burhan mengernyit.


"Ya, begitu katanya. Mereka sudah terikat janji untuk hidup bersama, jadi Sarah tidak bisa menerima Gala," terang Gala.


"Setahu saya Sarah tidak pernah pacaran dan tidak diperbolehkan juga sama kakaknya. Kalau ada laki-laki yang naksir sama dia dan Sarah menyukainya Alzam langsung menyarankan Sarah untuk membawa laki-laki itu ke hadapan saya ataupun ke hadapannya langsung agar meminang dirinya."


"Saya tidak tahu Paman."


"Bagaimana kalau dinikahkan saja paman tanpa sepengetahuan Sarah," usul Kiki. Pria yang sedari tadi hanya memilih menikmati kopi dan rokoknya akhirnya bersuara.


"Memang boleh begitu?" tanya Tama dan Gala hampir bersamaan.


"Ya bolehlah, kan yang penting paman Burhan setuju sebagai ayahnya. Ada wali, ada minimal 2 orang saksi, ada pengantin pria, dan ada pak penghulu. Beres," ujar Kiki menggampangkan segalanya.


"Mana boleh seperti itu Ki?" protes Bintang yang berjalan ke arah mereka.


Semua orang langsung menoleh ke arah Bintang. Termasuk Mentari yang menggelengkan kepala mendengar usulan Kiki yang menurutnya adalah ide gila.


Bintang duduk diantara mereka.


"Nggak boleh Ki ampun dah jangan menyesatkan orang." Bintang terkekeh.


"Kenapa nggak boleh?" Kiki masih penasaran.


"Ya kan salah satu rukun nikah itu harus ada mempelai pria dan wanitanya. Kalau tidak ada salah satunya yang saya tahu itu tidak sah. Ini untuk kita yang beragama Islam ya bukan yang nonis, kalau yang nonis mungkin boleh-boleh saja," jelas Bintang.


"Siapa bilang nggak boleh Bin, saya pernah lihat di desa mempelai wanitanya malah ada di dalam kamar, tidak ada di tengah-tengah undangan atau tidak duduk bersama calon pengantin prianya saat ijab qabul," protes Kiki lagi.


"Nah itu ada namanya Ki cuma di dalam kamar." Bintang menggeleng.


"Saya pernah dengar juga ada pernikahan tanpa dihadiri oleh pengantin wanitanya."


"Mungkin untuk yang itu ada sebagian yang memperbolehkan tapi paling tidak mempelai wanitanya wajib diberitahu dan Ridha'." Biasanya pengantin wanita harus meninggalkan surat persetujuan kalau memang terpaksa tidak bisa hadir di acara ijab."


"Kau pintar amat Bin, belajar dengan siapa?" tanya Gala penasaran.

__ADS_1


"Ustadz Alzam," jawab Bintang membuat Mentari langsung menatap pria itu.


"Tidak usah bicara boleh tidaknya secara agama dulu Ki, kita bicara secara logika saja. Misalnya ustadz Alzam masih hidup ya. Sarah dinikahkan oleh Pak Burhan dengan Gala sedangkan Sarah tidak diberitahu.


Di tempat yang berbeda, misalnya di luar negeri Sarah saling jatuh cinta dengan seorang pria dan karena suatu hal terpaksa ustadz Alzam menikahkan adiknya dengan pria itu tanpa memberitahukan pada Pak Burhan terlebih dahulu. Jika sampai hal itu terjadi siapa suami Sarah sebenarnya? Pria yang di luar negeri ataukah Gala?"


Kiki manggut-manggut mendengar penjelasan Bintang.


"Kalau memang boleh, kenapa banyak pernikahan gagal saat mempelai wanitanya kabur? Bukankah kalau menurut pendapatmu di atas benar seharusnya pernikahan tetap bisa dilangsungkan?"


"Iya juga ya Bin."


"Terlepas itu semua saya sebagai seorang laki-laki tidak maulah menikah tanpa ada mempelai wanita di sisi saya. Pernikahan itu sakral Ki. Saya ingin pernikahan saya satu kali seumur hidup. Masa mau dibuat mainan? Aku lebih baik menunggu daripada menikah dengan seorang wanita yang tidak mau menikah denganku. Atau nggak usah nikah sekalian."


Sarah yang hendak menghampiri semua orang tertegun di depan pintu mendengar perkataan dari Gala. Ada rasa bersalah yang menyeruak di dalam hati. Sarah melihat masih ada raut kekecewaan di mata Gala.


"Sarah sini!" Pak Burhan yang melihat putrinya menghentikan langkah langsung melambaikan tangan.


"Iya Yah." Sarah berjalan mendekat dan duduk di samping Mentari.


"Ayah ingin menjodohkan kamu dengan Nak Gala. Bagaimana menurutmu?"


Sarah tidak menjawab hanya menunduk saja.


"Kau tahu kan saat kakakmu hendak meninggalkan dunia ini, dia berwasiat agar Nak Gala yang menjagamu bukannya ayah? Bagaimana bisa dia menjagamu jika diantara kalian tidak ada ikatan apapun sedangkan kalian bukanlah muhrim?"


Sarah mengangguk dengan posisi wajah yang masih menunduk.


"Kalau mereka ... maksud ayah, Pak Tama sama Nak Gala melamar dirimu, apakah kamu menerimanya?"


"Iya ayah aku mau," ucap Sarah dengan suara pelan.


"Benarkah Sarah?" tanya Gala tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Benarkah kau menerima lamaranku? Benarkah kau mau menikah denganku?" tanya Gala lagi.


"Iya Pak, Sarah mau menikah dengan Pak Gala."


"Ya Tuhan terima kasih." Gala langsung mencium kedua tangannya.


"Terima kasih ya Sarah."

__ADS_1


Sarah hanya mengangguk dengan posisi wajah yang masih menunduk. Rasanya ia sangat malu untuk sekedar mengangkat wajah.


Bersambung.


__ADS_2