
"Semoga mimpi itu bukan pertanda buruk," batin Mentari.
Dia langsung bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Bintang saat Mentari berjalan meninggalkan dirinya yang duduk di tepi ranjang.
"Mau ke kamar mandi, ambil wudhu," jawab Mentari lalu meneruskan langkahnya. Bintang mengangguk dan mengawasi pergerakan Mentari sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Niatnya ingin membujuk Mentari soal tanda tangan tadi ia urungkan karena melihat kondisi Mentari yang tidak memungkinkan.
Bintang memiringkan tubuhnya, melihat Mentari yang melakukan shalat di samping ranjang dan terlihat menangis saat berdoa. Bintang hanya memandang Mentari tanpa kata.
Selesai shalat Mentari bersandar di ranjang sambil memikirkan perkataan Bintang tadi. Sepertinya dia tidak pernah ada janji atau nadzar apapun sampai dirinya harus bermimpi ular.
"Kenapa, masih memikirkan mimpi tadi?" tanya Bintang dijawab anggukan oleh Mentari.
"Kan aku sudah bilang tidak usah dipikirkan. Mimpi itu hanyalah bunga tidur," ucap Bintang menenangkan Mentari.
Namun, tetap saja Mentari kepikiran. Dalam hati merasa itu bukanlah hanya sekedar mimpi. Firasatnya mengatakan akan ada masalah yang menerpa dirinya sehingga membuat semua orang akan meninggalkan dirinya nanti termasuk Bintang dan Tuan Winata.
"Ya Tuhan aku pasrahkan semuanya padamu. Semoga hanya perasaanku saja," mohon Mentari dalam hati.
"Daripada kepikiran itu semua mendingan tidur biar lupa," saran Bintang.
Mentari menggeleng, dia tidak ingin tidur takut bermimpi buruk kembali.
Bintang yang menyadari istrinya masih merasa takut mengangkat tubuh Mentari agar bersandar di dada bidangnya.
"Sudah jangan takut ada aku di sini." Bintang masih saja berusaha menenangkan Mentari yang masih saja terlihat seperti orang melamun.
"Malam ini aku tidur denganmu lagi." Tetap saja Mentari tidak merespon perkataan Bintang.
Semalaman itu Mentari tidak bisa tidur bahkan Bintang yang menemaninya sudah lama tertidur dengan pulasnya.
Pagi menyingsing, matahari mulai bersinar cerah. Bintang mengucek kedua mata saat sinar matahari menembus jendela kamar yang sudah nampak terbuka dan seakan menyilaukan mata. Bintang membuka mata dan dia mendapati Mentari yang masih bersandar di ranjang seperti orang melamun.
"Kau tidak tidur semalaman?" tanya Bintang.
Mentari menggeleng. "Aku tidak bisa tidur," jawabnya.
"Kalau begitu tidurlah sekarang, aku tidak mau kamu sakit seperti dulu kalau sampai kurang tidur lagi."
__ADS_1
Mendengar perkataan Bintang Mentari ingat pada satu setengah bulan yang lalu saat dia muntah-muntah hingga harus beristirahat beberapa hari dan tidak diperbolehkan keluar apartemen oleh Bintang. Mentari jadi mengingat sesuatu.
Tama.
Ya Mentari mengingat pria paruh baya itu. Dia melempar begitu saja selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Mau kemana?" tanya Bintang Mentari langsung bereaksi saat dirinya mengingatkan tentang dirinya yang sakit satu setengah bulan yang lalu.
"Aku melupakan sesuatu kau berjanji kan untuk mengantarkan aku ke papa Tama," ucap Mentari sambil mengambil baju ganti dan bersiap-siap.
"Kenapa kau begitu mengkhawatirkannya?" tanya Bintang tidak mengerti dengan pemikiran Mentari. Bukankah Mentari tidak ada hubungan kekerabatan terhadap Gala ataupun Tama. Kenapa wanita itu selalu mengkhawatirkan Tama. Selama ini Bintang bukannya tidak ingat dengan janjinya untuk mengantarkan Mentari, tetapi dia memang sengaja tidak mau mengingatkan akan hal itu pada Mentari. Syukur-syukur Mentari lupa.
"Dengan atau tanpamu aku akan tetap ke sana," ucap Mentari memutuskan.
"Baiklah aku antar." Akhirnya Bintang memutuskan untuk mengantarkan Mentari daripada istrinya itu harus pergi seorang diri.
Mentari mengangguk, Bintang pun bersiap-siap.
"Bin mau kemana? Boleh temenin aku jalan-jalan hari ini, mumpung kita sedang libur," pinta Katrina.
"Sorry Kate, aku harus mengantar Mentari ke rumah Paman Tama."
"Ingin ketemu Paman Tama bukan Gala." Bintang menekankan pada nada suaranya.
Katrina meskipun tidak paham yang dimaksud Bintang tetap saja mengangguk. Dalam hati berpikiran Bintang pasti merindukan pamannya itu.
"Ayo Me!" ajak Bintang sambil menggandeng tangan Mentari dan membawanya keluar dari apartemen. Katrina mengepalkan tangan melihat Bintang masih saja terlihat menyayangi Mentari meskipun wanita itu telah menolak menandatangani surat pernyataan semalam.
Sepeninggal Bintang dan Mentari, Katrina menelpon Arumi dan memberitahukan semuanya dan tentu saja berita yang dia sampaikan dibumbui dengan cerita karangannya sendiri. Hal itu membuat Arumi semakin tidak suka saja pada Mentari.
Setelah menelpon Arumi, Katrina kini beralih menelpon pada Arka dan memberitahukan bahwa Mentari tidak mau menandatangani surat persetujuan yang telah di cetak oleh Arka.
"Kau tenang saja, aku punya sesuatu yang bisa membuat Bintang akan marah dan tidak akan bisa memaafkan Mentari lagi," ucap Arka dan tertawa di akhir kalimatnya.
"Apa itu?" tanya Katrina penasaran.
"Nanti aku akan kasih tahu, tapi untuk sementara aku akan mengurus semuanya dulu biar jejaknya tidak bisa dideteksi," ujar Arga lalu menutup sambungan teleponnya.
"Tuh orang memang begitu, lagi serius mengobrol malah hapenya dimatikan. Awas ya kalau rencananya tidak berhasil," kesal Katrina sambil melempar ponselnya ke atas sofa ruang tamu.
__ADS_1
Kini Mentari dan Bintang sudah sampai di depan pagar rumah Gala. Pak satpam nampak mempersilahkan masuk mobil mereka.
"Pak, Gala ada?" tanya Bintang ingin memastikan apakah Gala ada di rumah ataukah tidak.
"Tidak ada Den, Den Gala sejak tadi belum kembali dari jogging," sahut pak satpam.
"Kalau paman Tama?" tanya Bintang lagi.
"Ada di kamarnya, sejak Nona Mentari pergi dari rumah ini beliau sudah tidak mau keluar kamar lagi. Sepertinya ngambek sama Den Gala," jelas pak satpam membuat Mentari merasa begitu bersalah.
"Boleh aku menemuinya Pak?" tanya Mentari.
"Oh silahkan Non, beliau ada di kamarnya." Pak satpam melambaikan tangan kepada salah seorang pembantu agar mengantar Mentari dan Bintang ke kamar Tama.
"Mari Den Bintang, Nona Mentari aku antar," ucap bibi.
Mereka berdua mengangguk dan mengikuti langkah pembantu ke dalam rumah.
"Den Bintang duduk saja di sini. Den Gala tidak mengizinkan Den Bintang untuk menemui Tuan Tama," ucap sang bibi agar Bintang tidak ikut bersama Mentari menemui Tama.
"Aku kan ...." Mentari memberikan kode pada Bintang agar tidak melanjutkan ucapannya ataupun banyak protes. Bintang pun mengangguk setuju.
"Ayo Nona saya antar ke kamar Tuan Tama," ajak bibi.
"Iya Bik."
"Mas aku ke atas dulu ya," pamit Mentari dan Bintang hanya mengangguk lalu duduk di sofa dan bersandar.
Beberapa saat kemudian Gala dengan berlari-lari masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Ia mengernyit melihat mobil yang tidak asing parkir di depan rumahnya.
Tunggu dulu ini bukankah mobil Bintang ya?
"Pak satpam mengapa mempersilahkan Bintang masuk!" Bentak Gala. Dia masih ingat kala Bintang mengatakan papanya tidak waras. Sampai saat ini dia belum tidak terima.
"Anu Den, dia ber ...."
"Ah sudahlah sudah terlanjur juga." Buru-buru Gala masuk ke dalam rumah dan berjalan cepat ke arah Bintang.
"Ngapain kamu ke sini? Tidak takut ketularan orang tidak waras?" Gala langsung menyerang Bintang dengan perkataannya.
__ADS_1
Bersambung.