
"Nona hubungi Den Gala, tanyakan sendiri apa yang terjadi sebenarnya pada Nona Mentari biar lebih jelas Non." Pak satpam memberikan saran saat melihat Sarah tampak gelisah.
"Saya tidak punya nomornya Pak, lebih baik bapak yang telepon dan menanyakannya langsung."
"Hehe sorry Non, hape bapak lagi darurat pulsa."
Sarah tepuk jidat mendengar perkataan Pak satpam itu.
"Bagaimana mungkin Pak satpam sampai tidak punya pulsa begitu? Baguslah kalau ada maling tidak perlu lapor polisi. Hadapi saja sendirian."
"Jangan begitu lah Non, bertahun-tahun bapak jaga disini nggak pernah ada maling masa sekarang Nona mendoakan supaya ada maling sih?"
"Habisnya bapak enteng banget sih, nggak berjaga-jaga gitu. Ya sudah nih telepon Pak Gala!" Sarah mengulurkan ponselnya ke hadapan pak satpam.
Pak satpam itupun meraih ponsel Sarah dan memencet nomor Gala di sana. "Ini Neng nomor hapenya Den Gala." Pak satpam menyodorkan ponsel itu kembali pada Sarah. Sarah tidak mengambil hanya membaca nomor yang tertera di layar ponselnya itu.
"Pak satpam saja yang nelpon."
"Ih ogah, kan Neng yang ada kepentingan."
"Nih satpam belagu amat yah," keluh Sarah.
"Biarin Neng, Bapak begini gegara Neng yang mendoakan rumah ini kemalingan tadi." Pak satpam terlihat cemberut.
"Aih baper amat nih Bapak. Sarah kan cuma mengingatkan Bapak agar mengantisipasi semua hal yang tidak diinginkan. Terutama isi tuh pulsa hape biar bisa menghubungi siapapun yang bapak inginkan saat dibutuhkan. Kalau pas ada maling atau rampok misalanya."
"Tuh kan masih ngomongin maling?"
"Aih kayaknya istri nih bapak lagi hamil, makanya sih bapak jadi sensitif," gumam Sarah.
Pak satpam tidak menjawab, malah melihat ke arah lain seolah cuek dengan keberadaan Sarah saat ini.
"Ayo dong Pak, tolong teleponin Pak Gala. Saya khawatir nih dengan keadaan Kak Mentari."
Satpam itu tetap tidak menggubris perkataan Sarah.
"Ngeselin nih orang, kalau satpam di rumahku seperti ini sudah kupecat langsung." Sarah mendumel dalam hati.
"Kalau Nona Sarah mau saya yang teleponin Den Gala, boleh asal ada upahnya." Pak satpam melakukan penawaran.
"Hm, boleh deh nanti saya isi pulsa ponsel bapak."
"Jangan cuma pulsa Non, pak satpam butuh rokok juga."
"Ngelunjak nih orang. Oke-oke tapi sekarang telepon Pak Gala dulu!"
"Beres Non asal jangan lupa imbalannya."
"Iya, iya."
Pak satpam langsung menelpon Gala yang sekarang baru tiba di rumah sakit.
"Halo siapa ini?" Terdengar suara Gala dari balik telepon.
"Saya Den, pak Jumal."
__ADS_1
"Oh pak satpam, ada apa Pak?"
"Nona Mentari dirawat di rumah sakit apa?"
"Di rumah sakit Harapan Sehat, ada apa ya Pak?"
Tut, tut, tut.
Terdengar suara telepon diputuskan. Tentu saja Pak satpam yang memutuskan terlebih dahulu.
"Bagaimana Pak? Di rumah sakit apa?"
"Di rumah sakit Harapan Sehat Non."
"Kamar berapa dan sakit karena apa?"
"Saya nggak tanya Non, kan Non Sarah hanya ingin tahu alamat rumah sakitnya saja."
"Payah nih Bapak. Yasudah deh saya cabut saja." Sarah mencabut ponsel miliknya dari tangan pak satpam dan langsung bergegas pergi.
"Hei Non perjanjian bagaimana? Rokok sama pulsanya mana?" tanya pak satpam dengan setengah berteriak.
"Tidak jadi, informasi Bapak sama sekali tidak memuaskan!" seru Sarah dan langsung menaiki mogenya.
Pak satpam melongo, melihat Sarah dari balik pagar. "Ada ya perempuan berhijab kayak dia kelakuannya?" gumam pak satpam heran sebab gaya Sarah seperti laki-laki saja.
"Ada Pak yaitu saya!" teriak Sarah dari atas motor dan langsung menghidupkan mesin motornya.
"Jangan lupa Neng perjanjiannya. Janji itu adalah hutang!" teriak pak satpam. Namun, Sarah sudah tidak mendengar karena jaraknya yang sudah jauh.
"Kak Alzam?" Sarah mencoba menelpon kakaknya lagi tetapi tidak dijawab. Akhirnya hanya bisa membaca dan membalas chat dari kakaknya itu.
"Ada apa menelponku Sarah?"
"Kak, katanya Kak Mentari kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit. Sekarang saya sedang menuju ke rumah sakit Harapan Sehat untuk melihat keadaannya."
Setelah membalas chat dari ustadz Alzam, Sarah menunggu sebentar barangkali ada balasan dari kakaknya. Namun, jangankan dibalas dibaca pun tidak. Sarah memutuskan menutup ponselnya dan menaruh ke dalam tas. Setelah itu naik ke motornya lagi dan mengendarai menuju rumah sakit tanpa berhenti lagi.
Setelah menanyakan pada pihak rumah sakit akhirnya Sarah mendapatkan nomor kamar rawat Mentari.
Dengan sedikit berlari gadis itu langsung menuju kamar Mentari.
"Kak Mentari ...!" Tadinya ingin berbicara dengan panjang lebar, tapi urung saat Gala menatapnya. Gala melihat Sarah dengan bibir yang mengulas senyum membuat Sarah salah tingkah saja dan langsung berjalan ke arah Mentari sambil menunduk, sebab berpikir Gala tersenyum karena mengingat akan kejadian di kamar mandi waktu itu.
"Kak Mentari katanya kecelakaan ya?" tanya Sarah saat duduk di tepi ranjang tempat Mentari berbaring.
"Gala tertawa mendengar pertanyaan dari Sarah.
"Kalau cari informasi itu yang benar. Orang hamil dikatakan kecelakaan? Jauh banget," protes Gala.
Sarah tidak mendengarkan perkataan Gala, lebih tepatnya pura-pura tidak mendapatkan. Gadis itu fokus menatap Mentari.
"Hamil? Kak Mentari beneran hamil?" tanyanya antusias.
"Iya Sarah kakak hamil," sahut Mentari sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tetapi kenapa kakak harus masuk rumah sakit? Apakah kandungannya lemah?"
"Iya Sarah, kata dokter begitu."
"Kalau begitu Kak Mentari jangan capek-capek dan banyak pikiran biar dedek sama ibunya sama-sama sehat," saran Sarah.
"Iya Sar, tolong jangan beritahu Abi dulu ya, sebab aku tidak ingin dia tidak konsentrasi dengan pekerjaannya."
"Alamak." Sarah langsung mengingat akan dirinya yang telah mengabarkan bahwa Mentari masuk rumah sakit karena kecelakaan pada kakaknya.
"Kenapa Sarah?" tanya Mentari melihat Sarah panik.
"Itu ... itu Kak, Sarah sudah kadung memberitahu Kak Alzam bahwa Kak Mentari masuk rumah sakit karena kecelakaan," ucap Sarah dengan ragu.
"Sarah!" protes Mentari. Dia tahu suaminya pasti kelabakan mendengar berita ini.
"Sorry Kak, semoga Kal Alzam belum membaca chat dariku. Akak aku hapus secepatnya." Sarah langsing mengeluarkan ponselnya dan memeriksa chat-nya.
"Ya sudah dibaca," gumamnya lalu mengirimkan chat pembaharuan informasi tentang Mentari.
"Kau benar-benar aneh ya, darimana dapat informasi bahwa adikku kecelakaan," protes Gala.
"Ya, jangan salahkan aku, salahkan saja satpam mu itu yang memberikan informasi."
"Pak Satpam?" tanya Gala tidak percaya.
"Kalau bukan dia yang bicara mana mungkin aku percaya. Katanya dia mendengar pembicaraanmu dengan Paman Tama," jawab Sarah enteng.
Gala mengernyit lalu menelpon satpam di rumahnya itu.
"Halo Pak benar bapak yang memberikan informasi bahwa Cahaya masuk rumah sakit karena kecelakaan kepada Sarah?"
"Tanyakan saja," tantang Sarah.
"Saya cuma bilang ada kemungkinan Den dan lebih jelasnya saya suruh dia untuk menanyakan pada Den Gala langsung.
Gala menatap Sarah dan administrasi itu terlihat cuek.
"Tolong katakan Den sama Nona Sarah bahwa saya masih menunggu rokok dan pulsanya."
Sarah kaget mendengar pak satpam malah mengungkap hal itu pada Gala.
"Tolong katakan padanya Den, jangan ingkar janji. Dia kan wanita berhijab masa mengotori penampilannya dengan janji palsu. Dia kayak wanita aneh saja."
Mentari tertawa mendengar penuturan pak satpam.
"Sarah apa yang kamu lakukan pada pak satpam?" tanya Mentari penasaran.
"Nggak ngelakuin apa-apa sih Kak," sahut Sarah.
"Pak satpam baru tahu ya, dia kan spesies aneh jadi jangan berharap pada dia," saran Gala.
Sarah terhenyak mendengar perkataan Gala. "Spesies aneh, spesies aneh. Kenapa tidak spesies langka sekalian," protes Sarah.
"Boleh juga," ujar Gala lalu tertawa.
__ADS_1
Bersambung.