
"Iya," jawab Katrina dengan senyum yang mengembang.
Bersamaan dengan itu Bintang datang dan membuka pintu. "Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya.
"Nggak sepertinya Mentari sudah bisa tersenyum padaku, nggak cuek lagi."
"Bagus dong kalau begitu. Aku senang kalau kalian bisa akur dan bisa membantu satu sama lain."
Katrina mengangguk. "Sana mandi dulu aku sudah masak masakan yang enak-enak buat kita-kita."
"Sejak kapan kamu pulang, kok sudah masak segala."
"Sudah dari tadi, Pak Gala memang menyuruhku pulang lebih awal dan dia juga menyarankan aku untuk cuti sampai melahirkan."
"Bagus kalau begitu, ternyata tuh orang juga punya perasaan," ucap Bintang.
"Jangan berkata seperti itu, aku kan kembali bekerja karena kamu yang meminta padahal waktu itu
aku dalam masa cuti," sanggah Katrina akan perkataan Bintang membuat lelaki itu hanya menggaruk rambutnya karena Katrina memang berkata benar.
"Ya sudah mandi sana, bau acem tuh tubuh, nanti putra kita malah muntah lagi," canda Katrina.
Bintang nampak mencium pakaian yang melekat di tubuhnya. "Perasaan masih harum ini."
"Harum apaan?" protes Katrina.
Bintang hanya cekikikan dan berlalu ke kamar mandi. Sebab kamar mandi yang ada di kamar Mentari ada orangnya Bintang memilih mandi di kamar mandi yang ada di kamar Katrina dan wanita itupun mengikuti langkah Bintang ke dalam kamar.
Mentari yang sudah selesai mandi dan juga beribadah langsung ke dapur untuk membuatkan makan malam. Namun, dia kembali dan duduk di sofa ruang tamu saat tahu makanan sudah terhidang di meja makan.
Mungkin orang lain akan senang jika sepulang kerja sudah melihat makanan terhidang di meja makan tanpa harus susah-susah membuatnya. Namun, sumpah Mentari tidak suka dengan itu semua. Dia lebih baik memasak sendiri daripada harus makan masakan Katrina, tapi kalau sudah terhidang seperti itu akan terbuang sia-sia kalau Mentari masih memasak lagi.
Mentari mengambil ponselnya. Mengisi waktu luang dengan menulis karena itu adalah hobinya sedangkan Bintang dan Katrina tampak melihat-lihat berita bisnis dari dalam laptopnya. Mentari hanya melirik keduanya. Sepertinya dua orang disampingnya benar-benar pasangan yang kompak. Mentari tidak perduli, toh hobbi tidak bisa dipaksakan.
Setelah selesai menulis, Mentari browsing cara membuat makanan dan kue-kue dari internet. Barangkali bisa dia praktekan nanti di dapur apartemen ataupun di toko Sarah.
"Sudah waktunya makan." Katrina mengajak Bintang dan Mentari untuk makan malam.
__ADS_1
Mentari melihat jam yang nempel di dinding.
"Ayo Me," ajak Bintang.
"Kalian duluan saja biar aku nanti menyusul. Aku sholat maghrib dulu." Mentari pamit lebih dulu ke dalam kamar.
"Bin?"
"Tunggu saja Kate, dia pasti hanya sebentar," ucap Bintang.
"Baik."
Beberapa menit kemudian Mentari keluar dari kamar. "Loh kok masih di sini? Apa sudah makan?" tanya Mentari pada Bintang.
"Belum masih menunggumu," sahut Bintang dan Katrina mengangguk, membenarkan ucapan Bintang. Benar-benar madu yang seolah menyayangi satu sama lain.
"Baiklah ayo." Mentari beranjak terlebih dulu ke arah ruang makan.
"Wah kau tambah pinter Kate memasaknya," puji Bintang membuat Katrina tersenyum senang.
"Terima kasih."
"Sudah kita makan saja Bin, tidak baik makan sambil berbicara," protes Katrina karena tidak sabar ingin menanyakan kesanggupan Mentari atas permintaannya tadi pagi. Dia merasa tidak sopan kalau menanyakan itu semua saat makan, jadi dia akan menunggu ketika semua sudah selesai makan saja.
Mereka pun melanjutkan makan dengan Katrina yang nampak gelisah.
"Me bagaimana yang tadi pagi? Apa keputusanmu?" tanya Katrina saat mereka sudah selesai makan.
"Sudah bertemu papa? Apa katanya?" tanya Bintang.
Mentari melihat kedua orang di depannya tampak tidak sabaran.
"Aku belum ketemu papa dan sepertinya papa tidak perlu tahu ini semua," jelas Mentari.
Katrina dan Bintang saling tatap dan raut wajah mereka terlihat senang. Mereka sudah tahu apa jawaban Mentari. Kalau berdiskusi dengan Tuan Winata tentu saja jawabannya tidak, tetapi kalau itu keputusan Mentari sendiri maka jawabannya adalah setuju.
"Kalau begitu tunggu dulu!" Katrina berlari ke kamar untuk mengambil kertas yang bertuliskan Mentari setuju bahwa Bintang akan menikahinya secara formal. Bukan menikah lagi sih hanya akan mengurus pernikahannya yang hanya punya bukti tanda tangan penghulu dan para saksi bahwa mereka sudah menikah.
__ADS_1
"Kate, jangan lari-lari!" teriak Bintang merasa ngilu melihat Katrina berlarian dengan perutnya yang buncit.
Sesaat kemudian Katrina kembali ke meja makan dengan berjalan lebih santai.
"Tanda tangan disini!" perintahnya pada Mentari sambil menyodorkan pulpen ke depan Wanita itu.
Mentari meraih pulpen tersebut dan memainkannya.
"Ayo Me, di sini." Katrina menunjuk tempat di kertas itu dimana Mentari harus tanda tangan.
"Tunggu dulu! Kalian kan belum mendengar jawabanku?"
"Jawabannya pasti setuju kan Me?" tanya Bintang.
"Iya, kan Me?" tanya Katrina juga, memastikan.
"Aku tidak ingin tanda tangan. Surat apaan ini? Kalian pikir aku mau jual rumah, jual tanah atau yang lainnya gitu sehingga aku harus tanda tangan?"
Sontak keempat netra yang menatap Mentari terlihat kaget.
"Ayolah Me, ini demi status anak aku nantinya. Apa kamu tidak kasihan kepada darah daging suamimu ini?" bujuk Bintang dengan ekspresi memelas.
"Iya Me, setelah ini kau boleh meminta sesuatu padaku, pasti aku akan penuhi," rayu Katrina.
"Kalau aku meminta kamu berpisah dengan Bintang setelah anak itu punya status bagaimana?" tanya Mentari dengan serius.
"Ngelunjak kamu ya, mentang-mentang aku sudah baik sama kamu," kesal Katrina.
"Kalau tidak mau ya sudah," ucap Mentari dan langsung pergi meninggalkan Bintang dan Katrina.
"Me aku mohon!" teriak Bintang.
Mentari menoleh "Lakukanlah Mas apa yang ingin kalian lakukan. Kalau kalian ingin melegalkan pernikahan kalian aku sama sekali tidak keberatan. Lakukanlah, tetapi jangan pernah membuatku ikut campur dalam urusan kalian karena itu sama sekali bukan urusanku." Mentari melanjutkan langkahnya kembali.
"Me itu sama saja bohong!" teriak Bintang. Namun, Mentari sama sekali tidak mau mendengar perkataan Bintang ataupun Katrina lagi. Dia seakan menulikan telinganya.
Mentari duduk di tepian ranjang sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan maafkan aku, bukan aku tega pada bayi itu. Aku hanya menjaga kemungkinan di kemudian hari. Kalau menikah sirih saja sikapnya seolah ingin menguasai Bintang, bagaimana kalau pernikahan mereka dipandang sah bukan secara agama saja, tetapi juga secara negara? Bisa-bisa dia semakin melunjak. Entah kenapa aku melihat kebaikannya selama ini tidak tulus. Apakah ini hanya prasangkaku saja? Tunjukkan kebenarannya Tuhan kalau memang dia tulus dan benar-benar berubah baik maka aku akan penuhi permintaannya, tetapi kalau sebaliknya maka lindungilah aku."
Bersambung.