
"Papa sudah tahu semuanya?" tanya Katrina heran.
"Ya aku sudah tahu semuanya dan sekarang kamu tak perlu mengelak lagi karena aku sudah punya bukti termasuk perselingkuhan mu hari inipun sudah aku ketahui sebelum Bintang tahu sebab beberapa hari yang lalu saat apartemen ini kosong, aku menyurut seseorang untuk memasang cctv tanpa sepengetahuan kalian. Namun, sepertinya cctv ini tidak diperlukan untuk membuktikan perselingkuhan kalian pada Bintang sebab dia sudah melihat dengan mata kepala sendiri." Tuan Winata menjeda ucapannya dan menghembuskan nafas panjang.
"Aku pun tahu kalau Aldan itu sebenarnya adalah anak kamu," tunjuk Tuan Winata di dada Arka. Di hari kematian Aldan Tuan Winata sudah curiga melihat gerak-gerik Arka yang seperti tidak wajar berbeda dengan para pelayat yang lainnya. Untuk itu pria ini menyuruh seseorang untuk mencari informasi tentang Katrina dan Arka secara detail.
Katrina dan Arka tidak menjawab, kedua orang itu terlalu syok mendengar kenyataan bahwa Tuan Winata sudah mengetahui semuanya.
"Bagaimana mau berjanji untuk tidak akan mengganggu Bintang atau mau rekaman cctv beredar," ulang Tuan Winata.
"Kami berdua berjanji tidak akan menggangu Bintang," ujar Arka mewakili Katrina juga.
"Bagus sekarang pergilah mumpung Bintang tidak emosi lagi!"
"Baik Pak."
Mereka berdua langsung bergegas keluar dari apartemen.
"Akhirnya hama yang menggerogoti Bintang selama ini tersingkir sudah," batin Tuan Winata lalu berjalan ke arah Bintang.
"Bersyukurlah Nak karena Tuhan telah menunjukkan sesuatu yang tersebut darimu." Tuan Winata menepuk bahu Bintang.
"Ternyata papa benar Katrina bukanlah perempuan baik-baik," ujar Bintang.
"Syukurlah kalau kamu mengerti sekarang. Itulah mengapa papa tidak merestui hubungan kalian. Papa memiliki firasat yang tidak baik terhadap wanita itu dan juga sebenarnya curiga dari dulu dia ada main dengan pria lain. Hanya saja anak buah papa tidak becus untuk mencari informasi tentang dia atau mungkin mereka berdua yang pandai menutupi segalanya. Barulah sekarang setelah aku menugaskan orang lain mereka bisa mengungkap seperti apa Katrina yang sebenarnya dan dia punya skandal dengan siapa. Dari merekalah papa tahu bahwa Aldan adalah anak dari pria yang bernama Arka tadi."
Bintang memilih diam, tidak mau membantah ataupun menyambung pembicaraan sang papa. Pria itu memilih duduk di ranjang dan bersandar untuk menetralkan emosi yang masih tersisa.
"Jika dengan posisi duduk seperti itu kau masih marah maka berbaringlah!" perintah Tuan Winata.
Bintang mengangguk dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Lain kali dalam keadaan marah seperti apapun jangan sampai gegabah melakukan sesuatu."
"Benar Bin apa kata papamu. Untung kaki tadi segera datang kalau tidak mungkin tanganmu sekarang sudah diborgol oleh polisi," sambung Arumi.
"Kau pikir dengan membunuh orang akan selesai masalahmu? Tidak Nak, yang ada akan menambah masalah baru. Perkelahian sejatinya tidak akan ada yang merasa diuntungkan. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Jadi, sama-sama merugi. Biarkan debu bersama dengan debu sebab debu hanya akan mengotori air dan jadilah dirimu seperti air yang selalu mengalir meskipun rintangan selalu menghadang," nasehat Tuan Winata.
"Tapi Pa saya merasa terhina dengan yang mereka lakukan," ujar Bintang.
"Jangan berpikiran seperti itu sebab hina tidaknya manusia bukanlah manusia lain yang menentukan. Seharusnya mereka berdua yang merasa hina bukannya kamu. Tunjukkan pada Katrina bahwa kamu bisa mendapatkan istri yang jauh lebih baik dari dirinya. Apa perlu papa carikan jodoh untukmu?"
"Tidak perlu Pa. Aku mau hidup sendiri saja dulu," tolak Bintang.
"Baiklah kalau itu yang menjadi keputusanmu. Jika suatu saat kekecewaanmu terhadap seorang wanita telah hilang kamu bisa menghubungi papa biar papa carikan calon istri yang baik atau kamu boleh mencari sendiri dan mengenalkan pada papa dan mama."
__ADS_1
Bintang hanya mengangguk lemah, dia tidak berminat lagi untuk mencari istri apalagi saat ingat tadi Katrina mengatakan berselingkuh dengan Arka sebab dirinya tidak bisa memuaskan dirinya di ranjang. Bintang sadar dari hari ke hari kemampuan seksual dirinya semakin menurun saja. Entah apa sebabnya Bintang pun tidak tahu.
***
"Nona ada Bu Warni dan Pandu di luar!" Bibi mengetuk pintu saat jam sudah menunjukkan jam 6 pagi, tetapi Mentari masih enggan keluar. Setelah selesai shalat subuh tadi, Mentari memilih tidur kembali sedangkan sang suami sudah tampak mengobrol di ruang keluarga bersama Tama.
Mendengar nama ibunya dan Pandu disebut segera Mentari bangkit dari posisi berbaring.
"Auw, sakit." Dia meringis, sebab perutnya terasa ngilu. Pantas saja terasa sakit, dalam posisi hamil dia malah bangun dengan posisi telentang yang langsung duduk tanpa miring terlebih dahulu.
Mentari menoleh ke sampingnya. Aman, pikirnya melihat sang suami sudah tidak ada di sampingnya sebab kalau sampai ustadz Alzam masih ada di sampingnya ia akan mendapatkan protes terus-menerus.
Wanita ini mengusap perutnya dan berkata, "Maafkan Ummi yang ceroboh ya sayang, lain kali Ummi nggak lagi."
"Iya Ummi." Menjawab sendiri mewakili sang anak lalu terkekeh sendiri.
Mentari membuka pintu. "Benar yang bibi tadi katakan?" Mentari tiba-tiba merasa curiga sang bibi disuruh sang papa untuk mengerjai dirinya. Memang Tama selalu menekankan pada Mentari agar jangan bangun siang sebab seorang istri ada suami yang harus diurus.
Setiap kali dirinya dan sang suami menginap di sana selalu ada-ada cara Tama agar Mentari tidak bangun kesiangan. Saat ustadz Alzam sudah berada di luar kamar maka Tama akan meminta pembantunya untuk membangunkan Mentari dengan berbagai alasan.
"Iya Non kali ini bibi benar-benar jujur."
"Oke saya pegang perkataan Bibi. Kalau bohong lagi awas ya, Cahaya nggak akan percaya dengan Bibi lagi.
"Oke siap Non."
Sampai di anak tangga paling bawah dirinya sudah disambut oleh sang adik.
"Kakak Pandu kangen!" seru Pandu dan langsung memeluk tubuh Mentari.
"Kakak juga," balas Mentari sambil mengacak rambut sang adik.
"Ibu mana?" tanya Mentari kemudian.
"Tuh ngobrol sama Paman Tama juga sama Mas Gala dan Mas Alzam." Pandu menunjuk ketiga pria yang mengelilingi Warni.
Mentari mengangguk dan Pandu melepaskan pelukannya. Mereka berdua berjalan ke arah keempat orang yang sedang mengobrol santai itu.
"Ibu! Kenapa tidak bilang-bilang mau ke sini sih?"
"Biar surprise Kak katanya Mas Gala," ujar pandu yang mewakili sang ibu.
"Dia tahu kalian mau ke sini?"
Pandu mengangguk.
__ADS_1
"Iya itu kado ulang tahun dariku," ujar Gala.
"Cih nggak modal." Mentari mencebik.
"Cih kamu pikir menjemput dia nggak pakai bensin apa? Harus ngasih tambahan gaji juga buat pak sopir. Ayo kamu pilih mau kado barang mahal atau mau bertemu mereka?" Padahal hanya untuk menutupi dirinya yang kelupaan membelikan kado untuk sang adik.
"Ya mau mereka lah," ujar Mentari dan langsung memeluk serta menciumi pipi dari wanita yang telah merawatnya dengan tulus semenjak bayi dulu.
"Aku nggak dicium?"
"Iri dia," ujar Gala.
"Baiklah, sini kakak cium juga!"
Pandu mendekat, setelah mendapatkan ciuman dari sang kakak, anak itu tersenyum manis.
"Kak aku ambilkan kado buat kakak yang masih ada di mobil ya," pamit Pandu.
Mentari mengangguk dan Pandu segera berlari keluar.
"Mas Gala mengapa tidak menyuruh pak sopir menjemput mereka kemarin sih? Kan, ibu sama Pandu bisa ikut ngerayain ultahku semalam."
"Bukan salah dia Me, sebenarnya Pak sopir sudah menjemput kami kemarin siang, tapi kami tidak bisa langsung berangkat sebab Alya masuk rumah sakit," jelas Warni.
"Alya sakit Bu? Sakit apa?" Mentari terlihat khawatir.
"kata dokter sih trombositnya turun drastis. Mungkin karena beberapa hari ini dia haidnya terlalu banyak mengeluarkan darah. Kayak pendarahan begitu. Kemarin dia sempat pingsan.
"Keadaannya sekarang bagaimana Bu?"
"Sudah sadar dan mulai membaik setelah mendapatkan tiga kantong donor darah."
"Syukurlah kalau begitu Bu."
Warni mengangguk.
"Baik semua saya pamit dulu, jam 7 nanti ada pertemuan dengan kien dan saya harus mempersiapkan segalanya dulu," pamit Gala.
"Memang Kiki kemana? Kenapa kamu harus menyiapkan sendiri?" tanya Tama heran.
"Kiki sedang menangani pekerjaan lain Pa."
"Oke god job, semoga berhasil ya," ucap Tama.
"Iya Pa terima kasih. Saya pergi semuanya, assalamualaikum!"
__ADS_1
Bersambung.