HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 139. Rencana Arka dan Katrina


__ADS_3

Setelah mengatakan itu Gala langsung melenggang pergi.


"Apa lagi ini?" Bintang membuka lipatan kertas tersebut dan membacanya. Bintang terhenyak membaca hasil tes DNA antara dirinya dengan Aldan. Wajah Bintang pucat seketika dan otot-ototnya terasa lemas. Ia kemudian duduk terkulai di tanah.


"Bintang!" Arumi segera berlari menghampiri putranya. Arumi tahu Bintang tidak baik-baik saja saat ini.


"Bin, bangunlah kita pulang sekarang ya Nak!" Arumi membantu Bintang untuk berdiri, tetapi pria itu tidak mau bangun dan beranjak dari tempatnya.


"Kamu yang sabar ya Nak, mama sudah tahu semuanya. Kamu berhak bahagia. Setelah ini kamu ceraikan Katrina dan menikahlah dengan wanita lain," ujar Arumi sambil melihat Mentari yang sudah terlihat mesra dengan ustadz Alzam. Ada sesal di dalam hati mengingat dirinya malah mendukung Bintang dengan Katrina dibandingkan Mentari yang sebenarnya adalah keponakannya sendiri.


"Jadi mama sudah tahu bahwa Aldan bukanlah putraku?"


"Ya, begitulah kenyataan Bin. Jadi sekarang mama berpikir bahwa sebenarnya saat menikah denganmu mama yakin Katrina sudah hamil dengan orang lain. Entahlah mama tidak mengerti mengapa dia malah meminta pertanggung jawabanmu."


"Jadi semuanya ini benar Ma? Ini bukan rekayasa Gala, kan?"


"Tidak Nak itu yang sebenarnya. Kau bisa meminta penjelasan pada istrimu itu!" Arumi menunjuk Katrina dengan geram.


Bintang tidak bergeming. Dia tidak ingin berkata apapun saat ini. Rasa sesal, kecewa, marah dan benci menjadi satu. Dia berpikir kenapa Tuhan tidak bisa adil padanya. Kenapa takdir baik tidak bisa berpihak pada dirinya.


Katrina yang belum bangkit dari duduknya di samping kuburan Aldan mengernyitkan dahi saat melihat Bintang dan Arumi seperti berbicara serius dan menunjuk dirinya. Namun, Katrina tidak pernah mempunyai feeling yang buruk. Dia pikir Bintang hanya cemburu saja melihat kemesraan antara Mentari dan ustadz Alzam.


"Masih saja begitu, sudah cerai masih saja dipikirkan," protes Katrina dalam hati.


"Ayo Nak kita pergi sekarang."


Bintang tidak menjawab, tetapi tetap berusaha bangkit saat sang mama membantu dirinya untuk berdiri. Bintang meremas kertas tes hasil DNA itu. Namun, tetap membawanya dan akan meminta penjelasan kepada Katrina mengapa wanita itu telah berani menipu dirinya.


Mereka berdua langsung pergi menuju mobil tanpa mengajak Katrina terlebih dahulu.


"Ayo Pa, Mas Tama kita pulang!" ajak Arumi membuat keduanya pun bangkit dari duduknya dan menyusul berjalan ke arah mobil.

__ADS_1


Di sana Gala sudah berdiri di samping mobil.


"Ayo masuk semuanya saya harus segera kembali ke kantor."


"Biar paman saja yang nyetir Gala, kamu bawalah mobilmu sendiri," ujar Tuan Winata.


"Tidak apa Paman sekarang saya akan menjadi sopir kalian. Mobilku katanya akan dibawa adik dan adik iparku untuk berjalan-jalan. Ayo Pa masuk ke dalam mobil ini juga, biarkan pengantin baru menikmati masa berdua nya dan jangan diganggu."


Hampir saja Tama ingin protes pada Gala tetapi urung saat melihat Gala mengedipkan mata.


"Anak ini menambah keruh suasana hati Bintang saja," batin Tama.


"Cahaya kalian berdua pergilah terlebih dahulu sebab kami masih akan mampir ke suatu tempat!" teriak Gala di jawab anggukan dari ustadz Alzam dan Mentari. Mereka berdua lalu masuk mobil dan pergi terlebih dahulu.


Setelah mobil yang ditumpangi ustadz Alzam tidak lagi terlihat, Bintang membuka sebelah sepatunya dan melempar ke arah tempat bekas ustadz Alzam berdiri tadi.


"Aku benci senyummu!" teriak Bintang lalu masuk ke dalam mobil. Dia benar-benar benci melihat senyum ustadz Alzam yang seperti mengejek menurut Bintang.


Arumi ikut masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan dengan Bintang. Dia tampak mengelus-elus bahu putranya agar bersabar dan tenang.


Berbeda dengan Gala dia duduk di depan seorang diri dan tertawa jahat. Puas melihat keadaan Bintang saat ini yang terlihat kacau.


"Gala ayo jalankan mobilnya!" perintah Tama, dia tahu Gala saat ini sedang ingin meledek Bintang.


"Baik Pa." Gala langsung tancap gas meninggalkan area pemakaman.


"Bintang!" teriak Katrina saat menyadari dirinya ternyata ditinggalkan seorang diri.


"Bintang!" teriaknya lebih kencang lagi.


"Pak Gala!"

__ADS_1


"Kenapa aku malah ditinggalkan sih?" kesal Katrina sambil menggertak-gertakkan kakinya ke tanah.


"Dasar kalian, kalau tidak ingin harta kalian mana mungkin aku bertahan dengan Bintang. Dasar impoten!" Katrina meninju udara tidak terima ditinggalkan begitu saja.


"Awas kalian ya."


"Kate sepertinya kau harus berhati-hati." Suara seorang laki-laki mengangetkan Katrina.


Sontak saja Katrina menoleh dengan ekspresi yang takut sebab dia masih berada di area pekuburan dan sudah memastikan tidak ada seorangpun di sana.


Katrina menoleh.


"Arka! Kau mengagetkanku saja. Kupikir kau hantu."


"Hmm, masa' ganteng-ganteng begini dibilang hantu?" protes Arka.


"Sudah kubilang kau jangan berseliweran di dekat kami, kau masih ngotot saja ya!"


"Memangnya kenapa?" tanya Arka enteng.


"Ya apalagi? Takut mereka curiga lah. Beraninya kamu ikut memandikan Aldan. Untung saja ustadz Alzam tidak curiga."


"Kau tahu Kate meskipun aku tidak ke sana untuk memandikan Aldan mereka akan tetap mencurigai mu sebab mereka telah berhasil melakukan tes DNA antara Bintang dan Aldan. Kau ceroboh sekali. Bagaimana bisa membiarkan orang lain mengambil sampel di tubuh Aldan tanpa kau tahu. Lagipula aku ayahnya, jadi sudah sepantasnya aku ikut memandikan dia."


"Apa katamu tadi Arka mereka telah melakukan tes DNA?"


"Ya, mereka sudah tahu kalau Aldan bukanlah anak dari Bintang."


Katrina tampak syok mendengar perkataan dari Arka.


"Apa yang harus aku lakukan Arka?"

__ADS_1


"Sini aku bisikkan!"


Bersambung.


__ADS_2