HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 206. Tabur Tuai


__ADS_3

"Arka!" teriak Katrina saat melihat Arka malah benar-benar bergumul dengan wanita jablay itu.


Kedua orang beda usia itu kaget dan segera menghentikan aktivitas panas mereka tatkala mendengar suara teriakan Katrina.


"Siapa Arka?" Suara wanita itu terdengar bergetar.


"Tidak tahu Bu." Arka segera duduk dan melihat ke arah pintu.


"Kate?" Arka syok melihat Katrina berdiri dengan amarah.


Katrina langsung berjalan cepat ke arah ranjang dan menarik selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Perempuan itu segera meraih baju yang teronggok di sampingnya lalu menutup aset miliknya.


"Dasar tua bangka! Rupanya kau mengeluarkan aku dari kantor agar bebas menjalin hubungan dengan Arka." Katrina langsung menjambak rambut mantan bosnya itu dengan sekuat tenaga.


"Auw Arka tolong aku!" Perempuan itu meringis, ingin melawan takut pakaian yang dia pegang di depan dada dan di tengah-tengah paha jatuh ke lantai dan tubuhnya yang telanjang bulat akan dilihat oleh Katrina. Apalagi kamar dalam keadaan terbuka. Bagaimana kalau petugas bersih-bersih yang disewa dirinya kebetulan melintas begitu saja?


"Kate lepaskan dia!" Arka meraih tangan Katrina agar terlepas dari rambut sang bos membuat Katrina semakin murka saja.


"Diam kau Arka!" bentak Katrina sambil mendorong tubuh Arka hingga pria itu terhuyung ke belakang.


Arka segera memakai bajunya sebelum menyelamatkan sang bos.


Katrina mengamuk, dia tidak hanya menjambak, tetapi juga mencakar wanita itu dengan kuku-kukunya yang tajam hingga meninggalkan bekas goresan yang memerah dan wanita itu tidak berdaya karena keadaan tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk melawan.


"Lepaskan aku! Lagipula kau bukan siapa-siapa Arka!"


"Apa kamu bilang?!"


"Ya kau bukan istri Arka, jadi kau tidak berhak atas pria itu."


Katrina semakin marah saja hingga ia mencekik leher wanita tersebut.


"Tolo-" Rupanya wanita itu lupa bahwa dirinya tidak memakai baju sehingga mau berteriak. Namun suaranya tercekik akibat ulah Katrina.


"Kate lepaskan!" Arka masih saja berusaha menarik cengkraman tangan Katrina yang masih kuat di leher bosnya.


"Katrina lepaskan kataku!" Arka membentak membuat Katrina menghentikan aktivitasnya dengan mendadak dan terdiam. Arka dulu memang seringkali mengancam dirinya saat masih ngotot ingin bertahan dengan Bintang, tetapi pria itu tidak pernah sekalipun berkata kasar apalagi membentak.


Melihat Katrina termangu, perempuan di depannya segera melepaskan tangan Katrina kemudian berlari dari hadapan Katrina menuju kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Perempuan itu segera memasang pakaiannya.


Arka mendekat ke arah Katrina dan memeluk wanita itu dengan erat. "Maafkan aku Sayang, aku khilaf."


Katrina menggeleng lalu tangannya melepas pelukan Arka.

__ADS_1


"Dulu kau berusaha sekuat mungkin agar aku bisa berpisah dengan Bintang, tapi setelah hubunganku hancur dengannya kau hanya menjanjikan cinta palsu untukku." Pipi Katrina basah dengan air mata.


"Maafkan aku Kate, tapi percayalah cintaku tulus untukmu. Aku melakukan semua ini demi dirimu."


"Demi diriku? Kau salah Arka itu demi hawa nafsumu sendiri. Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi seperti ini!" tekan Katrina pada kalimat terakhirnya.


"Tapi kau butuh harta bukan? Dari wanita itulah aku bisa mendapatkannya segalanya. Mobil, uang yang banyak dan semua itu untukmu dan untuk masa depan kita," terang Arka.


Katrina menggeleng. "Dengan menjual diri? Menjadi gigolo untuk perempuan yang bahkan usianya jauh di atas dirimu?"


"Ya apapun aku lakukan asal engkau bahagia."


"Kalau begitu mulai saat ini jangan pernah ganggu aku lagi. Dengan begitu aku akan bahagia."


"Kate kumohon mengertilah."


"Kau yang harus mengerti! Kau telah menghancurkan hidupku sehancur-hancurnya Arka!" bentak Katrina.


"Tuntaskan hasratmu bersamanya, aku tidak akan mengganggu kalian lagi." Setelah mengatakan itu Katrina berbalik dan meninggalkan kamar. Namun, Arka segera menahan tangan Katrina.


"Kate beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki segalanya. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama."


"Maaf aku tidak bisa. Mulai sekarang kita putus Arka, anggap kita tidak pernah mengenal apalagi memiliki hubungan spesial."


"Kate!" teriak Arka kemudian langsung mengejar Katrina keluar meninggalkan sang bos yang masih tidak ingin keluar dari dalam kamar mandi.


Sementara Katrina, seusai berlari dia langsung masuk mobil dan melajukan mobilnya menuju unit apartemen Bintang.


Arka berhenti tatkala Katrina masuk ke dalam unit apartemen Bintang yang kebetulan sedang terbuka pintunya. Pria itu lebih memilih mengawasi dari luar dibandingkan membuat keributan di dalam apartemen Bintang dan itu bisa saja membuat Tuan Winata murka karena menganggap dirinya masih menganggu sang putra.


"Ngapain ke sini?" tanya Bintang tanpa mengalihkan perhatiannya dari majalah bisnis yang dipegangnya.


"Mau minta maaf."


Bintang mengangguk. "Selain minta maaf?" Bintang masih saja tidak mau menatap Katrina.


"Kalau ada kesempatan izinkan saya kembali padamu dan memperbaiki hubungan kita."


"Oh begitu, bagaimana dengan pria itu?"


"Arka maksudmu? Kami sudah tidak memiliki hubungan lagi."


"Oh ya? Selamat kalau begitu." Bintang meletakkan majalah di atas meja dan berjalan ke arah Katrina yang masih berdiri mematung.

__ADS_1


"Apa dia mengkhianatimu?" tebak Bintang melihat wajah Kartina yang memerah dengan mata yang sembab.


Katrina tidak menjawab, wanita itu memilih diam.


"Apa kamu bisa memaafkannya?" tanya Bintang lagi.


Katrina tetap diam. Jika dia tidak bisa memaafkan Arka apakah itu artinya Bintang juga tidak bisa memberikan dirinya maaf?


"Hmm, sepertinya hukum tabur tuai sudah terjadi dan tidak menunggu waktu lama."


"Aku masih istrimu Bin, dan izinkan aku melakukannya sesuatu yang menjadi kewajibanku."


"Oh ya? Aku lupa ternyata bahwa diriku masih punya istri. Kau juga lupa Kate telah membuatku tidak sempurna menjadi seorang suami. Apakah kamu bisa bertahan dalam keadaaanku yang seperti ini? Bukankah alasanmu berselingkuh dengan Arka karena aku tidak bisa memuaskanmu?"


"Aku tahu Bin, aku yang berbuat maka aku yang akan bertanggung jawab. Aku bisa menerimamu apa adanya asalkan kau juga mau menerimaku ap-"


"Sutt, tidak perlu terlalu baik seperti itu padaku Kate sebab detik ini juga aku talak dirimu dan kau bukan lagi berstatus sebagai istriku."


"Bin kenapa kau katakan itu sebelum kau pikirkan baik-baik," protes Katrina.


"Tidak perlu aku pikirkan karena aku juga sudah tidak mencintaimu."


Prok, prok, prok.


Terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu. Bintang dan Katrina menoleh bersamaan. Ternyata Tuan Winata yang muncul dari balik pintu dan berjalan mendekati Bintang.


"Itu baru namanya anak papa. Jangan pernah berikan kesempatan pengkhianat kembali menguasai dirimu sebab kemungkinan akan mengulangi kesalahan yang sama. Mulai sekarang kau berhentilah bekerja di perusahaan orang dan kelola lah perusahaan papa."


"Maksud papa?"


"Aku serahkan perusahaan padamu dan sekarang saatnya papa pensiun."


Bintang tersenyum ke arah Tuan Winata.


"Terima kasih Pa, terima kasih banyak." Kedua ayah dan anak itu saling berpelukan. Tuan Winata membisikkan semangat di telinga Bintang dan Bintang mengangguk.


Tuan Winata menepuk-nepuk bahu Bintang lalu melepaskan pelukannya.


"Dan kau kenapa masih di sini? Kehadiranmu sangat tidak diharapkan," ujar Tuan Winata pada Katrina.


Katrina berbalik dengan rasa kecewa kemudian keluar dari apartemen tanpa bisa berkata-kata lagi. Jalan satu-satunya dia harus kembali ke orang tuanya setelah selama ini berpura-pura bahwa rumah tangganya baik-baik saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2