
"Aku pergi," ucapnya tanpa mau melihat satupun dari wajah orang-orang yang ada di ruangan itu.
Bintang yang masih marah pun membiarkan Mentari pergi begitu saja.
Mentari keluar dari apartemen tidak naik kendaraan umum melainkan berjalan kaki sebab dia tidak tahu akan membawa langkahnya kemana kali kini.
Ingin rasanya dia pulang ke kampung, tetapi entah mengapa langkahnya sangat berat jika harus kembali ke sana dalam keadaan seperti ini.
Dia sangat khawatir akan kabar perselingkuhan dirinya dengan ustadz Alzam itu sudah menyebar sampai di kampung. Kalau dia pulang akan menguatkan keyakinan warga bahwa rumah tangga dirinya memang benar-benar sudah tidak sehat. Mentari tidak ingin membuat keluarganya menjadi lebih khawatir.
Terdengar ponsel Mentari bergetar. Wanita itu segera mengambil dan memeriksanya. Dia pikir itu telepon dari Bintang yang akan mencegah dirinya untuk pergi dari apartemen. Namun, Mentari tampak kecewa karena tidak sesuai dengan tebakannya. Cukuplah sudah dia berharap banyak Bintang bisa perduli padanya karena mulai saat ini dia akan belajar melupakan pria itu.
Panggilan telepon tadi tidak terdengar lagi dan berganti panggilan dari nomor yang lainnya.
"Alya." Mentari merasa kaget, sedih dan senang bercampur menjadi satu saat tahu kali ini sahabat terbaik di kampung yang menelpon dirinya.
Mentari langsung memencet tombol menerima telepon.
"Tumben nelpon ada apa Al?" tanya Mentari langsung.
"Kangen," rengek Alya dari balik telepon.
"Aku juga kangen," jawab Mentari. Sebenarnya memang dia merindukan sahabatnya itu, tetapi Mentari masih belum berani pulang kampung. Dia tahu bagaimana orang di kampungnya akan menyerang dengan kata-kata pedas nanti kalau sudah mendengar kabar buruk tentang dirinya. Mentari perlu menenangkan diri, dia tidak mau beban pikirannya akan bertambah berat nantinya.
"Kamu baik-baik saja, kan Me? Cerita dong kalau ada masalah," mohon Alya.
"Aku baik-baik saja kok Al," jawab Mentari tidak ingin membuat sahabatnya khawatir.
"Tapi suaramu beda. Dari nada suaramu aku tahu kamu sedang bersedih sekarang. Cerita dong Me, kita masih sahabat, bukan?"
Mentari menitikkan air mata. "Persahabatan kita tidak akan pernah berakhir Al, hanya maut yang akan memutuskan tali persahabatan kita. Kau sahabat terbaik sampai kapanpun akan tetap menjadi yang terbaik," ucap Mentari sambil mengusap bulir-bulir air mata di pipinya.
"Kalau begitu mengapa musti ada yang ditutup-tutupi? Bukankah kita sudah terbiasa saling terbuka satu sama lain dengan masalah yang menimpa kita. Mentari kau tidak ...."
"Al apakah kalian semua mendengar isu diriku yang berselingkuh?" tanya Mentari sebelum memutuskan untuk bercerita.
Dengan berat hati Alya berkata, "Iya."
"Apa kau percaya?" tanya Mentari lagi.
"Tidak, aku tidak percaya Mentari ku akan melakukan hal yang tidak baik seperti itu," sahut Alya.
"Terima kasih. Di saat orang lain tidak bisa mempercayaiku kau masih bisa percaya padaku." Mentari terdengar terisak.
"Me ceritakan semuanya padaku," pinta Alya. Ia hanya ingin Mentari membagi beban hidup dengannya. Semenjak Mentari pergi ke kota Alya merasa Mentari ada yang ditutupi dari pernikahannya. Alya merasa Mentari tidak bahagia, tetapi wanita itu pintar menutupi semuanya.
"Apa di situ ada orang Al?"
"Aku bersama Bibi Warni dan Pandu. Aku ada di rumahmu. Tadi yang menelponmu itu Pandu, tetapi karena tidak kamu angkat jadi aku yang menelponmu," jelas Alya.
__ADS_1
"Bisa menjauh dari mereka sebentar?"
"Oke, bisa."
"Bik aku keluar dulu ya. Nanti saja kalau bibi mau bicara sama Mentari. Sekarang giliran Alya dulu."
Warni mengangguk. Dia mengerti Mentari hanya bisa berbicara lepas tentang keadaan dirinya pada Alya.
"Me sekarang aku ada di luar rumahmu. Tidak ada orang lain di sini, aku seorang diri. Kau bisa menceritakan semuanya."
"Baik Al."
Mentari menceritakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya kini.
"Jadi kau difitnah?" tanya Alya syok.
"Iya Al sayangnya aku tidak tahu dari siapa Mas Bintang mendapatkan video itu dan siapa pula orang yang telah berani menyebar hingga beritanya kemana-mana."
"Sabar ya Me semoga kebenaran segera terungkap. Bagaimana keadaan rumah tanggamu setelahnya? Apa Bintang mengerti setelah mendapatkan penjelasanmu?"
"Boro-boro mendengarkan Al aku menyapanya saja tidak dijawab. Ia acuh dan diam seperti orang bisu saja."
"Terus apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Tidakkah kau meminta bantuan seseorang yang bisa menguak kesalahpahaman itu?"
"Tidak perlu Al buang-buang uang saja. Uangku tidak cukup untuk membayar pengacara."
"Tidak ada teman atau orang dekat gitu yang mungkin bisa kamu mintai tolong?"
"Pergi?" Alya terdengar semakin kaget.
"Iya, untuk apa bertahan dengan orang yang tidak bisa menghargai kita apalagi Mas Bintang sekarang sudah bahagia karena telah memiliki anak dari istri pertamanya. Jadi keberadaanku sudah tidak berguna lagi di sana."
"Istri pertama?" Alya semakin syok saja.
"Iya Al mereka ternyata telah menikah di malam saat aku dan dia esoknya menikah." Mentari sudah tidak ingin ada yang dirahasiakan dari sahabatnya itu. Meskipun Alya tidak bisa membantu paling tidak dengan curhat dengan sahabatnya itu akan sedikit meringankan beban di hatinya.
"Ya ampun Mentari kasihan sekali dirimu. Aku kira kau akan bahagia karena telah mendapatkan suami yang kaya dan tampan. Nyatanya Bintang tengah menipu dirimu." Alya ikut menitikkan air mata mendengar keluhan sahabatnya. Dia pikir selama ini Mentari benar-benar hidup bahagia.
"Terus sekarang kamu akan kemana kalau tidak pulang ke kampung?"
"Entahlah aku tidak tahu akan kemana mungkin mencari kosan dulu dan juga mencari pekerjaan."
"Jangan lupa kabari nanti ya Me gimana-gimananya. Barangkali aku bisa membantu. Oh iya Bik Warni dan Pandu ingin berbicara padamu.
"Baik Al berikan ponselmu ke tangan mereka tapi janji ya jangan kasih tahu tentang keadaan rumah tanggaku. Kamu hanya perlu menjelaskan tentang berita itu pada ibu. Katakan semua itu tidak benar."
"Pasti. Aku kedalam dulu ya untuk memberikan ponsel pada Bibik dan Pandu."
"Oke."
__ADS_1
Alya pun masuk ke dalam dan memberikan ponsel ke tangan Warni. Warni dan Pandu pun berbicara panjang lebar untuk mengobati kerinduan mereka. Tidak ada bahasan tentang berita yang dua hari mencuat drastis ini karena saat Warni bertanya Mentari menyampaikan agar menanyakan semua pada Alya saja.
Selesai menelpon Mentari memasukkan kembali ponsel ke dalam tas dan melanjutkan perjalanannya kembali. Kali ini dia ingin mencari rumah kontrakan atau kalau tidak kosan juga tidak apa-apa yang terpenting dia mendapatkan tempat berteduh dulu.
Dia mengingat sesuatu, kartu ATM yang diberikan Bintang ia jarang gunakan kali ini dia akan mengunakan uangnya untuk menyewa rumah kontrakan.
Mentari lalu bergegas mencari mesin ATM yang terdekat dari tempatnya berjalan. Setelah menemukan buru-buru dia masuk dan melakukan penarikan. Sayangnya uangnya tidak keluar.
"Apa aku salah memasukkan pin ya?" gumam Mentari seorang diri.
Dia mencoba lagi tetap tidak bisa. Mentari tidak putus asa mencoba sekali lagi. Hasilnya nihil tidak ada uangnya sama sekali.
"Kenapa Mbak?" tanya seorang pria yang mengantri melihat wajah Mentari terlihat pucat.
"Tidak keluar Mas uangnya."
"Salah Pin tidak? Biasanya kalau salah memasukkan pin sampai 3 kali akan diblokir."
Mentari menggeleng.
"Apa saldonya masih ada?" tanya pria itu lagi untuk memastikan.
"Masih banyak Mas saya jarang menggunakan."
Pria itu tampak memeriksa.
"Berarti ATM mbak nya di nonaktifkan Mbak."
"Di nonaktifkan?"
"Iya maksudnya ada yang membekukan," jelas pria itu lalu bergantian dia yang memasukkan kartu ATM nya.
"Mas Bintang? tega amat sih." Mentari semakin membenci Bintang.
Bersamaan dengan itu ponsel Mentari bergetar lagi tanpa memeriksa panggilan dari siapa Menteri langsung menerima.
"Halo."
"Kalau mau nekad hidup di luaran nekad juga dong jangan pakai rekening orang."
"Mas Bintang?"
Telepon diputuskan secara sepihak oleh Bintang.
"Arrgh!" Mentari melempar kartu itu ke lantai dan menginjak-injaknya.
"Aku sangat membencimu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu," ucap Mentari kesal dan penuh amarah.
"Kenapa Mbak?" tanya pria tadi setelah memegang uang di tangannya dan undur ke belakang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mas saya akan mengecek ATM satunya," ucap Mentari kemudian. Setelah mendapatkan uang dari ATM nya sendiri Mentari lalu meninggalkan tempat.
Bersambung.