
"Dasar laki-laki plin-plan," ujar Gala sambil membanting ponselnya sendiri ke atas sofa karena kesal dengan sikap adik sepupunya itu.
"Pak Gala kenapa marah begitu?" tanya Mentari heran melihat sikap Gala.
"Suamimu itu menyebalkan, istri dibilang sakit masa nyuruh aku yang jagain kamu."
"Siapa juga yang sakit? Saya baik-baik saja kok Bapak malah bilang saya sakit. Ucapan itu adalah doa loh Pak, memangnya Bapak ingin Mentari benar-benar sakit?"
"Itu cuma alasanku biar dia pulang sekarang. Namun, ya nggak ngefek juga sama dia. Kalau istrinya hilang baru tahu rasa dia," kesal Gala.
"Bapak kok malah doain saya hilang sih," protes Mentari.
"Susah kalau ngomong sama orang yang ngerti istilah." Padahal yang dimaksud Gala hilang itu bukan hilang beneran, tetapi dalam artian diambil orang.
"Ya sudah saya balik saja ke kantor. Kamu jaga diri baik-baik. Semoga otak Bintang bisa ke geser sedikit biar bisa berpikir jernih." Setelah mengatakan itu Gala langsung pergi, meninggalkan Mentari yang menatap heran ke arah Galaksi.
"Aneh tuh orang malah doain sepupu sendiri otaknya ke geser. Ih ngeri kalau itu memang benar-benar terjadi, nanti Mas Bintang bisa gila." Mentari menggeleng-gelengkan kepala lalu menutup pintu apartemen setelah punggung Gala sudah terlihat menjauh.
Hari sudah semakin gelap, matahari sudah terbenam sempurna di ufuk barat. Mentari duduk termangu di sofa ruang tamu menunggu kepulangan Bintang.
"Apa malam ini dia tidak pulang lagi? Padahal dia sudah janji tadi pagi mau pulang," gumam Mentari seorang diri. Dia mencoba lagi untuk menghubungi ponsel Bintang. Kali ini tersambung.
"Akhirnya," ucap Mentari dalam hati sambil tersenyum senang. Hatinya merasa lega karena setelah sekian lama menghubungi Bintang kali ini ponsel pria itu sudah aktif kembali.
Namun, senyum yang merekah di bibirnya layu seketika tatkala ponsel Bintang tiba-tiba mati kembali.
"Kenapa dimatikan lagi sih? Benar kata pak Gala Mas Bintang itu menyebalkan. Dia benar-benar nggak perduli lagi sama aku. Dia benar-benar pilih kasih." Mentari tidak tahu saja kalau yang mematikan ponsel Bintang adalah Katrina sedangkan Bintang masih keluar sebentar mencari makan.
Mentari keluar dari unit apartemennya menuju unit apartemen Sarah. Namun, sayang gadis itu sepertinya belum kembali dari rumah ayahnya.
Mentari kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Lebih baik aku tidur saja.
Namun saat mencoba memejamkan mata bayangan Bintang memenuhi memori di otaknya.
Mas Bintang, apa yang kamu lakukan sekarang?
Dia meringis mengingat Bintang sekarang bersama Katrina sedang dirinya hanya tinggal seorang diri. Pasti Bintang sekarang sedang bersenang-senang dengan Katrina.
Mentari menepis pikirannya sendiri.
"Ah lebih baik aku hubungi Sarah." Mentari berharap dengan berbicara dengan gadis itu akan sedikit melupakan tentang suaminya.
"Kak aku lagi ada di toko kue ini. Nanti Sarah telepon lagi ya Kak, soalnya sedang sibuk nih melayani pembeli. Salah satu karyawanku berhenti kerja secara mendadak karena keluarganya sakit." Terdengar suara Sarah dari balik telepon.
"Tidak apa-apa." Mentari langsung memutus sambungan teleponnya.
Dia nampak berpikir sebentar. "Sarah punya toko kue dan karyawannya berhenti mendadak? Apa lebih baik aku melamar kerja saja sama dia? Ya, aku akan mencobanya."
Esok hari Mentari mendatangi Sarah untuk mendaftarkan dirinya bekerja di toko kue milik Sarah dan Sarah menyambut baik keinginan Mentari itu.
"Kebetulan Kak, Sarah lagi butuh karyawan. Kasihan kak Nanik sendirian. Aku lihat dari tadi siang dia kewalahan membuat kue pesanan pelanggan. Mana yang beli kue yang sudah jadi pun membludak. Sarah kan tidak mungkin membantunya tiap hari karena harus kuliah. Rencananya Sarah memang mau cari karyawan baru. Kalau Kak Mentari mau Kakak bisa kerja ditempat Sarah, tapi Kak Mentari harus minta izin dulu sama suami Kakak karena pekerjaan ini sampai malam. Jam 9 malam biasanya Kak Nanik baru selesai membuat kue untuk pesanan besok."
"Tidak masalah nanti saya minta izin pada Mas Bintang dulu daripada tidak ada aktivitas di apartemen, kesepian lagi nggak ada teman. Kecuali pas ada kamu."
"Kenapa sih suami kak Mentari jarang ada di apartemen? Aku lihat Kak Mentari sendirian terus. Apa Kak Mentari tidak curiga kalau dia selingkuh?'
Mentari terdiam mendapat pertanyaan dari Sarah. Ekspresi wanita itu terlihat tidak senang.
Sarah menyadari kelancanganya. "Maaf Kak, Sarah tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tangga Kakak."
__ADS_1
"Tidak apa-apa," jawab Mentari sambil berusaha tersenyum.
Esok hari Bintang menyempatkan pulang sebelum pergi ke kantor. Mentari langsung memberitahukan keinginan untuk bekerja pada Sarah. Awalnya Bintang menolak, tetapi saat Mentari meminta Bintang harus ada kala Mentari merasa kesepian akhirnya pria itu menyerah dan mengizinkan Mentari untuk bekerja.
***
Beberapa bulan berlalu Bintang semakin jarang pulang meskipun Katrina sudah sehat dan tidak mual-mual lagi karena kehamilannya.
Tentu saja Bintang berpikir Katrina lebih membutuhkan dirinya dibandingkan Mentari karena wanita itu sedang mengandung anaknya. Selain itu Katrina pun memanfaatkan kehamilannya untuk bermanja-manja dengan Bintang dan suka menahannya apabila pria itu mengatakan ingin pulang menemui Mentari.
Wanita hamil itu sensitif dan moodian, jadi Bintang tidak mau membuat Katrina stres agar tidak berpengaruh pada janinnya nanti.
Nasehat Gala untuk Bintang agar bisa berlaku adil terhadap kedua istrinya, terutama dalam membagi waktu tidak pernah Bintang dengarkan. Katrina pun sudah tidak perduli meskipun Gala sudah tahu akan statusnya sebagai istri Bintang. Toh meskipun sudah tahu Gala tidak pernah mengambil keputusan untuk memecat dirinya ataupun Bintang.
Pada suatu hari Mentari mendapat pesanan kue ulang tahun dari seseorang.
"Me, kamu tahu tidak siapa yang memesan kue ini?" tanya Nanik pada Mentari.
Wanita itu menggeleng. "Mana aku tahu, kamu kan yang menerima pesanan ini? Yang pasti ini kue seorang suami untuk sang istri," ujar Mentari sambil menatap bagian atas kue yang dihiasi dengan tulisan 'HBD My Wife. I Love always'.
"Betul. Aduh aku jadi ngiri nih sama istrinya," ucap Nanik lagi.
"Iya ya, so sweet banget tuh suami. Mana tanggal ulang tahun istrinya sama lagi kayak aku. Andai saja suamiku ingat ulang tahunku."
"Semoga suamimu juga ingat ya Me. Selamat ulang tahun untukmu semoga panjang umur, dimurahkan rezeki dan bahagia selalu."
"Makasih Mbak Nanik," ucap Mentari.
"Sama-sama tapi maaf ya aku enggak bisa ngasih kado soalnya aku nggak tahu kalau kamu ultah hari ini," ucap Nanik merasa menyesal karena tidak tahu tanggal ulang tahun rekan kerjanya.
"Tidak apa-apa Mbak Nanik. Mbak ucapan selamat aja aku sudah senang.
Mentari mengernyit, dia menatap tidak berkedip pada mobil tersebut.
Bukankah mobil itu milik Mas Bintang?
Mentari tersenyum kala melihat yang turun dari mobil beneran Bintang.
"Ais, suami orang tuh Me jangan ditatap seperti itu nanti ngiler," ujar Nanik menggoda.
"Mas Bintang!" seru Mentari.
"Bintang? Kamu kenal Me?" tanya Nanik heran.
Mentari mengangguk. "Dia suamiku Mbak," jelas Mentari. Matanya berkaca-kaca karena merasa haru ternyata Bintang mengingat hari ulang tahunnya.
"Suamimu?" tanya Nanik tak percaya. Kalau benar itu suami Mentari, mana mungkin pria itu mengizinkan Mentari bekerja di tempat seperti ini.
"Iya Mbak."
"Dia tidak bilang sama kamu kalau memesan kue di tempat ini? Apa dia tidak tahu kamu bekerja di sini?"
"Tidak Mbak. Dia juga tidak tahu aku kerja dimana. Dia hanya tahu aku kerja di toko kue saja."
"Oh berarti dia ingin membuat ini surprise ke kamu, ujar Nanik.
"Mungkin Mbak." Mentari benar-benar merasa tersanjung. Meskipun Bintang lebih sering berada di tempat Katrina tetapi pria itu masih perhatian padanya. Buktinya pria itu mengingat tanggal ulang tahunnya.
"Sana sembunyi, kan nggak bagus kalau kamu ketahuan ada di sini. Nanti suamimu itu merasa ini semua tidak surprise lagi deh buat kamu," saran Nanik dan Mentari menurut. Dia masuk ke ruangan lain dan menatap Bintang dari balik kaca.
Bintang semakin mendekat ke arah toko.
__ADS_1
"Pesanan saya sudah ada Mbak?" tanya Bintang pada Nanik.
"Oh sudah Mas." Nanik menunjukkan kue buatannya. Barangkali tidak sesuai dengan pesanan. Bintang bisa protes atau bahkan tidak menerima kue tersebut. Mungkin juga minta diganti dengan yang lain.
"Oke boleh," ucap Bintang menerima kue tersebut sambil menyodorkan uang pada Nanik.
"Terima kasih Mbak."
"Sama-sama Mas."
Bintang berbalik dan berjalan kembali menuju mobil. Bersamaan dengan itu Sarah datang bersama ustadz Alzam dan langsung masuk ke ruangan yang kebetulan ada Mentari di dalamnya.
"Dia kok ada di sini?" tanya ustadz Alzam pada Sarah.
"Dia memang bekerja disini," jawab Sarah.
Keduanya lalu diam dan fokus menatap Mentari yang memandang keluar kaca.
Dari dalam kaca terlihat Bintang berjalan mendekati mobil. Setelah membuka mobil ternyata ada wanita yang turun dari dalamnya.
"Katrina?" Mentari kaget dan menutup mulut. Kalau Katrina tahu Bintang memesankan kue khusus untuknya bisa saja wanita itu langsung membuang kue tersebut ke sembarang tempat.
"Sayang!" seru Katrina.
Bintang meraih sesuatu di saku jasnya. Ternyata lilin bertuliskan angka 26. Bintang meletakkan lilin tersebut di atas kue dan menyalakan lilin tersebut dengan korek api.
Mentari terbelalak melihat angka itu. Itu bukan umurnya karena kini umurnya sendiri masih 19 tahun. Dalam hati protes kenapa tidak langsung meminta Nanik untuk memberikan angka tersebut di atas kuenya. Biar dirinya tidak banyak berharap dari tadi.
"Selamat ulang tahun sayang. Semoga panjang umur dan selalu bahagia," ucap Bintang sambil mengecup kening Katrina.
"Terima kasih sayang aku bahagia banget hari ini," sahut Katrina sambil tersenyum manis lalu meniup lilin tersebut.
Katrina pun memotong kue tersebut dengan pisau plastik yang memang di sediakan oleh Nanik di samping kue tart tersebut. Kemudian wanita itu menyuapkan keu tersebut ke mulut Katrina.
"Sama-sama sayang," jawab Bintang setelah mengunyah kue dalam mulut dan menelannya.
"Kita kembali ke kantor yuk, malu dilihat orang masa merayakan ultah di jalanan," ujar Katrina terkekeh.
"Biar suasananya berbeda Sayang. Tiap tahun kan kita sudah merayakan ultah kamu di macam-macam tempat. Sudah yuk masuk mobil!" ajak Bintang.
Katrina pun mengangguk. Keduanya pun masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil itu meninggalkan are toko, ada air mata yang jatuh di pipi Mentari.
"Kenapa tanggal lahir wanita itu juga harus sama denganku," ucapnya sambil menghapus jejak air mata di pipinya.
"Dia siap?" tanya ustadz Alzam pada Sarah.
"Suaminya," jawab Sarah. Wanita itupun mengusap air matanya. Sarah ikut menangis melihat Mentari. Dia ikut merasakan bagaimana sakitnya hati Mentari saat ini. Sarah tahu akan keadaan rumah tangga Mentari meskipun wanita itu tidak pernah mau bercerita.
Ustadz Alzam menggeleng melihat adegan di hadapannya tadi. "Sarah kamu hibur dia!" perintahnya pada Sarah dan wanita itu mengangguk dan berjalan mendekati Mentari.
"Kak."
"Sarah." Mentari langsung memeluk Sarah dan tangisnya malah pecah.
"Sabar Kak," ujar Sarah sambil mengusap bahu Mentari.
"Mengapa nasibku seperti ini Sarah. Aku lelah, aku harus apa?"
Bersambung....
__ADS_1