HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 231. Pengganggu Kecil


__ADS_3

"Bercanda bapak keterlaluan." Sarah memalingkan muka.


"Namanya juga bercanda, abis kangen saat-saat kita suka berdebat dulu."


"Ya sudah kita musuhan lagi," tantang Sarah.


"Nggak bisa perasaan kita sudah berbeda," tolak Gala.


Sarah cemberut.


"Kau tahu Sarah kalau kau cemberut begitu wajah kamu semakin cantik," goda Gala.


Wajah Sarah terlihat memerah lalu tertawa.


"Sudah Pak jangan gombal terus! Mulutku bisa kram jika tertawa terus. Sarah tidak mau–"


Gala langsung mengecup bibir Sarah membuat perempuan itu terdiam mendadak.


Melihat Sarah hanya diam Gala meneruskan aksinya hingga membuat Sarah pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.


Sarah sama sekali tidak menolak ketika Gala meminta lebih.


"Sarah bagaimana kalau aku meminta hakku sekarang?" tanya Gala dengan tatapan mata yang sudah terlihat sayu. Dia tidak mau melakukan hubungan suami istri sebelum mendapatkan izin dari Sarah sebab pria itu sudah berjanji akan menunggu sampai Sarah siap.


Sarah mengangguk membuat Gala lebih berani melakukan hal yang lebih. Hingga saat sampai pada penyatuannya terdengar suara bayi yang menangis kencang sekali.


"Izzam Pak!"


"Biarkan saja." Gala tidak ingin menghentikan aktivitasnya yang sudah susah-susah dia mulai.


Suara tangisannya Izzam semakin kencang dan dekat.


"Tapi Pak–"


"Sarah!"


"Baiklah." Sarah tidak ingin menolak sang suami karena takut dosa, tapi suara tangisan Izzam juga sangat menyentuh hatinya.


"Ayo sama papa aja!" Terdengar suara Tama yang meminta Izzam dari tangan Mentari.


Mentari pun memberikan putranya pada Tama. Namun, tangisannya tidak reda juga.


"Kenapa dia jadi seperti ini Me?" tanya Tama tidak mengerti dengan kemauan cucunya.


"Dia memang begitu Pa kalau mau tidur siang suka ngambek. Biasanya kalau digendong laki-laki diam, tapi kok sama papa nggak sih?" Mentari panik, tidak tahu harus dengan cara apa mendiamkan putranya itu.

__ADS_1


"Biasanya jam istirahat siang Mas Bintang menyempatkan diri datang ke rumah dan dia yang gendong Izzam sampai tidur, tapi tadi menelpon tidak diangkat. Mungkin dia lagi sibuk kali.


"Ya sudah papa panggil Gala saja barangkali dia diam sama Gala," ujar Tama sambil menapaki tangga dengan sedikit berlari.


"Gala kamu sudah tidur?" tanya Tama di depan pintu.


Tok tok tok.


"Gala! Kalau belum tidur tolong gendong Izzam barangkali sama kamu dia diam. Nak!"


"Pak?!"


"Sepertinya kita harus menundanya lagi Sarah," ujar Gala dan Sarah hanya mengangguk.


"Arrrgh! Ada-ada saja tuh Izzam. Kenapa tidak bisa ditunda apa nangisnya." Gala menjambak rambutnya kesal. Kepalanya terasa berdenyut sakit.


"Jangan begitu Pak, dia nggak punya ayah," ucap Sarah mengingatkan. Mata Sarah tampak berkaca-kaca mengingat kakak satu-satunya yang sangat perhatian padanya sudah tiada.


"Ah iya Sarah, maaf." Gala memasang bajunya kembali kemudian mengulurkan selimut di atas tubuh Sarah.


"Saya keluar dulu kita sambung kapan-kapan saja." Gala mengecup kening Sarah dan mengedipkan mata nakal.


"Sudah buruan sana, kasihan tuh papa udah manggil-manggil dari tadi."


"Iya, iya." Gala turun dari ranjang menuju ke meja rias. Setelah membersihkan tangan dengan tisu basah barulah melangkah ke arah pintu dan membukanya.


"Mungkin Izzam mau sama kamu, dari tadi nangis terus."


"Sini, sini!" Gala meraih ponakannya itu dari tangan Tama dan ternyata benar anak kecil itu diam dalam pangkuan Gala.


"Alhamdulillah akhirnya diam juga." Sekarang Mentari sudah bisa bernafas lega.


"Kamu ya memang sengaja ya mau ganggu tidur siang Om?" tanya Gala sambil mencubit pipi Izzam dengan gemas. Anak itu sekarang malah terlihat tertawa.


"Tuh kak, tuh kan tertawa, dasar." Gala menggelitik perut Izzam hingga anak itu tertawa lebih kencang.


"Kamu sudah tidur tadi ya Gala? Maaf papa terpaksa menganggu tidur kalian.


"Nggak apa-apa Pa demi Izzam."


Tama mengangguk.


"Sarah belum tidur Mas? Saya mau temani ya?" Mentari hendak masuk ke dalam, tetapi ditahan oleh Gala.


"Eh jangan! Jangan!" Gala langsung menarik tangan Mentari agar keluar kembali dan langsung menutup rapat kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa sih Mas?"


"Sarah baru saja tidur Ca. Dari tadi dia mengeluhkan sakit kepala yang sangat. Jadi jangan ganggu tidurnya!"


"Oh begitu ya?"


Gala mengangguk.


"Kalau begitu kita pergi dari sini saja biar tidak menganggu tidur Nak Sarah," saran Tama.


Mentari mengangguk dan mengikuti langkah Tama turun dari tangga menuju lantai bawah.


Gala mengintip ke dalam kamar sebelum akhirnya ikut turun ke bawah.


"Selamat aku, kalau tidak entah apa jadinya kalau Mentari melihat keadaan tubuh Sarah. Bisa Ngamuk Sarah padaku nanti." Gala menutupi kamar lagi dan ikut turun ke lantai bawah dengan masih menggendong Izzam.


"Seperti kau sengaja ya boy datang ke sini untuk mengacaukan acara senang-senang Om Gala," protes Gala pada Izzam dan masih disambut tawa oleh Izzam.


"Tuh kan ketawa lagi?"


"Ca sepertinya Izzam ingin sosok seorang ayah. Menikahlah setelah masa Iddah mu berakhir. Sepertinya Bintang tidak menikah sampai saat ini karena menunggu dirimu."


"Mas kenapa membahas itu lagi sih? Aku sudah memutuskan untuk mengurus Izzam sebagai singgle parent, Kalau Mas Gala keberatan aku tidak akan membawa Izzam ke sini."


"Ya ampun Ca, jangan salah paham lah. Kamu boleh kapan saja membawa Izzam ke rumah ini, toh ini juga rumahmu. Tinggal di sini terus juga nggak apa-apa. Saya tidak merasa terganggu kok dengan kedatangan kalian ke rumah ini justru saya merasa senang jika rumah ini ramai."


"Kecuali hari ini kalian benar-benar mengganggu," batin Gala.


"Ibu apa kabar?" tanya Gala berbasa-basi agar Mentari tidak marah dengan usulnya tadi.


"Baik Mas."


"Lain kali kalau ke sini ibu ajak saja biar tidak sendirian di rumah."


"Sudah tapi tidak mau. Ibu bilang lain kali saja. Mas karena Izzam sudah diam sekarang Cahaya tinggal dulu ya!"


"Memang kamu mau ke mana?"


"Ke makam Abi. Semalam dia datang dalam mimpiku. Jadi hari ini aku mau Ziarah."


"Sama siapa?"


"Aku nyewa sopir perempuan sebab tidak mungkin menyetir sendiri dalam keadaan Izzam menangis seperti tadi.


"Ya sudah sana pergi."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2