HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 61. Masih Waras


__ADS_3

Gala mengangguk. "Cepat laksanakan!"


Tanpa pikir panjang lagi Pak Shaleh lalu bergegas ke kamar Warni dengan si bibik yang berjalan di depannya. Seperti penunjuk jalan saja.


"Ini dia kamarnya Pak Shaleh." Si bibik menunjuk ke arah kamar Warni setelah sampai di depan pintu.


"Bibi mundur biar saya dobrak!" perintah Pak Shaleh.


Dalam hati Pak Shaleh berpikir apakah majikannya kambuh lagi sehingga harus mengunci kamar dari dalam seperti beberapa waktu lalu dimana majikannya itu tidak mau bertemu siapapun dengan cara mengurung diri di kamarnya sendiri.


Brak


Pintu kamar terbuka sudah. Pak Shaleh memang bisa diandalkan. Dalam sekali dobrakan pintu langsung berhasil dibuka. Selain pandai menyetir sepertinya dia juga bisa dijadikan bodyguard mengingat tubuhnya yang besar dan kekar.


Di dalam kamar terlihat penampakan Tama yang terbaring di lantai.


"Papa!" Gala segera berlari ke arah Papanya.


"Pa, apa yang papa lakukan di tempat ini?" Gala langsung memeriksa denyut nadi Tama. Dia bersyukur karena ternyata sang papa hanya pingsan saja. Kalau sampai terjadi sesuatu yang lebih dari ini Gala tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah teledor menjaga sang papa.


"Apa ini?" Gala meraih benda yang ada di tangan Tama dan memeriksanya.


"Kalung? Kalung siapa?" Gala menimang-nimang benda itu di tangan.


"Kok kecil sekali sih? Ah sudahlah, nanti saja kutanya papa. Pak Shaleh cepat angkat Papa dan bawa ke mobil. Kita harus segera membawa papa ke rumah sakit."


"Baik Den." Pak sopir langsung melakukan hal yang diperintahkan sedangkan Gala mengantongi kalung tersebut dan bergegas mengikuti pak sopir keluar kamar menuju pintu keluar rumah.


Si bibik yang melihat kunci tergantung di handle pintu kamar Warni segera mencabut dan berlari membukakan pintu rumah.


"Bibik tidak perlu ikut, jaga rumah saja!" perintah Gala.


"Baik Den."


Gala mengangguk dan langsung berlari mengejar Pak Shaleh yang sudah ada di samping mobil. Gala membukakan pintu, Pak Shaleh meletakkan tubuh Tama di sofa belakang mobil. Gala masuk dan duduk di samping sang Papa sedangkan pak Shaleh memutar badan dan langsung masuk di kursi kemudi dan siap menyetir.

__ADS_1


"Rumah sakit mana Den?" Pak Shaleh menanyakan tujuan rumah sakit yang akan dipilih Gala untuk menangani sang Papa.


"Rumah sakit mana lagi Pak? Memangnya kita tahu rumah sakit apa lagi yang ada di tempat ini selain rumah sakit tempat Pandu, adik Mentari dirawat?" Padahal Pak Shaleh bertanya baik-baik, tetapi jawaban Gala malah ngegas. Maklumlah pria itu memang selalu gusar saat terjadi sesuatu yang tidak baik terhadap sang ayah. Kekhawatiran Gala terlalu besar untuk Tama yang memang memiliki masalah dengan pikiran.


Pak sopir tidak menjawab hanya fokus menyetir. Dia tahu dalam keadaan seperti itu Gala memang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Lebih baik dia diam saja daripada kena semprot terus.


Sampai di parkiran rumah sakit pun Pak Shaleh tidak bicara, dia langsung menggotong tubuh majikannya ke ruang periksa.


Gala terlihat gelisah. Mondar-mandir di luar ruangan di mana sang papa diperiksa. Sesekali melihat kalung yang ada di dalam saku celananya.


"Ada apa gerangan hingga kau membuat papa jadi pingsan seperti ini?" Gala berbicara pada kalung yang ia pegang dan dia gerak-gerakkan di depan wajahnya sendiri.


Pak Shaleh mengernyit, bingung dengan keadaan Gala yang berbicara dengan sebuah kalung.


"Dia tidak apa-apa kan? Dia tidak ketularan Tuan Tama kan?" Pak Shaleh bergidik ngeri. Jangan sampai Gala juga depresi karena tidak kuat menjaga sang papa beberapa tahun ini. Kalau itu sampai terjadi berarti dia bekerja pada orang stres semua. Pak Shaleh memukul kepalanya sendiri karena kesal dengan arah pemikirannya itu, tetapi tetap saja perlu diwaspadai.


"Den Gala tidak apa-apa kan?" tanya Pak Shaleh memastikan.


"Memang Bapak pikir aku kenapa? Gila begitu?"


Namun, di sudut hatinya yang lain Pak Shaleh merasa bersyukur karena kalau masih bersikap seperti itu berarti Gala masih dalam keadaan waras.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan periksa terlihat dibuka. Segera Gala bangkit dan berjalan menemui dokter yang menangani Tama.


"Bagaimana keadaan papa saya dokter?"


"Pasien sedang syok, mungkin kaget dengan sesuatu sehingga pingsan. Saya sarankan jangan membuatnya kaget dengan apapun agar pasien tidak mudah pingsan."


"Tapi bagaimana dengan keadaan tubuhnya dokter?"


"Hanya ada masalah kecil karena tubuhnya terbentur lantai. Namun, sejauh yang saya periksa tidak begitu serius. Mungkin beberapa hari dirawat di rumah sakit pasien akan sembuh kembali dan bisa dibawa pulang."


"Baiklah dokter, apapun itu berikan penanganan terbaik untuk papa saya."


"Kami selalu melakukan yang terbaik. Jadi tanpa diminta pun kami akan tetap melakukan hal itu."

__ADS_1


"Baik Dok terima kasih."


"Sama-sama. Baiklah kalau begitu silahkan Anda menjenguk papa anda dan saya permisi dulu."


Gala mengangguk dan masuk ke dalam sedangkan dokter langsung pergi meninggalkan tempat.


"Pak Shaleh bisa kembali ke rumah Mentari, kasihan si Bibik sendirian. Ingat aktifkan terus ponselnya karena kalau ada sesuatu aku akan langsung menghubungi Bapak."


"Baik Den." Pak Shaleh memutar tubuhnya dan keluar dari kamar rawat Tama. Ia segera menyetir mobilnya kembali ke rumah Mentari.


Di ruang rawat Gala menunggui Tama seorang diri. Pikirannya tampak kacau balau melihat sang papa belum sadar juga. Dia tidak menyangka kedatangannya ke tempat ini telah membuat keadaan papanya semakin memburuk.


Beberapa saat kemudian Tama terlihat menggerak-gerakkan badan. Gala yang melihat Tama telah sadar bernafas lega.


"Mana kalung itu?" Baru saja sadar langsung menanyakan perihal kalung.


Gala meraih kembali kalung di saku celananya dan mengulurkan pada Tama.


Tama tampak tersenyum kemudian hendak bangun dari berdirinya.


"Jangan Pa! Jangan bangun dulu. Papa harus banyak beristirahat dulu," cegah Gala. Namun, sang papa tidak mau mendengarkan. Pria itu malah mencabut selang infus di tangannya.


"Pa!" Gala pusing melihat tingkah sang papa.


Tama tetapi saja cuek. Setelah selang terlepas dia berdiri dan langsung berjalan keluar ruangan.


"Papa!" seru Gala sambil mengejar Tama. Tetap saja pria itu tidak mendengarkan seruan dari Gala.


Akhirnya Gala memilih mengikuti langkah sang papa daripada banyak protes. Dia harus berjaga-jaga agar Tama tidak mengamuk kalau dirinya banyak bicara.


Tak disangka Tama berjalan menuju kamar Pandu.


"Apa yang akan papa lakukan di kamar rawat Pandu?" Gala bertanya-tanya dalam hati. Dia menyimpulkan mungkin saja dia rindu dengan Mentari mengingat papanya beberapa jam ini begitu menyayangi Mentari karena menganggapnya Cahaya.


Namun apa yang terjadi? Tama tidak mendekati Mentari melainkan Warni yang telah bertualang di alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2