
"Mama tidak mau?" tanya Tuan Winata. Mama Arumi tidak menjawab masih syok dengan sikap sang suami.
"Kalau tidak mau biar papa yang makan saja. Ini tolong ditaruh di piring." Tuan Winata menyodorkan bungkusan ke tangan istrinya.
Setelah mengatakan itu, Tuan Winata kembali masuk ke dalam rumah. Mengambil tas yang telah ditaruh oleh sopirnya di atas sofa ruang tamu kemudian menenteng ke atas menuju kamarnya sendiri.
Sampai di dalam setelah meletakkan tas, membuka dasi dan jas kerjanya, dia lalu bergegas menuju kamar mandi dan langsung membersihkan diri.
Setelah selesai dia turun kembali ke bawah dan langsung berjalan menuju meja makan. Arumi, sang istri sudah duduk menunggu di sana.
"Ini rujaknya Pa."
"Taruh saja dulu, kita makan yang berat-berat dulu. Papa lapar. Kalau rujak itu, biar nanti jadi camilan saja."
Mama Arumi mengangguk dalam hati berkata terserah suaminya saja mau makan apa. Tidak dimakan rujak itupun juga tidak apa-apa yang penting dia menurut untuk menghidangkan di atas piring sesuai permintaan.
"Ayo Ma, makan! Bintang tidak ikut makan?" tanyanya pada sang istri karena melihat Bintang tidak ikut berkumpul di ruang makan.
"Tidak Pa, dia sudah makan tadi," jelas Mama Arumi.
Tuan Winata mengangguk dan tidak bicara lagi. Dia sekarang fokus menyantap makanan karena memang sudah sangat lapar. Selesai makan dia beranjak ke ruang keluarga sambil menenteng piring yang berisi rujak buah tadi. Lumayan buat teman menonton berita di televisi.
Bintang yang sudah berada di sana terlebih dahulu berbisik kepada Mama Arumi. "Ma, benar Mama hamil?" tanya Bintang penasaran.
"Kok kamu malah bertanya seperti itu juga sih?" kesal Mama Arumi.
"Bukan begitu Ma, tapi papa kayak orang ngidam saja." Bintang melirik sang papa yang dengan santainya mengunyah mangga muda yang ada dalam campuran buah tersebut. Bintang sampai ikut ngilu membayangkan rasa asamnya buah tersebut.
"Nggak, cuma papamu aja yang aneh hari ini," terang Arumi. Dalam hati berkata mana mungkin dia hamil toh dua hari yang lalu dia masih mengalami yang namanya menstruasi.
"Ma, memang Mentari tinggal di sini ya?" bisik Bintang di telinga mamanya. Namun masih terdengar oleh Tuan Winata. Pria itu hanya melirik, tetapi bersikap cuek.
"Uhuk-uhuk."
Mama Arumi mengambil segelas air putih dan memberikan pada Tuan Winata. "Hati-hati Pa mengunyahnya jangan sampai keselek seperti itu."
"Tidak akan ada yang mau merebut rujak papa," lanjut Mama Arumi.
"Ya sudah Bintang kembali ke kamar saja." Bintang bangkit dari duduk dan berjalan menjauh dari kedua orang tuanya. Pria itu memilih menunggu Mentari di kamar saja.
Bintang membaringkan tubuhnya kembali ke atas ranjang sambil memikirkan Mentari.
"Ada di mana dia sekarang?" Bintang melirik jam di tangannya sudah hampir Maghrib, tetapi tak ada tanda-tanda kedatangan Mentari.
__ADS_1
"Apa papa tidak melarangnya pulang malam?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
Bintang meraih ponselnya di atas meja dan mencoba menelpon Mentari kembali.
"Ckk, kenapa masih belum aktif sih? Apa dia memang sengaja ganti nomor agar tidak bisa aku hubungi?"
Bintang bangkit dari berbaringnya. Mengintip ke luar dari lubang teralis besi di jendela kamarnya, barangkali Mentari sudah pulang sekarang.
Bintang mendesah, masih tak ada tanda-tanda kedatangan Mentari dari bawah sana.
Bintang mondar-mandir tak tentu arah di dalam kamar. Pikirannya resah. Bagaimana mungkin Mentari tidak pulang ke rumah ini sedangkan baju-bajunya ada di sini semua.
Bintang melangkah ke arah balkon kamar. Duduk di kursi sambil melamun sambil menunggu kepulangan Mentari.
Jam setengah tujuh Mentari belum datang juga. Bintang menelpon Bik Jum untuk membuatkan kopi panas dan mengantarkan camilan ke kamarnya. Kopi dan camilan ini ya menjadi temannya kini menunggu kedatangan Mentari.
"Mama dimana Bik? Masih sama Papa?"
"Iya Den mereka berdua sudah masuk kamar."
"Bik Jum, Mentari pernah ke sini?" Akhirnya memutuskan bertanya pada Bik Jum mengingat mamanya tidak akan bisa memberikan informasi tentang Mentari. Terbukti tadi saat Bintang bertanya, papanya malah terbatuk-batuk, itu tandanya Tuan Winata melarang Mama Arumi untuk menjawab pertanyaan dari Bintang.
"Beberapa hari yang lalu iya Den. Bahkan Nona Mentari sempat menginap dan besoknya
kembali dengan membawa baju-bajunya ke sini. Sepertinya perhiasan milik Nona Mentari juga dibawa ke sini."
"Saya tidak tahu Den, mungkin masih kerja. Saya dengar-dengar Non Mentari bekerja di toko kue begitu."
"Bibi tahu alamatnya?"
Bik Jum menggeleng, dia benar-benar tidak tahu karena belum sempat bertanya.
"Kapan terakhir dia berada di sini Bik?"
"Kemarin malam Den, dia pergi bersama Tuan Winata dan setelah itu Nona Mentari tidak kembali lagi. Hanya Tuan Winata yang pulang seorang diri."
"Bibi tahu kemana papa membawa Mentari?"
"Kalau bibi tahu, sudah ku beritahu Den Bintang dari tadi." Bik Jum berkata yang sejujurnya.
"Baiklah bibi boleh pergi."
"Iya Den, bibi pamit kalau begitu."
__ADS_1
Bintang hanya mengangguk.
Bik Jum pergi meninggalkan kamar Bintang.
"Kalau Mentari tidak pulang malam ini berarti papa menyembunyikan dia di tempat lain. Ya ampun papa, tega banget sih sama Bintang." Pria itu merenggangkan tangannya lalu berdiri dan mondar-mandir lagi di balkon kamar.
Lelah berdiri, Bintang duduk kembali sambil menyeruput kopi panas yang kini mulai dingin. Ia juga mengunyah camilan agar tidak mengantuk.
Jam sudah menunjukkan 9 malam. Namun, nihil tak ada Mentari di tempat ini. Tadinya Bintang tidak tidur karena takut saat Mentari pulang dan melihat dirinya wanita itu akan langsung kabur tanpa sepengetahuannya.
Nyatanya penantiannya sia-sia karena kenyataannya Mentari tidak pulang ke tempat ini.
Bintang kembali ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur setelah yakin Mentari tidak akan pulang. Dia sudah sangat lelah dan mengantuk dari tadi, tetapi tetap dibela-belain menunggu kedatangan Mentari yang tak kunjung datang.
Beberapa saat setelah memejamkan mata akhirnya Bintang sukses bertualang di alam mimpi.
***
"Mentari akhirnya kau pulang juga. Kau tahu aku sampai jamuran menunggumu," kelakar Bintang sambil merentangkan tangan agar Mentari masuk ke dalam pelukannya.
Mentari hanya tersenyum menanggapi perkataan Bintang.
"Aku kangen tahu, kamu tidak kangen apa sama aku?"
"Kangen lah Mas masa nggak sih," ucap Mentari sambil memberikan senyuman termanisnya.
"Kalau kangen sini peluk!" pinta Bintang.
Mentari pun mendekat dan Bintang hendak memeluknya. Namun, sebelum tangan Bintang sampai Mentari berjalan mundur.
"Me," protes Bintang karena Mentari menjauh, laki-laki itu terlihat tidak suka.
Mentari maju lagi dan merentangkan tangan sambil tersenyum.
Bintang pun ikut tersenyum dan bergerak maju untuk mengikis jarak diantara keduanya.
Namun, saat Bintang hendak memeluk Mentari.
Bukk!
Tiba-tiba saja Bintang merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Pria itu membuka mata. Ternyata dirinya sudah berada di bawah ranjang bersama bantal guling.
"****! Ternyata aku hanya bermimpi, pakai jatuh lagi," umpat Bintang sambil memukul guling yang berperan menjadi Mentari tadi dengan begitu kesal.
__ADS_1
"Dasar, ini semua gara-gara kamu." Bintang memarahi guling itu yang hanya bisa diam membisu dan pasrah.
Bersambung.