
"Kenapa diam?" tanya ustadz Alzam melihat Mentari malah berdiri tidak bergerak. Sepertinya wanita itu tidak kuat berjalan membawa rasa malu.
"Mendadak kepalaku pusing ustadz," ucap Mentari sambil memijit pelipisnya membuat ustadz Alzam menjadi khawatir dan langsung berjalan mendekati Mentari.
Ustadz Alzam menuntun Mentari dan mendudukkan wanita itu di pinggiran ranjang.
"Sini aku pijitin," ucap ustadz Alzam sambil meraih kepala Mentari. Susah memijit karena kepala istrinya tertutup hijab akhirnya ustadz Alzam membuka terlebih dahulu penutup kepala istrinya setelah itu baru memijit lagi.
"Pijitan ustadz Alzam enak juga ternyata," ucap Mentari menikmati gerakan demi gerakan ustadz Alzam di kepalanya. Sungguh dia merasakan kepalanya yang tadinya terasa berat sekali menjadi ringan.
"Iyakah padahal aku tidak pernah memijat siapapun loh. Kamu pasien pertama saya," ucap ustadz Alzam menggoda sang istri.
"Bohong masa' nggak pernah mijitin ibu?"
"Hmm, kayaknya nggak deh, ibu nggak suka dipijit paling kalau sudah tidak enak badan langsung dioleskan minyak angin," jelas ustadz Alzam.
"Oh." Mentari tidak berbicara lagi hanya fokus menikmati pijitan Mentari.
"Me, eh Cahaya ...." Ustadz Alzam bingung mau memanggil Mentari dengan nama yang mana.
"Kenapa ustadz?"
"Bingung aku mau manggil namamu yang mana."
"Panggil aja Cahaya Mentari sekalian," kelakar Mentari lalu terkekeh.
"Bagus juga, aku jadi merasa beruntung punya istri sepertimu. Dari nama saja sudah bagus. Cahaya Mentari bisa menerangi seluruh alam semesta semoga engkau bisa menerangi perjalanan hidupku juga."
"Ih ustadz bisa ngengombal juga ternyata. Yang ada Mentari yang butuh penerangan ini, ilmu Mentari sedikit banget."
"Cahaya Mentari!"
Mentari terkekeh ustadz benar-benar memanggil dengan sebutan tersebut.
__ADS_1
"Iya ustadz, apa yang ingin ustadz bicarakan?" tanya Mentari kala merasakan pijatan di kepala berhenti sejenak.
"Aku ingin agar kamu tidak memanggil ustadz lagi ya, aku kan sudah menjadi suamimu."
"Baik aku akan memanggilmu siapa kalau begitu. Mas juga kah seperti Mas Gala sama Mas Bintang?"
"Bukan, kamu panggil saja aku abi."
"Hah abi?" Mentari mendongak dan menatap wajah ustadz Alzam.
"Iya Abi, biar nanti kalau kita punya anak mereka bisa langsung menirukan kita. Kau panggil aku Abi dan aku panggil kamu ummi, bagaimana?"
"Hmm, bagus juga tapi ...." Mendadak Mentari menjadi gundah mengingat perihal anak.
"Tapi kenapa?" tanya ustadz Alzam kaget melihat perubahan di wajah Mentari.
Mentari hanya diam tidak menjawab perkataan ustadz Alzam.
"Ada apa hem? Kalau ada masalah sharing saja, aku kan sudah menjadi suamimu. Teman suka duka sepanjang waktu."
"Bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan abi anak?" tanya Mentari risau.
"Anak? Perjalanan kita masih jauh dan baru dimulai, kenapa terburu-buru?"
"Jawab saja Abi, apa yang akan abi lakukan kalau Mentari tidak bisa memberikan anak!"
"Hmm, apa ya mungkin abi cari istri lagi yang bisa memberikan keturunan buat abi." Ustadz Alzam terkekeh senang menggoda sang istri. Entah kenapa ketika melihat Mentari cemberut manja membuatku merasa gemas.
"Ah Abi sama saja ternyata dengan yang lainnya," ucap Mentari cemberut sambil berusaha melepaskan pelukan ustadz Alzam. Namun, pria itu semakin mengencangkan pelukannya di pinggang sang istri agar wanitanya itu tidak lepas.
"Aku hanya bercanda sayang, kita akan berjuang bersama-sama sambil berdo'a. Zaman sekarang banyak cara yang bisa ditempuh untuk melakukan program hamil, tapi kalau belum berhasil juga ya kita bisa apa hanya bisa tawakal terhadap-Nya. Eh tapi kenapa tiba-tiba kamu jadi ngomongin itu?"
"Aku hanya takut, aku tidak bisa menjadi wanita yang sempurna. Aku takut aku mandul sebab selama satu tahun menikah dengan Mas Bintang tidak sekalipun aku bisa hamil dan itu yang sering mama Arumi ungkit. Katanya mungkin saja aku tidak subur sebab Katrina saja sudah punya anak."
__ADS_1
"Manusia kan hanya bisa memprediksi dan Tuhan lah yang menentukan apalagi kamu belum pernah cek kesuburan, bukan?"
Mentari menggeleng.
"Yasudah apa yang kamu khawatirkan? Itu tandanya Tuhan tahu bahwa kalian belum siap mengurus anak. Gimana mau bahagiin anak kalau kalian sendiri saja sering berselisih. Lagipula waktu setahun itu bukanlah waktu yang lama. Terkadang ada sepasang suami istri yang bahkan dikaruniai anak disaat umur pernikahan mereka sudah mencari 10 tahun atau bahkan lebih."
Mentari manggut-manggut saja mendengar penjelasan ustadz Alzam. Dia bisa sedikit bernafas lega dan semoga apa yang disampaikan suaminya tentang dirinya itu memang benar adanya.
"Dan masalah menikah lagi masihkah dirimu meragukan kesetiaanku setelah apa yang tertulis di perjanjian pra nikah? Umi bisa pegang semua itu untuk meyakinkan bahwa aku akan tetap setia di sisimu sekalipun kita tidak akan bisa punya anak. Bukankah wanita yang sempura itu tidak harus memiliki anak? Kalau memang anak yang menjadi tolak ukur sempurnanya wanita, bagaimana dengan bunda Aisyah Humairah yang tidak bisa memberikan nabi kita putra atau putri?"
"Abi." Mentari hendak menangis mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan ustadz Alzam sedari tadi. Semua itu membuat Mentari terharu.
Namun, bukannya menangis Mentari malah tertawa merasakan ada yang kasar di lehernya saat ustadz Alzam menciumi lehernya.
"Geli Abi, astaga kumismu itu membuatku merinding." Mentari tertawa lagi membuat ustadz Alzam semakin
menggesek-gesekkan kumis tipisnya itu di leher sang istri. Entah kenapa pria itu terlalu iseng.
Niatnya ingin menggoda sang istri, tetapi dia malah terpancing sendiri. Ada sesuatu yang tidak nyaman yang dia rasakan saat ini.
"Kenapa ustadz?" tanya Mentari heran melihat gerakan ustadz Alzam berhenti seketika.
"Kayaknya ibadah yang untuk nanti malam kita majukan sekarang."
Sontak saja Mentari terbelalak mendengarkan permintaan sang suami.
"Maksudnya?" Mentari mendongak menatap sang suami. Dia tidak mau gagal paham lagi.
Tanpa banyak bicara lagi ustadz Alzam langsung menggendong tubuh Mentari ke atas ranjang membuat pipi Mentari merona kembali karena malu. Wanita itu sampai memejamkan mata saat ustadz Alzam menatap wajahnya di atas tubuhnya yang terbaring saat ini.
Roman-romannya ibadah shalat dhuhur tertunda oleh ibadah yang lainnya.🤣🤣🤣
Bersambung.
__ADS_1