HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 186. Bertemu Nanik Dan Mega


__ADS_3

Setelah puas rujakan mangga muda dan kedondong. Mentari membawa cobek dan piring ke wastafel untuk mencucinya. Pemilik rumah dan ibu yang satunya mengikuti Mentari yang melangkahkan kaki ke dapur lagi.


"Tidak usah Mbak, biar saya yang mencuci saja piringnya," cegah pemilik rumah.


"Iya Ibu ini benar. Mbak nya istirahat saja," ujar ibu yang lain.


"Tidak apa-apa Bu biar saya cuci sendiri. Saya yang makan kok malah orang lain yang direpotkan," ujar Mentari sambil tangannya terus bergerak membersihkan piring dan cobek tersebut.


Kedua ibu tersebut heran melihat perubahan Mentari yang mendadak seperti itu. Sedari tadi Mentari terlihat seperti kekanak-kanakan, tetapi sekarang malah terlihat dewasa.


"Maaf ya Bu sedari tadi saya merepotkan ibu-ibu di sini. Itu semata-mata kekhilafan saya, jangan sangkut pautkan dengan suami saya ya Bu. Suami saya selalu mengajarkan kebaikan, tapi sayanya saja yang khilaf."


Semakin heran saja kedua ibu itu melihat perubahan Mentari.


"Ummi kita pergi sekarang yuk!" ustadz Alzam berjalan ke arah sang istri dan menggandeng tangannya dan membawa keluar dari dapur.


"Bapak-bapak dan Ibu-ibu, kami pamit pergi ya sebab masih ada suatu tempat yang harus kami kunjungi," ujar ustadz Alzam.


"Iya ustadz, hati-hati di jalan."


"Terima kasih semuanya telah menerima kehadiran kami di sini dan maafkan atas segala kesalahan kami baik kesalahan yang tidak disengaja maupun disengaja, tapi insyaAllah semuanya tidak kami sengaja."


"Tidak usah dipikirkan ustadz kami mengerti keadaannya kok dan kami malah senang ustadz Alzam berkenan menyalurkan ilmunya untuk kami semua dan semoga menjadi barokah."


"Aamiin," sahut ustadz Alzam, Mentari dan semua orang yang hadir di rumah tersebut.


"Bapak-bapak, ibu-ibu saya benar-benar minta maaf ya atas kesalahan yang sudah saya lakukan hari ini terhadap kalian semua tanpa terkecuali. Kamu juga Dinda, maafkan aku ya, yang telah bersikap tidak baik padamu hanya karena aku kesal saja terhadap dirimu tadi."


"Iya Mbak tidak apa-apa. Maafkan aku juga ya yang telah lancang terhadap Mbak."


"Iya tidak apa-apa. Oh ya lain kali semua kalau ada waktu bisa berkunjung atau tidak sengaja lewat di dekat rumah saya ataupun rumah orang tua saya mampir ya semuanya. InsyaAllah saya akan menyambut kalian dengan baik seperti kalian menerima kami dengan baik pula hari ini," ujar Mentari.


"Menyambung tali silaturahmi itu bagus, kan? Yang saya tahu menyambung silaturahmi itu bisa memanjangkan umur," lanjutnya.


Semua orang mengangguk.


"Ini Din kartu nama saya. Di situ ada alamat rumah kami maupun alamat orang tuaku. Mungkin ada yang berkenan untuk bertandang atau ingin menanyakan sesuatu pada suami saya bisa bertamu ke rumah."

__ADS_1


"Iya Mbak semoga nanti kita ada kesempatan untuk bertemu kembali," ujar Dinda dan Mentari hanya mengangguk sambil tersenyum ramah.


Orang-orang terlihat bengong.


Ustadz Alzam dapat melihat dari raut wajah semua orang mereka kebingungan dengan sikap Mentari saat ini.


"Kalian pasti bingung dengan perubahan istri saya ya?" tanya ustadz Alzam dengan senyuman di bibirnya.


Semua orang mengangguk.


"Ya, sebenarnya aslinya istri saya seperti ini yang dari tadi bukan kepribadian istri saya. Makanya tadi saya juga bingung dan berpikiran aneh." Semua orang mengangguk mendengarkan penjelasan ustadz Alzam.


"Ya sudah ya, kali ini kami benar-benar pamit. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang serempak.


Mereka semua mengantarkan ustadz Alzam dan Mentari sampai ke samping mobil mereka.


"Hati-hati Ustadz."


Setelah mengucapkan salam untuk yang ke-dua kali dan melambaikan tangan, ustadz Alzam segera mengemudikan mobilnya menuju toko Sarah.


"Meme!" seru Nanik begitu antusias melihat kedatangan Mentari. Wanita itu langsung berlari keluar dari toko dan memeluk Mentari.


"Mentang-mentang sudah jadi suami-istri jadi jarang ke sini," protes Nanik.


"Bukan begitu Mbak Nanik, tapi Abi sering keluar jadi saya jadi malas untuk keluar rumah sendirian," sahut Mentari.


"Sejak kapan begitu? Dulu-dulu saat masih sama Bintang pergi sendiri aja, ups sorry," ujar Nanik baru sadar ada ustadz Alzam yang yang mendengar pembicaraannya.


"Santai saja Mbak Nanik," ucap ustadz Alzam. "Dan aku yang melarang Ummi untuk pergi sendirian. Biasanya aku akan meminta Sarah untuk mengantarnya kemana yang dia inginkan, tapi sepertinya Sarah sedang sibuk akhir-akhir ini. Bukan apa-apa sih cuma takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya. Apalagi sekarang dia sedang hamil muda," jelas ustadz Alzam panjang lebar.


"Menteri hamil? Aaaaa!" Nanik turut bahagia.


"Semoga jadi anak yang sholeh atau sholehah ya," ujar Nanik sambil mengusap perut Mentari dari luar baju gamisnya.


"Aamiin," jawab Mentari dan ustadz Alzam bersamaan.

__ADS_1


"Siapa yang hamil?" Setelah meletakkannya kue yang terbungkus oleh mika ke dalam etalase, Mega pun berlari keluar toko juga.


"Aaaa Mentari, aku kangen!" teriaknya sambil berlari ke arah Mentari lalu mendekap tubuh Mentari.


"Jangan terlalu nempel Mega, Mentari sedang hamil awas perutnya ketekan!" Nanik memperingatkan.


"Aku tahu kok Mbak Nanik bahwa dia sedang hamil sekarang."


"Kalau tahu kenapa cara berpelukan mu macam Teletubbies saja," protes Nanik lagi.


Mega hanya menelan ludah mendengar perkataan Nanik itu. Mega pun melepaskan pelukannya dari Mentari.


"Peluk ustadz Alzam juga boleh?" tanya Mega pada Mentari sambil mengedipkan matanya.


"Kalau dianya mau ya silahkan." Mentari terkekeh.


"Mau ya ustadz? Aku kangen juga loh sama ustadz karena sudah lama tidak ke sini lagi." Mega masih bermain mata seperti tadi pada Mentari.


Sontak saja Mega langsung mendapatkan senggolan dari Nanik. "Kalau kamu kebelet kawin nanti deh aku carikan kambing jantan nyasar," ujar Nanik lalu terkekeh.


"Sungguh teganya dirimu, dirimu, dirimu padaku ... Mbak Nanik." Mega malah bernyanyi.


"Gila nih orang," ujar Nanik.


"Boleh nggak ustadz Alzam?" Masih menggoda ustadz Alzam.


"Maaf tidak boleh, bukan muhrim," ujar ustadz Alzam agar Mega berhenti dengan kegilaannya itu.


"Wah selamat Me, ternyata kali ini kamu berhasil mendapatkan suami yang setia. Masa dirayu wanita yang memiliki wajah glowing sepertiku malah menolak padahal di luaran sana tidak ada loh pria yang menolak pesona Mega ini."


Mentari tertawa kencang mendengar pernyataan Mega. Mana mungkin seorang suami mau dirayu wanita lain saat bersama istrinya apalagi kepercayaan diri Mega yang tiada tara itu membuat Mentari tidak mau berhenti tertawa.


"Pret! Nasi goreng pakai tomat, Muka glowing sayang nggak ada yang minat. Kucing aja minggat," ujar Nanik sedikit berpantun ria.


Mentari semakin tidak bisa menghentikan tawanya.


"Ummi!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2