
Dua hari kemudian.
"Selamat pagi Pak Kiki! Selamat datang kembali" sapa Sarah saat Kiki masuk ke ruangannya. Gadis itu tersenyum manis.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Kiki heran sebab Sarah sudah berada di ruangannya pagi-pagi sekali.
"Dari ruangan Pak Gala tadi."
"Oh." Kiki mengangguk dan membalas senyuman Sarah.
"Ke ruanganku mau apa? Sorry saya lupa membawa oleh-oleh yang saya beli untukmu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak masalah saya tidak menginginkan oleh-oleh dari Pak Kiki. Sarah ke sini hanya ingin menyampaikan bahwa Pak Kiki dipanggil ke ruangan Pak Gala sekarang juga," jelas Sarah.
"Dia sudah sampai?" tanya Kiki heran. "Kamu tahu tidak siapa klien dari luar negeri yang katanya ingin bertemu dengan kami. Tadi saya menelpon Mr. Samuel katanya tidak ada acara bertemu Pak Gala hari ini."
"Kalau masalah itu Sarah tidak tahu, Pak Kiki bisa tanya langsung sama Pak Gala. Tuh ditunggu di ruangannya. Permisi!" Sarah langsung melenggang pergi, keluar dari ruangan tersebut.
Kiki meletakkan tas di meja kerjanya lalu berjalan menuju ruangan Gala.
"Selamat pagi Pak Gala! Tumben pagi-pagi sudah sampai di kantor. Ada apa memanggil saya?"
"Bersiap-siaplah!" perintah Gala.
"Kalau secara penampilan Pak Gala bisa lihat sendiri saya sudah keren seperti ini. Jadi, sudah bisa dipastikan saya sudah siap bertemu siapapun. Kalau masalah berkas-berkas atau data, katakan apa saja yang harus saya bawa untuk menemui klien kita yang dari luar negeri itu?"
"Dua-duanya tidak perlu kamu persiapkan," ujar Gala membuat Kiki mengernyit heran.
"Terus maksud Pak Gala tadi yang menyuruh bersiap-siap itu maksudnya apa? Apa klien kita itu hanya ingin temu kangen saja dengan kita?" Kiki masih belum bisa memahami perkataan Gala.
"Siapkan mentalmu sebab sebentar lagi kita akan menjalani hukuman dari Sarah," jelas Gala.
Sontak Kiki langsung menganga mendengar ucapan Gala.
"Kita? Pak Gala tidak salah bicara, bukan?"
__ADS_1
"Tidak saya bicara serius mana mungkin salah kata." Gala berkata dengan suara yang tegas dan lugas.
"Loh itu kan hukuman untuk pak Gala, apa hubungannya dengan saya? Apa Pak Gala ingin saya memberikan semangat saat menjalani hukuman dari Sarah itu?"
"Ya kamu benar, dengan kamu ikut menjalani hukuman tersebut aku bisa punya semangat."
"Jadi Pak Gala serius dengan, ucapan Pak Gala waktu itu?" Kiki terlihat menelaah ludah.
"Sudah berapa kali aku bilang padamu Ki, aku itu serius. Lagipula pula kamu kan yang punya usul untuk mengetes Sarah dengan cara seperti itu. Sekarang karena dia menang ya kamu sebagai pemberi ide padaku harus ikut tanggung jawab." Kiki terlihat menelan ludah untuk kedua kalinya.
"Hei kau belum sarapan ya, dari tadi hanya menelan ludah saja. Nih air, minum!" Gala menyodorkan gelas berisi air putih di atas meja ke depan Kiki dan Kiki yang kebingungan malah langsung meraih gelas tersebut dan meneguk airnya hingga tandas.
"Pak Gala saja ya, yang menjalani hukuman sendirian biar tidak terlalu rame. Nanti kasih saja semua tugas Pak Gala padaku. Saya janji akan menyelesaikan semua tugas itu hari ini juga," rayu Kiki.
"Tidak perlu aku akan melakukan tugasku sendiri dan kamu pun juga. Tidak perlu ada tambahan tugas, cukup ikut menjalani hukuman saja."
"Tapi Pak sekarang kaki dan betis saya pegal-pegal karena dua hari ini setelah bertemu klien di luar kota itu saya langsung turun ke lapangan untuk mengawasi proyek kita. Banyak berjalan kaki membuat tubuhku pegal-pegal."
"Alah alasan, kemarin saja katanya anak buahku kamu hanya bersantai saja di sana. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan? Pasti kamu sengaja tidak pulang sebab ingin menghindar dari hukuman Sarah."
"Ah, Pak Gala. Nggak perhatian sekali sih sama karyawannya. Kasih uang bonus kek buat karyawan yang sudah mau menggantikan tugas Pak Gala ke luar kota biar ada ganti untuk bayar panti pijat nanti," ujar Kiki merajuk sambil membungkuk dan memijit kakinya sendiri.
"Jahat banget," keluh Kiki.
"Sudah, ayo nggak usah banyak alasan. Kalau kamu tidak mau nanti aku akan meminta orang lain yang menemani untuk menjalani hukuman, tapi jabatan kamu akan aku tukar dengan jabatan dia," ancam Gala.
Kiki hanya menggeleng mendengar ancaman dari sang bos.
"Mas Mau nggak aku angkat menjadi asisten dengan syarat mau ikut denganku menjalankan hukuman."
"Hukuman apa Pak?" tanya seorang pria yang menjadi OB di perusahaan itu. Pria itu segera menghentikan aktivitasnya membersihkan benda-benda yang ada di dalam ruangan Gala.
"Kalau dihukum di kantor polisi saya tidak mau Pak, apa gunanya jabatan kalau saya sendiri malah mendekam di dalam penjara. Bukannya untung, tapi malah buntung."
"Hanya berkeliling kantor dengan satu kaki sambil memegang kedua telinga sendiri," jelas Gala.
__ADS_1
Pria itu tampak berpikir.
"Bagaimana mau nggak? Kalau kamu mau, kamu akan aku angkat menjadi asisten dan Pak Kiki ini yang akan menggantikanmu bersih-bersih disini."
Pria itu memandang ke arah wajah Kiki sebelum akhirnya memutuskan. Hampir saja pria itu mengangguk. Namun, Kiki segera mencegahnya.
"Baik Pak Gala, saya akan menjalani hukuman bersama Pak Gala. Ayo Pak cepat kita keluar sekarang sebelum para karyawan lain pada berdatangan biar kita tidak malu," usul Kiki.
"Ide bagus."
Gala langsung keluar dari ruangannya menuju ruang kerja Sarah untuk memberitahukan dirinya sudah siap menjalani hukuman.
"Perjanjiannya kan Bapak keliling kantor setelah ada karyawan," tolak Sarah karena Gala ingin melakukan hukuman sekarang juga dan masih banyak karyawan yang belum datang.
"Emang perjanjiannya seperti itu?" Gala pura-pura tidak ingat.
"Iyalah," jawab Sarah singkat.
"Mana buktinya? Yang saya ingat hukuman darimu cuma keliling kantor dengan memegang kedua telinga."
"Bapak ingin bukti? Nih lihat sendiri!" Sarah mengusap layar ponselnya dan menunjukkan video yang ada di dalam galerinya kepada Gala.
"Apa ini?"
"Bapak lihat saja sendiri. Itu video ketika saya mengajukan hukuman untuk Pak Gala dan Pak Gala sendiri menyetujuinya."
Gala dengan cepat langsung memeriksa video yang ada di dalam ponsel Sarah dan pria itu tampak kaget melihat di dalam video itu ada Sarah yang mengucapkan bahwa Pak gala harus siap menerima hukuman jika dirinya kalah dan hukumannya adalah keliling lapangan dengan mengangkat satu kaki juga memegang kedua telinga sendiri.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan video ini?" tanya Gala heran. Dalam hati dia geram karena bagian yang bertanggung jawab terhadap cctv kantor telah dengan mudah memberikan rekaman yang ada di kantornya kepada orang lain tanpa meminta izin kepadanya terlebih dahulu.
"Masa Bapak tidak mengerti bagaimana caranya saya mendapatkan ini?"
"Ki panggil karyawan bagian cctv untuk mempertanggung jawabkan kelancangan mereka telah memberikan rekaman CCTV sembarangan!"
"Tidak perlu Pak itu akan memperlambat waktu dan karyawan akan segera datang. Bapak mau ditertawakan oleh semua karyawan?" protes Kiki padahal dia juga tidak ingin Gala tahu bahwa yang memberikan rekaman itu kepada Sarah adalah dirinya sendiri dengan niat ingin membantu Sarah apabila nanti Gala mengelak dengan perjanjiannya sendiri. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya pun akan ikut dihukum jika Sarah yang menang.
__ADS_1
"Ayo Pak sudah bisa mulai hukumannya," ujar Sarah ketika melihat para karyawan di kantor tersebut sudah banyak berdatangan.
Bersambung.