
"Nggak ada Kak, aku cuma menikmati tendangan yang diberikan oleh keponakan tercinta ini," kilah Sarah sambil tersenyum yang dipaksakan.
Mentari mengangguk. "Kamu beristirahatlah dulu!"
Sarah ikut berbaring dan menyandarkan diri pada sandaran ranjang sambil sesekali menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Mentari sedangkan para pria masih terdengar mengobral di lantai bawah kecuali Gala yang masih betah berada di kamarnya.
Malam semakin larut, tetapi para penghuni rumah masih betah mengobrol saja.
"Ummi saya ikut Paman Tama untuk mencari Bintang ya." Tiba-tiba ustadz Alzam masuk kamar dan berjalan mendekat ke arah dua perempuan kesayangannya.
"Belum pulang dia?"
"Belum Ummi, kasihan dari tadi Paman ditelepon terus sama bibi Arumi dan ditanyain tentang Bintang."
"Silahkan Abi."
Ustad Alzam mengangguk.
"Kamu nginap di sini saja ya Sarah, jangan pulang malam-malam!"
"Nggak Kak aku mau pulang saja, kasihan ibu di rumah sendirian terus."
"Ya sudah kalau begitu aku minta Mas Gala yang nganterin kamu saja."
"Eh jangan-jangan Kak! Bukan muhrim, apalagi malam-malam begini. Aku mau diantar Kak Alzam saja," kilah Sarah.
"Tapi Kak Alzam diajak paman Winata tuh untuk mencari Bintang. Nanti biar Kak Meme ikut juga. Tidak mungkin kakak hanya membiarkanmu berdua saja dengan lelaki yang bukan muhrim meski dengan kakak iparku sekalipun."
"Nggak apa-apa Kak, Sarah ikut kakak saja dan setelah Bintang ketemu Kak Alzam anterin Sarah," ucap perempuan itu manja.
"Lagian ini sudah waktunya Kak Mentari tidur, kasihan keponakanku kalau diajak lembur," tambahnya.
"Baiklah, ayo!"
Sarah mengangguk sambil tersenyum lalu menoleh ke arah Mentari.
"Kak Meme Sarah pergi ya, pinjam suaminya dulu." Sarah terkekeh.
"Iya kembalikan yang utuh ya! Awas jangan sampai ada yang berkurang termasuk cintanya padaku." Mentari pun tertawa.
"Kalian apa-apaan sih." Ustadz Alzam hanya bisa menggeleng mendengar kalimat dari adik dan istrinya.
Keduanya pun pergi meninggalkan Mentari seorang diri yang sekarang sudah mulai menguap.
Ustadz Alzam menggandeng tangan Sarah. Saat melintasi kamar Gala, kebetulan Gala sedang keluar dari kamar.
"Mau kemana Dek Alzam?" Pertanyaan dilayangkan pada ustadz Alzam, tapi mata malah memandangi Sarah.
Melihat Gala menatap dirinya, Sarah langsung memalingkan wajahnya. Entah kenapa wanita itu enggan menatap Gala setelah mendengar cerita Diandra pada temannya sore tadi. Wajah Gala terlihat menjijikkan dimata Sarah.
"Mau mencari Bintang. Sudah ya Mas, papa sama Paman sudah menunggu di bawah."
Gala mengangguk dan ustadz Alzam serta Sarah berlalu pergi.
__ADS_1
"Apakah Sarah benar-benar menyukai Bintang hingga harus ikut mencari?" Gala mengacak rambutnya sendiri sebelum memutuskan untuk mengikuti semua orang untuk mencari Bintang.
"Kita akan mencari dimana dulu ini?" tanya Tama pada Tuan Winata dan ustadz Alzam.
"Saya juga tidak tahu, apa mungkin dia ada bersama Katrina?" Tuan Winata mencurigai Bintang masih berhubungan dengan wanita itu.
"Sebaiknya cek ke sana dulu. Mereka belum bercerai, kah Paman?" tanya ustadz Alzam.
Tuan Winata menggeleng. "Kalau mengingat saat itu Bintang melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang perselingkuhan Katrina dengan Arka saya kira Bintang sudah menjatuhkan talak, tapi nggak tahu juga ya, anak paman itu kan aneh. Beberapa hari setelah kejadian itu paman tanyakan tentang hubungannya dengan Katrina dia tidak mau terbuka sama sekali," terang Tuan Winata.
"Ya sebaiknya kita cek saja ke tempat Katrina dulu."
"Baik Paman, katakan alamatnya dimana!"
"Nak Alzam tinggal ikuti arah yang saya tunjukkan nanti!"
"Baik Paman."
Ustadz Alzam yang bertindak sebagai sopir pun menyetir mengikuti arahan dari Tuan Winata.
Beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai juga ke apartemen Katrina. Tuan Winata turun seorang diri sedangkan yang lain memilih menunggu di dalam mobil.
"Bagaimana Dik?" tanya Tama saat melihat Tuan Winata kembali ke sisi mobil dengan setengah berlari.
"Tidak ada, Katrina hanya bersama selingkuhannya itu dan kata mereka tadi Bintang memang sempat datang dan marah-marah."
"Mereka tidak tahu kemana Bintang?"
"Biasanya Bintang kalau marah kemana?"
Tuan Winata tampak berpikir sejenak.
"Oh ya, apa mungkin dia mabuk-mabukan?"
"Bisa jadi."
"Oke kalau begitu kita ke diskotik terdekat saja dari sini Nak Alzam!" perintah Tuan Winata sambil masuk ke dalam mobil.
"Baik Paman."
"Menyusahkan sekali si Bintang itu," gerutu Gala di dalam mobil lain yang jaraknya sengaja tidak terlalu dia dekatkan dengan mobil yang dikendarai oleh adik iparnya.
Mobil yang dikendarai ustadz Alzam pun melaju kembali di jalanan. Segera Gala menyusul agar tidak kehilangan jejak.
Sampai di depan sebuah diskotik, mobil berhenti. Tama dan Tuan Winata keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu masuk.
"Nak Alzam ikut!" ajak Tama sambil menoleh ke arah ustadz Alzam. Ustadz Alzam pun terpaksa ikut masuk ke dalam dan tentu saja sang adik memilih menjadi buntut daripada ditinggal di mobil.
"Tidak usah ikut Sarah ini tempat tidak baik buat kamu, kau di situ saja!" larang ustadz Alzam.
"Aku nggak berani ditinggal sendirian Kak, takut," rengek Sarah membuat Gala yang melihat dari balik kaca mobilnya menggeleng sambil tersenyum.
"Rupanya manja juga tuh anak."
__ADS_1
"Sejak kapan kamu menjadi penakut seperti itu?" protes ustadz Alzam melihat adiknya yang pemberani tiba-tiba menjadi penakut.
"Sejak hari ini," jawab Sarah enteng dan tetap menyusul langkah sang kakak.
Lumayan bisa tahu juga kayak apa yang namanya diskotik, selama ini kan saya hanya bisa melihat dari televisi, ponsel atau mendengar cerita dari temanku saja.
Rupanya bukan karena takut ditinggal sendirian. Namun, lebih kepada penasaran saja.
Baru saja memasukinya ruangan, menyeruak bau alkohol yang seakan ingin mengurus isi perut Sarah yang tidak terbiasa dengan bau-bau semacam ini. Musik DJ yang memekakkan telinga langsung menyambut kedatangan Sarah.
"Oh my God, inikah yang kata teman-teman seru?" Sarah menggeleng tidak percaya.
Sarah tertegun dan ragu untuk melakukan langkah sebelum memutuskan untuk berjalan masuk hingga langkahnya tertinggal jauh dari sang kakak.
Gadis itu memilih berjalan sambil menutupi telinga.
"Hai Nona, selamat datang di tempat bersenang-senang. Penampilan Nona sangat berbeda dengan penampilan cewek-cewek yang lainnnya. Jadi penasaran bagaimana rasanya sensasi bercinta dengan Nona yang cantik jelita ini." Seorang pria mabuk hendak menyentuh pipi Sarah.
Namun, sebelum tangannya berhasil menyentuh, ada tangan Gala yang lebih dulu menangkap dan memelintir.
"Arggh!"
"Pergi kau, dasar pemabuk!" bentak Gala.
Pria itupun pergi dengan tubuh oleng dan tertawa sambil mengoceh tidak jelas.
Gala menepuk tangan dan Sarah langsung menoleh.
"Ngapain ngikutin aku?"
"Aku ngikutin kamu?"
"Iyalah memang siapa lagi? Dasar pria penguntit!"
"Ih enak saja, saya ke sini tuh juga mau ikut nyariin Bintang. Masa iya sih Ustadz Alzam yang cuma ipar sepupu ikut membantu apalagi aku yang sepupunya?"
"Bagus deh kalau Pak Gala sadar," ucap Sarah tanpa mau melihat wajah dari atasannya itu.
"Hei Sarah harusnya kamu berterima kasih telah diselamatkan dari pria mabuk yang menyeramkan tadi," protes Gala.
"Kenapa harus berterima kasih? Pak Gala sudah menggagalkan rencana saya untuk memberikan pelajaran pada manusia seperti tadi. Tanganku sudah gatal ingin memelintir tangan orang." Sarah sama sekali tidak ingin mengucapkan terima kasih.
"Lagipula kalau menurut saya Pak Gala lebih menyeramkan dibandingkan orang tadi."
"Apa?"
"Ya Pak Gala tuh jauh lebih mabuk dari orang tadi."
"Maksudmu?"
"Akh, sudahlah aku mau mencari kakak saya. Jangan jadi penguntit lagi!"
Bersambung.
__ADS_1