
"Coba mana Mbak Nanik kue yang itu!" Sarah meminta kue yang dipegang oleh Nanik dan memotong-motongnya.
"Nih coba lihat! kayak gini nih caranya motong kue," ujar Sarah sambil tersenyum kecil.
Setelah itu membagikan kepada semua orang yang ada di sana sedangkan Gala belum berhasil juga memotong kue tersebut.
"Ya kamu mah enak itu dingin, pegangannya aja sudah enak, brownies yang ada di tanganku panas tahu Sarah," protes Gala dan masih berusaha memotong.
Beberapa saat kemudian berhasil juga memotong satu potongan kecil kue.
"Nih udah bisa." Gala menyodorkan potongan kecil itu ke mulut Sarah dan wanita itu langsung mengunyah kue yang disuapi oleh Gala.
"Aw panas!" Sarah mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut.
"Sorry saya lupa niup," ujar Gala sambil menyodorkan tisu di depan mulut Sarah agar wanita itu mengeluarkan saja dan tidak jadi mengunyah.
Namun, Sarah tidak mungkin mengeluarkan kue tersebut karena takut orang-orang yang ada di sekitarnya jijik. Dia meraih tisu dari tangan Gala lalu beranjak ke belakang dengan langkah cepat.
"Kena tula dia," ujar Mega lalu terkekeh.
"Huss!" Nanik protes dan mendelik ke arah Mega.
"Maaf Mbak Nanik keceplosan," ujar Mega dengan rasa bersalahnya karena telah berpikir macam-macam terhadap sang bos.
Gala menyusul Sarah. "Kamu nggak apa-apa Sarah?" tanyanya sambil memegang pundak istrinya.
"Nggak apa-apa Pak," sahut Sarah lalu berbalik.
"Kita pulang aja ya Pak?"
"Loh katanya mau makan kue? Belum ada yang masuk juga ke perutmu."
"Kita bungkus saja."
"Baiklah terserah dirimu saja," ucap Gala pasrah.
Sarah pun melangkah ke arah Nanik dan Mega lalu memerintahkan beberapa kue untuk dibungkus.
"Banyak banget Sarah," ujar Gala saat Nanik dan Mega mengulurkan beberapa plastik berisi kue-kue.
"Buat lamaran," ujar Sarah sekenanya.
"Siapa yang mau lamaran?" tanya Gala bingung.
"Kalau nggak ada yang mau dilamar mending Pak Gala lamar aku deh. Aku rela jadi yang kedua," ujar Mega cengengesan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sarah plus toyoran di kepala dari Nanik.
"Berani? Silahkan, tapi siap-siap aku bakar!"
Senyum di bibir Mega mendadak hilang.
"Serem amat Bu Sarah, saya bercanda juga," keluh Mega.
"Nah aku kan cuma mau bakar hatimu," ujar Sarah lalu terkekeh.
Mega langsung menghela nafas.
"Sudah-sudah ayo pergi." Gala menggenggam tangan Sarah keluar dari toko.
"Kami pamit dulu ya Mega, Mbak Nanik."
"Iya Bu."
Akhirnya Sarah dan Gala pun masuk mobil.
"Kemana sekarang Den?"
"Langsung pulang Pak."
"Baik."
Sopir pun melajukan mobilnya menuju kediaman sang majikan.
"Serius buat apa sih kue-kue itu?" tanya Gala sambil menunjuk satu persatu kue yang diletakkan di kursi belakang.
__ADS_1
"Satu buat Papa Tama, satu buat pak sopir dan satu buat bibi."
"Oh terus yang dua mika itu buat kita?"
"Satu buat ibu sama Kak Mentari dan yang satu lagi untuk kita berdua."
"Okelah kalau begitu kita mampir sebentar ke rumah ibu."
Sarah mengangguk.
"Pak ...."
"Siap Den."
"Oke, senang deh kalau punya sopir tanggap seperti Bapak."
"Terima kasih pujiannya Den."
"Sama-sama Pak."
Beberapa saat melaju di jalanan akhirnya mereka sampai juga di kediaman ibu Sarah.
"Aku tunggu di mobil ya Sarah, kalau ibu sama Mentari bertanya mau mampir apa nggak bilang aja lain kali sebab sekarang sudah hampir malam."
"Oke siap Pak," ujar Sarah lalu keluar dari mobil sambil membawa satu mika kue berukuran besar dan memberikannya pada sang ibu.
Setelah menyerahkan kue tersebut Sarah langsung kembali ke dalam mobil.
"Apa kata ibu?"
"Beliau tidak berkata-kata apa kecuali hanya ucapan terima kasih," sahut Sarah lalu menyandarkan tubuhnya pada bahu Gala.
"Wah beliau nggak ngajak mantunya ini mampir sebentar?"
"Nggaklah orang mantunya nggak kelihatan."
"Hantu dong! Ya, ya." Gala tampak mengangguk-angguk.
Mereka bertiga sampai di rumah saat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Yang satu itu untuk si bibi ya Pak."
"Siap Non."
Sarah mengangguk dan mengeluarkan dua kue lagi.
"Tolong berikan ini pada papa Tama dan yang ini biar saya yang bawa ke kamar." Sarah meninggalkan Gala saat melihat anggukan dari pria itu.
Sarah melangkah menuju kamarnya sendiri sedangkan Gala terlebih dahulu mengantar kue ke kamar Tama.
"Bagaimana keadaan Nak Sarah?" Dia sakit apa?" Tama bertanya dengan nada suara yang khawatir. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Sarah yang akhirnya bisa saja Gala bernasib sama dengan sang adik. Ditinggalkan pasangan tercinta.
"Tidak ada masalah yang serius Pa pada kesehatannya. Dia hanya anemia saja."
"Oh, syukurlah kalau begitu." Akhirnya Tama bisa bernafas lega setelah dari siang memikirkan kondisi menantunya.
"Gala juga punya kabar baik." Gala terlihat sumringah.
"Kabar baik apa? Proyek kamu tembus ...."
"Bukan tentang perusahaan Pa, tapi tentang Sarah."
"Kenapa dengan Sarah?"
"Dia hamil Pa. Papa akan punya cucu kedua." Gala begitu antusias.
"Wah papa senang mendengarnya, akhirnya kau akan jadi ayah juga. Selamat ya Gala."
"Terima kasih ya Pa."
Tama mengangguk.
"Tapi kamu sebagai seorang suami harus sabar dan sigap Gala. Perempuan yang hamil itu terkadang meminta yang aneh-aneh. Semoga saja kamu bisa menghadapi dan mewujudkan ngidam dari istrimu."
__ADS_1
"Insyaallah Pa."
"Sudah kembalilah ke sisi istrimu siapa tahu dia sedang membutuhkan dirimu saat ini. Oh ya itu kue untuk siapa?" Tama menatap kue yang berada di tangan Gala.
"Oh ya sampai lupa. Ini dari Sarah untuk papa. Tadi setelah dari rumah sakit kami mampir dulu ke tokonya." Gala mengulurkan kue di tangannya kepada Tama.
"Sampaikan terima kasihku pada Nak Sarah."
Gala mengangguk dan bangkit dari duduknya. "Gala pergi dulu ya Pa."
"Iya."
Gala pun melangkah ke kamarnya sendiri dan melihat Sarah sedang melahap kuenya di atas ranjang.
"Enak?" tanya Gala berbasa-basi.
"Enak sekali Pak, sini makan bareng!"
"Nanti dulu aku gerah. Aku mau mandi dulu."
Sarah mengangguk dan Gala langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Namun, setelah keluar dari kamar mandi Gala kaget, satu kue brownies berukuran besar itu sudah tandas semua.
"Sarah!" protes Gala sedangkan Sarah tampak cengengesan lalu membuang bungkusannya pada tempat sampah kemudian meminum obat yang diberikan oleh dokter.
"Kau seperti kanak-kanak saja," gumam Gala melihat tingkah yang tidak biasa dari Sarah.
Beberapa jam berlalu tibalah saatnya pada waktu makan malam.
Sarah tampak mual di meja makan.
"Mau muntah lagi?" tanya Gala sambil merangkul bahu sang istri.
Sarah hanya mengangguk.
"Lebih baik kamu makan di kamar saja. Apa yang membuatmu mual seperti ini?"
"Bau masakannya. Sepertinya tidak cocok sama anak kita."
"Ya sudah nanti aku buatkan makanan lain saja, kasihan bibi kalau harus disuruh masak lagi." Gala menuntun Sarah menjauh dari meja makan.
"Emang Pak Gala bisa masak?"
"Bisa dikit-dikit. Mau request apa?"
"Hmm, apa ya yang sekiranya bisa masuk ke perutku?" Sarah tampak berpikir.
"Pasta atau gado-gado boleh?"
"Baik nanti aku buatkan." Gala mengantarkan Sarah terlebih dahulu ke kamarnya sebelum akhirnya pergi ke dapur.
"Saya bantuin Den." Bibi menawarkan diri.
"Nggak usah Bik biar Gala buat sendiri saja."
"Baiklah kalau begitu Den."
Beberapa saat kemudian Gala pun membawa hasil memasaknya ke hadapannya sang istri.
"Wah masakan Pak Gala enak banget sepertinya anak kita hanya mau jika ayahnya yang memasak."
"Nanti saya pasti akan usahakan memasak untuk kalian. Semoga tidak sibuk dan ada waktu ya?"
"Semoga Pak."
Hari demi hari pun Gala terus menyempatkan diri membuatkan makanan untuk anak dan istrinya padahal Sarah sudah tidak mual lagi makan masakan bibi, hanya saja dia enggan memberitahukan pada Gala. Dia benar-benar ingin mengetes Gala saat ini.
"Perjuanganmu sungguh berat Nak, tapi nikmati saja," ujar Tama sambil menepuk bahu Gala yang sedang berkutat di dapur sehabis pulang dari kantor.
"Tidak apa-apa Pa demi membahagiakan mereka."
"Ya lanjutkan saja, siapa tahu dengan begitu kamu bisa menjadi koki dan membuka restoran," kelakar Tama.
__ADS_1
"Ah Papa meledek Gala rupanya.
Bersambung.