
"Ih mesum, siapa yang arahnya ke situ?" protes ustad Alzam membuat Mentari tersenyum malu-malu.
"Sudah paham dengan penjelasan Abi?" tanya ustadz Alzam untuk memastikan.
Mentari hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, lain kali jangan main kabur-kaburan lagi. Kalau sudah nyampek rumah ya nggak usah kembali ke sini lagi."
"Nggak boleh?"
"Boleh saja asal pamit dulu."
Mentari mengangguk lagi.
"Yuk!" ajak ustadz Alzam sambil mengedipkan matanya.
"Ayuk kemana? Makan? Abi belum makan? Biar ummi siapkan."
"Nggak usah, Abi mau makan kamu saja."
Mentari terbelalak. "Keluar yuk Abi papa menunggu kita dibawah," alasan Mentari semata agar sang suami tidak jadi meminta jatah.
"Papa malah menyuruhku ke sini tadi," sanggah ustadz Alzam. "Suruh pas-puasin katanya bertemu istriku yang ngambekan."
Mentari cemberut mendengar dirinya dikatakan suka ngambek.
Melihat istrinya mencebik segera ustadz Alzam meraup bibir sang istri. Berawal dari bibir hingga akhirnya menjelajahi tubuh sang istri dan Mentari pun menikmati akan hal itu.
"Ambil wudhu' dulu!" ustadz Alzam melepaskan tubuh Mentari dan segera masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Mentari tampak cemberut saat dirinya merasa sudah dibawa terbang ke atas langit lalu dihempaskan ke tanah begitu saja oleh suaminya sendiri.
"Sayang airnya mana?"
Mentari yang cemberut tersenyum melihat suaminya bingung mencari keberadaan air dalam kamar mandinya. Rasanya Mentari ingin mengatakan 'Rasain' kepada sang suami tapi takut dosa.
"Nggak ada Abi kran airnya mati!" seru Mentari dari atas ranjang.
"Sudahlah kalau begitu." Ustadz Alzam pasrah lalu kembali ke sisi Mentari dan melanjutkan aktivitasnya kembali. Pagi itu mereka melakukan ibadah yang paling indah.
Gala mondar-mandir di dalam kamar. Membuka baju serta menghidupkan kipas yang sudah lama tidak terpakai. "Kenapa masih gatal dan panas sih," keluhnya sambil menggaruk-garuk seluruh kulit tubuhnya.
Angin yang berasal dari kipas seolah tidak memberikan efek lebih baik baik tubuhnya, dia langsung mematikan kipas dan memakai bajunya kembali kemudian mondar-mandir di depan kamar sambil meniup-niup tangan, lengan dan sesekali menyingkap hemnya lalu meniup-niup perutnya.
"Kenapa tidak berkurang sama sekali sih gatalnya padahal sudah minum obat, kalau begini jera deh aku makan seafood banyak-banyak lagi," bergumam seorang diri masih sambil mondar-mandir hingga tak sengaja mendengar suara gaib dari dalam kamar sang adik.
"Ya ampun nih ustadz kelakuannya seperti ini mana masih pagi lagi. Ngusir setan kali dalam kamar atau ngerugyah Cahaya," protes Gala lalu pergi dari depan kamar dan turun ke lantai bawah.
"Abi berisik, malu-maluin tuh di dengar Mas Gala," protes Mentari dan langsung menutup mulut suaminya yang terdengar mendesah beberapa kali.
__ADS_1
"Maaf lepas kontrol," ucap ustadz Alzam.
"Katanya mau istirahat di kamar?" Tama menegur Gala yang malah turun ke lantai bawah.
"Nggak jadi, di kamar berisik berkat kelakuan anak bungsu papa tuh. Baru sehari tidak bertemu seperti setahun saja, buat kegaduhan di dalam kamar," protes Gala malas. Dirinya menderita akibat penyakit kulit yang menderanya eh sang adik malah bersenang-senang di kamarnya. Seolah-olah Mentari bersenang-senang dalam penderitaannya.
"Biasa Gala mereka kan masih pengantin baru dan adikmu juga sering ditinggal oleh suaminya. Jadi sudah sepantasnya mereka kalau bermesraan saat bertemu." Tama harap maklum, toh dirinya juga pernah muda.
"Tapi nggak tahu waktu Pa," protes Gala lagi.
"Kamu kalau menikah nanti juga bakal sama saja," ujar Tama.
"Enggak mungkin Pa, ya sudah Gala pamit ya Pa mau ke rumah sakit saja."
"Belum sembuh penyakit kulitnya?"
"Belum Pa."
"Ya sudah sana cepat sebelum terlambat."
"Iya Pa." Gala menyalami tangan Tama kemudian bergegas keluar rumah.
"Pak siapkan mobil dan antarkan saya ke rumah sakit!" perintahnya pada Pak sopir.
"Belum sembuh Den?"
"Belum Pak, kayaknya stok obat yang Gala punya sudah nggak ngefek lagi. Butuh jenis obat lain atau mungkin suntikan."
"Ayo Den masuk!"
Baru saja Gala masuk dan hendak duduk di dalam mobil terlihat Bintang menghentikan mobilnya sendiri di depan pagar.
"Mau apa tuh orang ke sini? Parkir di tengah jalan lagi," keluh Gala lalu membuka pintu mobil lagi dan berjalan ke arah Bintang.
"Ngapain ke sini?" tanya Gala tidak ingin berbasa-basi.
"Mentari ada di sini, bukan?"
"Ngapain kamu nanyain Cahaya?" Gala menatap Bintang curiga.
"Mau silaturahmi emang tidak boleh?" Bintang berbicara dengan suara yang tenang.
Gala mengernyit. "Silaturrahmi bagus, cuma kenapa cuma nanyain Cahaya? Harusnya tanya kabar dulu baru anak-anaknya," protes Gala lagi.
"Ya memang mau jenguk Paman sekalian Mentari kalau ada di sini."
"Masuklah papa ada di dalam tapi singkirkan dulu mobilmu sebab aku mau keluar!"
__ADS_1
"Oh baik-baik." Bintang masuk ke dalam mobil dan memundurkan mobilnya.
Gala pun masuk ke dalam mobilnya sendiri dan memerintah sang sopir untuk mengemudikan mobil keluar dari pekarangan rumah menuju rumah sakit terdekat.
Bintang masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh Tama.
"Apa kabarmu Nak Bintang? Ayo duduk!" Tama menggiring Bintang ke arah kursi.
"Baik Paman."
"Alhamdulillah kalau begitu. Mari duduk!"
"Terima kasih Paman," ucap Bintang sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Tama sedangkan matanya melihat ke sana kemari mencari keberadaan Mentari.
"Eh Bik buatkan minuman!" perintah Tama pada pembantunya yang kebetulan melintas di hadapan mereka berdua.
"Baik Tuan." Si bibi langsung bergegas kembali ke dapur.
"Bagaimana kabar Arumi sama Dik Winata?"
"Mereka baik juga Paman."
"Oh syukurlah kalau begitu. Kamu ke sini hanya ingin berkunjung saja apa ada keperluan lainnya?"
"Tidak paman hanya menjenguk Paman Tama saja mumpung Bintang belum masuk kantor lagi."
"Oh." Tama hanya mengangguk-anggukkan kepala saja.
"Kapan kamu mau menggantikan papa kamu di kantor? Saya pikir kamu berhenti bekerja pada Gala karena ingin memegang perusahaan milik papamu."
"Pengennya sih iya Paman tapi papa belum ngasih kepercayaan." Bintang melirik ke sana kemari, masih mencari keberadaan Mentari.
"Kalau begitu kamu harus pintar-pintar mengambil hati Dik Winata. Apa yang dia suka dekati dan apa yang dia benci tinggalkan lah," nasehat Tama.
"Susah Paman sebab papa pernah mengatakan akan menyerahkan perusahaan padaku kalau Bintang sudah punya anak dengan Mentari atau Cahaya. Rasanya sulit untuk mengabulkan permintaan papa." Berharap ada simpati untuknya.
"Hmm, memang sulit sih kalau itu keinginan papamu tapi saya yakin papamu orang bijak jadi sepertinya syarat itu sudah tidak berlaku lagi. Tanyakan pada papamu kau harus apa!"
"Kalau misalnya Bintang kembali sama Mentari Paman merestui tidak?" tanya Bintang hati-hati.
"Hahaha, kamu bercanda Nak Bintang. Cahaya sudah punya suami. Jadi paman minta Nak Bintang lupakan Cahaya dan buka hatimu untuk wanita lain."
"Sangat sulit paman sebab di hati Bintang hanya ada Mentari dan sampai saat ini Bintang belum bisa melupakan dia dari hidup Bintang. Bagaimana kalau suatu hari paman tahu bahwa cinta ustadz Alzam hanya dusta belaka terhadap Mentari dan dia akan meninggalkan Mentari?"
"Oh kalau masalah itu Paman yakin hal itu tidak akan pernah terjadi. Meskipun paman bukanlah seorang psikolog, tapi Paman tahu wajah-wajah seperti apa yang tulus dan wajah-wajah seperti apa yang berselimut dusta. Kau tenang saja paman percaya seutuhnya pada Nak Alzam."
Mendengar pernyataan Tama, Bintang hanya menelan ludah. Sepertinya akan susah mendapatkan Mentari dengan cara mendekati orang-orang terdekat sebab mereka sepertinya sudah terlanjur menyukai pria itu. Jalan satu-satunya adalah merayu Mentari sendiri dan mengatakan janji ustadz Alzam pada dirinya.
__ADS_1
"Apapun akan aku lakukan untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku, ustad Alzam," ucapnya sambil mengepalkan tangan di bawah meja.
Bersambung.