HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 145. Perdebatan


__ADS_3

Brak.


Bunyi tas dibanting berpadu dengan meja, terdengar nyaring dari ruang tamu di dalam unit apartemen Bintang.


Bintang yang sedang memasak air untuk membuat kopi akhirnya berlari keluar.


"Kenapa sih Kate datang-datang marah-marah?" tanya Bintang melihat muka Katrina yang ditekuk dan terlihat murka.


"Tidak apa-apa aku hanya kesal saja," jawab Katrina dengan nada suara yang masih dikuasai amarah.


"Kesal kenapa?" tanya Bintang heran.


"Itu loh mantanmu, Mentari. Masa dia nyuruh Pak Gala buat mecat lagi dan anehnya Pak Gala malah nurut sama dia. Bikin kesal tahu nggak sih."


"Oh."


"Kok oh-oh saja sih Bin, belain kek."


"Mau dibelain bagaimana lagi? Toh kamu sudah dipecat, kan? Jadi ya percuma. Lagian ngapain sih kamu bikin masalah dengan Mentari. Dia tuh anak yang baru ditemukan ya pastilah Gala sama paman Tama menuruti apa yang dia inginkan," ucap Bintang tak acuh.


"Jadi kamu sudah tahu kalau Mentari adalah adik Pak Gala?" tanya Katrina kaget.


"Ya begitulah." Bintang masih saja acuh tak acuh.


"Kenapa kamu nggak bilang sih?" protes Katrina. Kalau dia tahu pasti dia akan baik-baikin Mentari di kantor tadi.


"Aku juga baru beberapa hari ini tahu dari mama dan papa. Sudahlah Kate semua sudah terjadi."


"Ckk, dasar kamu. Gara-gara kamu aku jadi dipecat," ucap Katrina lalu melenggang pergi ke kamar.


"Lah kok aku yang disalahin," keluh Bintang lalu berbalik hendak ke dapur.


"Bin mau kemana?" Katrina menghentikan langkahnya dan bertanya pada Bintang.


"Balik ke dapur bikin kopi, kenapa?"


"Bikinin aku sekalian ya, siapa tahu dengan minum kopi rasa stres ku bisa hilang."


"Oke."


"Eh tunggu dulu, kenapa kamu di sini? Tidak berangkat kerja?" tanya Katrina heran.


Bintang menggeleng. "Aku masih cuti, besok baru masuk."

__ADS_1


"Astaga Bin, bisa dipotong dong gajimu kalau lama ambil cutinya. Kau pikir kamu pemilik perusahaannya apa hingga bebas bekerja dan bebas libur. Ingat Bin kamu itu hanya karyawan biasa jadi, harus rajin kalau ingin cepat naik jabatan. Kalau tidak ya tetap aja ngesot kayak siput."


Bintang menghela nafas berat. "Aku sudah tahu Kate, nggak usah kau ceramahi."


"Tahu-tahu, tapi tidak mau berusaha lebih, hanya mengandalkan gaji istri. Kalau aku sudah berhenti kerja seperti sekarang terus mau pakai uang apa?" gerutu Katrina.


"Kate baru aku begini kau sudah menggerutu. Apa kau lupa siapa yang mencukupi kebutuhan kamu saat kita masih pacaran? Kenapa yang sebentar saja yang kau nilai?"


"Lupakan masa lalu Bin, yang harus kita pikirkan hanyalah masa depan. Kalau kamu bermalas-malasan seperti ini bukan tidak mungkin kita akan kelaparan suatu saat nanti."


"Ah sudahlah terserah kamu toh besok aku sudah kembali kerja, lagian aku sudah izin sama bos langsung. Aku mau ke dapur pasti airnya sudah mendidih."


"Eh tunggu!"


"Apa lagi Kate?"


"Buatkan aku sarapan dong Bin! Aku dari tadi pagi belum sempat makan." Kali ini wajah Katrina berubah jadi memelas.


"Aku tidak bisa masak, harusnya kamu yang masak tadi sebelum berangkat ke kantor."


"Mana sempat Bin, aku kan berangkatnya pagi-pagi sekali."


"Ya bangunnya harus lebih pagi dong. Masa dengar ayam berkokok tidur lagi. Gimana nggak dipatok tuh rejeki kita."


"Terus kamu tadi makan apa?"


"Ya sudah bikinin aku itu aja."


"Ya ampun Kate bikin sendiri kenapa?"


"Lelah, nggak ada tenaga, badmood," ujar Katrina dan langsung menutup pintu kamarnya.


"Haah, baiklah," ucap Bintang dan langsung bergegas ke dapur.


Sampai di dapur, melihat air sudah mendidih ia langsung menuangkan ke dalam gelas yang sudah diberi bubuk kopi dan Gula lalu mengaduk-aduk sambil menghirup aroma yang keluar dari seduhan kopi tersebut.


"Alangkah nikmat, merasakan aromanya saja sudah membuat senang dan tenang apalagi saat meneguknya. Eh lupa, Katrina minta dibuatin juga." Bintang langsung meracik kopi lagi ke dalam sebuah gelas dan menuangkan air panas dalam gelas tersebut. Setelah diaduk-aduk dia menyisihkan ke samping dirinya.


Sisa air yang sudah mendidih itu ia panaskan kembali di atas kompor lalu mengambil mie instan yang berada di dalam lemari gantung dan meremasnya lalu memasukkan ke dalam air yang sudah kembali mendidih itu.


Sementara mie sedang direbus Bintang menuangkan bumbu-bumbunya ke dalam piring.


"Ah kenapa aku jadi teringat Meme sih?" Pikiran Bintang melayang saat hidup bersama dengan Mentari.

__ADS_1


"Dia tidak pernah membiarkan aku membuat kopi sendiri apalagi sampai merebus mie instan begini," kenangnya.


"Me apakah kau masih mau kembali padaku?" Bintang galau sendiri mengingat Mentari terlihat begitu bahagia bersama dengan ustadz Alzam.


"Ustadz itu kan sudah berjanji hanya akan menjadi muhallil saja. Seorang ustadz tidak akan mungkin ingkar janji, bukan?" Bintang menenangkan hatinya sendiri.


"Ampun mie nya!" Hampir saja mie itu gosong gegara Bintang melamun saja dari tadi. Bintang langsung mematikan kompor dan menuangkan mie tersebut langsung ke dalam piring sebab airnya sudah kering. Setelah mengaduk-aduk dia langsung meletakkan ke dalam nampan, juga kedua gelas yang berisi kopi diletakkan ke dalam nampan yang sama lalu membawanya ke ruang tamu.


"Kate mie goreng sama kopinya sudah siap!" seru Bintang dari ruang tamu sambil menata piring dan gelas itu di atas meja.


"Tunggu sebentar aku sedang memakai baju!" teriak Katrina dalam kamar.


Bintang mengambil satu gelas yang berisi kopi, setelah sedikit meniup-niup, langsung menyeruput kopinya dengan tenang.


Beberapa saat kemudian Katrina muncul dari dalam kamar dengan wajah yang sudah fresh sehabis mandi dan berjalan mendekat ke arah kita Bintang.


"Wah ini baru suami yang pengertian," puji Katrina sambil duduk di kursi samping Bintang lalu ikut menyeruput kopi dari gelasnya sendiri.


Bintang tidak berkata apa-apa, hanya saja melirik ke arah Katrina sambil menyeruput kopinya.


Selesai meminum kopi, Katrina langsung menyendok mie di piring yang ada di hadapannya.


"Kamu nggak makan juga?" tanyanya pada Bintang.


"Tidak saya baru saja makan," ucap Bintang dan masih fokus dengan kopinya. Gelas yang ia gunakan tinggi dan besar sehingga muat kopi banyak dan tidak akan habis dalam sekejap saja.


"Apa ini Bin, kok lembek seperti ini?" protes Katrina sambil memutar-mutar mie dengan sendok.


"Sudahlah Kate, kamu nggak usah protes kamu tinggal makan aja juga."


"Iya, tapi tidak gini juga lah Bin. Masa aku disuruh makan beginian, bisa muntah nih aku," bantah Katrina sambil bangkit dari duduknya.


"Mau kemana?"


"Pergi, cari makan di luar kebetulan aku sedang banyak uang," jawab Katrina sambil berjalan ke arah pintu.


"Katanya dipecat kok bisa banyak uang?"


"Dikasih pesangon sama Pak Gala jadi aku mau menikmati hidup sekarang. Cari makan sekaligus shopping biar hati senang.


"Kate kita harus berhemat!"


"Yang berhemat itu kamu Bin sebab kamu yang bertanggung jawab atas nafkah dalam keluarga. Uangku mah untuk diriku sendiri. Mau ku pakai foya-foya ya terserah aku!" seru Katrina sambil membuka pintu dan keluar dari unit apartemen. Meninggalkan Bintang yang termangu seorang diri.

__ADS_1


"Kate!" teriak Bintang kemudian.


Bersambung.


__ADS_2