HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 42. Bertemu Tuan Winata


__ADS_3

"Hei bereskan ini!"


Mentari tidak menjawab dan terus melangkah pergi.


"Mentari!" teriak Katrina. Namun, Mentari tidak menggubris panggilan Katrina itu.


"Dasar perempuan kampung tidak tahu diri. Berani sekali dia sama Katrina." Katrina yang kesal langsung bangkit dari duduknya dan berlari mengejar Mentari.


Baru saja Mentari hendak masuk ke dalam kamarnya sendiri tiba-tiba Katrina sudah ada di belakangnya dan berhasil menarik rambut Mentari.


"Lepaskan Kate! Apa-apaan sih kamu?" Mentari menarik tangan Katrina yang semakin kencang menjambak rambutnya.


"Lepas!"


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu melepaskan Bintang seutuhnya untukku!" bentak Katrina.


"Kalau itu kamu minta sama Bintang saja jangan sama aku. Dia yang berhak mengambil keputusan untuk berpisah denganku bukanlah diriku."


"Kamu pikir kamu tidak bisa melakukan itu hah!"


"Bisa, tapi aku sudah terikat perjanjian sama papa Winata. Tolong Lepaskan Kate! Ini sakit sekali."


"Kamu pikir aku tidak sakit saat mendengar keputusan Bintang untuk menikah denganmu hah? Sakit di dalam dada sini jauh lebih sakit dari yang kau rasakan saat ini."


"Tapi Kate itu bukanlah inginku. Aku tidak tahu kalau Bintang sudah punya kekasih."


"Ah omong kosong!" Katrina mendorong Mentari hingga tubuhnya masuk ke dalam kamar dan bahkan membentur tembok.


Ah mengapa tenaganya kuat sekali padahal dia baru saja dari rumah sakit?


Mentari khawatir melihat perlawanannya tidak berhasil sama sekali.


Katrina melirik pada sebuah gunting yang terletak di atas laci. Mentari terlihat syok melihat Katrina tersenyum menyeringai ketika melihat ada benda itu di sana.


Apa yang akan dia lakukan? Ah, mengapa harus ada benda tersebut di tempat ini.


Mentari semakin khawatir. Keringat jagung mengucur dari tubuhnya.


"Kenapa, takut? Tenanglah aku tidak akan membunuhmu." Katrina tertawa terbahak-bahak membuat Mentari semakin ketakutan.


"Hai anak manis tidak perlu takut. Kamu kira aku mau masuk penjara hanya karena mu hah? Tidak aku tidak mau. Aku hanya ingin bermain-main denganmu." Bukannya tenang Mentari malah merasa ketakutan. Istilah bermain-main dari mulut Katrina terdengar lebih menyeramkan dibanding kata aku ingin membunuhmu.


Mentari tampak menggeleng.


"Kecuali kau ikuti keinginanku. Yang aku inginkan cuma satu kau menurut padaku. Jauhi Bintang!" teriaknya tanpa melepas pegangan tangannya di rambut Mentari. Mentari tampak meringis menahan sakit.


Mentari hanya diam karena masih merasa syok.


"Oh tidak mau ya?" Katrina langsung menggunting rambut Mentari.


"Aku akan membuat rambutmu botak hingga Bintang tidak akan sudi melihatmu lagi."

__ADS_1


Mentari memberontak agar terlepas. Reflek dia langsung memukul tangan Katrina yang baru saja dijahit akibat bunuh diri semalam.


"Auw sakit. Dasar ya kamu!" Katrina meniup-niup pergelangan tangannya karena jahitannya sampai terlepas. Bekas jahitan itu mengucurkan darah lagi.


"Awas ya aku laporin Bintang."


Mentari tidak perduli dengan ancaman Katrina. Yang dia harus lakukan sekarang adalah pergi dari apartemen itu. Apartemen tersebut sudah tidak aman lagi baginya.


Selepas Mentari pergi Katrina menelpon Bintang lagi dan mengadu akan kelakuan Mentari padanya, tentu saja pengaduannya berbanding terbalik dengan kenyataan.


"Pak Gala berhubung klien kita tadi memberitahukan ada gangguan di jalan dan akan telat maka saya izin pamit keluar sebentar."


"Ada apa Bin kenapa kamu terlihat pucat seperti itu. Apa ada masalah?" tanya Gala.


"Hanya masalah kecil. Aku bereskan sebentar lalu akan segera kembali ke sini."


"Baiklah tapi jangan lama-lama."


"Baik Pak akan saya usahakan sebelum klien kita sampai saya sudah ada di sini."


"Baik, pergilah!"


Bintang mengangguk dan langsung bergegas pergi. Dia masuk ke dalam mobil dan menyetirnya secara kasar. Dia sangat kesal sekali pada Mentari.


"Apa yang kamu lakukan lagi? Mengapa sikapmu di depan dan di belakangku sangat berbeda? Argh!" Bintang memukul setir mobil.


Tak lama kemudian mobil sudah terparkir di halaman apartemen. Bintang berlari cepat agar lekas masuk ke dalam karena terlalu khawatir dengan keadaan Kartina.


"Bin, Mentari jahat sekali," adunya pada Bintang sambil meringis menahan sakit.


Bintang menggeleng tidak percaya Mentari akan berbuat senekat itu. "Mana dia?"


"Dia sudah kabur setelah melukai lenganku ini."


"Bagaimana ini semua bisa terjadi. Apa kalian bertengkar?"


"Tidak Bin dia hanya sedang marah karena merasa terhina kau memintanya untuk menjaga sekaligus merawatku. Dia bilang dia itu bukan babu."


Bintang terlihat geram "Hah, ya sudahlah kalau begitu kita kembali ke rumah sakit dulu."


Katrina mengangguk. "Tapi janji setelah dia kembali kau harus menghukumnya."


"Masalah itu tergantung nanti. Sekarang kita harus ke rumah sakit dulu." Bintang langsung meraih tubuh Katrina dan menggendongnya menuju mobil.


***


"Kenapa kamu lari-larian seperti itu Nak?" Sebuah suara langsung menghentikan langkah Mentari.


Mentari menoleh dan memicingkan matanya untuk melihat siapa yang ada dalam mobil. Sinar matahari pagi memancar hingga ke dalam mobil dan membuat silau mata.


"Papa?" Mentari terlihat kaget.

__ADS_1


"Ayo masuk!"


Tanpa pikir panjang Mentari langsung masuk ke dalam mobil. Baginya sekarang dia harus menjauh dari Katrina.


"Ada rencana mau kemana?"


"Ke toko Pa."


"Toko siapa?"


"Teman," jawab Mentari singkat.


"Kamu bekerja di toko? Apa kamu tidak diberikan uang belanja oleh Bintang?"


"Ah tidak kok Pa. Ada kok."


"Tidak cukup?"


"Sudah lebih dari cukup Pa, tetapi Mentari tidak ada kegiatan di dalam ruang apartemen. Jadi daripada menganggur mending ikut bekerja."


"Tidak masalah asalkan Bintang mengizinkanmu."


"Iya Pa, Mas Bintang sudah kuberi tahu dan mengizinkan."


"Bagus kalau begitu. Oh ya adik dan ibumu di kampung sudah menolak kiriman uang dari papa. Katanya toko mereka sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sebenarnya papa tidak ingin menghentikan itu, tetapi mereka memaksa bahkan mentransfer kembali uang itu sehingga papa terpaksa tidak mengirimkan lagi. Padahal papa kan sudah janji ya sama kamu untuk menanggung biaya hidup mereka."


"Tidak perlu Pa. Mereka kan sudah Papa beri modal jadi sama saja uang hasil dari toko itu anggap saja juga pemberian Papa. Lagipula kalau dikirimi uang terus nanti mereka jadi ketergantungan dan jauh dari sikap mandiri."


"Benar juga, tetapi janji kan tetap janji. Jadi harus ditunaikan. Apa papa transfer ke rekening kamu saja ya?"


"Jangan Pa, jangan!"


"Kenapa?"


"Uang yang dari Mas Bintang saja belum habis-habis, bagaimana kalau masih ditambah dari papa? Entar Mentari bingung mau dibelanjakan apa." Padahal hanya takut menambah hutang budi saja. Malah mengatakan bingung cara menghabiskannya bagaimana. Mentari, Mentari.


"Makanya kalau belanja tidak usah terlalu hati-hati. Pakai saja untuk kebutuhanmu. Tidak usah menggubris ucapan Mama Arumi. Dia tuh kalau nasehatin orang lain pinter tapi kalau dirinya sendiri sering lapar mata, tidak terkontrol," ucap Tuan Winata lalu terkekeh.


"Iya Pa."


"Eh ngomong-ngomong sudah ada nggak calon cucu Papa di perutmu? Kata mama Arumi kamu sudah hamil ya?"


Mendengar perkataan Tuan Winata wajah Mentari menjadi pucat.


"Kenapa?" tanya Tuan Winata yang melihat ekspresi Mentari tidak bergairah lagi.


"Tidak Pa Mentari belum hamil," ucap Mentari lemah.


"Oh belum ya? Tidak apa-apa mungkin belum waktunya. Pasti Mama Arumi hanya salah dengar saja. Hanya gara-gara kepengen cucu jadi menganggap mantunya sudah hamil saja, padahal belum."


"Iya Pa." Mentari mengangguk dalam hati membenarkan ucapan Arumi yang memang beberapa bulan lagi mereka benar-benar akan mendapatkan cucu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2