
Hari demi hari Mentari semakin tidak dapat ditinggalkan oleh sang suami, bahkan wanita ini ikut kemanapun ustadz Alzam pergi.
"Kau memang suka jadi penguntit ya, apa Ummi mencurigaiku bermain serong di belakangmu?" tanya ustadz Alzam menggoda istrinya saat Mentari merengek ingin ikut ustadz Alzam meninjau toko bangunan miliknya.
Mentari menggeleng, tak ada sedikitpun terbersit di hatinya untuk mencurigai ustadz Alzam. Mentari percaya pria itu adalah lelaki yang setia, tapi entah kenapa dia punya kebiasaan baru ingin selalu bersama sang suami.
"Kalau nggak kenapa pengen ikut terus?" tanya ustadz Alzam tidak mengerti dengan sikap istrinya itu yang menjadi tidak bisa ditinggal kemana-mana.
"Si dedek yang nggak mau pisah sama Abinya." Mentari mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
"Kasihan kamu Nak, dijadikan kambing hitam sama ummimu sendiri." Ustadz Alzam pun mengelus perut rata istrinya. Mentari hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya itu.
"Aku juga kangen sama Reni lama aku tidak berjumpa dengannya," rengek Mentari.
"Iya-iya ayo ikut, siapa juga yang mau melarangmu untuk ikut?" Ustadz Alzam mengacak-acak rambut Mentari gemas sebab istrinya itu suka merajuk seperti anak kecil saja.
"Jadi boleh?" Mentari antusias.
"Boleh dong kenapa nggak? Sana ambil kerudung dulu!"
Mentari mengangguk dan langsung berjalan menuju lemari. Dia meraih satu kerudung yang senada dengan baju yang dipakainya sekarang. Setelah selesai memakai kerudung dan mencangklongkan tas di bahu Wanita itu langsung menggandeng tangan suaminya.
"Ayo katanya mau pergi, aku sudah siap."
"Oke yuk!" Ustadz Alzam pun menggenggam tangan Mentari dan membawa istri tercintanya keluar dari kamar. Setelah pamit pada ibunya, mereka langsung menuju mobil.
"Sudah siap?" tanya ustadz Alzam saat keduanya sudah duduk di dalam mobil.
"Emang Abi mau ngebut?" tanya Mentari sedikit takut.
"Nggaklah mana mungkin Abi ngebut sementara istriku pobia dengan kecepatan," sahut ustadz Alzam.
Mentari hanya mengangguk kemudian menyandarkan bahunya di sandaran sofa mobil dan memejamkan mata.
"Abi hanya ingin bertanya apakah ada yang ketinggalan ataukah tidak," jelas ustadz Alzam.
"Nggak ada Abi. Oh ya aku nggak bawa apa-apa ke toko bangunan? Rasanya gimana gitu kalau bertemu teman tidak membawa oleh-oleh."
Ustadz Alzam mengernyit. "Mau bawa oleh-oleh apa?"
"Bagaimana kalau sebelum pergi ke toko bangunan kita pergi ke toko kue Sarah dulu," usul Mentari.
"Kalau mau bawa kue tuh di depan sana ada yang jual juga." Ustadz Alzam menunjuk toko kue yang tidak jauh dari mereka. Sekali mengerem pasti langsung sampai.
"Nggak, enakan kue buatan teman-teman di toko Sarah. Ke sana aja yuk!"
Ustadz Alzam tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Kuenya yang lebih enak atau kamunya yang ingin ketemu Mbak Nanik sama Mega?"
__ADS_1
"Dua-duanya," ujar Mentari cengengesan.
"Terus oleh-oleh untuk mereka apa?"
"Tidak usah Abi mereka 'kan bekerja di toko kue. Kalau pengen kue tinggal ambil doang. Nah kalau Reni sama yang lainnya masa harus nyemil semen atau kayu?"
"Ada-ada kamu Ummi." Ustadz Alzam terkekeh pelan.
"Oh itu ada penjual buah di depan. Kita juga beli buah untuk oleh-oleh." Ustadz Alzam menepikan mobilnya lalu keluar dari mobil dan berjalan ke arah mobil pickup yang terparkir di tepi jalan. Di dalam mobil itu dipajang beberapa aneka macam buah-buahan.
Ustadz Alzam lalu membeli beberapa macam dari buah-buahan itu masing-masing tiga kiloan.
"Banyak banget sih Abi," protes Mentari melihat ustadz Alzam menenteng tiga kresek berisi buah di tangannya.
"Ini untuk Mbak Nanik dan Mega, yang satu bungkus lagi buat karyawan di toko bangunan, dan yang satu lagi buat istriku tercinta."
Mendengar penjabaran dari ustadz Alzam, Mentari langsung meraih bungkusan yang katanya diperuntukkan untuk dirinya sendiri lalu memeriksanya.
"Ada yang kurang Abi," katanya.
"Apa? Kau pesan sajalah!"
"Mangga muda, ini belum ada mangga mudanya," ujarnya.
"Mbak pesan mangga muda," pinta Mentari.
"Ckk, orang cari yang muda ditawari yang tua. Pasangan aja dicari yang muda apalagi mangga," protes Mentari.
"Kalau yang tua matang Mbak lebih dewasa kalau yang muda masih kecut belum merasakan pahit manisnya kehidupan," ujar si Mbak penjual buah tersebut sambil tertawa-tawa.
Ustadz Alzam mengernyit. "Yang dibicarakan buah mangga kenapa jadi manusia?" herannya.
"Istri ustadz yang mulai," ujar penjual buah tersebut sambil tersenyum.
"Ya-ya begitulah." Ustadz Alzam paham.
"Sudah Abi kita pergi saja dari sini. Penjual buahnya nggak asyik jualannya nggak komplit!" Mentari menarik tangan ustadz Alzam menjauh dari mobil pickup tersebut sedangkan penjual buah hanya menggeleng melihat sikap Mentari.
"Maaf Mbak!" teriak ustadz Alzam merasa tidak enak dengan perkataan Mentari tadi. Penjual itu membalas dengan anggukan dan senyuman. Wanita itu sama sekali tidak mengambil hati akan ucapan Mentari melainkan hanya menganggap kelucuan semata.
Saat tiba di samping mobil segera ustadz Alzam membuka pintu belakang mobil dan meletakkan buah-buahan di kursi belakang.
"Ayo Ummi kita masuk! Katanya mau ke toko Sarah."
"Abi masuk saja, aku lewat pintu yang di samping itu."
"Ya sudah, saya masuk duluan."
__ADS_1
Mentari mengangguk dan memutar langkah ke pintu samping sedangkan ustadz Alzam sudah siap, duduk di belakang kemudi.
Saat hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba Mentari mengurungkan niatnya. Dia menutup pintu mobil kembali.
"Loh, ada yang ketinggalan Ummi?" tanya ustadz Alzam sambil mengikuti gerakan Mentari melalui ekor matanya. Ternyata wanita itu memutar langkah kembali ke samping mobil tempat ustadz Alzam duduk.
Mentari tidak menjawab, matanya fokus melihat ke atas. Ke buah mangga yang tergelantung di pohonnya.
"Ummi mau apa?" tanya ustadz Alzam melihat gelagat aneh dari istrinya. Pria itu langsung turun dari mobil dan berjalan ke dekat sang istri. Namun terlambat, Mentari gerak cepat. Dia sudah terlihat memanjat pagar dan sekarang sudah bergelantungan di pohon mangga dan hendak menaiki pohon mangga tersebut.
"Ummi turun!" teriak ustadz Alzam dari bawah. Mentari tidak mendengarkan seruan sang suami di atas sana sebab dirinya sudah duduk di ranting pohon tersebut dan tangannya sudah terulur untuk mengambil buah mangga yang letaknya masih terlihat jauh ke samping dari tempatnya duduk.
"Ummi! Astaghfirullahaladzim." Ustadz Alzam beristighfar dalam hati sedangkan Mentari sudah berhasil meraih buah mangga dan mengusap-usap buah itu dengan satu tangannya, barangkali ada debu yang menempel di sana.
Mentari menelan ludah dan langsung menggigit mangga dengan kulitnya. Di atas sana Mentari tampak menikmati buah mangga tersebut tanpa memperdulikan sang suami yang kebingungannya di bawah sana.
"Ummi turun!" perintah ustadz Alzam. Barulah setelah ini Mentari sadar dengan posisinya yang ada di atas. Dia menghentikan menggigit mangga yang masih tersisa separuh. Dia melihat ke bawah dan merasa takut.
Bagaimana ini turunnya?
Mentari bingung sendiri. Dulu dia biasa naik turun pohon saat masih mencari sayuran di hutan, tapi sekarang melihat ke bawah saja sudah membuat dia merasa takut apalagi sekarang dirinya tengah berbadan dua. Bagaimana kalau dia jatuh ke bawah?
"Abi bagaimana ini?" Mentari panik.
"Bantu Ummi turun dong!" serunya.
"Lah Kan tadi pinter naiknya masa nggak bisa turun? Tinggal merosot doang," goda ustadz Alzam.
Mentari menggeleng. "Susah turunnya ini. Kalau langsung melompat bisa, tapi takut dedeknya bahaya."
"Jangan turun, tahan disitu!"
"Jemput ke atas!" rengek Mentari.
Ustadz Alzam hanya bisa menggeleng pasrah dan ikut memanjat pohon mangga itu setelah sebelumnya memanjat pagar rumah terlebih dahulu. Untung saja ustadz Alzam tidak memakai sarung melainkan memakai celana kain sehingga lebih mudah untuk memanjat.
Saat ustadz Alzam sampai di dekat Mentari, pria itu mendekap tubuh istrinya dan membawanya turun dari pohon.
Tubuh keduanya belum sampai ke bawah tiba-tiba terdengar bunyi pintu terbuka dan pemilik rumah tampak berdiri di depan pintu.
"Kacau jadinya ini," gumam ustadz Alzam perasaannya jadi tidak enak.
"Pencuri! Pencuri!" teriak pemilik rumah melihat ada orang di pohon mangganya.
"Bagaimana ini Abi?" Mentari panik lagi melihat banyak orang yang berlari ke arah mereka.
Bersambung.
__ADS_1