HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 65. Kembali Ke Kota


__ADS_3

Di tempat lain Gala sedang membujuk sang papa untuk pulang setelah berkonsultasi pada dokter bahwa Tama tidak apa-apa jika dibawa pulang.


Bukan tanpa alasan Gala ingin cepat-cepat pulang, itu karena dia tidak enak meninggalkan Bintang seorang diri di kantor. Yang Gala tahu Katrina sudah mengambil cuti untuk pekerjaan di kantornya dan sampai saat ini dirinya masih belum menemukan pengganti Katrina untuk sementara.


Tidak ada yang mau menjadi sekretaris sementara di kantor Gala meskipun pria itu sudah menawarkan gaji yang besar. Mereka yang ditawarkan, semua meminta untuk bekerja selamanya di kantor tersebut bukan hanya untuk sebagai pengganti sementara Katrina.


Gala pun tidak tahu harus mengambil sikap seperti apa mengingat Bintang pernah memohon kepadanya agar tidak mengeluarkan baik dirinya maupun Katrina dari perusahaan tersebut karena keuangan dalam keluarga Bintang masih belum stabil. Kalau minta tolong Tuan Winata untuk membantu keuangan dirinya, pasti papanya itu akan mendesak dirinya untuk menceraikan Katrina.


Bintang tidak mau melakukan itu karena selain masih mencintai Katrina wanita itupun sedang mengandung anaknya.


"Saya tidak mau pulang kalau tidak bersama Mentari." Begitulah jawaban Tama saat Gala mendesak papanya agar mau pulang ke rumahnya di kota.


Setelah perdebatan dan drama yang begitu panjang akhirnya diputuskanlah Mentari ikut kembali bersama mereka ke kota.


Sebenarnya Mentari masih belum terobati rindunya pada ibu dan adiknya. Namun, apalah daya Mentari terpaksa ikut demi kebaikan Tama. Mengingat menurut cerita Gala tadi Tama sempat kabur dari rumah Mentari semalam, Mentari takut Tama akan kabur dari mobil nanti di tengah perjalanan pulang.


Mentari memeluk adik dan ibunya secata bergantian. Pandu memandang wajah Mentari dengan sedih. Dia terlihat masih begitu rindu pada sang kakak.


"Kakak janji ya nanti tengok Pandu lagi," ucap Pandu semakin erat memeluk sang kakak. Dia masih belum puas bertemu Mentari dan melepas rindu.


"Baik, kamu berjanjilah ya jangan sakit lagi," ujar Mentari sambil meraba dahi Pandu. Dia bernafas lega karena ternyata Pandu sudah tidak panas lagi.


"Kamu tenang saja, kalau kamu rindu sama kak Mentari mu ini maka telepon Mas Gala ya, aku akan mengantarnya padamu lagi," janji Gala pada Pandu.


"Mas Gala tidak akan berbohong kan sama kami seperti Mas Bintang?" tanya Pandu ragu sebab Bintang dulu sempat menjanjikan hal yang sama. Nyatanya hal itu hanya janji-janji belaka.


Berbulan-bulan tinggal bersama Bintang, tak sekalipun Bintang mengajak Mentari pulang ke kampung untuk sekedar menjenguk keluarga Mentari. Bahkan pada Mentari pun Bintang hanya bisa memberikan janji. Ya, cuma janji semu yang tidak pernah ada bukti.


"Sumpah Mas Gala tidak berbohong kok. Mas Gala kan juga sudah berjanji untuk mengajak Pandu keliling-keliling di kota. Nanti pas Mas Gala ngajak Kak Mentari menjenguk dirimu


lagi maka Mas Gala akan langsung membawa kamu ke kota."

__ADS_1


"Janji?" tanya anak itu memastikan.


"Janji," sahut Gala sambil menautkan jari telunjuknya dengan jari telunjuk Pandu.


"Asyik, Pandu tidak sabaran ingin pergi ke kota." Anak itu terlihat sumringah.


"Kata teman-teman di kota itu bagus, banyak gedung-gedung pencakar langit. Memang benar ya Mas Gala di sana ada gedung yang bisa mencakar langit?" tanya Pandu polos dengan ekspresi yang begitu serius. Dia sering mendengar cerita kakak kelasnya yang sering pergi ke kota untukp ikut ayahnya bekerja di sana.


Gala hanya tersenyum menanggapi kepolosan anak kecil di depannya.


"Kok nggak dijawab sih? Benar nggak?" tanya Pandu masih sangat penasaran.


"Yang dimaksud gedung pencakar langit itu Pandu, adalah gedung-gedung yang tinggi. Gedung-gedung bertingkat yang terdiri dari banyak lantai. Kalau dilihat dari bawah seolah sampai ke langit, tetapi nyatanya tidak," jelas Gala.


"Oh begitu ya Mas, kupikir beneran sampai ke langit." Pandu terlihat kecewa ternyata teman-temannya membohonginya.


"Ya sudah ya saya pinjam kak Mentari nya ya. Sayang Pandu belum pulih benar kalau sudah benar-benar sembuh pasti Mas Gala akan bawa Pandu sekarang langsung," ucap Gala.


"Tidak apa-apa Pandu ikut kalian lain kali saja, yang penting Mas Gala harus janji akan menjaga Kak Mentari baik-baik. Kalau sampai terjadi sesuatu sama dia Mas Gala yang harus bertanggung jawab," ujar Pandu lagi.


"Iya Mas Gala janji, nanti kalau sampai terjadi sesuatu sama Mentari Mas Gala rela dihukum oleh Pandu," goda Gala.


Pandu mengangguk mantap. "Ya sudah pergilah kalian sana."


"Aish di usir nih?" kelakar Gala lagi.


"Ah tidak tapi kalian kan yang bilang tadi mau ke kota?"


"Ah iya kalau begitu kami pamit ya Pan, Bu," pamit Gala pada Pandu dan Warni.


Gala pun menyalami tangan Bu Warni dan Pandu. Mentari memeluk mereka lagi secara bergantian.

__ADS_1


"Hati-hati ya Me hidup di kota."


"Hati-hati ya Kak."


"Iya Bu, Iya Pandu.


"Ini nomor teleponku, Ibu bisa menghubungiku nanti kalau terjadi sesuatu sama Pandu," ucap Gala sambil menyodorkan kartu namanya kepada Warni.


"Barangkali Mentari tidak bisa dihubungi lagi mengingat dia suka gonta-ganti nomor telepon," ucap Gala lagi. Mentari mendesah. Bukan dia yang menginginkan untuk mengganti nomor tetapi, terpaksa karena permintaan Tuan Winata.


Pandu pun menyalami tangan Tama. Setelah bersalaman dengan Pandu, kini giliran Tama menyalami tangan Warni untuk pamit. Ketika berjabatan tangan Tama menatap Warni tajam seolah seperti musuh.


Warni memalingkan muka melihat tatapan dengan aura permusuhan itu. Dalam hati tak henti berdoa agar pria di hadapannya ini tidak menyakiti Mentari. Entahlah semenjak melihat orang-orang dahulu hendak membunuh Mentari sewaktu kecil, Warni menjadi ragu untuk percaya pada orang kota. Baginya orang kota itu jahat kecuali Tuan Winata yang sudah jelas-jelas menolong keluarganya.


Asumsi yang salah karena ternyata tidak semua orang kota jahat dan tidak semua orang desa baik. Semua tergantung pada karakter Manusianya masing-masing. Nyatanya desa yang masih kental dengan sikap gotong royong terkadang tega terhadap sesama.


Selesai berpamitan mereka langsung berjalan menuju mobil karena Pak Shaleh dan bibi sudah menunggu di tempat parkir rumah sakit.


Beberapa saat mobil pun meluncur di jalanan dengan mulus karena di sepanjang perjalanan desa tidak ada kata macet seperti di kota kecuali ada kejadian tertentu seperti kecelakaan, perbaikan jalan atau semacamnya.


Setelah beberapa lama berada di jalanan akhirnya mereka sampai juga ke kota.


Kita tidak mampir kemana dulu ini Den?" tanya sopir di depan.


"Me katakan alamat Sarah dimana kita akan ke sana terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah."


"Alamat Sarah? Ngapain Bapak mau ke sana?" tanya Mentari bingung.


"Mau melamarnya," ucap Gala sekenanya.


"Apa? Bapak mau melamar Sarah?" tanya Mentari tak percaya. Saking kagetnya dia sampai menganga. Namun,

__ADS_1


untunglah refleks kedua tangannya langsung menutup mulut. Kalau tidak bisa saja ada lalat yang iseng ingin mengunjungi tenggorokan dan bahkan masuk ke dalam perutnya.


Bersambung


__ADS_2