
Sarah tampak mengambil ancang-ancang dan Gala yang sadar Sarah akan melepaskan diri berkedip ke arah Kiki.
"Siap Bos."
Kiki segera menahan tubuh Sarah agar tidak pergi.
"Apaan sih!" keluh Sarah. "Kalian mau memperkosaku ya?"
Sontak Sarah langsung mendapatkan jitakan di kepala dari Gala.
"Auw sakit tahu, masih aja kasar sama cewek."
"Biarin, suruh siapa masih suka berpikiran kotor. Jangan pernah berpikir untuk bisa pergi dari tempat ini kalau belum menceritakan tentang Mentari. Kiki ini pinter bela diri jadi kalau mau bersaing silahkan."
"Cih peduli amat sama Mentari," ketus Sarah.
"Iyalah Mentari itu tipe wanita idaman saya. Lembut, baik, dan penuh kesabaran tidak sepertimu yang barbar." Sampai saat ini Gala masih belum percaya dengan keyakinan sang papa bahwa Mentari adalah adiknya. Makanya sampai saat ini pria itu tidak tergerak untuk membuktikan kenyataan tersebut. Namun, selama ini Gala hanya menuruti dan mengiyakan saja perkataan Tama.
"Dasar, jadi pebinor saja sana!"
"Tuh kan otakmu kotor kayaknya harus dicuci dengan air zam-zam."
"Terus apa namanya bagi pria yang menyukai istri orang lain?"
"Ya tetap saja namanya pria. Sudah jangan hanya omong cepat ceritakan!"
"Lepaskan dulu!"
"Baiklah. Ki, lepaskan dia!"
"Oke Bos."
"Ayo duduk dan ceritakan semuanya!"
Sarah mengangguk, dalam hati berharap siapa tahu pria di hadapannya bisa membantu untuk mengatasi masalah tersebut. Tidak ada salahnya kan dia bercerita pada Gala.
"Eh tapi bagaimana kalau pria ini malah mendukung berita itu, bukankah dia juga menyukai Mentari? Bisa saja Gala malah memanfaatkan momen ini untuk membuat Mentari dan Bintang bercerai dan selanjutnya dia akan menikahi Mentari. Jadi nasib kak Alzam bagaimana kalau namanya tetap saja tercemar."
"Mau aku getok lagi tuh kepala?" Gala tahu pasti Sarah memikirkan hal yang buruk lagi.
"Jangan!" Sarah melindungi kepalanya dengan tangan.
"Ayo cerita, aku banyak pekerjaan lain," desak Gala.
Sarah menarik nafas panjang sebelum bercerita setelah itu menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Terima kasih, kau boleh pergi," ucap Gala.
"Dasar tidak ada terima kasihnya sama sekali." Sarah bangkit dari duduknya dengan kesal karena Gala seakan mengusir dirinya dari tempat itu.
Gala ikut bangkit dan menarik tangan Sarah kembali.
"Sudah kubilang jangan pegang-pegang!"
__ADS_1
"Maaf." Gala melepaskan pegangan tangannya di tangan Sarah.
"Nanti malam aku jemput untuk makan malam di suatu tempat sebagai ucapan terima kasih. Berikan alamatmu!"
"Tidak perlu aku bisa makan malam sendiri," ucap Sarah dengan kesal lalu pergi meninggalkan tempat. Gala menggeleng. "Dasar perempuan aneh."
Setelah itu Gala kembali keruangan dan kembali bekerja.
***
"Apa ada kabar yang penting di perusahaan saat aku tinggal pergi?" tanya Tuan Winata pada sang asisten di sela-sela menghentikan aktivitasnya bekerja.
"Tidak ada kendala apapun, semua berjalan dengan lancar."
"Oh oke, kau boleh bekerja kembali."
"Oh ya Tuan, selamat ya atas kelahiran cucu pertamanya."
"Kau sudah tahu bahwa si Katrina itu telah lahiran?
"Iya Tuan saya tahu semua berita tentang keluarga Tuan," jawab sang asisten.
Tuan Winata jadi ingat sesuatu. Dia ingat akan mantu kesayangannya, Mentari.
"Kalau begitu kau pasti tahu juga kabar Mentari. Nantilah simpan ucapan selamatmu itu sampai aku mendapatkan cucu dari Mentari.
Sang asisten mengernyit sepertinya Tuannya itu belum tahu dengan kabar yang beredar.
"Maaf apa Tuan belum tahu kabar yang beredar di luar sana?"
"Kabar? Kabar apa?" Tuan Winata memang tidak tahu. Setelah pulang dari Amerika dia banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja dan beristirahat tanpa mau mendengar berita dan gosip yang tidak penting. Diapun tidak pernah menonton televisi lagi. Waktunya hanya untuk bekerja dan tidur bahkan olahraga pun sudah sangat jarang. Arumi pun tampak menutupi semuanya.
"Nona Mentari digosipkan telah berselingkuh dengan seorang ustadz Tuan dan berita itu sekarang menjadi trending topik di berbagai media."
"Apa? Bagaimana mungkin aku tidak tahu semua itu? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Tuan Winata terlihat syok.
"Maaf saya pikir Tuan sudah tahu."
"Aku benar-benar tidak tahu. Terus bagaimana keadaan Mentari sekarang? Kasihan dia aku yakin dia tidak mungkin melakukan itu semua. Pasti ini akal-akalannya Katrina menjebak Mentari.
"Nona Mentari memutuskan untuk pergi dari apartemen karena Tuan Bintang mengacuhkannya bahkan Nyonya Arumi juga ikut andil dalam membuat Mentari pergi."
"Mama!" Tuan Winata terlihat geram. "Lalu Mentari ada dimana sekarang?"
"Tidak tahu Tuan saya kehilangan jejak saat mengikutinya."
"Baiklah terima kasih." Tuan Winata bangkit dan menepuk bahu sang asisten. Bagaimanapun pria itu telah sigap mencari tahu kabar keluarganya saat dirinya tidak ada di negeri ini tanpa harus diperintah oleh Tuan Winata.
Tuan Winata langsung pulang dan melayangkan protes pada Arumi.
"Ma, sudah berapa kali aku mengatakan baik-baik dengan Mentari. Jarang ada wanita yang bisa sesabar dia Ma. Apa mama akan bisa kuat seperti ini dia seandainya papa punya istri lain?"
"Suruh siapa mau jadi ya kedua," protes Arumi. "Itu tandanya dia bukan wanita baik-baik."
__ADS_1
"Itu karena dia tidak tahu Ma, aku yakin kalau dia tahu dia akan menolak pernikahan itu. Mama juga sih tidak mencegah kelicikan Katrina, pakai merahasiakan pernikahan mereka lagi."
"Nih Pa lihat, aku yakin setelah papa melihat video ini akan mengubah pandangan papa terhadap wanita itu." Arumi menunjukkan video yang beredar di masyarakat itu.
"Hmm, kau kira aku percaya ini? Video ini palsu," Tuan Winata mencibir lalu pergi kali ini tujuannya adalah kantor Gala.
Setelah beberapa langkah berjalan Tuan Winata menoleh. "Sekali lagi Mama melakukan hal buruk terhadap Mentari saya akan meninggalkan Mama."
"Pa!" teriak Arumi tidak terima. Dia mengepalkan tangan dengan kuat. Dalam hati semakin membenci Mentari.
"Nyonya sebaiknya Nyonya nurut saja pada Tuan. Saya tidak mau Tuan Winata akan menceraikan Nyonya nantinya. Saya tidak mau majikan saya tercerai berai," ucap Bik Jum simpati.
Arumi hanya diam tidak marah ataupun membantah perkataan Bik Jum. Pembantu itu berlalu pergi meninggalkan majikannya yang terbengong seorang diri.
***
Entah siapa yang merekam dan menyebarkan saat-saat Sarah datang menemui Gala dan menceritakan semuanya. Yang jelas video di ruangan itu sudah masuk televisi sebagai kisah lanjutan dari video Mentari yang viral beberapa hari ini.
"Mentari sini!" Panggi Reni saat melihat Mentari telah menyelesaikan tugasnya.
"Ada apa Ren?"
"Sini lihat berita!" Reni melambaikan tangannya agar Mentari mendekat.
"Akhir-akhir ini aku benci nonton televisi." Padahal sewaktu kecil rela jauh-jauh berjalan kaki hanya untuk menumpang nonton televisi di rumah tetangga yang agak jauh.
"Ada berita penting. Kalau sudah menonton ini pasti kamu tidak akan goyah lagi untuk mengambil keputusan."
Penasaran Mentari mendekat dan duduk di samping Reni. Matanya terlihat syok saat mendengar cerita Sarah pada Gala bahwa Bintang lah dalang dari penyebaran video tersebut.
Mentari ingat Bintang pernah mengancam akan
menghancurkan ustadz Alzam.
"Apakah kamu tidak pernah berpikir bahwa dengan bersikap seperti ini kau tidak hanya menghancurkan ustadz Alzan tetapi saya juga Mas," gumam Mentari.
"Kamu bicara apa?" tanya Reni karena suara Mentari tidak jelas.
"Tidak ada, antarkan aku ya untuk mengurus surat cerai," pintanya pada Reni.
"Nah gitu dong, move on dari lelaki yang tidak berguna seperti dia," ucap Reni sambil menepuk bahu Mentari.
"Besok aku antar. Tenang saja aku punya teman yang bekerja di pengadilan agama jadi, insyaallah nggak akan ribet ngurusnya apalagi kamu punya alasan bahwa suami kamu sama sekali tidak adil diantara para istrinya dan juga aniaya padamu."
Mentari mengangguk. "Tapi Bagaimana dengan pekerjaan di sini?"
"Tenang aku yang akan meminta izin pada bos agar kita diperbolehkan absen besok."
"Oke, terima kasih ya Ren."
"Sama-sama Mentari.
Bersambung.
__ADS_1