
Setelah makan malam, Sarah menemani Mentari di kamarnya dan tentu saja itu atas permintaan Mentari sedangkan Sarah sebenarnya ingin segera pulang sebab suasana hatinya tidak menentu saat ini.
"Kak Mentari ada apa meminta Sarah makan malam di sini?"
"Sebenarnya bukan tentang makan malamnya sih Sarah, tapi tentang keponakan kamu ini," ucap Mentari sambil memegangi perutnya sendiri.
"Keponakan?" tanya Sarah heran, toh bayi dalam kandungan Mentari belum lahir dan juga sepertinya baik-baik saja.
"Apa ada yang perlu dikhawatirkan tentang kandungan Kak Meme?" tanya Sarah khawatir, siapa tahu ada apa-apa hanya saja Mentari menyimpan kesedihannya sendiri.
"Nggak." Mentari menggeleng.
Sarah pun mengernyit. "Terus?"
"Keponakan kamu nih rindu sama kamu, kayaknya pengen dielus-elus sama tantenya."
Penjelasan Mentari membuat Sarah menggeleng. Dasar wanita hamil, ada-ada saja kemauannya. Padahal semalam baru bertemu sudah merasa kangen saja.
"Baiklah." Sarah akhirnya mengabulkan permintaan Mentari yang katanya keinginan anaknya itu. Mengelus-elus perut Mentari yang sudah semakin lama semakin membuncit.
Mengingat tentang kehamilan, Sarah jadi mengingat ucapan Gala yang sembarangan menciptakan berita palsu tentang kehamilan dirinya.
Wanita itu menggeleng sambil tersenyum sebab Gala selalu membuat dirinya sebal dan kadang membuatnya tertawa sendiri. Gala seolah selalu menciptakan sensasi yang baginya lucu saat bertemu dengan dirinya.
Namun, kemudian raut wajah Sarah berubah murung saat tadi pagi Diandra menghampiri dirinya dan memperingatkan. Seperti biasa Sarah selalu datang pagi-pagi ke kantor dan kebetulan berpapasan dengan Diandra di pintu masuk.
"Aku mau bicara sebentar." Diandra langsung menarik Sarah ke suatu tempat.
"Ada apa Bu?" Sarah tidak pernah merasa melakukan kesalahan. Namun, kenapa Diandra seolah melihatnya dengan tatapan tidak suka.
"Yang menghamili dirimu bukan Gala, kan?" tanya Diandra kemudian.
"Saya tidak hamil Bu. Yang Pak Gala katakan kemarin itu tidak benar."
__ADS_1
"Oh, dan kamu memanfaatkan itu agar orang tua dari Pak Gala mau menikahkan dirimu dengan Pak Gala. Bagus, kau benar-benar cewek yang licik."
"Apa maksud Bu Diandra yang sebenarnya?" Sarah tidak habis pikir dengan atasannya itu. Ada kepentingan apa juga wanita itu mengurusi urusan pribadi antara Gala dengan dirinya.
"Dengan berita kehamilan, kamu ingin menjerat agar orang tua Pak Gala mau menikahkan kalian. Gitu aja tidak mengerti, katanya pinter. Pinter darimana? Dari Hongkong?"
Ingin rasanya Sarah mendamprat muka Diandra kalau tidak ingat itu adalah area kantor. Bagaimana pun dia harus menjaga attitude agar kalau ada yang melihat tidak memandang rendah dirinya.
"Kalau benar apa yang dituduhkan Bu Diandra pada saya seharusnya saya tidak menolak keinginan paman Tama untuk menikahkan kami, buktinya saya menolaknya."
"Oh kau menolaknya? Bagus kalau begitu, saya harap kamu jangan mendekati Pak Gala lagi sebab dia itu adalah kekasihku. Kami sudah lama berpacaran," ujar Diandra.
Sarah hanya memberikan ekspresi wajah biasa saat Diandra mengatakan hal itu padahal dalam hatinya gadis itu merasa syok.
"Ya sudah kembali ke ruanganmu." Diandra meninggalkan Sarah yang kini hanya berdiri mematung antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Diandra.
"Selamat pagi Sarah! Ngapain berdiri di situ?" sapa Gala yang tiba-tiba saja sudah berjalan ke arahnya.
Gala maklum, mungkin Sarah marah padanya akibat ulah dirinya gadis itu jadi disidang semalam. Jadi, hari ini Gala memutuskan untuk tidak bertegur sapa dengan Sarah dulu kecuali ada yang penting yang harus disampaikan.
Sore hari setelah pulang dari bekerja Sarah mampir dulu di sebuah pusat perbelanjaan. Dia tadi mendapat telepon dari ibunya dan disuruh berbelanja untuk stok kebutuhan rumah tangga satu untuk seminggu ini.
Saat sudah selesai berbelanja sesuai dengan list belanjaannya, Sarah berniat untuk membeli pakaian. Rasanya sudah lama gadis itu tidak berbelanja baju untuk dirinya sendiri dan juga untuk ibunya.
"Bagaimana pendekatanmu pada bosmu itu?" terdengar suara seorang wanita dari balik deretan baju lainnya. Awalnya Sarah tidak perduli dengan suara tersebut meskipun terdengar nyaring di telinganya.
"Sudah sangat dekat, aku dan Pak Gala malah sudah sangat intim."
Mendengar nama Gala disebut, Sarah jadi penasaran sehingga mencari pemilik suara itu sebab Sarah seperti mengenal logat suara tersebut.
"Bu Diandra?" Suara Sarah terdengar terpekik, tetapi jangan salah Diandra telah mendengar suara tersebut dan melihat keberadaan Sarah di balik deretan baju-baju gamis. Namun, Diandra pura-pura tidak melihat keberadaan Sarah di sana.
"Maksudnya intim bagaimana?" tanya perempuan yang menjadi lawan bicara Diandra sedari tadi sambil matanya fokus mencari baju-baju yang cocok untuk dirinya. Kebetulan perempuan itu juga berhijab seperti Sarah.
__ADS_1
Melihat keakraban keduanya Sarah bisa menebak mereka adalah dua sahabat yang cukup akrab.
"Ya intim gitu loh masa kamu nggak ngerti?" Diandra melirik Sarah yang pura-pura tidak mendengar.
"Intim itu itu kan artinya dekat, akrab kayak kita. Apa istimewanya kalau cuma berteman kayak kita."
"Ih nggak gaul banget sih kamu Rin, maksudku ML, making love gitu."
"Apa? Lo gila yang Din. Bagaimana kalau kamu hamil diluar nikah?"
"Ckk, biarlah. Biar nanti dinikahin sama Pak Gala. Nggak hanya dipakai terus-menerus."
"Dipakai terus-menerus?" Teman Diandra menganga syok mendengar pengakuan sahabatnya.
"Ya mau gimana lagi, kalau punya bos hot ya kayak gini. Pas kami bertugas keluar kota ya gitu deh. Nggak pernah lepas ngelakuin ya namanya gituan. Saking seringnya ngelayanin dia aku kemarin pas pulang dari luar kota langsung sakit." Diandra melirik Sarah yang mukanya kini tampak memerah.
Sarah mengembalikan pakaian yang ada di tangannya lalu bergegas meninggalkan tempat tersebut dan mengambil belanjaan yang sudah dia titipkan di meja kasir.
"Mampus lo, abis ini semoga kau benar-benar menjauhi Pak Gala," gumam Diandra dalam hati.
Sarah langsung menaiki motornya, menaruh belanjaan di depan dirinya dan mengemudikan motornya dengan kecepatan penuh dengan satu tangan memegang setir dan satu tangan memegang belanjaan agar tidak terjatuh.
"Kenapa aku kecewa ya? Kenapa rasanya aku sakit hati? Seharusnya mau bagaimanapun Pak Gala itu kan bukan urusanku. Tidak mungkin aku suka kan sama pria itu? Ah, tidak-tidak. Aku tidak mungkin suka dengan pria yang suka berzina seperti itu. Tuhan sudah menyiapkan jodohku yang lebih baik dari dia. Aku tidak boleh menyukainya."
"Sarah ada apa sih termenung dari tadi?" Pertanyaan Mentari menghentakkan Sarah dari lamunannya.
"Apa Kak?"
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Nggak ada Kak, aku cuma menikmati tendangan yang diberikan oleh keponakan tercinta ini," kilah Sarah sambil tersenyum yang dipaksakan.
Bersambung.
__ADS_1