HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 260. Hadiah Ultah


__ADS_3

"Baik," jawab Gala sambil menatap Bintang sebagai kode menyuruh pria itu agar bergegas masuk.


Bintang pun langsung masuk ke dalam mobil.


"Ayo Gala!" perintah Bintang setelah dirinya menutup pintu dan Gala pun langsung tancap gas.


Bintang menoleh ke belakang dan meraba tubuh Izzam.


"Masih panas ya Me?" tanya Bintang.


"Iya Mas masih panas sekali," jawab Mentari masih dengan raut wajah sedihnya.


"Paling tidak, sudah tidak kejang-kejang lagi," ujar Bintang mencoba menenangkan Mentari.


"Kau membuat Om Gala jantungan saja Izzam, sebentar lagi kita akan sampai. Jadi jangan bikin ummi kamu panik lagi," ujar Gala sambil terus menyetir. Kali ini dia menyetir dengan kecepatan sedang.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di sebuah Puskesmas. Sengaja Gala menghentikan laju mobilnya di depan bangunan itu agar Izzam cepat mendapatkan penanganan.


"Belum menyentuh obat sama sekali?" tanya seorang perawat di ruang UGD.


"Iya Mas, panasnya tadi mendadak," jawab Mentari pada laki-laki perawat yang sedang berada di hadapannya saat ini.


"Mungkin karena belum menyentuh obat sama sekali, saya akan berikan obat untuk anak ini dan kalian bisa membawa anak ini pulang."


"Pulang Mas? Apa tidak sebaiknya di opname saja?" tanya Mentari heran dengan kalimat yang dilontarkan oleh perawat di puskesmas ini. Tempat ini adalah tempat yang berbeda dengan yang biasanya Izzam dan Mentari datangi.


Perawat laki-laki itu hanya mengernyit, mungkin dia berpikir aneh terhadap Mentari. Biasanya seorang ibu akan bahagia apabila dokter ataupun perawat menganjurkan anaknya pulang ke rumah daripada harus dirawat di rumah sakit.


"Iya, anak ini panasnya tinggi karena belum diberikan obat. Nanti kalau minum obat akan turun juga suhu tubuhnya. Namun, bila nanti sesudah dikasih obat belum reda juga demamnya maka dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit," jelas perawat itu panjang lebar.


"Anak ini tadi kejang-kejang Mas, kami tidak tahu bagaimana cara menanganinya kalau sampai di rumah kambuh lagi seperti tadi," sambung Bintang.


"Oh kejang?" tanya pria itu dan Mentari menjawab dengan anggukan.


"Ada apa?" tanya seorang dokter yang melintas di samping mereka.


"Anak ini sakit dan tadi katanya tadi sempat kejang Dok."


"Kalau begitu, anak ini harus dirawat di rumah sakit agar bisa dipantau oleh team kesehatan," ujar dokter.


"Baik Dok." Perawat pria itupun segera meminta bantuan teman-temannya agar dibantu untuk memasang infus di lengan Izzam.

__ADS_1


"Urat nadinya susah ketemu," ujar perawat itu sambil terus mencari urat nadi Izzam untuk dipasangkan jarum.


"Awas jangan sampai salah melakukan penekanan saat memasukkan jarum suntik!" Bintang memperingatkan agar perawat berhati-hati supaya tidak perlu dilakukan penusukan berulang seperti yang umum terjadi saat para perawat tidak menemukan urat nadi atau urat nadi pasien tipis.


"Biar saya yang mengerjakan." Dokter mengambil alih dalam pemasangan jarum suntik.


"Kalian siapkan kamar untuk anak ini!" perintahnya lebih lanjut.


"Baik Dok."


"Saya minta tolong siapkan kamar rawat yang paling baik di sini!" pinta Bintang lagi.


"Baik Pak." Mereka mengangguk dan langsung pamit keluar.


Mentari meringis mendengar putranya menangis saat ditusuk dengan jarum oleh dokter. Untung saja Izzam penurut sehingga tidak memberontak saat di infus dan itu mempercepat pekerjaan dokter.


Setelah perawat selesai mengurus kamar rawat Izzam, mereka langsung membawa anak itu ke ruang rawat.


"Tidak apa-apa kan Ca Izzam dirawat di sini? Saya hanya tidak mau penanganan Izzam terlambat jika harus ke rumah sakit," terang Gala saat Mentari dan Bintang keluar dari ruangan UGD.


"Tidak apa-apa Mas, di manapun Izzam dirawat bagiku yang penting kesembuhan dia. Jika di Puskesmas ini bisa menangani kenapa tidak?"


"Syukurlah kalau kau mengerti, aku hanya takut kamu salah paham dengan membawa putramu ke tempat ini," ujar Gala lalu menghembuskan nafas lega.


Mereka bertiga pun mengikuti langkah perawat yang sedang mendorong brankar Izzam menuju kamar yang telah disiapkan.


Malam menjelang dan ketiga orang dewasa masih duduk-duduk di kamar rawat Izzam.


"Kenapa belum ada perkembangan?" tanya Bintang pada Gala dengan suara setengah berbisik.


"Belum Bin, kan baru saja masuk. Mungkin obatnya belum bereaksi," terang Gala sedangkan Mentari hanya memandang putranya dengan tatapan sayu sebab Izzam nampak menatap dirinya dengan tatapan kosong.


Mentari mencoba mengajak anak itu berbicara, tetapi Izzam tidak menjawab hanya merespon dengan tatapan matanya yang seakan tidak beralih dari menatap wajah Mentari.


Saat berbicara dengan Bintang terdengar dering ponsel dari saku jas Gala.


"Sebentar ya Bin, Sarah menelpon!" pamit Gala lalu melangkah ke luar ruangan.


"Assalamualaikum," sapa Sarah dari balik telepon.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi," jawab Gala.

__ADS_1


"Kalian dimana sih Mas, kok tiba-tiba saja menghilang?" protes Sarah sebab setelah kembali dari mengeloni putranya, ruang tempat suaminya berkumpul tadi sudah tidak ada orang. Saat memeriksa kamar Mentari wanita itu juga tidak ada di kamarnya. Izzam pun juga tidak ada, dalam artian kamar itu kosong.


"Kami semua di rumah sakit. Maaf tidak sempat pamit padamu tadi karena terburu-buru."


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Sarah yang benar-benar tidak tahu kalau ternyata keponakannya itu sakit mendadak sebab saat mengeloni putranya tadi Sarah sempat ketiduran.


"Puskesmas maksudku dan yang sakit Izzam. Tadi anak itu kejang-kejang lagi sebab panas tubuhnya di atas 40° Celcius."


"Innalilahi, kalau begitu aku segera ke sana."


"Jangan Sarah Gaffi jangan dibawa ke sini!" larang Gala karena sejatinya anak-anak rentan tertular penyakit dan rumah sakit ataupun puskesmas adalah tempat dimana banyak macam penyakit yang dibawa dari pasien yang berbeda.


"Aku tidak mau putra kita juga sakit. Nanti tambah ribet kalau keduanya malah sama-sama sakit." Yang dimaksud Gala adalah Izzam dan Gaffi.


"Nggak Mas, saya tidak akan membawa Gaffi karena putra kita masih tidur. Saya akan menitipkan pada bibi dan pergi ke sana bareng papa," jelas Sarah.


"Baiklah, tapi jangan kabari ibu dulu ya, kasihan beliau sudah tua, aku tidak ingin ibu kepikiran dan syok."


"Baik, tapi bagaimana keadaan Izzam sekarang Mas?"


"Sudah tidak kejang lagi, tapi demam tinggi masih saja belum pergi."


"Syukurlah dan semoga cepat sembuh. Saya akan ke sana sekarang. Assalamualaikum."


Belum saja Gala menjawab salam, Sarah langsung menutup panggilan telepon dan segera mendatangi ayah mertuanya.


Sampai di rumah sakit keadaan Izzam masih sama seperti tadi. Tidak mau bereaksi terhadap orang lain yang memanggil atau mengajak dirinya berbicara dan hal itu semakin membuat Mentari bersedih.


"Izzam ngomong ya sayang, lusa kan ulang tahun Izzam, Izzam mau sepeda, kan?" tanya Mentari agar putranya mau bersuara.


"Akan ummi belikan untuk Izzam, asal Izzam harus cepat sembuh. Janji ya sama Ummi, jangan pernah meninggalkan Ummi seperti Abi kamu!" Entah mengapa tiba-tiba Mentari mengingat hari kematian ustadz Alzam yang bertepatan dengan hari kelahiran Izzam.


"Ummi janji akan mengabulkan permintaan apapun dari Izzam," lanjut Mentari.


Anak itu terlihat tersenyum. Meskipun tidak bersuara cukup membuat hati Mentari sedikit senang. Paling tidak putranya sudah menunjukkan ekspresi wajah yang bisa membuat Mentari bisa bernafas lega.


"Izzam mau apa dari Tante?" sambung Sarah.


"Izzam tidak mau hadiah lain, Izzam hanya mau ayah."


Sontak saja semua orang yang ada di ruangan itu tersentak kaget.

__ADS_1


"Maksudmu apa?" tanya Mentari panik.


Bersambung.


__ADS_2